Muhammad Ali Damar atau biasa dipanggil Damar tinggal di sebuah desa yang masih lekat dengan adat istiadatnya yaitu desa Kalijati, desa tersebut masih menjaga adat istiadat yang diperoleh dari nenek moyangnya. Damar merupakan anak yatim piatu yang hidup sebatang kara, Ia merupakan seorang pemuda yang umurnya sekitar 20 tahun yang tinggal sendirian di rumah kecil peninggalan orang
tuanya. Damar memang terbiasa hidup mandiri sejak kecil hingga Ia dewasa kini, selain itu Damar juga
cukup paham dengan ilmu Agamanya, setiap sore Ia mengajar ngaji anak – anak kecil di masjid desanya
secara ikhlas tanpa ada pungutan biaya sepeser pun.
Damar mempunyai seorang sahabat yang setia mendampinginya Ia bernama Kumala. Seringkali Kumala menginap di rumah Damar, keluarga Kumala mengizinkannya untuk berteman dengan Damar, karena Damar merupakan anak yang baik. Untuk mencukupi kebutuhannya sehari – hari Damar bekerja di sawah Haji Muksin, walaupun upah yang di dapatnya tidak banyak, yang penting cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari – hari. Saat itu listrik belum ada Damar hanya menggunakan thinthir atau sebuah alat yang dibuat dari kaleng yang berisi minyak tanah dan diberi sumbu diatasnya yang digunakan untuk penerangan di malam hari, memasak pun masih menggunakan kayu.
Matahari belum menampakkan diri seutuhnya, ketika orang lain masih tertidur pulas, lain halnya dengan Damar dan Kumala, mereka berdua sudah bersiap untuk berangkat ke sawah Haji Muksin. Sesampainya disawah Haji Muksin mereka berdua langsung menurunkan cangkul yang di taruhnya di pundak Mereka masing – masing, saat itu mereka mendapat tugas untuk mencangkul sawah yang dibantu oleh pekerja – pekerja lainnya, Damar dan Kumala pun segera mengerjakan tugasnya tersebut, dengan penuh semangat mereka berdua mengerjakannya, disela – sela pekerjaannya terjadi percakapan antara Kumala dengan Damar.
“Mar, kamu tahu tidak anaknya Haji Muksin yang perempuan itu ?” kata Kumala.
“Yang mana Kum ?” sahut Damar.
“Jadi kamu belum tahu anaknya Haji Muksin yang perempuan itu Mar ?”
“Belum Kum, Aku juga baru tahu kalau anaknya Haji Muksin itu perempuan”
“Anak Haji Muksin namanya Melati Mar, orangnya cantik, ramah, tidak seperti Ayahnya yang Super judes itu, haha...” ucap Kumala.
“Jangan seperti itu Kum, emangnya kamu kenal sama Anaknya Haji Muksin itu ?” cakap Damar.
“Tapi emang bener kan Mar, hehe..., Aku kenal sama Melati waktu di sungai Mar saat nolongin Dia hampir keseret arus sungai”
“Owalah pantesan”
“Kalau ketemu sama Melati, pasti Kamu langsung klepek – klepek Mar, haha...” celetuk Kumala sembari tertawa.
“Ah sudah – sudah Kum, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita biar cepat selesai, malah ngelantur Kamu nanti” sahut Damar sembari kembali meneruskan pekerjaannya.
“hehe..., iya deh” ucap Kumala tersenyum sembari kembali mencangkul.
Waktu sudah menjelang Maghrib, matahari juga hampir tenggelam di sebelah barat, Damar dan Kumala pun bergegas membereskan peralatannya dan segera pulang ke rumahnya. Malam ini Kumala akan menginap di rumah Damar, sehingga Kumala langsung pulang ke rumah Damar. Selesai membersihkan diri dari lumpur sawah dan mandi mereka berdua kemudian bergegas pergi ke Masjid. Seperti biasa Damar setiap sore menjelang Maghrib Damar mengajar ngaji anak – anak di desanya.
“Asalamuallaikum...” Damar memberikan salam kepada anak – anak yang sudah siap di Masjid.
“Walaikumsallam...” Jawab semua anak – anak yang ada di Masjid.
“Maaf ya, Bang Damar kali ini agak telat, soalnya tadi nungguin bang Kumala”
“Ayo Adik – adik kita mulai pengajiannya dengan membaca Surah Al-Fatihah”
Mereka memulai Pengajiannya dibuka dengan Surah Al-Fatihah, Pengajian tersebut dilaksanakan secara khusyu’ dan penuh dengan keceriaan. Damar Mengajar ngaji anak – anak dengan penuh kesabaran dan keramahan, anak – anak pun juga suka diajar ngaji oleh Damar.
