Haii readers, gimana? Udah siapa baca belum? Harus siap, ya! Aku tunggu notif dari kalian, oke?
Happy Reading
***
Bell istirahat telah berbunyi membuat semua siswa menuju kantin sekolah untuk mengisi asupan energi yang habis terkuras kecuali dua gadis remaja yang menyusup ke dalam ruang BK.
“Asiyah, itu wignya Pak Botak ada di atas meja,” ucap Azera Ayudia kepada sahabatnya.
“Iya gue tau, lo diem dong.”
Dengan berjalan menyelinap layaknya maling, mereka secara perlahan mengambil rambut palsu Pak Botak atau tepatnya guru BK saat guru itu pergi ke toilet.
“Dapat gak Asiyah?” Remaja yang bernama Asiyah pun mengangguk.
“Gila, baunya astagfirullah,” gumam Asiyah pelan, lalu mereka mengendap-endap keluar ruangan.
Setelah berhasil keluar ruangan, mereka tertawa. Karena mengerjai guru BK adalah kebahagiaan tersendiri.
“Asiyah, nih rambut palsu mau di apain?” tanya Zera.
Asiyah lalu tertawa, “tenang, nih rambut bisa di buang ke atas pohon, tong s****h, atau kita sembunyiin. Pilih mana?”
“Buang ke atas pohon dong,” ucap Zera dengan bersemangat.
***
Asiyah sekali-kali menguap sambil menatap guru sejarah yang sedang menjelaskan materi sejak sejam yang lalu, “Nih guru gamon banget dah, masa lalu aja di kenang,” gumam Asiyah pelan, takut-takut kalau gurunya dengar.
“Asiyah, ngantuk banget gue gila,” bisik Zera sembari menopang dagunya.
“Gue juga sama.”
“Lo tau gak? Crush lo suka banget kayanya sama sejarah,” ucap Zera sambil menunjuk cowok yang duduk di bangku bagian depan, biasa anak pintar.
“Ya iyalah crush gue ‘kan juara umum. Jadi, suka atau gak suka pasti selalu perhatiin pelajaran, “ bangga Asiyah, sementara Zera menatap jengah.
“Justru karena itu, lo sama si Ali kaya langit dan bumi. Jauh sekali pren,” ujar Zera diiringi tawa.
Brak!
Suara pukulan di meja itu membuat dua sahabat itu mendongak, bisa mereka lihat jika Bu Dena—Guru sejarah sudah berkacak pinggang dengan wajah memerah. “Wah, muka Bu Dena marah. Habis minum jus bon cabe, ya, Bu? Wih, gak nyangka gue kalau ternyata bon cabe itu sepedas itu,” celoteh Zera dengan pikiran yang melayang pada iklan di TV, awalnya ia kira bon cabe tidak sepedas itu tapi ternyata sangat peda. Buktinya wajah gurunya itu merah.
“Apa-apaan kalian, hah? Bisa-bisanya kalian menggosip di jam pelajaran saya!” erang Bu Dena dengan tanduk di kepalanya.
Bukannya, takut Asiyah dan Zera justru tersenyum, “enggak kok Bu, kami gak menggosip. Kami cuma review sikap tetangga doang kok.”
“Keluar kalian berdua!” usir Bu Dena dengan wajah yang memerah.
“No! Harusnya ‘kan kita semua yang keluar.”
“Kenapa?” Asiyah melirik jam tangannya sambil tersenyum manis.
1
2
3
Tring!
Bell pulang sekolah berbunyi membuat antusiasme para siswa yang tadinya hilang langsung kembali.
“Nah, goodbye Bu Dena yang cantik tapi lebih cantikkan gue. See you next time Ms. Dena,” ucap Asiyah menyandang tasnya dan berlari keluar, tentunya bersama Zera membuat anak kelas berdecak kagum pada tingkah beraninya.
Bersambung ...
***
Gimana? Kurang suka, ya atau jelek?