"Mas Akhtar!"
Langkahku yang sedang berjalan menuju ruang bos, terhenti sejenak saat gendang telinga ini menangkap suara lembut dari belakangku. Lalu, Aku berbalik badan, melihat sosok gadis yang baru saja memanggil namaku dengan semangat.
Senyum gadis itu merekah bak buah persik di musim semi. " eh, Zeyra ? Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku, ramah.
"Mas, bisa anterin aku gak. sebentaaarr aja"
Aku mengernyitkan dahi. Manik mataku melirik arloji dan kembali melihat wajah Zeyra. "Kemana?"
"Hmm jadi barusan ada developer yang nelpon. Katanya, rumah baru aku udah bisa ditempati. Dan, aku juga sudah kirim barang-barang ke sana. Bisa, anterin sebentar gak mas? aku cuma mau cek aja kok," jelasnya dengan penuh perhatian.
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. Bola mataku tertunduk pada berkas yang sedang aku pegang. Aku bisa saja mengantarkannya sebentar. Tapi, entah mengapa hatiku terasa sedikit tidak nyaman. Apa yang menjadi penyebabnya, aku pun tak tahu. Padahal, aku juga sangat sering memberikan bantuan pada rekan-rekan yang lain. Tetapi, kali ini.....
"Mas ??!"
Aku tersentak. Lamunan pikiranku buyar seketika kala mendengar suara Zeyra. Segera, aku menjawab pertolongannya. "o-oke. Setelah saya antar ini ke ruangan bos, ya?" jawabku sedikit gugup.
Zeyra tersenyum lebar hingga memamerkan deret giginya yang putih. "Makasih loh mas! nanti aku traktir sesuatu," serunya sambil mengedipkan sebelah matanya serta senyum yang belum surut.
***
"haahhh... Kamu kenapa sih sayang? Kok, tiba-tiba curiga gitu? kenapa?" tanyaku dengan desahan panjang. Berusaha menahan debar jantung yang melaju seperti roller coster. Aku berusaha bersikap sesantai mungkin di depan istriku.
Aku lihat matanya dalam-dalam sambil tersenyum tipis. Dia, yang sudah berbalik badan ke arahku, masih tampak bingung. Namun, akhirnya luluh juga dengan sebuah kecupan manis yang aku layangkan tepat dibibir mungilnya yang merah. Sambil mengulum, aku juga memainkan rambut di bagian leher belakangnya yang menempel pada kulit karena basah.
"aku mencintaimu, Raisa."
Hanya kalimat itulah yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Aku mencintai istriku, Raisa Hanara dan juga keluarga kecil yang aku bangun bersamanya.
Zeyra?
Lupakan. Toh, kejadian tadi itu siang hanya luapan emosinya saja. Aku tak perlu menghiraukan hal kecil seperti itu. Mungkin lain kali, aku harus lebih berhati-hati pada gadis tersebut. Tidak. Aku harus menghindarinya. Bagaimana jika dia kembali melakukan hal yang sama?
Ah! kacau. Pikiranku mulai buyar. Besok aku harus berusaha menghindari Zeyra. Apapun alasannya.
Keesokan harinya.
Pagi sekali, aku sudah bangun dan segera mengambil handukku dari jemuran. Menyeret kain berukuran sedang itu ke kamar mandi. Lalu, aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sebelum meninggalkan kamar, ku lirik wajah Raisa yang masih tertidur pulas. Nafasnya menghela perlahan dengan teratur. Aku ingin sekali menganggunya. Namun, aku urungkan niatku mengingat kejadian semalam seputar pertanyaannya yang menganggu pikiranku saat ini.
"Semoga sarapan pagi buatanku, bisa menenangkan pikirannya," batinku.
Klaaap.
Aku tutup pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, bergegas ke dapur dan memasakkan sesuatu untuk Raisa. Aku ingat, dia ingin sekali memakan masakan buatan ibuku. Nasi biryani kari ayam. Hanya saja, aku tidak memiliki waktu cukup luang untuk mengajarinya memasak makanan timur. Raisa juga pernah mengajakku untuk pulang ke negara asalku. Namun, cuti tahunanku sudah aku pakai saat anak-anak libur sekolah dan pergi ke Bali.
Saat aku sibuk dengan masakan dan pikiranku, Tiba-tiba....
"hooaaamm.... Sayaang.... Kamu udah bangun??"
Gendang telingaku menangkap suara serak Raisa yang sedang berdiri dibelakangku sambil merenggangkan tubuhnya. Aku melirik sedikit ke belakang sambil menjawab "iya. Aku bangun duluan karena mau masakin kamu. Kasihan kamu, tiap hari bangun pagi cuma buat masakin aku sarapan. Jadi sekarang gantian. Aku yang masakin kamu."
Raisa tersenyum. "kamu ini, kan, harus masuk pagi."
"gak apa-apa sayang. Aku udah izin datang telat sama bos."
Raisa mengernyitkan dahinya. "kok tumben bos kamu ngasih toleransi ke kamu? biasanya 'kan, dia paling gak suka kalau karyawannya datang telat?"
Aku letakkan pisau yang sedang aku genggam di atas talenan dan berjalan menuju ke arahnya. Lalu, melebarkan kedua tanganku untuk meraih tubuh raisa yang lebih kecil dari tubuhku.
"karena hari ini adalah hari Anniversary pernikahan kita. Kamu lupa?"
Raisa sontak terkejut. Wajahnya seketika memerah karena malu. "oh astaga. Aku lupaaaa," jawabnya sedikit bernada manja.
"hahaha... Udah ketebak kamu pasti lupa."
"maafin aku sayaang." Lagi, nada bicaranya bergelayut manja. Aku gemas melihatnya. Sepertinya, sudah lama kami tidak bermesraan di pagi hari seperti saat ini. Mungkin karena sudah memiliki dua ekor buntut, makanya waktu morning kissing kami pun jadi hilang.
Aku menempelkan keningku tepat pada kening Raisa. "Happy Anniversary honey. I will always love you. Forever. Thanks for everything. You always do the best for me and for our family."
Aku terdiam sejenak. Menatap matanya dalam-dalam, mengeratkan pelukanku dan mencium keningnya. "Kamu sudah menjadi istri yang baik buat aku. Maaf kalau aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu."
Manik mata Raisa mulai berair. Ia menjawab ucapanku dengan nada pelan. "Happy Anniversary sayang. Kamu juga sudah menjadi ayah dan suami yang baik buat aku dan anak-anak. Aku percaya sama kamu. Kamu menjadi pemimpin keluarga kecil kita yang sangat dicintai. Jadi, tetaplah menjadi ayah yang selalu menjadi kebanggaan anak-anak, ya. I love you."
Aku hanya diam. Dalam hati aku membatin. Aku pasti bisa menjadi sosok lelaki yang diharapkan oleh istri dan anak-anakku. Aku tidak akan mengecewakan mereka.
Tetapi, baru beberapa saat yang lalu aku mengatakan hal itu, kini ....
Ceritanya berbeda saat aku hendak berangkat bekerja.
"Mas Akhtar.... Aku nebeng ya..."
Gleek...
Hanya liur yang sanggup aku telan.