Bab 2: Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Hari itu, kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Sinar matahari yang menembus jendela kantin memantulkan cahaya hangat di atas meja tempat Alana duduk. Pikirannya mulai ruwet. Tugas kuliah yang seharusnya dikerjakan masih menumpuk di layar laptopnya, tapi perhatian Alana terpecah. Semua pikirannya hanya terpusat pada satu hal: Dimas.
Sejak kejadian di koridor kampus, dia merasa ada sesuatu yang berubah. Semakin lama, semakin banyak perasaan yang muncul tanpa bisa dikendalikan. Sesuatu yang terasa berbeda dengan apa yang dia rasakan terhadap Reza. Bukan berarti dia tidak peduli dengan Reza, sahabatnya itu sudah seperti saudara. Tapi, entah kenapa, Dimas membuatnya merasa lebih hidup. Setiap kata yang keluar dari mulut Dimas, setiap senyum yang diberikan, semuanya membuat hatinya berdegup lebih kencang.
Alana menatap ke luar jendela kantin, berusaha mencari jawaban untuk kebingungannya. Tapi, jawabannya tetap tak kunjung datang. Perasaan itu mulai tumbuh, bahkan semakin kuat setiap kali ia melihat Dimas.
Reza duduk di hadapannya, menatap Alana dengan ekspresi serius.
"Lo kenapa, Na? Dari tadi gue liat lo diem aja, kayak mikirin sesuatu yang berat."
Alana menghela napas, mencoba untuk menyembunyikan kegelisahannya. "Gue nggak tahu, Za. Ada yang nggak beres sama perasaan gue."
Reza menyandarkan punggungnya ke kursi dan memandang Alana dengan cemas. "Tentang Dimas, kan?"
Alana terdiam. Dia menatap Reza sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Lo tahu, Za, gue gak pernah ngerasain kayak gini sebelumnya. Dia tuh beda. Semua perasaan gue jadi kacau."
Reza memutar bola mata, jelas tidak senang dengan topik yang mulai dibicarakan. "Na, lo serius? Lo gak lihat gue di sini? Gue udah jadi sahabat lo dari dulu. Gue selalu ada buat lo."
"Dan gue tahu itu, Za. Lo selalu ada. Tapi..." Alana berhenti, menyadari bahwa kata-katanya mungkin akan menyakiti sahabatnya.
"Lo nggak ngerti, kan? Kalau gue nggak ada perasaan lebih sama lo, Za, bukan berarti gue nggak sayang. Tapi perasaan gue itu beda, dan gue nggak bisa bilang lebih dari itu."
Reza terdiam, wajahnya mulai mengeras. "Jadi lo udah milih Dimas, ya?" suaranya terdengar kecewa.
"Enggak, Za, gue... gue nggak tahu. Gue masih bingung. Ini bukan soal milih atau enggak. Gue cuma nggak bisa nggak mikirin dia."
Reza menunduk, menyentuh ujung gelas teh di depannya dengan tangan gemetar. "Kalau itu yang lo rasain, gue nggak bisa paksain lo. Tapi gue nggak akan mundur. Gue bakal selalu ada, Na. Gue nggak peduli sama siapa pun yang ada di sekitar lo."
Alana merasa sesak di dadanya. Dia tahu bahwa Reza akan selalu ada, tapi hatinya mulai berbalik arah. Ada keraguan yang terus menggerogoti pikirannya.
Setelah perbincangan yang penuh ketegangan itu, Alana bergegas keluar dari kantin. Langkah kakinya terasa berat, dan hatinya pun terasa lebih berat lagi.
- - -
Dimas, yang saat itu sedang duduk di taman kampus, melihat Alana berjalan dengan tatapan kosong. Dia merasa ada yang aneh dengan cara Alana berjalan, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya. Tanpa berpikir panjang, Dimas memutuskan untuk mengikuti langkah Alana, berusaha untuk memberi sedikit ketenangan.
"Hey, Alana!" Dimas memanggil dari belakang.
Alana menoleh, sedikit terkejut melihat Dimas yang sudah berdiri di dekatnya. "Oh, Dimas. Lo lagi ngapain di sini?"
Dimas tersenyum tipis, memperlihatkan senyum yang hangat. "Nggak ada, cuma liat lo kelihatannya lagi mikirin sesuatu. Lo baik-baik aja?"
Alana berhenti berjalan, merasa canggung di hadapan Dimas. "Gue nggak tahu. Banyak yang harus gue pikirin."
Dimas berjalan mendekat, mencoba mencairkan suasana. "Kalau lo mau cerita, gue denger kok."
Alana terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk berbicara. "Gue bingung, Dimas. Ada banyak hal yang nggak bisa gue jelasin. Reza itu sahabat gue sejak kecil, dia selalu ada buat gue. Tapi... ada perasaan yang nggak bisa gue tahan, dan itu tentang lo."
Dimas terkejut, namun ia tetap mencoba untuk tetap tenang. "Gue nggak tahu apa yang lo rasain, Alana, tapi gue juga ngerasa ada sesuatu yang beda antara kita. Lo gak perlu ngerasa tertekan. Gue nggak mau lo bingung karena gue."
Alana menatap Dimas dengan tatapan yang penuh pertanyaan. "Tapi gimana dengan Reza? Lo tahu kan dia sahabat gue?"
Dimas mengangguk pelan. "Gue paham. Lo nggak perlu milih sekarang. Coba pikirin semuanya dulu. Gue nggak bakal buru-buru ngelakuin apa pun. Gue cuma pengen lo bahagia, Alana."
Di tengah keraguan dan kebingungannya, Alana merasa ada ketenangan yang diberikan oleh Dimas. Namun, suara hati kecilnya terus mengingatkan dia akan Reza, sahabat yang sudah menemani hidupnya sejak lama.
- - -
Malam itu, Alana duduk di balkon rumahnya, menatap langit malam yang gelap. Dia merasa seakan terjebak di antara dua dunia—sahabat yang selalu ada, dan seseorang yang membuatnya merasa lebih hidup. Alana tahu bahwa dia harus segera mengambil keputusan. Waktu tak akan menunggu, dan perasaan itu tidak bisa terus dipendam.
Namun, apapun yang dia pilih, ia tahu bahwa tidak akan ada jalan yang mudah. Setiap pilihan akan membawa konsekuensinya sendiri.
Bahkan jika akhirnya, dia harus kehilangan salah satu dari mereka.