Dua puluh lima tahun setelah Valeri dan Jason meninggalkan panti, aula lama itu akhirnya selesai direnovasi.
Bangunan yang dulu dipakai untuk apel pagi, menonton televisi bersama, dan sesekali menjemur kasur, kini menjadi pusat pendidikan dan konseling keluarga. Ada ruang belajar, ada dua ruang konsultasi dengan pintu kedap suara, dan ada perpustakaan kecil yang rak-raknya dibuat dari kayu kusen lama supaya tidak semuanya hilang.
Dananya berasal dari koperasi, alumni, pemerintah daerah, serta yayasan. Tidak ada satu pihak yang memegang kendali penuh, dan itu tertulis di akta, bukan sekadar disepakati lisan.
"Kalau ada yang bertanya siapa pemilik tempat ini," kata Bu Wid saat gladi acara, "jawabannya panjang sekali. Itu bagus."
Pada hari pembukaan, halaman panti penuh sejak pagi.
Lila pulang dari Yogyakarta membawa karya pertamanya yang terpilih untuk pameran. Lukisan itu dibungkus kain dan diikat tali, dan ia menolak membuka bungkusnya sampai acara dimulai, meskipun Aruna sudah mengintip dari sisi bawah dua kali.
Ketika akhirnya dipasang di dinding ruang baca, orang-orang berhenti berbicara sebentar.
Lukisan itu menggambarkan bangku tua di bawah pohon, dengan dua anak duduk berjauhan. Yang satu memandang ke depan. Yang satu memandang ke arah yang lain. Di antara mereka ada jarak selebar satu orang, dan cat di bagian itu dibiarkan lebih tipis, seolah sengaja belum diisi.
"Itu Bunda dan Ayah?" tanya Aruna.
"Mungkin," jawab Lila. "Atau siapa saja yang sedang belajar tidak merasa sendirian."
Mira datang menggunakan tongkat.
Ia berjalan pelan dari gerbang, menolak dipapah, tetapi menerima ketika Damar mengambil tas dan rantang dari tangannya tanpa bertanya lebih dulu. Damar sendiri sudah lebih putih rambutnya, dan tetap membawa makanan terlalu banyak, seperti yang selalu ia lakukan sejak hari pertama.
Sanna hadir sebagai pengacara yayasan. Ia kini memiliki firma bantuan hukum sendiri—delapan pengacara, tiga di antaranya bekerja penuh untuk perkara anak—dan ia menyerahkan kartu namanya kepada tiga orang tua asuh sebelum acara dimulai.
Alena tetap menjadi orang paling berisik di antara mereka. Ia memegang mikrofon lebih lama daripada jatahnya, memanggil nama orang-orang dari deretan belakang, dan membuat seorang pengurus tua menangis hanya dengan menyebut satu kalimat tentang dapur panti tahun sembilan puluhan.
Acara itu selesai menjelang sore.
Ketika tamu-tamu mulai pulang dan anak-anak kembali ke kegiatan mereka, Valeri dan Jason berjalan memutar ke belakang bangunan, ke bagian halaman yang jarang dilewati siapa pun.
Di sanalah dua kursi lama itu masih berdiri.
Kursi kayu panjang di bawah pohon, tempat yang dulu menjadi tempat lamaran mereka. Catnya sudah kembali pudar, mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan lapisan cat lama di bawahnya yang warnanya bahkan lebih tua lagi. Tetapi kayunya masih kuat. Tidak ada satu pun papan yang goyah ketika mereka duduk.
Mereka duduk berdampingan, tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat.
Angin sore turun dari arah kebun. Ada bau tanah yang baru disiram dan suara anak-anak bermain di halaman depan, jauh, seperti berasal dari tahun yang lain.
Jason telah memiliki uban di pelipis. Valeri menertawakannya setiap kali ia mencoba menyisir rambutnya ke arah tertentu supaya bagian putih itu tertutup.
"Kau melakukannya lagi," kata Valeri.
"Melakukan apa?"
"Menyisir ke samping."
"Itu gaya."
