Reruntuhan kerajaan Hendra tidak terjadi dalam ledakan. Ia terjadi pelan, seperti pasang yang surut, satu demi satu meninggalkan apa yang dulu tampak kokoh.
Putusan itu diberitakan—Laras menulisnya dengan martabat, tanpa sensasi, tapi yang lain mengangkatnya dengan judul-judul yang lebih keras. "Manajer Koplo Dinyatakan Tipu Talenta", "Pengadilan Bongkar Pola Jebakan Kontrak Biduan." Nama Hendra, yang dulu dieja dengan hormat di warung-warung calo dan studio rekaman, kini dieja dengan kecut. Dalam dunia yang dibangun di atas citra dan kepercayaan rekanan, putusan resmi yang menyatakan ia menyalahgunakan keadaan adalah racun yang menyebar lebih cepat dari uang.
Talenta-talentanya keluar satu per satu. Mereka yang dulu bertahan karena takut denda kini punya pegangan: kalau Ratri bisa, kalau pengadilan sudah membenarkan, maka klausa-klausa yang mengikat mereka pun rapuh. Beberapa pergi diam-diam. Beberapa pergi sambil mengancam balik dengan gugatan serupa. Studio rekaman yang dulu ramai jadi sepi. Rekanan bisnis—pemilik panggung, sponsor lokal, pemodal festival—menjauh, karena nama Hendra kini lebih banyak membawa risiko daripada untung. Tak ada yang mau acaranya dikaitkan dengan manajer yang dicap penipu.
Mursid, calo yang selama ini jadi sekutunya, adalah yang pertama membaca arah angin. Ia tak datang membela Hendra, tak menyebut namanya lagi, mulai mengatur ulang jaringannya seolah Hendra tak pernah ada. Begitulah dunia akar rumput bekerja: kesetiaan hanya sedalam keuntungan.
Kabar-kabar ini sampai ke Ratri lewat berbagai mulut—Laras, Selvi, Topo dari seberang, obrolan di warung Cak Misnan. Dan ia menyadari, dengan sedikit keterkejutan pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak merasa senang mendengarnya.
Ia duduk di teras rumah pada sore yang teduh, menyeruput teh yang dibuatkan bapaknya, dan Yusuf yang datang membawa kabar terbaru hampir berharap ia akan bersorak.
"Dia bener-bener habis, Mbak," kata Yusuf, ada kepuasan di suaranya. "Studionya tutup. Talentanya kabur semua. Katanya mau jual mobilnya. Orang yang dulu nginjek-nginjek kita, sekarang nggak ada yang mau ngajak ngomong. Pantes. Dia yang mulai."
Ratri menatap kebun kecil di depan rumah, ke jemuran ikan tetangga yang berayun pelan ditiup angin laut. "Iya," katanya pelan. "Dia yang mulai."
"Tapi kok mukamu nggak seneng?"
Ratri tak langsung menjawab. Ia memutar gelas teh di tangannya, mencari kata-kata. "Kamu inget waktu kita ke pasar nyari biduan yang hilang? Yang jual sayur itu? Yang nyerah total karena dijebak Hendra?"
Yusuf mengangguk.
"Dia korban. Hancur gara-gara Hendra. Dan sekarang Hendra hancur. Mestinya impas, kan? Mestinya aku puas." Ratri menggeleng pelan. "Tapi aku nggak. Karena aku lihat sesuatu yang nggak aku sangka. Hendra itu... dia kuat banget kelihatannya. Punya uang, punya pengacara, punya nama, punya jaringan. Aku kira lawanku itu raksasa. Tapi pas dia jatuh, dia jatuhnya cepet banget, Suf. Sekali putusan keluar, semua ninggalin dia. Talentanya, rekanannya, calonya. Bahkan Mursid yang sekutu lamanya langsung lupa dia. Nggak ada yang setia. Nggak ada yang beneran sayang sama dia. Dia bangun kerajaan dari rasa takut orang, dan begitu orang nggak takut lagi, nggak ada yang tersisa."
Ia menatap Yusuf. "Yang aku lihat bukan raksasa yang tumbang. Yang aku lihat orang yang seumur hidup ngumpulin kuasa, dan pas kuasanya hilang, dia sendirian. Nggak ada yang nangis buat dia kayak Pak Sahlan nangis buat aku di pengadilan. Itu... itu nggak bikin aku seneng. Itu bikin aku ngeri."
Yusuf terdiam, kepuasannya tadi mereda. "Tapi dia jahat, Mbak. Dia pantes."
"Iya, dia pantes," sahut Ratri. "Aku nggak bilang dia nggak pantes. Aku nggak bakal nyabut gugatan, nggak bakal kasihan sampai lupa apa yang dia lakuin ke orang-orang. Tapi aku nggak perlu nari-nari di atas reruntuhannya. Kalau aku seneng-seneng lihat orang hancur, aku jadi mirip dia—orang yang ngerasa menang kalau orang lain kalah. Aku nggak mau menang kayak gitu."
Ia meletakkan gelas tehnya, menatap matahari yang mulai turun ke arah laut, mewarnai langit jingga di atas tambak. "Yang aku pelajari dari semua ini bukan bahwa orang jahat selalu kalah. Banyak yang jahat menang terus seumur hidup. Yang aku pelajari, mesin yang meres orang—sekuat apa pun kelihatannya—itu rapuh. Dia kuat selama orang takut dan diam. Begitu cukup banyak orang berani—satu perempuan jual sayur, satu Selvi, satu talenta muda, satu aku—mesinnya retak. Bukan karena ada yang lebih kuat dari Hendra. Tapi karena yang dia injek-injek akhirnya berdiri bareng-bareng."
Di seberang gang, beberapa anak berlari mengejar bola, tertawa, tak tahu apa-apa tentang sidang dan kontrak dan kerajaan yang baru saja runtuh. Ratri memandang mereka, dan ada sesuatu yang melembut di dadanya. Hendra tumbang. Itu kenyataan. Tapi kenyataan yang lebih penting baginya bukan kehancuran satu orang—melainkan bahwa selama ini, kuasa yang ia kira mutlak ternyata hanya sekuat ketakutan yang menyokongnya. Dan ketakutan, ia kini tahu, bisa berakhir. Cukup dengan cukup banyak orang yang memilih untuk tidak lagi takut.