Keberhasilan proyek regional membawa tawaran tak terduga.
Surelnya masuk pada Selasa pagi, di antara undangan rapat dan tagihan listrik. Sebuah lembaga pembangunan internasional meminta Valeri menjadi direktur program Asia—mengelola pendanaan pendidikan dan usaha perempuan di sebelas negara, dengan anggaran yang angkanya membuat Valeri harus menghitung ulang jumlah nolnya.
Jabatan itu lebih besar daripada posisinya di JYS Corp. Yang lebih penting, jabatan itu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan perusahaan Jason. Tidak ada satu pun orang di sana yang mengenalnya sebagai sekretaris yang dulu naik jabatan setelah pacaran dengan bosnya.
Namun kantor utamanya berada di Jenewa. Valeri harus pindah sedikitnya selama dua tahun.
Ia mencetak seluruh dokumennya, membawanya pulang, dan meletakkannya di meja makan seperti orang meletakkan sesuatu yang mudah pecah.
Jason membaca seluruh halaman tanpa menyela. Ia membalik kertas satu per satu, berhenti lama di bagian struktur organisasi, lalu menutup mapnya.
"Ini kesempatan besar," katanya.
Valeri menatapnya. "Jangan langsung menjadi suami yang terlalu pengertian. Katakan apa yang sebenarnya kau rasakan."
Jason bersandar ke kursi. Ia menggosok wajahnya dengan telapak tangan, cara yang selalu ia pakai ketika sedang menyusun kalimat yang sulit.
"Aku tidak ingin hidup terpisah lagi," katanya akhirnya. "Kita baru menikah delapan bulan. Aku baru belajar caranya menjadi suami, dan aku tidak mau belajarnya lewat panggilan video."
"Itu keberatan?"
"Bukan larangan," katanya cepat. "Itu yang kutakutkan. Kalau aku bilang aku tidak mau, kau akan mendengarnya sebagai perintah, karena dulu memang begitulah caraku bicara."
"Aku tidak mendengarnya begitu."
"Kau yakin?"
"Tidak," aku Valeri. "Tapi aku ingin mencoba mendengarnya sebagai perasaan."
Malam itu mereka tidak memutuskan apa pun.
Valeri sendiri ragu, dan keraguan itu membuatnya tidak bisa tidur selama tiga malam. Pekerjaan itu sesuai impiannya sejak ia berdiri di kantor regional dan menyadari bahwa yang paling ia sukai bukan angka, melainkan melihat perempuan-perempuan koperasi menandatangani kontrak pertama mereka. Tetapi ada suara lain di kepalanya yang berkata bahwa menerima tawaran ini adalah cara membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang dulu meremehkannya.
"Menerima bukan satu-satunya cara membuktikan aku mandiri," katanya kepada Alena di telepon.
"Menolak juga bukan," jawab Alena. "Jadi lupakan urusan membuktikan. Kau mau apa?"
Akhir pekan itu mereka duduk di lantai ruang kerja dengan kertas besar dan spidol, menyusun kemungkinan seperti menyusun rencana proyek: pindah bersama, menjalani hubungan jarak jauh, meminta model kerja regional, atau menolak sama sekali.
Pilihan pertama gugur dalam sepuluh menit. Jason tidak dapat memindahkan seluruh tanggung jawab CEO ke Eropa—bukan karena tidak mau, tetapi karena struktur perusahaan, dewan, dan tiga pabrik yang semuanya berada di Asia Tenggara.
"Aku bisa mundur," katanya.
"Jangan," kata Valeri. "Aku tidak ingin keputusan profesionalku otomatis mengikuti pekerjaan suamiku. Tapi aku juga tidak mau pekerjaanmu dihancurkan demi pekerjaanku. Itu cuma menukar korban."
Pilihan kedua membuat keduanya diam. Valeri menulis "jarak jauh" di kertas, lalu memandanginya tanpa menambahkan apa-apa di bawahnya.
"Kita bisa," kata Jason.
"Kita pernah," koreksi Valeri. "Bisa dan sanggup itu berbeda."
Jason mengangguk pelan dan tidak membantah. Mereka sudah pernah menjalaninya selama enam bulan, dan keduanya tahu persis berapa banyak energi yang habis.
Tersisa pilihan ketiga, yang menurut semua orang mustahil.