Waktu Maghrib sudah tiba, Damar pun bergegas mengambil air wudhu kemudian bersiap untuk mengumandangkan Adzan Maghrib. Saat Adzan dikumandangkan oleh Damar, orang – orang selalu tertegun mendengarnya, dan mereka sudah hafal bahwa itu suara Adzan yang dikumandangkan oleh Damar. Namun ada seseorang yang lebih kagum mendengarkan Adzan yang dikumandangkan oleh Damar, Ia adalah Melati putri dari Haji Muksin.
“Subhanallah, merdu sekali adzan Maghrib ini, siapa ya yang mengumandangkannya.” Ucap Melati sambil terkagum – kagum.
“Melati, Ayo ke Masjid shalat Maghrib dulu !” ajak Haji Muksin ayah Melati.
“Iya Yah, sebentar Melati siap – siap dulu” sahut Melati sembari bersiap untuk pergi ke Masjid.
Setelah Melati siap, Haji muksin sekeluarga bergegas pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Sesampainya di Masjid, Haji Muksin menempatkan diri di shaff / barisan paling depan untuk bersiap menjadi Imam shalat Maghrib. Iqomah pun di kumandangkan, Melati pun semakin penasaran siapa pemilik suara tersebut.
“Subhanallah, suaranya merdu sekali, siapa pemilik suara ini ya...” ucap Melati dalam hatinya.
Haji Muksin menjadi Imam shalat Maghrib tersebut, shalat berjalan dengan khusyu’, selepas shalat Maghrib dilanjutkan kegiatan tadaruz Al-Qur’an sembari menunggu waktu Isya’. Melati pun kembali penasaran dengan orang yang mengumandangkan Adzan dan Iqomah tadi, sambil melirik – lirik mencari orang tersebut di dalam Masjid, terkejutlah Melati ketika pundaknya di tepuk oleh Mawar.
“Melati, Kamu sedang cari apaan sih, dari tadi Aku lihatin kok kayaknya kamu lagi cari sesuatu ?” tanya Mawar ke Melati.
“E...Enggak kok, Aku nggak cari apa – apa War” jawab Melati dengan nada gugup.
“Yang bener ?” tanya Mawar.
“Iya Mawar”
Adzan Isya’ pun dikumandangkan kembali, namun kali ini bukan Damar yang mengumandangkannya. Adzan Isya’ ini memang sangat ditunggu oleh Melati, agar Ia bisa melihat orang yang mengumandangkan Adzan Maghrib tadi, namun kenyataannya yang mengumandangkan Adzan Isya’ kali ini lain orang, bukan Damar, orang yang dimaksud Melati saat itu. Shalat isya’ pun kembali di Imami oleh Haji Muksin dan berjalan kembali dengan khusyu’. Selepas menunaikan shalat Isya’ semua jamaah kembali ke rumahnya masing – masing. Rasa penasaran Melati pun belum hilang, Ia sengaja pulang agak terakhir untuk mengetahui siapa yang mengumandangkan adzan Maghrib tadi. Sampai Akhirnya Melati Bertemu dengan Kumala.
“Melati, kok Kamu belum pulang ?” tanya Kumala.
“Bang Kumala, Abang tau tidak orang yang mengumandangkan adzan Maghrib tadi sore ?” celetus Melati.
“Edd...dah Melati, Kamu ditanya malah ganti bertanya” ujar Kumala.
“hehe... Maaf Bang soalnya Melati penasaran sih sama orang itu, suaranya merdu”
“Owalah... dia temenku, namanya Damar, tapi orangnya pulang duluan tadi”
“Wahh.. ternyata orang itu temen Abang, kapan – kapan dikenalin ya Bang sama Dia, mau lihat orangnya langsung, hehe...” kata Melati.
“Iya deh, nanti kalau ada waktu tak kenalin sama Dia”
“Ya udah Bang, Melati pulang dulu ya, Assalamualaikum ..”
“Waallaikumsalam..” jawab Kumala.
“Mawar ayo Kita pulang, udah malam ni” ajak Melati ke Mawar.
“Ayo deh” ucap Mawar.
“Bang Kumala kita berdua pulang dulu ya, Assalamualaikum...” salam Mawar ke Kumala.
“Iya Mawar, Waallaikumsalam...”
Kumalapun bergegas pulang ke rumah Damar, sesampainya di rumah Damar, Ia menghampiri Damar yang sedang memasak air untuk digunakan Damar membuat kopi sebagai teman ngobrol dengan Kumala.
“Assalamuallaikum...” ucap Kumala.
“Waallaikumsalam...” sahut Damar.
“Eh kamu Kum, kok baru pulang dari mana saja ?”
