Basir mencondongkan tubuh. Meletakkan kedua sikut di atas meja kerja Fahri-adik iparnya-lalu pria gagah memiliki garis wajah timur tengah dengan sisa cambang habis dicukur itu menautkan jari-jari tangan. Ia melirik sebentar pada sang adik perempuan yang duduk pada lengan kursi suaminya, baru kemudian beralih pada Fahri.
Melihat gelagat sang kakak ipar, Fahri sudah bisa menduga Basir akan menyampaikan hal cukup penting. Sementara tangan Isyana yang berada di bahunya, semakin terasa dingin menembus kemeja. Tanpa sadar, istri terkasih itu pun mulai mencengkeram erat bahu sang suami. Fahri jadi merasa lucu, karena istrinya tercinta malah lebih cemas menghadapi kakaknya sendiri dibanding dirinya yang hanya adik ipar.
“Akhi, apa istrimu sudah menyampaikan rencananya yang tidak masuk akal itu?”
Isyana menggigit bibir bawah, menatap sang kakak terkejut. Tiba-tiba saja ia merasa mual dan pandangannya jadi berkunang-kunang. Apa yang ia bicarakan dengan Fahri barusan masih mentah. Suaminya belum memberi persetujuan, dan ia yakin, jauh di lubuk hati Fahri, pasti sangat keberatan.
Wanita muda itu hanya bisa berharap pada sang Khaliq, yang Maha pembolak-balik hati, agar menggerakkan suaminya untuk menyetujui rencana yang sudah ia susun dan pikirkan masak-masak. Rencana versi Isyana tentunya. Wanita sholeha yang berharap bisa mengikuti jejak para istri Rasul. Rela mengorbankan apa pun demi membantu perjuangan sang suami.
Bagi Isyana, apa yang dialami Fahri saat ini, bisa jadi sengaja Allah ciptakan untuk menguji biduk rumah tangga mereka yang baru berjalan dua puluh empat purnama. Masih teringat jelas semua perjuangan sang suami, demi membuktikan ketulusan cintanya sebelum mereka menikah.
Mulai dari belajar mengaji, hingga menghafal lebih dari 15 juz. Menungguinya dalam keadaan koma selama 6 purnama. Melakukan khitbah hingga 2 kali, karena Basir mulai meragukan kesungguhan cinta Fahri kepada adik semata wayang yang amat ia kasihi, dengan banyaknya wanita di sekeliling Fahri. Sampai akhirnya pernikahan berhasil terselenggara meski ketika itu dirinya belum siuman.
Mengingat semua hal itu, membuat hati Isyana bagai terkoyak-koyak. Ia tidak dapat membendung air mata yang mulai merebak. Isyana segera meletakkan kepala pada bahu sang suami, sambil diam-diam membersihkan dengan niqab.
Basir menarik nafas panjang melihat pemandangan di hadapannya. Ia paling tidak bisa menyaksikan para wanita yang ia sayangi bersedih.
Fahri sendiri tidak menyadari jika belahan jiwanya itu tengah menangis. Ia pikir Isyana hanya bermanja di bahunya, seperti yang sering dilakukan sang istri selama ini.
“Akhi, apa ana perlu mengulangi pertanyaan tadi?” suara Basir menarik sepasang suami istri itu dari lamunan masa silam mereka masing-masing.
“Maaf, Kak. Jika yang Kak Basir maksud adalah saran Isyana untuk mempertimbangkan kembali agar kami berdua memenuhi permintaan terakhir madam Ivone, apalagi hal tersebut juga bisa membantu kondisi Aryabrata yang saat ini sedang terpuruk. Barusan saya dan Isyana memang sudah mendiskusikannya.”
Seperti biasa, Fahri selalu terlihat tenang dan bijak. Iris coklat terangnya tetap saja teduh, ditambah senyum hingga lesung pipinya yang tidak terlalu dalam itu tampak. Basir tidak mengerti, terbuat dari apa hati sang adik ipar. Ia saja sudah senewen memikirkan hal tersebut. Bagaimana mungkin Fahri yang mengalaminya sendiri masih bisa berucap dengan tutur kata dan ekspresi setenang itu.
Mendengar perkataan amat bijak sang suami, tangis Isyana pecah.
“Ya Qolbi, kenapa menangis?” Fahri spontan hendak berpaling, tapi Isyana tidak membiarkan suaminya bergerak. Ia mengeratkan pelukan dan menyembunyikan wajahnya di tengkuk pria tercinta. Mencoba mencari perlindungan pada kehangatan dan aroma parfum khas yang menguar dari tiap pori-pori tubuh sang suami yang selalu membuat Isyana candu.
“Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kalian berpoligami, jika melihat kalian saling mengasihi seperti ini.”
What, what? Poligami?! apa gue enggak salah dengar? ujar Mashadi dalam hati.
Sejak Basir masuk, pintu ruangan serta vertikal blind kembali ditutup, sehingga Mashadi berusaha menajamkan pendengarannya. Meski tidak terlalu jelas, tapi ada kata yang tertangkap olehnya sepotong-sepotong.
Dan tentu saja hal itu lebih berbahaya dibanding jika ia mendengar seluruhnya, karena mengetahui secara sepotong-sepotong, malah cenderung membuat orang salah menafsirkan.
Apa Bapak mau poligami karena belum punya anak sudah 2 tahun nikah? Astaga. Gimana, nih? Siapa kira-kira cewek yang bakal jadi istri kedua Bapak? Pria itu mulai mereka-reka sendiri.
Sementara dalam ruangan, Fahri jadi serba salah menghadapi kakak beradik yang sepertinya sedang berbeda pendapat. Jika mau jujur, ia setuju dengan Basir. Selain sudah berjanji pada sang kakak ipar untuk tidak menduakan cinta, ia sendiri rasanya tidak mungkin bisa mencintai wanita lain.
“Buktinya hubungan Abi terjalin baik dengan ibu kita semua,” ujar Isyana masih tetap menyembunyikan wajah di belakang sang suami, setelah berhasil meredakan air matanya.
“Suamimu bukan Abi, dan calon istri suamimu belum tentu sebaik para ibu kita. Lagi pula, meskipun terlihat baik-baik saja di luar, siapa yang bisa memastikan isi hati manusia,” sanggah Basir. Tidak habis pikir dengan keputusan sang adik yang menurutnya terlalu naif.
“Izinkan, Na, mencobanya.” Berkata sambil menegakkan posisi duduknya kembali di lengan kursi sang suami.
“Astagfirullah, memangnya ini semudah mencicipi makanan atau pakaian? Kalau tidak enak, tidak jadi dibeli.”
“Jika memang tidak mengenakan hati, maka, Na, akan bersabar,” jawabnya penuh keyakinan.
Basir menarik nafas panjang sambil mengusap wajah dan beristigfar. Ia tahu persis sifat sang adik. Meski lembut dan manja, tapi jika sudah ada kemauan yang ia yakini benar, maka Isyana akan sulit untuk dibujuk.
“Baiklah, aku tidak bisa berlama-lama. Akhi pikirkanlah baik-baik tawaran istrimu, ini bukan untuk dijalani satu bulan atau satu tahun, tapi untuk sepanjang pernikahan kalian.”
Mendengar sang kakak berpamitan, Isyana segera berdiri, dan melepaskan rangkulannya dari Fahri. Ia mengambil tisu untuk membersihkan wajah. Setelah Fahri bersalam dan saling berpelukan dengan Basir, berganti Isyana menyalami sang kakak.
Tidak bisa memungkiri kekhawatirannya, Basir memeluk adik seayah dan beda ibu dengannya itu. Ia merasa tubuh Isyana lebih kurus.
“Jaga kesehatanmu,” ucapnya segera melepas pelukan. Meski tidak ada larangan baginya memeluk Isyana, tapi Basir tetap menghargai Fahri sebagai suami sang adik.
“Salam untuk Ukhti Fitri dan Aisyah.”-putri Basir berusia satu tahun lebih-.
Setelah mengucap salam, Basir berbalik. Fahri membukakan pintu untuknya, dan mengantar Basir hingga ke lift. Sedangkan Isyana terduduk lemas di sofa panjang dalam ruangan itu.
“Seberapa parah kondisi Aryabrata saat ini?” tanya Basir saat keduanya berjalan menuju lift.
“Hampir di ambang kehancuran.”
“Ishbir, Akhi,” ucap Basir sambil memegang pundak sang adik ipar, sebagai tanda ia sangat prihatin mengetahui keadaan tersebut.
“Insyaa Allah, terima kasih,” jawab Fahri tersenyum tegar.
"Hubungi saya, kapan pun Akhi butuh sesuatu." Seorang petugas keamanan sudah bersiap dalam lift untuk mengawal kerabat dari pimpinan tertinggi perusahaan tersebut.
Sesampai kembali di ruangan, ia mengedarkan pandangan mencari Isyana, tapi Fahri tidak melihat jika sang istri tertidur di sofa panjang, karena tubuh Isyana terhalang sandaran sofa. Ia berpikir Isyana sedang ke toilet.
Saat yang sama aipon berdering, dari direktur keuangannya yang baru. Fahri menarik nafas dalam. Mengucap bismillah sebelum menjawabnya.