Ratri mengangkat mikrofon untuk lagu kedua—lagu yang juga ia pilih sendiri, juga membumi, juga miliknya—ketika tiba-tiba pengeras suara mati.
Bukan mati pelan seperti listrik korslet di lapangan bola dulu. Mati mendadak, total, seperti tenggorokan yang dicekik. Suara Ratri, yang sedang menyebut bait pertama, terputus di udara, tertelan oleh deru genset dan gumaman kerumunan yang seketika kebingungan. Lampu LED di panggung tetap menyala, tapi suara—suara yang tadi menaklukkan ribuan orang—lenyap.
Di pos sound, Yusuf langsung tahu apa yang terjadi. Ia melihat ke balik panggung dan menemukan Hendra di sana, di samping panel utama, dengan tangan masih di tombol yang baru saja ia tekan. Wajah lelaki itu sudah tak punya topeng lagi—murni amarah, murni keputusasaan, murni nekat orang yang kehilangan kendali.
"Hidupin lagi sound-nya!" teriak Hendra pada teknisi terdekat, suaranya hampir tak terdengar di tengah keributan. "Atau matiin total! Aku nggak mau dia nyanyi lagi! Ini panggungku! Steker-stekernya aku yang punya!"
Teknisi muda yang ditunjuk Hendra—seorang pekerja lepas, berkaus oblong dengan tato kecil di lengan—menatap panel, lalu menatap Hendra, lalu menatap ke panggung di mana Ratri masih berdiri kebingungan dengan mikrofon mati. Lalu ia menatap kerumunan yang mulai menggerutu, ribuan orang yang tadi tersentuh dan kini bertanya-tanya kenapa suara perempuan itu dimatikan.
Dan teknisi itu tidak bergerak.
"Pak," katanya pelan, "orang udah pada nonton. Kalau saya matiin pas dia lagi bagus-bagusnya, itu—"
"Aku bayar kamu buat nurut, bukan buat ngomong!" bentak Hendra.
Yusuf bergerak cepat. Ia tahu jaringan operator sound di sirkuit ini—banyak dari mereka pekerja lepas yang sudah bertahun-tahun diperas, dibayar telat, dipotong calo, sama seperti orkes-orkes kecil. Ia sudah berbicara dengan beberapa dari mereka semalam, di gudang, di warung. Dan kini, di tengah kekacauan ini, ikatan itu terbukti.
"Sambungin ke jalur cadangan," kata Yusuf kepada teknisi muda itu, suaranya tenang tapi mendesak. "Aku bawa sound kecil sendiri di belakang. Genset kita sendiri. Hendra nggak bisa matiin yang bukan punya dia."
Mereka bergerak cepat—Yusuf, teknisi muda itu, dan dua operator lain dari orkes sekutu yang malam itu memang bertugas di festival. Tangan-tangan yang terbiasa menyolder kabel patah dan menambal sound bocor kini bekerja dengan satu tujuan. Di belakang panggung, Yusuf dan Pak Kasdi menyeret peralatan sound kecil milik Bintang Samudra—sound butut yang sudah disolder belasan kali, yang dibawa untuk jaga-jaga—dan menyambungkannya ke genset cadangan yang mereka bawa dari kampung.
Hendra berlari ke arah mereka, wajahnya merah. "Apa yang kalian lakuin?! Itu nggak sah! Ini panggungku! Aku panitia di sini!"
Tapi teknisi-teknisi itu tidak berhenti. Salah satu dari mereka, operator tua dari orkes Banyuglugur, menatap Hendra dengan tatapan datar orang yang sudah terlalu lama diperas. "Sampeyan boleh punya panggung, Pak," katanya. "Tapi sampeyan nggak punya kita."
Dan di atas panggung, di tengah kebingungan yang mulai berubah jadi kemarahan kerumunan, mikrofon di tangan Ratri tiba-tiba hidup kembali—bukan lewat sound megah Hendra, tapi lewat sound kecil butut yang disambungkan tergesa di belakang panggung, suara yang lebih kasar, lebih kecil, tapi hidup. Suara yang tak bisa dimatikan Hendra karena bukan miliknya.
Ratri mendengar mikrofonnya berdengung hidup, dan untuk sesaat ia tak mengerti. Lalu ia melihat Yusuf di pinggir panggung, mengacungkan jempol, wajahnya berkilau oleh keringat dan kemenangan kecil. Dan Ratri mengerti. Mereka—para pekerja teknis yang selama ini tak terlihat, yang nama mereka tak pernah disebut MC, yang dibayar terakhir dan paling sedikit—telah memilih. Mereka menolak menuruti Hendra. Mereka menyambungkan suaranya kembali.
Ratri mengangkat mikrofon ke bibirnya. "Maaf," katanya kepada kerumunan, suaranya kembali terdengar, lebih kasar lewat sound kecil tapi jelas. "Ada gangguan teknis sebentar." Lalu, dengan secercah dalam matanya, ia menambahkan, "Ada yang nyoba matiin suara saya. Tapi suara nggak gampang dimatiin kalau banyak yang mau dengerin."
Kerumunan, yang tadi menggerutu, kini bergemuruh—bukan marah pada Ratri, tapi marah pada gangguan, dan bersorak ketika suaranya kembali. Mereka tidak tahu detail perebutan steker di belakang panggung, tapi mereka tahu satu hal: perempuan ini hampir dibungkam, dan kini ia bernyanyi lagi.
Hendra berdiri di balik panggung, dikepung oleh para teknisi yang tak lagi menurutinya, menyaksikan kuasanya atas panggungnya sendiri runtuh di depan matanya. Ia masih pemilik festival ini di atas kertas. Ia masih punya nama besar di kota. Tapi malam ini, di tempat yang ia kira paling dikuasainya, ia kehilangan hal yang paling mendasar: kemampuan untuk mengendalikan apa yang terjadi. Sound bukan miliknya. Operator bukan miliknya. Panggung bukan miliknya—bukan dalam arti yang sesungguhnya. Dan Ratri, biduan kampung yang ia kira sudah ia hancurkan, kini bernyanyi di atasnya lewat sound butut yang tak bisa ia sentuh.
Di atas panggung, Ratri mulai lagi—bait yang tadi terputus, kini disambung. Suaranya, lewat pengeras suara kecil yang sederhana, mungkin tidak semegah sound mahal Hendra, tapi sampai. Sampai ke telinga ribuan orang yang ingin mendengar. Dan Ratri menyanyi dengan sesuatu yang baru di dalam dirinya—bukan hanya keberanian, tapi pengertian yang dalam: bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian. Di belakangnya, Paman Darto memainkan keyboard. Pak Hari meniup suling. Cak Salim menabuh gendang. Yusuf dan para teknisi menjaga suaranya tetap hidup. Selvi menunggu gilirannya. Bu Wening dan Laras menjaga ceritanya tetap di cahaya. Dan di suatu tempat di kerumunan, ia tahu, ada bapaknya, penjual rujak yang dulu menunduk malu, kini mungkin berdiri tegak mendengar anaknya bernyanyi sebagai dirinya sendiri.
Kuasa Hendra atas panggungnya sendiri telah runtuh, bukan oleh kekuatan yang lebih besar, tapi oleh penolakan kecil orang-orang kecil yang memilih untuk tidak lagi menurutinya. Dan suara Ratri terus mengalir ke langit malam, tak terbendung, tak terbungkam, melewati genset dan asap dan lampu, menuju ribuan orang yang akhirnya mendengar perempuan itu sebagaimana adanya.