“Iya Mar tadi Aku ketemu sama Melati, terus Dia tanya tentang Kamu”
“Hlo kok tanyain Aku, emang nanyain tentang apa Kum ?” tanya Damar sambil menuangkan air yang sudah mendidih ke gelas untuk menyeduh kopi.
“Tadi Melati tanya sama Aku, siapa orang yang ngumandangin Adzan Maghrib tadi sore, ya Aku jawab Damar temenku begitu, hehe.. katanya suaranya merdu Mar”
“Owalah... Alhamdulillah deh banyak yang suka sama suara Adzanku Kum” sahut Damar.
“Kabar bagusnya lagi, Melati mau kenalan sama kamu Mar, hehe...”
“Ahh... mana mungkin Kum Melati anaknya orang kaya di desa ini mau kenalan sama Aku yang hanya anak yatim piatu miskin ini” ujar Damar sambil menyodorkan segelas kopi ke Kumala.
“Duhh... jangan ngomong gitu Mar, Melati kan wataknya beda sama Haji Muksin Ayahnya itu”
“Hmmm... sudah deh Kum, kita bahas lain kali saja, hehe... mari di minum kopi hangatnya” ucap Damar sambil meniup kopi yang masih panas itu.
“Wah kalau ini bukan kopi hangat Mar namanya, tapi kopi panas, haha...” ujar Kumala sambil tertawa.
Malam itupun mereka berdua bersanda gurau di rumah Damar. Malam semakin larut, Damar dan Kumala pun bergegas untuk tidur agar besok bangun tidak kesiangan untuk bekerja kembali di sawah Haji Muksin.
“Kum, ayo tidur, dah malam nih, besok malah kesiangan lagi” ajak Damar.
“Ayo Mar, lagipula Aku juga sudah ngantuk”
Damar dan Kumala bergegas tidur namun sebelum itu mereka berdua mengecek terlebih dahulu apakah pintu sudah terkunci atau belum, api di dapur masih menyala atau sudah mati, ini semua untuk berjaga – jaga agar tidak terjadi hal –hal yang tidak diinginkan. Setelah semuanya sudah dicek mereka berdua bergegas tidur dengan beralaskan anyaman tikar, dan dengan penerangan dari api yang ada di thinthir milik Damar.
Ayam jago sudah mulai berkokok pertanda hari sudah mulai pagi, Damar terbangun dari tidur lelapnya, tak lupa Ia membangunkan Kumala untuk segera menunaikan shalat subuh. Selepas menunaikan shalat Shubuh Damar dan Kumala bergegas untuk mandi.
“Kum, Aku mandi duluan ya..” ucap Damar.
“Iya Mar” jawab Kumala.
Selesai mandi, mereka berdua menyiapkan cangkulnya yang akan digunakan untuk kembali bekerja di sawah Haji Muksin.
“Mar, ayo ke sawah sekarang” ajak Kumala ke Damar.
“Ayo Kum” ucap Damar sambil beranjak ke luar rumahnya. Tak lama kemudian mereka berdua berangkat ke sawah Haji Muksin, ditengah jalan Damar dan Kumala bertemu Haji Muksin yang hendak pergi ke pasar tempat penjualan usaha pertanian dan perkebunannya.
“Assalamuallaikum.. Pak Haji” salam Damar ke Haji Muksin.
“Waallaikumsalam..” sahut Haji Muksin dengan nada agak cuek.
“Berangkat ke pasar Pak Haji ?”
“Iya, yang bener Kalian berdua kerjanya, biar cepet selesai”
“Baik Pak Haji” sahut Damar dan Kumala.
“Dah sana cepetan berangkat ke sawah”
“Iya Pak Haji, Assalamuallaikum..” ucap Damar.
“Waallaikumsalam..” sahut Haji Muksin sambil bergegas meninggalkan Damar dan Kumala.
Damar dan Kumala pun kembali melangkahkan kakinya untuk menuju sawah Haji Muksin. Di tengah – tengah perjalanan terjadi percakapan antara Damar dan Kumala.“Mar, sayang ya Haji kok wataknya kayak gitu..” ucap Kumala dengan rasa kecewa.
“Hmm..., sudahlah Kum mungkin Allah punya rencana lain untuk Haji Muksin” sahut Damar.
“Mungkin kamu benar juga ya Mar”
“Sudah – sudah ayo ke sawah, nanti dimarahin Haji Muksin lagi” ucap Damar sambil mempercepat langkah kakinya.
“Iya Mar” sahut Kumala sambil mengikuti Damar mempercepat langkah kakinya.
