Milles berlari menuju halaman rumah sahabat lamanya itu, Berlyn. Disana katanya sudah ada tunangannya yang amat ia rindukan karena ia baru saja pulang dari Abu Dhabi karena perjalanan bisnis. Leidy Razer, itulah nama tunangannya yang amat ia cintai, sudah dua tahun lebih mereka bersama, sampai akhirnya Milles memutuskan untuk mengikat LeIdy di ikatan pertunangan. Sambil membawa dua paperbag cokelat sekaligus tak membuat langkah kaki Milles melambat, ia benar-benar merindukan wanitanya, meridukan Leidy. Sesampainya di dekat area kolam renang yang sudah terhampar karpet bulu, ia mendekat. Ada dua perempuan yang tengah duduk membelakanginya, yang satu rambutnya berwarna pirang dan itu adalah Berlyn dan yang satu lagi berambut kecoklatan yang sangat menawan dan itu adalah milik calon istrinya, Leidy. Keduanya sepertinya sedang asyik membicarakan suatu hal terbukti Leidy tertawa sangat keras, tawa yang tidak pernah Milles dapatkan sebelumnya. Diam-diam kaki Milles membawanya untuk bersembunyi dibalik tirai, ia ingin tahu pembicaraan apa yang membuat calon istrinya itu sangat bahagia.
"Hah kau serius, Dy? Jadi tas yang kemarin kau bawa itu beneran Dior keluaran yang paling paling baru? Ah gila! Pinjem lah," Berlyn menganga tak percaya bahwa tas yang Leidy bawa ke acara party kemarin adalah tas keluaran Dior terbaru.
Leidy tertawa lagi, "Dan kau tau siapa yang membelikanku tas itu? Yap! Si bodoh itu, Milles." katanya, tanpa beban sekalipun.
"What the hell? Kau sogok pakai apaan tuh si Milles?"
"Halah dia mah gak pake sogok-sogokkan juga nurut saja apa yang ku minta, kemarin aku baru minta beliin iPad baru dan yeah dia langsung kirim dari abu dhabi langsung ke indo, see? Segila itu memang si bodoh itu." Leidy mengakhiri perkataannya dengan tertawa keras disambut tepuk tangan yang menggema dari Berlyn, tampaknnya kedua wanita itu puas sekali tertawa.
Milles diam, kenapa Leidy lagi-lagi mengatakan dirinya ini bodoh? Mengapa wanitanya itu senang sekali mengatakannya bodoh? Milles memang bukan pertama kalinya mendengar sembunyi-sembunyi Leidy mengatakannya bodoh seperti sekarang, tapi entah mengapa hatinya masih saja terusik jika perempuan itu merendahkannya seperti ini. Leidy jarang memujinya, jarang juga memberikan senyum dan tawa yang besar seperti yang ia lihat sekarang ini, Milles rasa mungkin Leidy memang belum terbuka saja padanya, ia mungkin hanya kelelahan setelah perjalanna bisnis yang panjang jadi pikirannya kemana-mana mengenai Leidy, calon istrinya itu baik, baik sekali. Mama dan papanya juga sangat menyukai perempuan itu, selain sesama dari anak yang memiliki kelas high, Leidy juga perempuan yang pintar dan cenderung sangat mandiri. Terbukti perempuan itu menolak pemindahan jabatan ayahnya yang merupakan rekan bisnisnya juga untuk memberikan Leidy jabatan sebagai CEO dari PT. Mauxy yang bergerak dibidang kosmetik. Alih-alih senang justru Leidy menentang keras pemindahan jabatan itu, Leidy mengatakan bahwa ia ingin membangun brand make-upnya sendiri, ia tidak mau langsung enaknya saja memperoleh perusahaan besar sang ayah, perempuan itu memang tipe Milles sekali.
Ngomong-ngomong soal perusahaan, Milles juga seorang pengusaha. Pengusaha dibidang industri, sama seperti Leidy, Milles membangun perusahaannya sendiri dan sekarang ia sudah memiliki cabang dimana-mana dan siapa yang tidak mengenal seorang Miles Patheir? Laki-laki tampan yang sangat memsona juga sangatlah seksi itu impian banyak wanita, banyak wanita yang secara sukarela memberikan tubuhnya untuk Milles, tapi sayang semua itu tidak membuat Milles goyah, dan menjadi b******k, tidak. Milles tidak seperti itu. Ia hanya setia pada satu perempuan, ia adalaha Leidy. Namun sayang, tampaknya perempuan yang berusia 23 tahun itu tidak memiliki kesamaan seperti Milles. Ia justru sering mengabaikan Milles, mengatakan hal-hal yang tak enak didepan Milles tanpa memikirkan perasaan laki-laki itu. Itu semua perempuan itu lakukan karna sebenarnya ia tidak menyukai Milles. Ia hanya memanfaatkan kebodohan Milles saja.
"Terus kau mau sampai kapan manfaatin Milles, Dy?" pertanyaan itu membuat lamunan Milles terpecah. Ia tertegun mendengarnya.