Dalam wawancara lanjutan melalui panggilan video pukul sepuluh malam waktu Jakarta, Valeri menanyakan apakah program dapat dipimpin dari Asia dengan kunjungan rutin ke Jenewa.
Lembaga itu awalnya menolak. Alasannya birokratis: direktur harus berada di kantor pusat, begitu selama dua puluh tahun.
"Boleh saya bertanya satu hal?" kata Valeri. "Dari sebelas negara mitra program ini, berapa yang berada di Eropa?"
Jeda di ujung sana.
"Tidak ada."
"Berapa jam perbedaan waktu antara Jenewa dan mitra terbesar kita?"
"Enam."
"Jadi selama dua puluh tahun, direktur program Asia bekerja pada jam ketika seluruh Asia sedang tidur." Valeri menutupnya dengan tenang. "Saya tidak sedang meminta keringanan. Saya sedang menawarkan program yang bisa ditelepon mitranya di jam kerja mereka."
Lembaga itu meminta waktu untuk mempertimbangkan.
"Kau menodongkan angka ke wajah mereka," kata Jason malam itu, jelas menahan senyum.
"Aku menunjukkan data."
"Itu istilah halusnya."
"Aku belajar dari seseorang," kata Valeri. "Sayangnya orang itu memakainya untuk menekan mitra supaya menurunkan harga."
"Orang itu sedang memperbaiki diri."
Seminggu kemudian mereka menawarkan struktur baru: Valeri berkantor di Jakarta dan Singapura, dengan perjalanan ke Jenewa setiap tiga bulan.
Valeri menerimanya.
Yang paling sulit justru mengabarkannya kepada tim lamanya. Dua orang menangis di ruang rapat, dan seorang staf magang bertanya apakah ini berarti perusahaan sedang bermasalah.
"Bukan," kata Valeri. "Ini berarti orang boleh pindah tanpa ada yang jahat dalam ceritanya."
Ia mengundurkan diri dari JYS Corp melalui prosedur resmi—surat ke bagian sumber daya manusia, bukan ke suaminya—dan menyelesaikan masa transisi tiga bulan, menyerahkan seluruh berkas kepada penggantinya dengan catatan yang tebalnya seperti buku.
Pada hari terakhir, Jason tidak mengadakan pesta besar. Tidak ada pidato CEO, tidak ada karangan bunga dari direksi.
Acaranya sederhana, di ruang rapat lantai dua belas, dengan kue yang dibeli dari toko dekat kantor. Jason datang sebagai suami, duduk di kursi bersama karyawan lain di barisan ketiga, dan bertepuk tangan ketika Niko menyampaikan penghargaan atas kerja Valeri.
Beberapa staf terus-menerus melirik ke arahnya, menunggu ia berdiri dan mengambil alih panggung. Ia tidak melakukannya.
"Kau tidak mau bicara sedikit pun?" bisik seorang manajer.
"Hari ini aku bukan siapa-siapa di sini," jawab Jason. "Aku cuma suami yang diizinkan ikut makan kue."
Dalam perjalanan pulang, Valeri melepas sepatunya di kursi penumpang dan menyandarkan kepala ke jendela.
"Bagaimana rasanya bukan menjadi atasanku lagi?" tanyanya.
"Mengerikan," jawab Jason. "Sekarang aku tidak bisa berpura-pura rapat untuk melihatmu."
"Kau melakukan itu?"
"Berkali-kali. Rapat evaluasi mingguan divisi sekretariat. Itu tidak pernah ada sebelum kau datang."
Valeri tertawa sampai matanya berair. "Kau bisa mengajakku makan siang seperti manusia biasa."
"Konsep yang sangat revolusioner."
"Kirim undangan kalender kalau perlu."
"Jangan menggodaku. Aku akan benar-benar melakukannya."
Keputusan itu menutup bab penting dalam hubungan mereka. Valeri pertama kali mengenal Jason sebagai bos yang menentukan hampir seluruh ruang geraknya—jam kerjanya, tempat tinggalnya, bahkan siapa yang boleh mengantarnya pulang. Kini ia meninggalkan perusahaan tersebut sebagai pemimpin dengan jalannya sendiri, sementara Jason berdiri di sampingnya tanpa mencoba menahan.