Sesampainya di sawah, mereka berdua langsung turun ke sawah yang berisi genangan lumpur untuk dicangkul, Damar dan Kumala melanjutkan pekerjaannya yang kemarin belum terselesaikan.
Tidak hanya Damar dan Kumala yang bekerja di tempat pertanian dan perkebunan milik Haji Muksin, tetapi ada banyak pekerja yang dimiliki Haji Muksin, orang – orang yang bekerja di sawah Haji Muksin berasal dari desanya sendiri yaitu desa Kalijati. Setiap orang mendapat jatah pekerjaan masing – masing sesuai dengan yang diberikan oleh mandornya yaitu Haji Muksin. Upah diberikan oleh Haji Muksin setiap satu minggu sekali, upah yang didapat sangat rendah memang, namun harus bagaimana lagi, di desa tersebut hanya terdapat lowongan pekerjaan di tempat pertanian dan perkebunan milik Haji Muksin tersebut.
Siang itu matahari sangat terik, Damar pun memutuskan untuk beristirahat sejenak, pekerja – pekerja lainnya pun juga ikut beristirahat. Sesaat kemudian Haji Muksin datang.
“Hei.. !! sudah istirahatnya, cepetan kerja lagi, kerja kok enak – enakan, mau dapat duit gak Kalian !!” seru Haji Muksin memarahi pekerjanya.
Para pekerja pun langsung bergegas kembali bekerja sesuai dengan tugasnya masing – masing. Mereka semua memang sangat takut dengan Haji Muksin dikarenakan takut jika nanti tidak mendapat upah darinya. Meskipun Haji Muksin terkesan galak, namun untuk urusan Agama Ia selalu memprioritaskannya, ketika waktu shalat pun para pekerja diajak untuk menunaikan shalat secara berjamaah oleh Haji Muksin.
Waktu dhuhur pun telah tiba. Haji Muksin datang mengajak para pekerjanya untuk membersihkan dirinya masing – masing, dan diajak ke masjid untuk menunaikan shalat Dhuhur berjamaah.
“Hei Kalian semua, cepat bersihkan diri Kalian masing – masing, lalu bersiap pergi ke masjid untuk shalat Dhuhur berjamaah” ucap Haji Muksin sambil melangkahkan kakinya menuju ke masjid.
“Baik Pak Haji” sahut para pekerja serentak.
Para pekerja pun bergegas membersihkan dirinya masing – masing di sungai dekat sawah milih Haji Muksin. Namun lain dengan Damar, Ia begitu terpana ketika melihat Melati yang berjalan ke Masjid bersama Haji Muksin.
“Kum, itu ya yang namanya Melati ?” tanya Damar ke Kumala.
“haha... iya Mar, cantik kan ?, Kamu sih ngeyel di bilangin” ledek Kumala.
“Subhanallah... cantik Kum”
“Sudah – sudah ayo bersihin lumpur ini lalu ke Masjid Mar, kapan – kapan tak kenalin sama Melati” ucap Kumala sambil bergegas ke sungai.
“Iya deh ayo...” sahut Damar.
Selepas membersihkan dirinya, Damar dan Kumala bergegas menuju ke Masjid untuk menunaikan shalat Dhuhur, diikuti oleh para pekerja lainnya. Haji Muksin memerintahkan Damar untuk mengumandangkan Adzan Dhuhur.
“Mar, Ayo kumandangkan Adzan Dhuhur nya” suruh Haji Muksin.
“Baik Pak Haji” sahut Damar
Adzan Dhuhur pun dikumandangkan oleh Damar dengan suara merdunya itu. Melati pun mendengar lantunan Adzan Dhuhur yang dikumandangkan Damar tersebut.
“Subhanallah... suaranya begitu indah, apa itu yang dimaksud Damar oleh bang Kumala kemarin malam” ucap Melati dalam Hati
Tak lama kemudian Iqomah pun dikumandangkan, shalat Dhuhur dimulai dengan imam Haji Muksin.
Selepas menunaikan shalat Dhuhur para pekerja kembali ke tempat pertanian dan perkebunan Haji Muksin. Ditengah perjalanan pulang ke rumahnya, Melati bertanya kepada Ayahnya Haji Muksin.
“Ayah..., tadi itu yang mengumandangkan Adzan Dhuhur itu siapa ?” tanya Melati.
“Oh.., itu Damar, memangnya kenapa ?”
“Enggak yah, suaranya merdu sekali ketika mengumandangkan Adzan tadi”
“Memang bagus suaranya, makanya Ayah selalu meminta Dia untuk mengumandangkan Adzan” ucap Haji Muksin.
“Oh iya yah” sahut Melati.
