Langkah kaki ringan terdengar memasuki sebuah rumah mewah bergaya Eropa. Sesekali terdengar senandung lagu ceria dari mulut gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah itu. Sekarang sudah pukul delapan malam, tapi gadis itu seolah tidak merasa resah meski baru pulang ke rumah.
“Venus!” Sapaan bernada tegas seketika menghentikan senandung Venus Damara. Namun, gadis itu masih tidak merasa resah. Gadis itu justru mengubah langkah ringannya menjadi langkah cepat sambil merentangkan tangan, hendak memeluk ayahnya, yang sebelumnya sudah menginterupsi senandung Venus.
“Ayahhh,” teriak Venus. Dia memeluk ayahnya dengan manja. Haris Ryan Damara, ayah Venus, hanya bisa menghela napas, tidak tahu bagaimana caranya mendidik putri semata wayangnya yang masih terlihat kekanak-kanakkan.
Venus baru satu minggu menjadi gadis berusia 18 tahun. Haris bukannya bermaksud untuk menuntut Venus menjadi lebih dewasa. Dia hanya ingin putrinya menjadi gadis yang mandiri dan bisa berkelakuan lebih sopan lagi.
Haris tahu, sangat tahu kalau pergaulan putrinya tidak kelewat batas. Putrinya hanya terlalu cerita, cerewet, bahkan terkadang sangat jail. Venus juga bukannya anak yang pembangkang. Dia bahkan beberapa kali sudah berjanji pada Haris kalau nanti akan membantu perusahaan Haris. Venus juga janji akan belajar dengan giat agar bisa membuat perusahaan Haris menjadi lebih maju lagi.
Mengingat tentang perusahaannya, Haris hanya bisa menarik napas pilu. Dadanya terasa sesak jika teringat akan perusahaannya. Apalagi ada beban lain yang kini harus dia tanggung. Beban yang pasti akan menyulitkan putrinya. Hanya saja, Haris tidak memiliki cara lain. Hanya Venus yang bisa membantunya saat ini.
“Kenapa kamu baru pulang?” tanya Haris melembut.
Venus meregangkan pelukannya. Dia menatap ayahnya dengan tatapan heran. Tidak biasanya Haris mempermasalahkan pergaulan Venus. Haris juga tahu kalau sekarang jadwal Venus semakin padat dengan adanya les dari sekolah.
Oh, oke! Memang hari ini Venus pulang terlambat bukan karena ada les. Dia pergi jalan-jalan bersama sahabatnya. Namun, ayahnya juga biasanya tidak terlalu peduli selama Venus sudah ada di rumah sebelum pukul sepuluh malam atau minimal sudah mengabari orang rumah kalau Venus terlambat pulang.
“Aku pergi bersama Brina dan Clara. Seperti biasanya, Ayah.”
“Sekarang kamu sudah kelas tiga.”
“Venus tahu. Belajar, kan?”
“Bukan hanya itu.”
“Lalu?”
Haris tidak menjawab. Dia melepaskan rangkulan tangan Venus pada pundaknya.
“Mandilah. Ada yang ingin Ayah bicarakan.”
Kerutan di dahi Venus semakin dalam. Wajah ayahnya terlihat sangat serius. Tidak biasanya Haris terlihat serius seperti itu. Apalagi saat bicara pada Venus. Haris hanya akan terlihat tegas atau serius kalau Venus sudah melakukan kesalahan. Namun, sejauh ini Venus tidak melakukan kesalahan apa pun. Nilai Venus bulan ini saja masih masuk sepuluh besar di kelas.
“Memangnya ada apa, Ayah?”
“Mandi dulu.”
“Ayah sangat mencurigakan.”
“Kalau begitu, cepatlah mandi. Ibu juga sudah menunggumu di meja makan. Kita bicara setelah makan malam.”
Haris pergi setelah mengatakan semuanya, meninggalkan Venus yang semakin keheranan. Ayahnya malam ini terlihat sangat dingin. Venus merasa ada yang tidak beres. Ayahnya bukan tipe ayah yang dingin. Ayahnya selalu memperlakukan Venus dengan hangat.
Venus menghela napas. Dia memutuskan untuk menuruti perintah ayahnya. Langkahnya kali ini tidak semantap sebelumnya. Dia berjalan menuju kamar dengan lesu, tanpa minat.
***
Venus menghentikan langkahnya sebelum memasuki ruang makan. Dari tempatnya, dia bisa mendengar ada isak tangis dari ruang makan. Tidak salah lagi, isak tangis itu pasti dari Kannisa, ibu Venus. Hati Venus jadi semakin tidak tenang. Dia menjadi ragu untuk masuk ke ruang makan.
Venus yakin sekali, pagi tadi sebelum berangkat sekolah, dia masih bisa bercanda dengan ayah dan ibunya. Sama sekali tidak terlihat ada masalah apa pun. Namun, kenapa suasana malam ini begitu menakutkan. Ibunya sampai menangis. Ayahnya pun terlihat cukup dingin.
