Lagu itu tidak meledak. Ratri sempat khawatir—diam-diam, malu mengakuinya bahkan pada dirinya sendiri—bahwa setelah semua perjuangan, suaranya yang utuh justru tidak akan ada yang mendengar. Dunia, ia tahu betul sekarang, lebih suka yang gaduh ketimbang yang jujur. Yang dipotong vulgar viral dalam semalam. Yang dinyanyikan sepenuh hati harus menunggu.
Dan memang menunggu. Minggu pertama setelah Gilang mengunggah lagunya, jumlah yang mendengar bisa dihitung. Ratri berhenti melihat angka itu, takut hatinya yang baru saja sembuh terluka lagi. Ia kembali ke kerja: latihan, mengangkut alat, membantu bapak mengupas nanas untuk rujak.
Lalu sesuatu yang aneh terjadi, perlahan, tanpa ledakan.
Suatu pagi, Ratri naik angkot dari pasar membawa sekarung bengkuang. Sopir angkot, lelaki paruh baya berkaus oblong, memutar radio dari teleponnya yang ditaruh di dashboard. Dan dari speaker kecil yang sumbang itu, mengalun suaranya sendiri. Cengkok yang ia pilih sendiri. Lirik tentang nelayan yang pulang membawa jaring kosong.
Ratri membeku. Ia menunduk dalam-dalam, menarik kerudungnya, takut dikenali. Tapi sopir itu tidak menengok. Ia hanya bersenandung mengikuti, sumbang, sambil mengetuk-ngetuk setir.
"Bagus, ya, lagunya, Pak," kata seorang ibu di kursi belakang.
"Iya, lho," jawab sopir. "Saya dapet dari WhatsApp keponakan. Katanya biduan kampung, dari Ketapang sana. Yang menang lawan manajer kota itu, lho. Yang sound-nya dimatiin tapi nyanyi terus." Ia menggeleng kagum. "Suaranya beda. Bukan yang goyang-goyang itu. Ini yang... dengerin, lho, Bu. Kayak ada yang mau nangis tapi ditahan."
Ratri menggigit bibir, menahan sesuatu yang naik di tenggorokannya. Kayak ada yang mau nangis tapi ditahan. Orang ini, sopir angkot yang tak pernah ia kenal, menangkap persis apa yang ia maksudkan dengan cengkoknya. Cara menangis tanpa menangis. Tanpa ada yang menjelaskan, tanpa poster, tanpa MC yang menyebut goyang maut. Hanya suaranya, dan telinga yang sungguh mendengar.
Ia turun di pertigaan Ketapang dengan kaki yang sedikit goyah, lupa membayar sampai sopir memanggilnya. Ia membayar, lalu berjalan pulang dengan sekarung bengkuang di bahu dan dada yang penuh.
Dan itu bukan satu-satunya. Hari-hari berikutnya, lagu itu muncul di tempat-tempat yang tak terduga. Diputar di warung Cak Misnan saat orang-orang ngopi pagi. Disetel di hajatan kecil di pelosok, bukan oleh orkes, tapi oleh tuan rumah yang memutarnya dari speaker bluetooth sambil menyiapkan kursi. Bagas—operator sound muda yang kini kembali ke orkes—bercerita ia mendengarnya diputar di bengkel motor saat menambal ban.
"Nggak viral kayak yang dulu itu, Mbak," kata Bagas. "Ini beda. Yang dulu kan orang nonton terus lupa. Yang ini orang puter terus, diulang-ulang. Disimpen."
Yusuf, yang ikut mendengar, menambahkan dengan nada yang jarang ia tunjukkan—bangga yang malu-malu. "Tukang ojek di pangkalan pelabuhan juga muter, Mbak. Bapakku denger. Dia... dia nanya itu yang nyanyi Ratri yang dulu sering ke pelabuhan itu, ta?" Yusuf tersenyum. "Bapakku, lho, yang dulu suruh aku berhenti ngurusin orkes. Sekarang dia muterin lagumu."
Ratri tidak tahu harus berkata apa. Selama ini ia mengukur ketenaran dengan cara yang diajarkan Hendra: angka, sensasi, gaduh, viral dalam semalam. Ukuran yang membuatnya merasa kotor setiap kali tercapai. Tapi ini—lagunya berpindah dari mulut ke mulut, dari telepon ke telepon, dari angkot ke warung ke bengkel—ini ukuran yang lain. Lebih lambat. Lebih kecil di atas kertas. Tapi tinggal di dalam orang, bukan lewat begitu saja.
Suatu sore, seorang anak perempuan kecil, tetangga sebelah, mendekatinya saat ia duduk di teras. "Mbak Ratri," katanya malu-malu, "aku hafal lagunya, lho." Lalu tanpa diminta, anak itu menyanyikan baitnya—suaranya cempreng, nadanya melenceng, tapi liriknya benar, dan ada cengkok kecil di sana yang ditirunya dari Ratri.
Dada Ratri sesak oleh sesuatu yang hangat. Ia teringat dirinya sendiri di usia anak itu, menyanyikan lagu biduan dari radio butut di gerobak rujak bapak, bermimpi suatu hari namanya disebut MC dengan benar. Dan kini ada anak yang menyanyikan lagunya, menirukan cengkoknya, tanpa tahu betapa jauh perjalanan untuk membuat lagu itu jujur.
"Bagus," kata Ratri pada anak itu, suaranya parau. "Tapi nyanyiin dengan suaramu sendiri, ya, Nduk. Jangan niru-niru Mbak. Suaramu sendiri lebih bagus."
Anak itu mengangguk, lalu berlari pergi sambil terus menyanyi.
Malam harinya, telepon dari Gilang masuk. "Angkanya naik pelan, Mbak," katanya. "Tapi ada yang lebih penting dari angka. Aku dapet pesan dari beberapa orang. Ada yang bilang lagumu nemenin dia waktu bapaknya sakit. Ada yang bilang dia muterin tiap pulang melaut." Gilang diam sebentar. "Itu yang kucari, Mbak. Bukan yang lewat. Yang nempel."
Ratri menutup telepon dan duduk di teras, mendengar laut yang jauh. Mimpi kecil dari dulu—namanya disebut dengan benar, suaranya didengar tanpa embel-embel—mulai terwujud. Bukan dengan ledakan. Tapi dengan cara yang paling lambat dan paling jujur: tumbuh dari mulut ke mulut, dari satu telinga ke telinga lain, dari angkot pagi ke bengkel siang ke teras malam. Suaranya akhirnya menemukan telinganya. Dan kali ini, ia tidak perlu malu pada cara ia ditemukan.