Ketika melintasi area persawahan, Melati melihat Damar yang sedang mencangkul sawah milik Ayahnya tersebut. Melati pun melihati Damar dari kejauhan, tak disangka Damar pun juga melihatnya, Melati pun kaget kemudian Ia tersenyum agak malu ke Damar, Damar pun juga membalasnya dengan senyum ramahnya.
“Mar.. Mar.., Melati melihatmu sambil tersenyum tu” celetuk Kumala,
Damar tak menggubris ucapan Kumala, sebab ia masih asik tersenyum ramah dengan Melati yang berada di seberang jalan menuju ke rumahnya.
“Hei.. Mar !!” seru Kumala sembari menepuk pundak Damar.
“Eh.. I.. Iya Kum” sahut Damar kaget.
“Keasyikan lihat Melati, sampai – sampai temennya bicara gak di dengerin”
“hehe.. maaf Kum, tadi Melati senyum melihatku, ya aku balas senyumnya” ucap Damar.
“Ciee... haha” ledek Kumala sambil tertawa.
“Kamu Kum..., sudah – sudah kita lanjutin kerjanya”
“haha...” Kumala tertawa melihat Damar yang tersipu malu.
Damar dan Kumala memang tipe orang yang pekerja keras, mereka berdua tak pernah mengeluh sedikit pun walaupun diberi pekerjaan yang berat sekalipun.
Hari sudah mulai senja, matahari pun mulai tenggelam di ufuk barat, Damar dan Kumala bergegas pulang. Seperti biasa Damar setiap sore mengajar ngaji anak – anak di Desa Kalijati dengan dibantu oleh teman sejatinya yaitu Kumala.
Malam ini Damar tidur sendirian di rumahnya, sebab Kumala tak bisa menemaninya dikarenakan Ibunya sedang sakit. Di kursi bambu yang terletak di teras depan rumah Damar, malam ini Ia duduk membayangkan kejadian tadi siang. Damar terus kepikiran dengan Melati yang tadi siang tersenyum kepadanya.
“Subhanallah... Dia wanita cantik, sholehah lagi” gumam Damar dalam hatinya sambil membayangkan wajah Melati.
Tak lama kemudian Damar masuk ke dalam rumahnya untuk menyiapkan makan malamnya. Menu makan malam Damar kali ini hanya tempe goreng dan sambal yang dibuatnya sendiri, dan segelas air putih untuk minumnya, meskipun hanya makan dan minum dengan menu yang sederhana, Damar tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah untuknya. Damar juga tak pernah mengeluh walaupun Ia hanya hidup sebatang kara, tidak ada sanak saudara yang hidup bersamanya, lagi pula Damar sudah sangat bahagia mempunyai teman yang baik dan setia menemaninya disaat apa pun dan bagaimana pun yaitu Kumala.
Selain cukup paham dengan ilmu Agamanya, Damar juga mempunyai bakat lain yaitu melukis, bakat itu mungkin diturunkan dari Bapaknya, sebab dulu ketika Bapaknya masih hidup, Ia pandai membuat lukisan – lukisan yang indah, hingga sampai saat ini lukisan Bapaknya tersebut masih dipasang di bilik kamar Damar yang terbuat dari bambu.
Malam itu Damar terbesit untuk melukis perempuan yang dianggapnya perempuan cantik dan sholehah tersebut, Ia adalah Melati. Diambilnya sebuah kertas putih yang biasa Ia gunakan untuk melukis dan sebuah pensil yang ukurannya sudah kecil karena dirautnya setiap saat Damar gunakan. Damar mulai menorehkan pensil ke kertas putihnya itu, dengan membayangkan wajah Melati, perlahan Ia melukiskannya di atas kertas putihnya tadi. Lukisannya yang dibuat kali ini begitu indah dan menawan, dilukis sedemikian rupa oleh Damar semirip mungkin dengan Melati.
Malam semakin larut, Damar belum juga selesai membuat lukisannya itu. Kali ini Ia benar – benar melukis menggunakan perasaannya, setiap goresan pensil yang Ia torehkan di kertas putihnya mengandung makna tersendiri olehnya. Beberapa jam telah Damar lewati untuk membuat lukisan Melati tersebut, Akhirnya telah Ia selesaikan dengan hasil yang sangat menawan setiap orang melihatnya.