"Itu penutupan."
Jason menyerah dan membiarkan tangannya turun. Ia memandang bangku di seberang, lalu ke arah pohon, lalu ke tanah.
"Kalau bisa kembali ke hari pertama kita bertemu," katanya, "apa yang akan kau ubah?"
Valeri berpikir lama.
Ada banyak hal yang ingin ia hapus. Hari-hari ketika ia takut membuka pintu rumahnya sendiri. Malam-malam ketika ia tidur dengan lampu menyala dan tas sudah dikemas di bawah ranjang. Tahun-tahun ketika ia mengira menjadi berguna adalah satu-satunya cara agar tidak ditinggalkan.
Ia bisa menyebutkan semuanya tanpa ragu, satu per satu, dengan tanggalnya sekalian.
Tetapi mengubah masa lalu berarti menyentuh seluruh jalan yang membawa mereka ke tempat tersebut—ke bangku ini, ke sore ini, ke dua anak yang sedang berebut kamera di halaman depan.
"Aku tidak akan mengubah kejadiannya," katanya akhirnya. "Aku akan mengubah satu hal yang kukatakan pada diriku sendiri."
"Apa?"
"Aku akan mengatakan kepada diriku bahwa cinta bukan utang," jawabnya. "Aku tidak harus menyerahkan hidupku kepada seseorang hanya karena dia menolongku."
Jason mengangguk pelan. Ia diam cukup lama, dan Valeri tahu suaminya sedang menyusun jawabannya sendiri, bukan sekadar menunggu giliran bicara.
"Aku akan mengatakan kepada diriku bahwa menjaga seseorang tidak memberiku hak memilikinya."
"Butuh berapa tahun sampai kau mengerti itu?"
"Terlalu banyak."
"Jawaban yang benar."
"Aku pernah berlatih jawaban yang lebih pintar."
"Untung tidak kau pakai."
Mereka tertawa pelan, dan tawa itu berhenti dengan sendirinya, tanpa canggung.
"Aruna!" terdengar suara Lila dari depan. "Jangan sentuh tripodnya!"
"Bunda! Ayah!" Aruna muncul di sudut bangunan sambil melambai dengan kedua tangan. "Foto! Kakak sudah pasang!"
Mereka berdiri. Jason meletakkan tangan di punggung bawah dan meringis sedikit, dan Valeri pura-pura tidak melihat.
Di depan aula, semua orang sudah berkumpul.
Lila sudah menyiapkan kamera dengan pengatur waktu, disandarkan pada tumpukan kursi plastik karena tripodnya kurang tinggi. Mira duduk di depan dengan tongkat di pangkuan. Damar berdiri di belakangnya. Sanna berdiri di samping Alena, yang sedang mengatur posisi semua orang dengan suara yang terdengar sampai gerbang. Beberapa pengurus panti ikut masuk ke dalam bingkai, juga tiga anak yang kebetulan lewat dan langsung ditarik Alena.
Keluarga yang lahir dari darah, pilihan, kesalahan, dan kesempatan kedua.
Lampu kecil di kamera mulai berkedip.
Sebelum kamera mengambil gambar, Jason menunduk sedikit dan berbisik di dekat telinga istrinya.
"Apakah kau bahagia?"
Valeri menggenggam tangannya.
"Aku hidup dengan pilihanku sendiri," katanya. "Dan setiap hari, aku masih memilihmu. Jadi, ya."
Kamera berbunyi.
Tidak ada yang berdiri sempurna. Aruna menutup mata. Alena setengah menoleh karena masih memberi aba-aba. Salah satu anak panti melompat tepat di detik terakhir, dan Damar tertangkap sedang membetulkan kerah bajunya.
Tetapi semua orang tertawa.
Di bangku lama itu, kisah mereka mendekati lingkaran penuh. Masih ada satu janji terakhir yang ingin mereka tinggalkan—bukan hanya untuk keluarga mereka, melainkan bagi anak-anak yang kelak duduk di tempat yang sama dan bertanya apakah hidup dapat berubah.