Gadis itu datang dengan langkah ragu, persis seperti Ratri dulu—menunduk, jemarinya meremas tepi rok, suaranya nyaris tak terdengar saat memperkenalkan diri. Namanya Wati, umurnya tujuh belas, dari kampung nelayan di pesisir yang lebih jauh ke arah Banyuwangi. Ia naik bus seharian untuk sampai ke Ketapang, hanya karena mendengar nama Ratri Wulandari, biduan yang menang melawan manajer kota dan suaranya jujur.
"Aku pengin nyanyi, Mbak," kata Wati, akhirnya, setelah lama duduk gugup di teras. "Tapi aku takut."
Ratri menyuguhkan teh, menunggu. Ia tahu jangan memburu gadis seperti ini. Ia pernah jadi gadis seperti ini.
"Takut kenapa?" tanya Ratri lembut.
Wati menelan ludah. "Ada calo yang udah deketin aku, Mbak. Namanya... ah, nggak penting namanya. Dia bilang aku bisa cepet terkenal. Bisa naik panggung besar. Tapi syaratnya..." Suaranya mengecil. "Syaratnya aku harus mau goyang. Mau pakai baju yang... yang aku nggak nyaman. Dia bilang itu cara mainnya, kalau aku nggak mau ya nggak bakal ada yang nawar." Mata gadis itu berkaca-kaca. "Bapakku butuh uang, Mbak. Adikku banyak. Aku pikir mungkin aku harus nurutin aja. Tapi aku denger cerita Mbak. Mbak nolak. Mbak menang. Jadi aku ke sini. Aku pengin tanya... apa beneran bisa? Nyanyi tanpa harus gitu?"
Ratri menatap gadis itu, dan untuk sesaat, ia melihat dirinya sendiri di malam Mursid pertama kali datang menawarkan "paket". Ketakutan yang sama. Kebutuhan yang sama—keluarga lapar, adik-adik, bapak yang butuh. Godaan yang sama: jalan cepat yang merendahkan, dibungkus janji ketenaran. Dan ia tahu betul betapa berat menolaknya ketika perut keluarga jadi taruhannya.
"Bisa, Wati," kata Ratri. "Tapi aku nggak bakal bohong sama kamu. Jalannya lebih susah. Lebih lambat. Lebih sepi di awal. Kalau kamu mau cepet, mau gampang, ya jalan calo itu emang lebih cepet." Ia menatap mata gadis itu. "Tapi kamu bakal bayar pakai sesuatu yang nggak kelihatan. Pelan-pelan, suaramu jadi bukan suaramu. Tubuhmu jadi bukan tubuhmu. Sampai suatu hari kamu naik panggung dan kamu nggak kenal lagi siapa yang lagi nyanyi di situ."
Wati mendengarkan dengan mata lebar.
"Aku hampir kehilangan itu," lanjut Ratri. "Dua kali. Tiga kali. Tiap kali aku nurutin yang mereka mau, saweran banjir, tapi malemnya aku nggak bisa tidur. Karena aku ngerasa jualan sepotong demi sepotong diriku." Ia diam sebentar. "Yang nyelametin aku bukan karena aku kuat, Wati. Tapi karena ada yang ngingetin aku siapa aku. Bapakku. Pamanku. Dan satu hal yang aku pegang: cengkokku ini, cara aku nyanyi ini, itu cara aku nangis tanpa nangis. Itu bukan barang dagangan. Itu aku."
Wati menyeka matanya. "Tapi gimana caranya, Mbak? Kalau nggak lewat calo, gimana dapet job?"
Dan di situ Ratri tersenyum—karena ini, kini, ia punya jawabannya. Bukan jawaban kosong, bukan idealisme tanpa jalan. "Ada sirkuit, Wati," katanya. "Orkes-orkes yang saling bantu, tanpa calo. Bayaran utuh, dibagi adil. Kalau kamu serius, kamu bisa mulai dari sana. Panggung kecil dulu. Hajatan pelosok. Bayaran kecil di awal. Tapi tiap rupiah utuh, dan kamu nyanyi sebagai dirimu sendiri. Pelan-pelan, kalau suaramu jujur, orang bakal denger. Bukan karena kamu goyang. Karena kamu nyanyi bener."
Wati mengangguk perlahan, sesuatu di matanya mulai menyala.
"Coba nyanyi buat aku," kata Ratri.
Gadis itu gugup, menggeleng. "Suaraku jelek, Mbak."
"Nggak ada suara jelek. Yang ada cuma suara yang belum berani. Ayo. Lagu apa aja. Yang kamu suka."
Wati menunduk, menarik napas, lalu mulai menyanyi—pelan, ragu, suaranya tipis dan sering melenceng. Tapi di tengah lagu, ketika ia lupa sedang ditonton dan tenggelam dalam liriknya, ada sesuatu yang muncul. Sebuah cengkok kecil, mentah, belum terlatih, tapi jujur. Cara gadis itu menahan nada di tikungan tertentu, cara suaranya retak di tempat yang menyentuh. Bibit yang sama yang dulu ada di suara Ratri sebelum siapa pun mengasahnya.
Ratri merasakan dadanya hangat. "Nah," katanya ketika Wati selesai. "Dengar yang barusan? Pas kamu nahan nada di bagian tadi? Itu cengkokmu. Itu punya kamu. Jangan pernah biarin ada yang ngubah itu jadi yang lain."
Wati menatapnya, tak percaya. "Bagus, Mbak? Beneran?"
"Bagus. Tapi yang lebih penting—itu kamu. Latihan bisa bikin teknik lebih halus. Tapi yang nggak bisa diajarin, yang udah ada di kamu, itu yang berharga. Jaga itu, Wati. Apa pun yang ditawarin orang, jaga itu."
Gadis itu menginap semalam, dan Ratri mengajarinya hal-hal kecil—cara mengatur napas, cara menahan cengkok, cara berdiri di panggung tanpa takut. Tapi yang paling penting yang ia ajarkan bukan teknik. Yang ia ajarkan adalah cara menjaga garis. Cara berkata tidak. Cara mengenali jebakan yang dibungkus janji manis. Cara menghargai suaranya sendiri lebih dari saweran yang membanjir.
Ketika Wati pulang esok paginya, naik bus kembali ke kampungnya, Ratri berdiri di pertigaan melepasnya. Dan saat bus itu menjauh, ia menyadari sesuatu yang membuat matanya panas. Ia kini berdiri di sisi lain dari tempatnya dulu. Dulu ia gadis yang merangkak, yang takut, yang tak punya siapa-siapa untuk menunjukkan jalan. Kini ia yang menuntun. Yang berdiri di persimpangan, menunjuk arah, berkata pada gadis-gadis seperti dirinya dulu: ada jalan lain, dan kamu boleh memilihnya.
Busurnya hampir penuh. Dari yang dibungkam, kini ia yang membantu orang lain bersuara.