Namun ada yang terlewatkan di lukisan Damar tersebut, Ia kembali mengambil pensilnya dan menuliskan sebuah tulisan di bawah lukisannya tersebut. Dua buah kata dituliskan Damar di bawah lukisannya tersebut, kata tersebut mengandung makna yang sangat mendalam menurutnya. Tulisan yang ditulis Damar di bawah lukisannya tersebut adalah “BIDADARI SURGA”.Setelah dianggapnya selesai, Damar beranjak dari tempat duduknya sembari membawa lukisan yang dibuatnya tadi. Damar menuju kamar kecilnya yang dipenuhi lukisan buatan ayahnya sendiri. Damar menempatkan lukisan Melati tadi di samping lukisan dirinya sendiri yang dibuat oleh ayahnya, entah karena alasan apa Ia menyandingkan lukisan dirinya dengan lukisan Melati yang dibuatnya tadi, tanpa disengaja Ia menempatkannya di situ.
Keesokan harinya sebelum Damar berangkat ke sawah Haji Muksin Ia memandangi lukisan Melati yang Ia buat semalam.
“Mar... Damar !! Ayo berangkat ke sawah !” seru Kumala dari luar rumah Damar sembari mengetuk pintu kayu rumahnya.“Iya Kum sebentar, tak ambil cangkul dulu” jawab Damar dari dalam rumahnya.
Damar memang sudah hafal betul dengan logat suara dari Kumala, sehingga Ia tidak perlu melihat ke luar rumah, siapa yang memanggilnya tadi.
“Ayo Kum berangkat sekarang !!” ucap Damar sambil ke luar dari rumahnya.
“Ayo...”
Kedua pemuda itu pun melangkahkan kakinya menuju sawah Haji Muksin. Seperti hari – hari biasanya Mereka berdua mengerjakan tugas yang diberikan oleh Haji Muksin. Dengan gigih dan penuh semangat Damar dan Kumala mengerjakan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Sore itu ketika pulang dari sawah Haji Muksin, Damar dan Kumala berjalan beriringan seperti biasanya sembari menikmati udara senja yang begitu sejuk, dan begitu bersih serta jauh dari polusi yang berbeda dengan udara di daerah perkotaan.
“Mar.. malam ini aku nginep di rumahmu lagi ya” ucap Kumala.
“Iya Kum, emangnya Ibu Kamu sudah sembuh ?” tanya Damar.
“Sudah Mar.. Ibu kemarin cuma kecapean aja”
“Oh.. iya deh kalau begitu” ucap Damar.
Sesampainya di rumah Damar, mereka berdua duduk di kursi bambu di teras depan rumah Damar, sembari melepas lelah setelah bekerja seharian. Sore ini Damar libur mengajar ngaji anak – anak di desa untuk digunakannya beristirahat.
“Mar.. Aku mandi duluan ya” ucap Kumala.
“Iya Kum, Aku mau istirahat sebentar dulu” jawab Damar.
Selepas mandi, Kumala berganti pakaian yang sudah Ia siapkan di kamar Damar. Tanpa disengaja Kumala melihat sebuah lukisan yang tergantung di bilik kamar Damar yang berdampingan dengan lukisan diri Damar.“Subhanallah... apa ini Melati, sungguh cantik sekali lukisan ini...” gumam Kumala terkagum – kagum.
“Mar.. Damar.., kesini bentar dong” seru Kumala memanggil Damar dari kamar.
“Ada apa Kum ?” sahut Damar sembari beranjak menuju ke kamarnya.
“Lukisan ini Kamu yang buat Mar ?” tanya Kumala.
“Hehe.. Iya Kum, Aku yang buat kemarin malam”
“Wah, Lukisan ini sungguh cantik Mar, Kamu bisa jadi pelukis terkenal kalau tahu ini karyamu Mar”
“Kamu Kum bisa aja, Aku mandi dulu nanti disambung lagi” ucap Damar dengan tersenyum sembari ke luar dari kamarnya mengambil handuk untuk mandi.
“Oke deh...” sahut Kumala.
Selesai mandi, Damar kembali ke kamarnya menemui Kumala. Damar berbincang – bincang sebentar dengan Kumala sembari menunggu waktu shalat Maghrib.“Mar.. Aku baru tahu hlo, kalau Kamu jago nglukis... lagian Kamu juga gak pernah cerita sih sama Aku” ujar Kumala.
“Hehe... Aku nggak jago Kum, cuma iseng saja” sahut Damar sambil tersenyum.
Tak lama kemudian terdengar adzan Maghrib, Damar dan Kumala bersiap diri kemudian bergegas pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Meskipun Damar dan Kumala hidup dengan keadaan yang kurang berkecukupan, Mereka berdua tetap mensyukuri apa yang telah diberikan oleh-Nya. Seperti halnya Mereka selalu taat beribadah, selalu menjalankan apa yang telah Allah perintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya.
Malam ini Damar tidak melihat Haji Muksin dan Melati di Masjid, padahal Ia ingin sekali berkenalan dengan Melati anak dari Haji Muksin tersebut.“Kum...tumben ya, malam ini Melati gak datang ke Masjid ?” tanya Damar ke Kumala.
