Lapangan itu sunyi tiga jam kemudian. Lampu LED yang tadi menyilaukan kini padam satu per satu, dimatikan oleh kru yang kelelahan. Genset besar Hendra dimatikan, dan untuk pertama kali sejak sore, suara dominan di lapangan bukan musik atau sorak melainkan deru jangkrik dan angin laut yang membawa bau tambak dari kejauhan. Sampah saweran—amplop, bungkus rokok, gelas plastik—berserakan di rumput basah, dan beberapa pekerja lepas memunguti kabel dengan gerakan lambat orang yang sudah ingin pulang.
Ratri duduk di bibir panggung yang kosong, kaki menggantung, kebaya birunya basah oleh keringat dan embun malam. Yusuf menyodorkan sebotol air mineral. Ia menerimanya, meneguknya sampai habis, lalu menatap lapangan yang tadi penuh sekarang nyaris kosong.
"Ribuan orang," gumam Yusuf, duduk di sampingnya. "Mbak Ratri tadi denger sendiri. Mereka teriakin namamu. Nama beneran, bukan yang di poster."
Ratri tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Ada euforia yang masih berdenyut di dadanya—rasa tak percaya bahwa malam ini benar-benar terjadi, bahwa ia naik ke panggung yang dijebakkan padanya dan keluar sebagai dirinya sendiri. Tapi di bawah euforia itu, perlahan, naik sesuatu yang lebih dingin dan lebih jujur: kesadaran bahwa tak ada satu pun masalahnya yang sebenarnya selesai malam ini.
Bu Wening datang menghampiri, masih memegang map plastik yang ke mana-mana ia bawa. Wajahnya tidak secerah Yusuf. Pengacara muda itu duduk di bangku plastik di depan panggung dan menatap Ratri dengan tatapan orang yang tugasnya adalah menahan orang lain dari terbang terlalu tinggi.
"Bagus tadi," kata Bu Wening. "Beneran bagus. Tapi aku harus ngomong yang nggak enak."
"Saya tahu," sahut Ratri pelan.
"Malam ini kemenangan," lanjut Bu Wening. "Tapi kemenangan di lapangan, bukan di pengadilan. Putusan sela cuma bilang ada indikasi penyalahgunaan keadaan, ada celah di klausa citra. Itu pintu, Ratri, bukan kunci. Perkaranya masih jalan. Kontrakmu masih dianggap ada sampai hakim memutuskan sebaliknya. Dan denda wanprestasi yang Hendra tuntut—itu belum hilang ke mana-mana."
Ratri mengangguk. Ia tahu ini. Tapi mendengarnya diucapkan, di lapangan yang baru saja meneriakkan namanya, terasa seperti air dingin yang disiram ke api unggun.
"Dan ada satu hal yang bikin aku nggak tenang," kata Bu Wening, suaranya menurun. "Hendra orang yang kalah malam ini. Di depan ribuan orang, di siaran langsung. Untuk orang seperti dia, malu itu lebih menyakitkan daripada rugi uang. Orang terdesak yang dipermalukan publik—itu bukan orang yang mundur. Itu orang yang nyari jalan lain buat menang. Dan satu-satunya medan yang masih dia kuasai sekarang adalah hukum."
Yusuf mengerutkan kening. "Maksudnya? Dia masih bisa apa? Tadi kan dia yang dipermalukan."
"Justru karena dipermalukan," Bu Wening menatap Yusuf. "Dia bisa balik bilang festivalnya dirusak. Acaranya kacau gara-gara Ratri merebut panggung, sound yang dia atur dimatikan—padahal dia sendiri yang matiin, tapi versi dia bakal beda. Rekanan bisnisnya rugi. Dia bisa naikin tuntutan: bukan cuma wanprestasi kontrak, tapi ganti rugi atas festival yang gagal. Dia bisa bikin Ratri yang malam ini jadi pahlawan, besok jadi tergugat yang ngerusak acara orang."
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu. Euforia di dada Ratri padam sepenuhnya. Ia menatap lapangan kosong, ke tempat ribuan orang tadi berdiri, dan tiba-tiba semua sorak itu terasa jauh—indah, nyata, tapi tak cukup. Sorak tidak membayar denda. Sorak tidak membatalkan kontrak. Sorak tidak melindungi orkesnya yang baru saja dirakit ulang dari serpihan, atau bapaknya, atau gerobak rujak yang masih harus ditebus dari rentenir.
"Jadi malam ini," kata Ratri pelan, "nggak ada artinya?"
"Bukan nggak ada artinya," Bu Wening menggeleng. "Malam ini penting. Publik di pihakmu sekarang—itu perisai. Hendra nggak bisa lagi mainin citra seenaknya, karena ribuan orang udah lihat siapa dia sebenarnya. Itu modal besar. Tapi modal, bukan kemenangan. Perang sebenarnya bukan di sini." Ia menunjuk panggung kosong dengan dagunya. "Perang sebenarnya di ruang sidang. Yang sempit, dingin, dan nggak ada sorak. Cuma kamu, aku, kontrak itu, dan hakim."
Ratri menarik napas panjang. Bau laut, bau solar yang tersisa, bau rumput basah. Ia teringat masa-masa paling gelap—malam ia mengamen di pasar, malam orkesnya rapat untuk vakum, malam ia memandang poster wajahnya yang tak ia kenali. Ia sudah melewati semua itu. Tapi ia tahu sekarang, dengan kejujuran yang menyakitkan, bahwa puncak dari semua perlawanannya bukan malam panggung yang heroik ini. Puncaknya menunggu di ruang yang sunyi, tanpa penonton, tempat tak ada cengkok yang bisa menyelamatkannya—hanya bukti, hanya kebenaran, hanya kesabaran.
Ia berdiri, merapikan kebaya birunya yang basah. "Yo wis," katanya. "Kalau perangnya di sana, ya kita ke sana. Saya udah kebal sama sound yang dimatiin, Bu. Mosok kalah sama ruang sidang."
Bu Wening tersenyum, untuk pertama kali malam itu. "Itu yang aku tunggu dari kamu."
Mereka pulang dini hari, berdesakan di bak truk orkes yang reyot, melewati jalan pesisir yang basah dan sepi. Di belakang, lapangan yang tadi meneriakkan namanya kembali menjadi sekadar lapangan—gelap, kosong, dilupakan. Ratri menyandarkan kepala ke bahu Selvi yang ikut menumpang, dan untuk pertama kali sejak naik panggung, ia membiarkan dirinya lelah. Besok perang yang sesungguhnya dimulai. Malam ini, ia hanya ingin tidur.