Isak tangis dari dalam ruang makan telah berhenti setelah Haris menenangkan istrinya. Dari cara Haris menenangkan istrinya, Venus masih belum paham dengan apa yang sedang terjadi. Venus tidak mendapatkan petunjuk apa pun.
Setelah mengembuskan napas melalui mulut dan berlatih untuk tersenyum ceria, Venus melangkahkan kakinya memasuki ruang makan. Seperti yang sudah Venus duga, suasana ruang makan begitu dingin. Ibunya memang sudah tersenyum, tapi Venus tahu senyum itu hanya senyum paksaan.
Venus mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Rasanya makanan itu sangat hambar. Padahal makan malam kali ini Kannisa menyiapkan makanan kesukaan Venus. Namun, selera makan Venus sudah menghilang. Dia hanya memasukkan makanan ke dalam tubuhnya, sekadar untuk memenuhi keinginan perutnya yang sudah meronta sejak dia pulang. Venus bahkan tidak akan kaget kalau setelah ini dia sakit perut.
Suara benturan antara sendok dan piring milik Venus, membuat Haris mengalihkan pandangannya pada piring Venus. Piring itu sudah kosong. Sendoknya pun sudah diletakkan dalam posisi terbalik, sebagai tanda jika Venus sudah selesai makan. Haris pun melakukan hal yang sama pada sendoknya.
Melihat tatapan ayahnya yang tertuju padanya, Venus tahu kalau sekarang sudah saatnya mereka bicara. Venus tahu pembicaraan mereka kali ini pasti bukan pembicaraan biasa. Dalam hati Venus menebak, mungkinkah ayah dan ibunya akan bercerai?
Oh, tidak! Apa yang kamu pikirkan, Venus!
Venus menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Ayah dan ibunya masih terlihat saling mencintai. Tidak mungkin mereka bercerai. Kalau bukan itu, mungkinkah orangtuanya hendak menjodohkan Venus? Sebelumnya, Venus sempat mendengar kalau Kannisa tidak bisa hidup berjauhan dengan Venus dan membiarkan Venus hidup dengan orang lain.
Tiba-tiba dalam hati Venus tertawa. Mana mungkin orangtuanya akan menjodohkannya! Benar-benar pikiran yang konyol. Venus saja belum selesai sekolah. Orangtuanya juga bukan orangtua yang kolot hingga menjodohkan anak mereka di usia yang masih belia.
Venus kembali ke kenyataan saat ini. Tatapan ayahnya masih terlihat dingin. Bukan saatnya bagi Venus untuk bercanda.
“Ayah bisa bicara sekarang,” pinta Venus. Dia cemas juga kalau ada masalah yang tidak dia ketahui. Apalagi melihat tatapan ibunya yang kembali sendu.
“Kamu tahu Evander Kennedy, bukan?”
Venus mengerutkan keningnya. Dia mengingat-ingat laki-laki bernama Evander Kennedy. Tidak lama seruan ‘ah’ keluar dari mulut Venus. Dia ingat siapa laki-laki itu. Dia adalah CEO perusahaan pembiayaan yang kantornya satu gedung dengan perusahaan Haris. Dari yang Venus tahu, perusahaan itu sedang merencanakan pembangunan gedung sendiri, tapi tidak tahu jelasnya bagaimana.
“Sepertinya Venus tahu,” jawab Venus sedikit ragu. Entah kenapa ayahnya tiba-tiba menanyakan laki-laki itu. Yang jelas, wajah laki-laki itu saat ini sudah terbayang dalam pikiran Venus. Venus beberapa kali melihat laki-laki itu menjemput anaknya yang sekarang kelas satu SD. Dia juga kadang bertemu dengan Evander saat datang ke kantor ayahnya.
Jika Venus tidak salah, Evander cukup terkenal di sekolahnya. Sekolah Venus bukan sekolah umum yang muridnya sangat banyak. Sekolahnya hanya menerima sedikit murid, tapi memiliki fasilitas yang luar biasa. Sekolah itu juga mencakup dari TK hingga Universitas. Dengan kata lain, sekolah Venus dan sekolah anak Evander masih satu yayasan.
“Evander orang baik. Dia laki-laki yang penyayang. Kamu pasti akan bahagia kalau menikah dengannya.”
“Hah?”
Venus mengedip-ngedipkan matanya, tidak paham dengan arah pembicaraan ayahnya. Tiba-tiba saja menyebut nama Evander Kennedy, kemudian memuji laki-laki itu hingga meyakini kalau Venus akan bahagia menjadi istri duda tampan itu.
Haris menghela napas dalam. Seperti ada benda padat yang mendesak paru-parunya hingga rasanya berat untuk sekadar menghela napas.
“Menikahlah dengan Evander.”
Seketika Venus mematung. Dia hanya bercanda saat menyebut tentang orangtuanya yang hendak menjodohkan Venus. Dia tidak sungguh-sungguh. Namun, kenapa candaannya kini menjadi kenyataan?
Sama sekali tidak lucu!!
Bersambung...