“Iya ya Mar... biasanya Haji Muksin jadi imamnya, tapi kok malam ini malah gak datang” sahut Kumala.
“Ya udah Kum..., Kita pulang saja” ajak Damar.
“Ya Mar... Ayo”
Seperti malam – malam biasanya ketika Kumala menginap di rumah Damar, mereka selalu membuat kopi untuk teman ngobrolnya. Damar telah selesai membuat segelas kopinya, Ia kemudian menyuguhkannya ke Kumala.
“Ini Kum.. kopinya di minum, mumpung masih anget” ucap Damar.
“Ohh iya Mar, makasih”
“Ehh Mar... itu bawah lukisannya Melati ada tulisan Bidadari Surga maksudnya apa ya ?” tanya Kumala penasaran.“Ohh itu Kum... Melati itu kan Perempuan yang cantik sholehah lagi, ibarat Bidadari Surga Kum menurut Aku, jadi ya dibawah lukisan itu Aku tambahin tulisan Bidadari Surga”
“Ohh betul juga Kamu ya Mar, hehe...” ucap Kumala.
“Besok pembagian upah kerja kan Kum ?” tanya Damar.
“Wahh.. iya ya Mar, Aku malah gak ingat”
“Kita syukuri aja ya Kum pemberian Allah, apapun dan berapapun hasilnya”
“Oke Mar, hehe..” sahut Kumala sambil tertawa kecil.
Malam sudah semakin larut, rasa kantuk Damar mulai datang, Damar pun mengajak Kumala untuk segera beristirahat supaya besok tidak bangun kesiangan. Malam ini Mereka berdua begitu bahagia, sebab keesokan harinya Mereka akan menerima upah yang akan diberikan oleh Haji Muksin.
Keesokan harinya Damar dan Kumala bergegas pergi ke sawah Haji Muksin dengan hati yang sumringah. Sesampainya di sawah, Mereka berdua melihat banyak orang yang telah datang ke tempat pertanian Haji Muksin, semua mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan yang diberikan oleh Haji Muksin.
“Wahh... dah banyak yang berangkat Mar” ucap Kumala.
“Iya ya Kum... alhamdulillah deh, banyak yang rajin, hehe....” sahut Damar.
Damar dan Kumala segera mengerjakan tugasnya, Mereka berdua belum menyelesaikan tugas mencangkul sawah yang diberikan oleh Haji Muksin, sawah Haji Muksin memang begitu luas, maka tak heran jika Mereka belum juga menyelesaikannya, tidak hanya Damar dan Kumala yang diberi tugas mencangkul namun ada juga pekerja lainnya yang mendapat tugas untuk mencangkul.
Seperti hari – hari biasanya, Mereka semua bekerja dengan penuh semangat tanpa mengeluh sedikitpun. Waktu terus berjalan, para pekerja tetap bekerja menyelesaikan tugas yang diberikan untuknya, sampai akhirnya hari sudah mulai senja, para pekerja mulai berhenti bekerja dan Mereka semua beranjak pergi menuju rumah Haji Muksin untuk menerima upah yang biasa diterimanya setiap seminggu sekali.
“Alhamdulillah ya Kum, tugas mencangkul Kita akhirnya selesai juga” celetuk Damar di perjalanan menuju rumah Haji Muksn.
“Iya Mar... Alhamdulillah, nanti kita tinggal bilang sama Haji Muksin kalau tugas mencangkul Kita sudah selesai, supaya Kita diberikan tugas yang lainnya” sahut Kumala.
Rumah Haji Muksin letaknya tak begitu jauh dari tempat pertanian dan perkebunannya, maka dari itu perjalanan dari sawah menuju rumah Haji Muksin tak membutuhkan waktu yang begitu lama. Setelah sampai di rumah Haji Muksin Mereka semua berkumpul di halaman depan rumahnya, menunggu Haji Muksin untuk membagikan upah kerja selama satu minggu.
“Perhatian !!! silahkan berbaris untuk segera menerima upah kerja Kalian masing – masing” seru salah seorang pesuruh Haji Muksin.
Mereka semua pun segera berbaris menuruti apa yang telah diperintahkan tadi. Upah mulai dibagikan satu persatu kepada masing – masing para pekerja. Tiba giliran Damar untuk menerima upahnya.
“Ini upah Kamu ....” ujar Haji Muksin.
“Terimakasih Pak Haji, Ohh iya... tugas Kami mencangkul sawah milik Pak Haji sudah Kami selesaikan” ucap Damar.
