Langit malam ini sangat gelap dengan rembulan yang sama sekali tidak ingin tampak. Cuaca begitu dingin dengan angin yang berhembus kencang. Sebagian orang mungkin sedang tertidur lelap dalam balutan selimut di atas kasur yang nyaman, tapi tidak dengan seorang gadis kecil.
“Huwaa…! Ayah… Ibu…” Tangisan anak perempuan berumur lima tahun itu menggema memenuhi hutan. Ia menangis mencari sosok ayah dan ibunya yang entah sedang berada dimana. Saat ini, di hadapannya, ia hanya bisa melihat kerusakan.
Terdengar suara derakan hebat dari sebuah pohon besar yang tumbang. Auman serigala menyusul setelahnya, membuat keadaan hutan semakin mencekam. Di tengah kegelapan, samar-samar terlihat dua ekor serigala sedang bertarung hebat, bukan serigala biasa, tapi serigala berukuran sangat besar yang bahkan lebih besar dari badan manusia.
Salah satu serigala besar berambut perak tengah kepayahan membalas serangan-serangan yang diberikan oleh serigala hitam. Serigala berambut perak itu sudah bersimbah darah dengan luka yang memenuhi tubuhnya. Tak lama kemudian, serigala berambut putih menghampiri serigala perak seolah berusaha membantu.
Serigala perak tampak mengaum marah, menunjukkan kekecewaannya ketika serigala putih itu datang. Dia menggeram meminta serigala putih menjauh, yang sepertinya diabaikan. Sang serigala putih bersikukuh ingin membantu serigala perak, bertarung dengan kekuatannya sendiri yang ia tahu tidak seberapa, meninggalkan putri satu-satunya demi menolong sang suami.
Serigala perak yang sebelumnya terdiam, bangkit kembali. Ia mengayunkan cakar depannya ke arah serigala hitam, membantu serigala putih menyerang. Beberapa ayunan cakar dan terkaman bengis dari serigala perak tampaknya membuat serigala hitam sedikit terluka. Serigala putih itu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menerjang serigala hitam tanpa ragu, hendak mencabik tubuh serigala hitam dengan taring-taringnya yang tajam. Sayangnya, serangan itu berhasil ditepis dengan mudah. Serigala putih terlempar jauh membuat beberapa pohon besar yang tertabrak oleh tubuhnya ikut tumbang.
“Ibu….!” Gadis kecil yang sebelumnya sedang mencari ayah dan ibunya sekarang tengah berteriak histeris melihat serigala putih yang terkapar. Dengan kaki kecilnya, ia berusaha berlari menuju ke tempat serigala tersebut. Sayangnya langkah pendek itu terhenti ketika ia merasakan tubuhnya terbang, diangkat oleh seseorang. Seorang laki-laki yang ia tidak kenal siapa.
“Di sana berbahaya…”
Serigala hitam mengamuk setelah serangan tiba-tiba barusan. Ia menghampiri serigala putih dalam satu detik kemudian mencabik tubuhnya tanpa ampun, membuat rambut yang sebelumnya putih bersih berubah kemerahan karena darah yang terus mengalir. Sekarang, keduanya, baik serigala putih ataupun serigala perak sama-sama menderita luka yang tak bisa membuat mereka bangkit lagi.
Di tengah keputus-asaan itu, serigala perak memandang ke segala arah, melihat tempat tinggalnya yang telah luluh lantak. Seluruh keluarga serigalanya mengalami keadaan yang tak jauh berbeda dari dirinya dan pasangannya, kalah telak. Semuanya musnah, tidak ada yang tersisa. Perkampungan yang sebelumnya indah dengan beberapa rumah kecil, kehidupan yang tenang dan damai, sekarang tak berjejak. Air mata mulai menetes dari serigala tersebut, saat mengingat keluarga kecilnya yang bahagia, saat bahagia bersama istri dan anaknya. Saat ini, semua itu bagaikan mimpi yang seolah tidak pernah terjadi.
