Ratri sudah lama menyimpan satu mimpi yang tak pernah ia ucapkan keras-keras, lebih tua dari mimpi tentang panggung besar, lebih kecil tapi lebih dalam: ia ingin mengganti gerobak rujak bapaknya.
Gerobak itu sudah menemani Pak Sahlan lebih lama dari usia Ratri sendiri. Kayunya pernah biru, dulu, sebelum matahari dan hujan dan asin laut memakannya pelan-pelan sampai catnya mengelupas jadi belang-belang seperti kulit ikan kering. Rodanya satu sudah oleng, harus diganjal batu tiap kali berhenti. Kaca etalasenya retak melintang, ditambal lakban yang sudah menguning. Tiap pagi bapaknya mendorong gerobak itu ke ujung pasar, dan tiap kali roda yang oleng itu mencicit, Ratri merasakan cicitnya di dadanya sendiri.
Ia ingat malam paling buruk dalam hidupnya, malam ketika video itu beredar dan kampung bergunjing dan bapaknya pulang dengan punggung yang membungkuk, mendorong gerobak yang sama melewati orang-orang yang berbisik. Ia ingat bagaimana Pak Sahlan menunduk waktu itu, seakan ingin menyembunyikan diri di balik tumpukan bengkuang dan kedondong, seakan dialah yang harus malu atas sesuatu yang bukan salahnya.
Sekarang, dengan uang dari lagu yang menyebar dan job-job yang dibayar utuh tanpa potongan calo, Ratri punya cukup. Bukan banyak. Tapi cukup.
Ia tidak bilang apa-apa pada bapaknya. Ia hanya pergi diam-diam ke tukang gerobak di pinggir jalan raya Situbondo, lelaki tua bernama Pak Kasdi yang mengerjakan gerobak dorong dengan tangan sendiri. Ratri menjelaskan apa yang ia mau: gerobak yang kokoh, etalase kaca utuh, empat roda yang sama tinggi, tempat ulekan yang luas, payung yang bisa dibuka.
"Buat siapa, Nduk?" tanya Pak Kasdi.
"Buat bapak saya. Penjual rujak."
Pak Kasdi mengangguk, mengukur, mencatat di kertas berminyak. "Dua minggu."
Dua minggu itu terasa panjang. Tiap pagi Ratri ikut bapaknya berjualan, pura-pura tak menyimpan apa-apa, sambil tangannya gatal ingin memberi tahu. Tapi ia ingat pelajaran pahit yang pernah ia dapat—soal gerobak yang dulu ia gadaikan tanpa pamit, soal bagaimana menyelamatkan orang tanpa memberi tahu juga bentuk merendahkan mereka. Maka ia menahan diri. Ia akan memberi, tapi ia akan memberi dengan benar.
Hari gerobak itu jadi, Ratri menjemputnya pagi-pagi sekali, sebelum bapaknya bangun. Pak Kasdi membantunya mendorong ke jalan, dan dari situ Ratri sendiri yang mendorongnya pulang, menyusuri jalan kampung yang masih sepi dan basah embun. Gerobak baru itu berat, tapi rodanya tak mencicit. Tak ada batu yang perlu diganjal. Ia berhenti di depan rumah dan menatapnya: kayu cokelat madu, kaca yang bening memantulkan langit pagi, payung terlipat rapi.
Pak Sahlan keluar dengan sarung dan kaus oblong, menggosok mata. Lalu ia berhenti. Ia menatap gerobak itu lama sekali, dan Ratri melihat sesuatu bergerak di wajah tua bapaknya—bukan langsung senang, lebih rumit dari itu. Ada bingung, ada sangsi, ada sesuatu yang seperti takut menerima.
"Ini apa, Nduk?"
"Gerobaknya Bapak. Yang baru."
Pak Sahlan mendekat, menyentuh kayunya dengan tangan yang kapalan, hati-hati seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah. "Berapa ini?"
"Sudah lunas, Pak. Uang bersih. Dari nyanyi." Ratri menelan sesuatu di tenggorokannya. "Bapak nggak usah mikir berapa."
Lelaki itu diam. Tangannya masih di kayu gerobak. Lalu, pelan, ia berkata, suaranya serak, "Gerobak Bapak yang lama itu... dari Mbahmu. Bapak jualan rujak dari gerobak itu sebelum kamu lahir. Bapak besarin kamu dari gerobak itu."
"Saya tahu, Pak."
"Bapak kira Bapak bakal mati dorong gerobak itu."
Ratri tidak tahu harus bilang apa, maka ia hanya berdiri di sebelah bapaknya, memandang gerobak baru yang berkilau samar di bawah matahari yang mulai naik. Untuk pertama kali ia menyadari bahwa memberi sesuatu pada orang yang selama hidupnya hanya memberi adalah hal yang lebih sukar dari yang ia kira. Pak Sahlan tidak terbiasa menerima. Seluruh hidupnya ia mendorong, membungkuk, mengulek, mengiris—untuk Ratri, untuk dapur, untuk besok. Tak pernah ada yang mendorong untuknya.
"Bapak coba dulu, ya," kata Ratri pelan. "Dorong sebentar."
Pak Sahlan memegang pegangan gerobak, mendorongnya beberapa langkah di halaman. Roda berputar mulus, tanpa suara, tanpa oleng. Lelaki tua itu berhenti, dan Ratri melihat punggungnya—punggung yang malam itu, malam video itu, membungkuk seperti hendak runtuh—kini tegak. Bukan karena gerobaknya ringan. Gerobak ini lebih berat dari yang lama. Tapi ada yang berubah dari cara bapaknya menyangga beban itu.
Pagi itu Pak Sahlan berjualan dengan gerobak baru di sudut pasar yang sama. Ratri ikut, duduk di bangku kecil di sampingnya, mengupas bengkuang seperti dulu. Orang-orang lewat, memperhatikan gerobak baru itu, bertanya. Dan Pak Sahlan—yang dulu menunduk—kini menjawab, kepalanya tegak, suaranya jelas, "Iya, baru. Dari anak saya. Penyanyi itu, yang lagunya diputar di angkot. Anak saya, Ratri."
Ia menyebut nama itu tanpa menunduk. Ia menyebut nama itu dengan dada terbuka, di depan pasar yang sama yang dulu membuatnya ingin sembunyi. Ada pelanggan yang dulu berbisik kini memesan dua porsi, memuji rujaknya, menanyakan kabar Ratri seakan menanyakan kabar orang penting.
Ratri menunduk ke bengkuang di tangannya supaya bapaknya tak melihat matanya basah. Bukan kemenangan besar. Bukan panggung, bukan lampu, bukan sorak ribuan orang. Hanya seorang lelaki tua menjual rujak dengan kepala tegak dari gerobak yang rodanya tak mencicit. Tapi dari semua yang sudah ia menangkan, inilah yang paling lama ia inginkan, dan paling dalam menyembuhkan.
Malam itu, saat menutup dagangan, Pak Sahlan mendorong gerobaknya pulang. Ratri berjalan di sampingnya. Tidak ada cicit. Tidak ada batu pengganjal. Hanya dua bayangan dan satu gerobak menyusuri jalan kampung yang basah, pulang ke rumah yang masih milik mereka.