Leidy mendengkus angkuh, "Huh, sampe dia sadar kalo dia itu bodohnya sampe ke tulang. Kau tau Lyn, dia bahkan balik dari Ausie gara-gara aku minta beliin mochi dan gamau dibeliin si mbak, dia langsung pesen tiket pulang saat itu juga. Bego kan? Dan yang perlu kau tau Lyn, Milles adalah pria bodoh, angkuh, dan bisa diatur oleh ku seperti boneka murahan di pasar malam.." Berlyn hanya bisa ternganga, gila juga perempuan ini. Bisa-bisanya ia mengatakan Milles seperti boneka yang ada di pasar malam? Berlyn saja tidak seberani itu walaupun sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Milles, tapi Leidy? Perempuan itu berani sekali!
Tanpa kedua wanita itu sadari, kepalan tangan Milles menguat, ia marah, kecewa, juga tersinggung dengan ucapan Leidy. Bisa-bisanya perempuan itu menyamakan dirinya dengan boneka murah yang di jual di pasar malam? Apa wanita itu waras? Apa wanita itu tidak takut mati? Dengan gemuruh riuh di dadanya, laki-laki ini berjalan mendekati kedua perempuan itu. Terutama Leidy.
"Apa maksud mu Leidy?"
Milles melihat kekagetan luar biasa pada reaksi wajah kedua wanita itu.
"M-milles?" cicit Berlyn, gugup dan ketakutan.
Sementara Leidy tampak sudah dapat mengontrol ekspresi wajahnya, ia bangun lalu menghampiri Milles. "Oh kau sudah sampai, sejak kapan kau menguping pembicaraan ku dengan Berlyn? Dan kau... membawakan ku coklat? oh romantisnya."
Milles menggeram tertahan, "Aku tidak menanyakan itu, maksud mu apa menyamakan ku dengan boneka murahan yang dijual di pasar malam? Kau..."
"Well, kamu tersinggung? Aku hanya bercanda sayang. Kau serius sekali." Leidy berusaha mengeles seperti bajai, tapi sayangnya Milles sudah seperti terbakar. Laki-laki itu menaruh kasar kedua paperbag yang berisi cokelat mahal yang ia bawa dari abu dhabi di karpet, lalu mendekat pada Leidy seraya menarik pergelangan tangan wanita itu.
"Kau bilang bercanda? Kau mengatakan bahwa itu hanya sebuah lelucon? Kau waras, Leidy? Kau waras, huh!" Milles mencengkram erat pergelangan tangan Leidy, Berlyn hanya bisa terdiam kaku di pjok dan menyaksikan perdebatan besar yang akan terjadi di mansionnya.
Leidy berusaha melepaskan cekalan tangan Milles, demi tuhan! Itu sakit sekali! Leidy rasa mungkin Milles sudah berada di puncak sabarnya, dan itu adalah hal yang bagus. Leidy sudah benar-benar muak dengan pria itu. Selalu membuatnya jengkel dan sok romantis. "Aku masih waras! Jadi lepaskan cekalan tangan mu! Sakit Milles!" seru Leidy.
Milles menghempaskan tangan wanitanya itu dengan kasar membuat Leidy sedikit terhuyung, ia menyugar rambutnya. Panas yang menjalar di hatinya belum padam juga. Ia menoleh, mengatakan hal yang amat meyebalkan bagi Leidy.
"Baik, kau bilang aku adalah boneka murahan bukan? Lantas kau apa? Penjual yang buruk rupa?"
"Kau!"
Leidy hendak maju melawan Milles, tapi Berlyn menahannya. "Lepaskan aku, Lyn! Dia mengatakanku buruk rupa?! GILA! DASAR GILA1!"
"Leidy tenanglah! kau bisa celaka!" Berlyn menahan sekuat tenaga tubuh Leidy agar temannya itu tidak bertindak gegabah. Ia tidak taukah bahwa tunangannya itu gila?
Milles mendengkus sinis, "Mulai saat ini kau bukan tunanganku lagi bukan kesayanganku lagi. Kau..."
"APA! BAGUS! AKU JUGA SUDAH MUAK PADAMU, MILLES!" seru Leidy, Berlyn panik. Leidy ini benar-benar!
Kau musuhku
Milles melepaskan cincin pertunangannya, lalu membuangnya ke kolam. Hal itu juga dilakukan oleh Leidy. "Mulai sekarang kau bebas, Leidy." Milles hanya mengatakan itu lalu pergi dari hadapan Leidy dan juga Berlyn menyisakan kedua perempuan itu yang berkacak pinggang.
"Kau gila Leidy! Kau memang gila, kau tidak takut kalau Milles akan balas dendam padamu karna sakit hati hah?!" Berlyn berteriak kacau, ia takut Leidy kenapa-kenapa.
"Buat apa aku harus takut, Lyn? Dia tidak akan membuatku takut barang sedikitpun."
"NO! Kau tidak mengerti, Leidy. Milles pasti akan mengincar perusahaan kecilmu itu, oh ya tuhan Leidy, kau ini kau..."
"Sudahlah Berlyn, kau terlalu banyak membaca novel, lagipun aku tidak akan semudah itu dikalahkan oleh Milles si konglomerat manja, huh lihat saja."
Berlyn hanya menghembuskan nafasnya, Leidy benar-benar tidak tahu bahwa lawannya kali ini sangatlah berat.
***