"Bagaimana maksud pertanyaanmu, Kak?" tanya Ethan, mewakili Ratu yang kini terdiam kelu, sibuk mencerna pertanyaan Rama.
Rama tertawa. "Harusnya kamu sudah paham, hubungan suami istri itu ya begitu, berhubungan yang sudah di luar batas," jawabnya.
"Oh, kalau itu aku paham," jawab Ethan.
"Bagaimana jawabanmu, Anjani?" Rama kembali bertanya pada Ratu, dengan nama palsu yang diberikan oleh Ethan, sebagai penyamaran yang sebelumnya sudah mereka bicarakan. Riasan wajahnya pun sudah dibuat berbeda dari yang biasanya agar tidak dikenali. Rama menyeringai saat melihat kegugupan Ratu.
"Oh, kalau itu sudah pernah, Kak," jawab Ratu pelan dan malu-malu.
Erika mencibir, merendahkan Ratu, sementara Rama justru tertawa. "Baiklah, ternyata hubungan kalian cukup dalam dan serius juga, seperti postingan yang saat ini sedang trending di media sosial," ucapnya.
"Postingan apa?" tanya Ratu dan Ethan kompak. Ethan lebih ke pura-pura tidak tahu.
"Ah, kalian membuatku semakin yakin," cetus Rama yang lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan postingan yang sudah di unggah oleh Sam, beberapa jam yang lalu.
"Lihat, ini masih baru, siang tadi di posting dan sudah banyak yang berkomentar, dilihat oleh ribuan orang," ucap Rama takjub. "Ternyata setenar itu kamu, Than."
"Kakak jangan iri, kita punya pasar masing-masing," jawab Ethan pongah. Ia lalu mencondongkan tubuhnya, melihat postingan itu dan mendecak kesal. "Sepertinya ada yang memasang CCTV di kamar yang kami tempati," desisnya, pura-pura jengkel. "Sam harus ku beri tahu biar segera menghancurkan CCTV itu."
"Jadi kau belum tahu?" tanya Rama bingung.
"Sepanjang hari kami menghabiskan waktu berdua di kamar, baru buka ponsel saat Kakak telepon aku, tadi," jawab Ethan berbohong.
"Ck, dasar bucin!" dengus Rama.
"Ah, kamu kayak yang nggak pernah muda saja," olok Ethan.
"Hey, jangan lupa, kamu itu sudah tua, jangan mentang-mentang awet muda jadi lupa umur!" tegur Rama tidak terima. Erika hanya tertawa melihat interaksi kakak beradik itu, sementara Ratu hanya tersenyum hambar. Ia tidak mengerti kenapa saat ini ia ada di tempat ini dan mengatakan banyak hal bohong pada Rama, sementara Erika terlihat sangat tidak menyukainya.
"Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya Rama tiba-tiba. Ratu membelalakkan matanya menatap Ethan, sementara Ethan terkekeh pelan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Secepatnya, Kak. Rencanaku mungkin minggu depan, Sam sudah menyiapkan semuanya," jawab Ethan dengan begitu tenang, sementara Ratu tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri saat mendengar jawaban Ethan.
"Sepertinya kekasihmu itu tidak setuju dengan rencanamu, Ethan," celetuk Erika, merasa senang.
"Siapa bilang?" tanya Ethan sembari menatap Ratu penuh harap.
Ratu yang sejak awal merasakan kebencian di hati Erika kini mengangkat wajahnya menatap wanita itu sembari tersenyum lebar. "Aku hanya terkejut mendengar jawaban Ethan, masalahnya selama ini saat ku tanya dia selalu merahasiakannya dariku," jawabnya telak, yang sontak membuat wajah Erika merah merona dan tertunduk kelu.
"Itu benar," sahut Ethan yang lalu memeluk erat bahu Ratu dan mengecup lembut puncak kepalanya.
"Kalian membuatku iri saja," celetuk Rama. "Baiklah, pembicaraan selesai. Besok kami akan menemui calon besan dan membatalkan rencana perjodohan itu," ucap Rama memutuskan.
"Tapi, Sayang ...." Erika menatap Rama keberatan.
"Sudahlah, Ethan sudah menjatuhkan pilihan pada Anjani, kita harus menghargainya," sahut Rama sembari menepuk pelan bahu Erika. "Sekarang waktunya makan!" Ia lalu mengangkat tangannya dan memberi tanda pada para maid agar segera menghidangkan makanan.
Ketika makanan telah tersaji, tiba-tiba Ratu merasa mual, tubuhnya pun bahkan sampai membungkuk menahan hasrat ingin muntah di depan semua orang. Melihat hal itu Ethan segera mengajaknya ke kamar mandi sembari memijit pelan tengkuk Ratu.
"Ada apa dengannya?" desis Erika. "Jangan-jangan dia hamil."
"Sudah pasti. Hubungan mereka sudah terlalu jauh," jawab Rama. "Pantas saja kalau buru-buru menikah. Ethan pasti tidak mau namanya tercemar karena hal ini. Hebat sekali dia, usia empat puluh delapan tahun masih tokcer!"
Erika mendengus sebal. Gagal sudah rencanannya menjodohkan Ethan dengan sepupunya dengan harapan ia bisa menikmati limpahan harta dengan cara kotor melalui sepupunya itu.
"Kamu masuk angin?" tanya Ethan. Ratu menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, rasanya mual saat mencium bau masakan," jawab Ratu jujur.
"Serius? Kamu kenapa sebenarnya?"
"Saya boleh jujur, Om?"
"Om?" Ethan terkesiap. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu kalau di dekat mereka," bisik Ethan jengah.
"Kita lagi berdua sekarang, Om. Tenang saja, saya bicara pelan," jawab Ratu. "Lagipula usia Om kelihatannya lebih tua, apa harus saya panggil Pak?"