“Maafkan aku tidak bisa melindungimu, tidak bisa melindungi kalian semua…” Sebuah mind link tersampaikan dari serigala berbulu perak. Ia mengaum pilu, mengakui kekalahannya.
Dengan sisa-sisa kekuatan, serigala perak itu menyeret langkah menuju serigala putih, belahan hatinya yang sudah terbujur kaku tak bergerak. Rasa sakit akan kehilangan mengiringi setiap langkahnya. Hatinya sudah remuk tak berbeda dengan seluruh tubuhnya saat ini. Setelah berusaha keras, serigala perak itu akhirnya tiba di sisi serigala putih, terbaring di sebelahnya sambil menjilati wajah pasangannya lembut.
“Aku selalu mencintaimu, Elena… Juga putri kita… Terima kasih telah membuatku menjadi yang paling bahagia sampai sekarang…” Mind link itu terputus dan tidak terdengar lagi. Sang Alpha, serigala berambut perak itu memejamkan mata, menyusul Luna, serigala putih kekasih abadinya.
Lelaki yang tengah memeluk gadis kecil tadi mengeratkan pelukannya, tidak membiarkan anak perempuan itu menyaksikan kejadian tersebut. Ia mengelus kepala sang gadis sayang lalu mengecup kepala kecil yang terus saja menangis sedari tadi.
“Jangan menangis lagi… Ada aku bersamamu… Aku akan menjagamu mulai sekarang…”
***
Dua belas tahun kemudian, London saat ini….
Alice berjalan pelan menuju ke tengah panggung kecil yang dibuat di halaman rumahnya. Pesta ulang tahun sudah dimulai. Semua mata tertuju ke arah dirinya yang saat ini akan membuka pesta.
Panggung yang dinaiki Alice sudah berhiaskan pita serta balon-balon berwarna pastel, warna lembut yang sangat cocok untuk pesta ulang tahun perempuan. Alice menarik nafas panjang lalu menatap ke kumpulan orang di hadapannya.
“Terima kasih pada teman-teman yang sudah datang malam ini… Terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk datang ke pesta ulang tahunku yang sederhana…”
Alice hanya merendah. Pesta yang diakui Alice sebagai sesuatu yang sederhana nyatanya sangat mewah. Pesta ini memang diadakan di halaman rumah, tapi bukan halaman rumah keluarga biasa.
Halaman rumah keluarga Rowland adalah halaman super luas yang bahkan bisa dibangun beberapa buah rumah lagi jika sang kepala keluarga menginginkan.
Halaman rumah yang sangat terawat penuh dengan tanaman berharga fantastis dan juga kolam renang berukuran besar.
Ini sungguh bukan pesta kecil. Belum lagi dengan panggung utama dan panggung untuk band pengiring yang dibuat terpisah. Terbayang kan, betapa luasnya halaman ini?
“Terima kasih juga untuk hadiah yang telah kalian berikan. Aku harap kalian menikmati pestaku. Selamat berpesta…!”
Alice segera turun dari panggung setelah memberikan sambutan untuk para tamu. Beberapa teman baik Alice memberikan ucapan selamat, menghalangi langkahnya. Padahal ia sudah tidak sabar untuk menghampiri Austin. Pandangannya sudah terkunci pada lelaki itu sejak tadi. Orang pertama yang tertangkap penglihatannya meski ada lautan manusia di hadapan Alice.
“Sambutan yang bagus…” Austin menyambutnya. Memberikan ucapan selamat dengan sebuah pelukan. “Dan selamat ulang tahun…”
“Terima kasih.” Alice tersenyum lebar. Ia tersipu mendapatkan perhatian dari Austin. Begini saja Alice sudah sangat senang. Apalagi jika mereka menjadi sepasang kekasih? Alice sudah tidak sabar. Ia berencana akan menyatakan perasaannya setelah ini.