“Beritahu para pekerja yang mendapat tugas mencangkul sawah, nanti selesai pembagian upah untuk berkumpul terlebih dahulu untuk menerima tugas yang selanjutnya”
“Iya Pak Haji, akan segera Saya beritahu” sahut Damar.
Damar segera memberitahu pada para pekerja yang mendapat jatah mencangkul sawah untuk berkumpul setelah pembagian upah selesai. Satu persatu para pekerja telah menerima upah kerjanya, dan akhirnya pembagian upah pun selesai, Damar dan para pekerja yang Ia beritahu tadi segera berkumpul dengan Haji Muksin. Pembagian tugas dimulai oleh Haji Muksin, Masing – masing dari Mereka telah mendapat tugas barunya, yang baru saja diberikan oleh Haji Muksin.
“Untuk Kamu Damar !!! tugasmu buat pupuk kompos di belakang rumah Saya, Kamu akan dibantu Kumala, ingat Kamu harus mengerjakannya dengan benar, jangan telat datang ke sini !!!” pinta Haji Muksin.“Iya Pak Haji, insyaallah akan Saya lakukan dengan benar” sahut Damar.
Damar begitu sumringah ketika Ia mendengar Haji Muksin memberikan tugas untuk membuat pupuk di belakang rumahnya, sebab Damar bisa bertemu Melati setiap saat pikirnya saat itu. Mereka semua pulang ke rumahnya masing – masing setelah mendapatkan tugas yang telah diberikan oleh Haji Muksin.
“Kum..., malam ini Kamu mau nginep di rumahku lagi atau tidak ?” tanya Damar.
“Iya Mar, Aku nginep lagi malam ini”
“Okee dehh...” sahut Damar.
Seperti biasanya setiap sore sepulang kerja dari sawah Haji Muksin, Damar mengajar anak – anak mengaji di Masjid desanya, dibantu oleh Kumala sahabat sejati Damar yang selalu setia bersamanya di saat apapun.
Sepulang dari Masjid Damar dan Kumala berbincang – bincang di kamar Damar, Mereka berdua kembali membicarakan Melati anak Haji Muksin yang dianggapnya sebagai Bidadari Surga tersebut. Tak lupa segelas kopi dan tempe goreng yang baru saja dibuat oleh Damar sebagai teman ngobrolnya.
“Kum... Aku senang deh, kita dapat tugas buat pupuk di belakang rumah Haji Muksin” ucap Damar sumringah.
“Seneng karna bukan dapat tugas buat pupuknya kan ?hehe...” ledek Kumala.
“Kalo bukan karna tugas, terus karna apa dong ?haha...” sahut Damar sambil tertawa.
“Karna Kamu bisa lebih dekat sama Bidadari Surga, haha...”ujar Kumala sambil tetawa.
“Hahaha....” Damar dan Kumala tertawa bersama.
“Aku sudah gak sabar nih Kum, pengen cepetan besok, hehe...”
“Besok pokoknya Kamu harus kenalan sama Melati, siapa tahu dia kepincut sama Kamu, hehe...” cakap Kumala.
“Ahh.. Kamu ini Kum, mana mungkinlah, Melati anak saudagar kaya seperti Haji Muksin itu suka sama Aku”
“Wahh.. Kamu ini Mar, kan Kamu yang bilang sama Aku, Rezeki, Jodoh, Maut sudah diatur sama Yang Maha Kuasa” ucap Kumala.
“Hehehe.... iya ya Kum, lupa Aku” ucap Damar sambil tersenyum.
Suasana kekeluargaan Mereka berdua pun terjalin semakin erat, sama halnya dengan kehangatan dan keakraban hubungan persahabatan Mereka berdua. Damar dan Kumala sudah menganggap masing – masing dari Mereka adalah keluarganya sendiri.
Malam semakin larut, suasana pun berubah menjadi sunyi, hanya tinggal suara jangkrik, dan burung hantu yang berbunyi sekali dua kali. Damar dan Kumala masih asik mengobrol di kamar Damar yang terbuat dari bambu tersebut, saking asiknya mengobrol sampai – sampai Mereka berdua tidak menyadari jika malam sudah semakin larut.
“Wahh, gak nyangka ya Mar, dah malam gini” celetuk Kumala.
“Iya nih Kum, tiba – tiba dah malam aja” sahut Damar.
“Ayo tidur Mar, besok pagi biar gak ngantuk, kan mau ketemu Bidadari Surga, haha...” ujar Kumala meledek Damar sembari tertawa.
“hahaha.... Kamu nih Kum, dah dah Ayo tidur” sahut Damar.
Damar dan Kumala beranjak untuk tidur, walau tidur hanya beralaskan tikar hasil anyaman dan dengan penerangan lampu thinthir, Damar dan Kumala dapat tidur dengan nyenyak.