"Oke, panggil aku sesukamu!" sahut Ethan cepat. "Katakan, kamu kenapa sebenarnya?"
"Saya hamil," jawab Ratu singkat dan langsung ke intinya.
"Apa?" Ethan terlihat begitu terkejut saat mendengarnya.
Ratu tersenyum. Ia mengira Ethan akan marah mendengar ucapannya dan membatalkan niatnya untuk pura-pura menikah dengannya.
"Itu benar, Om, saya hamil," jawab Ratu. "Saya sudah buktikan sendiri ke dokter."
"Itu bagus!" jawab Ethan, di luar dugaan, yang membuat Ratu menatapnya heran. "Aku justru semakin yakin untuk menikahi kamu, Anjani, kau mengandung anakku!" serunya, sambil melirik ke arah dalam, berharap Rama dan Erika mendengarnya.
"Ratu Andhira, Om. Anjani hanya untuk di depan mereka, bukan?" protes Ratu yang tidak suka namanya diganti. "Dan bagaimana mungkin saya bisa hamil karena Om, sedangkan 'itu' tidak pernah masuk ke dalam sini?" protes Ratu sambil menunjuk bagian inti tubuhnya.
"Aku lebih suka memanggilmu dengan nama itu," sahut Ethan cepat. "Bagaimanapun juga kita sudah pernah tidur bersama, meskipun itu sudah terjadi atau tidak, tetap saja kau hamil karena aku!" tegasnya. "Sudah berapa bulan usia kehamilanmu?"
"Masih antara tiga atau empat minggu, saya lupa," jawab Ratu sembari mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin tanpa menyentuh bisa membuat hamil?
"Bagus! Waktunya sangat pas dengan saat aku mengatakan pada Kak Rama kalau aku sudah punya pilihan sendiri."
Ratu seketika menghela napas berat. Pupus sudah harapannya untuk segera terbebas dari Ethan.
"Kenapa kamu sedih begitu? Apa kau sudah menikah?"
Ratu menggelengkan kepalanya. "Saya justru akan menikah" dusta Ratu. "Saya takut dia tiba-tiba datang dan memarahi saya karena tahu saya malah menikah dengan Om."
Ethan tertegun mendengar jawaban Ratu. Ia terdiam sesaat untuk berpikir, bagaimana pun juga ia tidak ingin merusak hubungan orang lain karena ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri.
"Nanti aku bicara dengannya, biar aku bilang kalau pernikahan kita hanya sementara," ucap Ethan sembari menatap dalam pada Ratu. "Maafkan aku yang sudah membebani kamu dengan masalahku."
Ratu tersenyum masam. Ia lalu membersihkan wajahnya di wastafel, lalu mengajak Ethan untuk kembali. Ia merasa tidak nyaman karena sudah meninggalkan kedua kakak Ethan terlalu lama.
"Yakin mau balik ke sana?" tanya Ethan.
Ratu menganggukkan kepalanya. "Kita sudah terlalu lama pergi, takut mereka menunggu kita buat makan."
"Ah iya, kamu benar." Ethan tersenyum senang. "Nanti seperti tadi ya, ikuti saja ucapanku."
"Siap!" sanggup Ratu dengan pasrah. Ia sudah tidak mampu lagi menghindari rencana pernikahan itu, karena mereka sudah terjebak dengan ucapan mereka sendiri pada Rama.
"Maaf menunggu lama," ucap Ethan sembari membantu Ratu duduk di tempatnya.
"Tidak masalah," jawab Rama.
"Apa dia hamil?" celetuk Erika dengan lancangnya. Rama seketika mencubit pinggangnya dengan kesal, karena tidak enak hati pada Ethan.
"Iya, memang Anjani sedang hamil," jawab Ethan. "Itulah alasanku kenapa memutuskan untuk menikah secepatnya."
"Ah, sudah ku duga," sinis Erika. "Ternyata kamu cukup mudah ditaklukkan," imbuhnya, memandang rendah Ratu.
"Jaga bicaramu, Erika!" tegur Rama tidak suka. "Apapun yang terjadi itu terserah mereka," tegasnya. "Kamu tidak berhak menghina. Apa kamu lupa kalau saat aku nikahi dulu kamu sudah hamil dua bulan, biarpun akhirnya keguguran?"
Sontak Erika memukul gemas bahu suaminya itu. "Kamu, ih! Kenapa mengumbar aibku?" protesnya kesal. Rama hanya mencebikkan bibirnya acuh, sementara Ratu dan Ethan tertawa mendengarnya.
Setelah selesai, Ratu dan Ethan berpamitan pulang dengan hati lega. Satu masalah sudah diselesaikan dengan baik, kini tinggal persiapan pernikahan mereka nantinya, yang menurut Ethan akan digelar minggu depan.
"Aku tidak mau jika kau mengadakan pernikahan secara sederhana," ucap Rama saat keduanya baru masuk ke dalam mobil. "Harus besar-besaran, karena aku akan mengundang semua rekan bisnis kita."
"Jangan khawatir, Sam sudah mempersiapkan semuanya dengan baik," tegas Ethan. Ia lalu melajukan mobilnya saat Rama sudah selesai mengatakan semua isi hatinya.
"Apa kita benar-benar akan menikah?" tanya Ratu.
"Menurutmu bagaimana? Tentu saja kita akan menikah, untuk sementara, sampai semua hakku telah aku terima," jawab Ethan.
Ratu menghela napas berat. "Boleh saya menolak dan mengajukan wanita lain untukmu, Om?" tanyanya dengan takut-takut.
"Aku sudah terlanjur menyukaimu, Anjani," jawab Ethan.
"Apa?"