Alice memang sudah lama menyimpan perasaaan untuk Austin, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi pertemanan mereka selalu saja membuat Alice meragu. Padahal setiap hari mereka pergi dan pulang ke sekolah bersama. Austin pun selalu perhatian padanya, tapi seberapa lama pun Alice menunggu, lelaki itu tidak pernah memulai.
Kali ini, Alice akan mencoba memberanikan diri. Tidak mengapa jika perempuan yang mengambil langkah awal. Alice yakin kalau Austin memiliki perasaan yang sama untuknya. Tidak mungkin tidak.
Memangnya ada lelaki yang setiap hari setia menunggumu di depan pintu rumah untuk berangkat bersama? Memberikan topinya di saat hari panas, ataupun memakaikan syal di saat udara dingin berhembus? Bukankah terlihat jelas kalau Austin memperlakukan Alice dengan begitu istimewa?
Alice bahkan sudah mengenal dengan baik keluarga Austin. Tuan Richard dan Nyonya Rosalie selalu senang saat Alice berkunjung ke rumah mereka. Dan Alice sering melakukan hal itu. Mereka bertetangga.
“Ash…” Alice memanggil Austin dengan nama panggilan spesial. Lihat, saja, mereka bahkan memiliki panggilan kesayangan. Entah apa yang menjadi alasan hubungan mereka yang tidak berkembang sampai sekarang.
“Apa, Al…?” Austin memandang Alice lekat dengan tangannya yang masih betah menggenggam tangan Alice. Lelaki itu tidak melepaskannya sejak memberi ucapan selamat tadi. Entah lupa atau memang sengaja. Alice tidak tahu. Yang jelas kedekatan mereka yang seperti sekarang sudah cukup menjadi alasan untuk pengakuan cinta yang akan ia buat malam ini.
“Bagaimana kalau kita mencari tempat yang lebih tenang?” Alice menunjuk ke sebuah sudut yang sepi. “Sebentar lagi kembang api akan dinyalakan. Kita bisa melihatnya lebih jelas di sana.”
Austin mengangguk. Mereka pun berjalan bersisian, mengabaikan tatapan dari teman-teman Alice yang saling berbisik. Mengelukan tanpa suara tentang hubungan mereka. Dan kemungkinan tentang pesta ini yang akan berakhir dengan pengumuman hubungan resmi yang terjalin di antara keduanya.
Alice menahan napas sesaat. Cahaya berpendar indah dari kembang api yang mereka saksikan menjadi awal bagi Alice untuk membuka mulutnya.
“Ash…”
Austin menatap Alice saat gadis itu memanggil namanya. Mereka saling bertatapan beberapa saat, membuat Alice tersiksa dengan debaran yang menggila.
“Ash, aku…”
“ALICE ROWLAND!!!”
Alice tersentak kaget mendengar seseorang yang tiba-tiba berteriak memanggil namanya.
“ALICE ROWLAND! Tunjukkan dirimu!” Suara menggema dari microphone yang ada di panggung pesta menghancurkan rencana Alice. Seketika ia lupa dengan pernyataan cintanya. Keributan yang terjadi membuat perhatiannya teralih.
“ALICE ROWLAND!!!”
Teriakan itu terus terdengar. Membuat Alice mempercepat langkah. Siapakah yang berteriak memnaggil namanya sejak tadi? Siapa yang membuat semua keributan ini?!
“Alice…”
Alice terkejut saat dirinya berhasil menembus kerumunan. Orang yang menyambutnya adalah si pembuat keributan, yang ternyata adalah seorang lelaki yang sama sekali tidak ia kenal.
“Alice Rowland… Selamat ulang tahun ke tujuh belas…”
“Aku sudah lama menunggu saat ini datang. Dan sekarang sudah waktunya kamu ikut bersamaku… Pasangan hidupku…”