“Dokter Evan kenapa masih disini? Sudah ditunggu Acha disana. Acha yang bagian menemani Dokter Evan untuk membantu memilih mobil nantinya,” ucap salah satu pegawai yang memanggil Evan saat Evan masih duduk bersandar di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Pak Anto.
Evan menoleh, ia mengangguk mengerti pada pegawai itu. Entah Evan juga tak tahu yang tengah memanggilnya itu pegawai yang bekerja di bidang apa, “Ah … Iya, terima kasih,” jawab evan pada pegawai itu.
Pegawai itu mengisyaratkan Evan untuk beranjak dan mengikutinya pergi, “Sama-sama, mari saya antar kesana!” titahnya yang dibalas Evan dengan anggukan.
Evan lantas beranjak. Ia mengukuti arah perginya pegawai itu yang katanya akan mengantar Evan untuk bertemu salah satu tim marketing yang bertugas untuk mengarahkan Evan saat Evan ingin membeli mobil, “Pegawai bagian marketing yang bertugas menemani saya pilih mobil nanti, namanya Acha?” tanya Evan pada pegawai itu.
Jelas pegawai tersebut mengangguk. Bibirnya mengulum senyum simpulnya dan netranya menatap Evan sopan, “Iya Dok, kebetulan Acha yang ditugaskan untuk menemani customer, sedangkan saya ditugaskan untuk menemani Direktur Marketing saat meeting. Saya atupun Acha kebetulan sama-sama bekerja di bagian divisi marketing,” jawab pegawai itu pada Evan.
“Dokter Evan tunggu disini ya? Saya panggilkan Acha dulu,” titah pegawai itu mengisyaratkan Evan untuk menunggu di depan ruangan. Dan ia pun lantas masuk ke dalam ruangan untuk memanggil Acha.
Pegawai itu namanya adalah Tika. Dia adalah sekretaris di bagian divisi marketing. Kebetulan yang ditugaskan untuk mengurus semua surat-menyurat mengenai laporan adalah dia. Dan ia juga selalu ditugaskan untuk menemani Direktur Marketing, setiap Direktur Marketing meeting ada jadwal rapat, “Cha, ini Dokter Evan keponakannya Pak Anto yang mau pilih-pilih mobil. Kamu temenin Dokter Evan ya? Biar aku nanti yang nemenin Pak Arya meeting sama Pak Anto,” perintah Tika pada Acha yang tengah memainkan ponselnya di meja kerjanya.
Alesya Flaminca Rose, atau orang-orang lebih mudah memanggil namanya dengan sebutan Acha. Dia juga salah satu pegawai yang bertugas di bagian divisi marketing. Acha ini sangat pintar dapat mengolah kata-katanya untuk membujuk customer yang datang di dealer ini. Jadi tak heran jika Acha selalu dapat tugas untuk melayani customer secara langsung, “Iya, mana orang yang mau pilih mobil?” tanya Acha menghentikan aktivitasnya dan mulai beranjak dari duduknya.
“Ada di luar. Oh iya … Aku langsung tinggal aja ya? Keburu telat meeting,” pamit Tika sebelum ia melangkah untuk meninggalkan Acha.
Saat Tika melangkah ke luar ruangan dan meninggalkan Acha yang masih disana, Acha lantas ikut berjalan keluar ruangan. Ia bersiap-siap untuk menemui calon pembeli mobil di dealer ini yang kebetulan adalah keponakan atasannya sendiri.
Saat ia keluar dari ruangannya, netranya menangkap sosok laki-laki yang tengah berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu terlihat memunggungi Acha dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya, “Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Acha dengan nada sedikit sopan pada laki-laki itu, yang merupakan Evan.
Evan menoleh saat telinganya mendengar pertanyaan dari Acha. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Acha yang ternyata berdiri tepat di belakangnya. Netra keduanya sontak membulat. Evan ataupun Acha tak kalah kaget saat keduanya saling beradu pandang, “APA!” teriak Acha saat netranya melihat Evan mematung di depannya.
Acha menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya saat melihat Evan menatap tajam ke arahnya. Tidak, baginya ini adalah bencana. Laki-laki yang ditemui Acha untuk meminta ganti rugi coklat saat ini ada di depannya. Mau ditaruh dimana muka Acha? Kenapa ia tak menyadari jika laki-laki yang terlibat insiden minuman coklat dengannya tadi pagi adalah keponakan dari pemilik dealer ini?
“Kamu ngapain disini?” tanya Evan pada Acha yang masih mematung ditempat karena tercengang dengan apa yang ia lihat.
“Bapak yang namanya Dokter Evan?” Acha sengaja tak menjawab pertanyaan Evan. Ia justru malah menanyakan balik pertanyaan yang berbeda pada Evan.
Laki-laki itu hanya membalas pertanyaan Acha dengan memutar bola matanya malas. Sudah ia pastikan, orang yang ditugaskan pamannya adalah orang yang saat ini berdiri di depan Evan. Bola mata Evan tak bisa ia kendalikan saat menatap Acha. Tatapannya itu menyorot ke arah Acha, sampai Acha risih melihat tatapan Evan yang tak berpindah sama sekali menatapnya sedari tadi.
“Santai Pak, tatapannya jangan gitu. Saya takut. Mari Pak, saya antar!” ajak Acha. Ia sengaja mengalihkan pembicaraanya agar Evan tak mengungkit kejadian beberapa jam yang lalu yang membuatnya berdebat dengan Evan masalah coklat.
Langkah Acha pelan, berjalan menuju ruang yang digunakan untuk memajang mobil-mobil yang tersedia di dealer ini. Ia berniat untuk mengantarkan Evan kesana agar urusan Evan cepat selesai dan ia tak bertemu dengan Evan lagi. Yang terpenting saat ini tugas Acha harus selesai, dan ia ak dihadapkan laki-laki dewasa yang setengah angkuh ini.
“Jadi kamu tim marketing yang ditugaskan Om Anto untuk menemani saya?” tanya Evan yang berjalan mengekor di belakang Acha, sesekali ia mensejajarkan langkahnya dengan Acha. Tapi acha berusaha mempercepat langkahnya saat Evan kembali mensejajarkan langkah kakinya.
“Iya,” sahut Acha singkat.
Bibir Evan tertarik miring saat mendengar sahutan dari Acha. Sudah bisa dipastikan bahwa otak Evan ingin membalas apa yang telah Acha lakukan beberapa jam yang lalu. Otaknya tiba-tiba terlintas ingin memberi pelajaran buat Acha, “Bagian marketing cuma kamu aja? Nggak ada yang lain?” tanyanya lagi, sengaja menghujani pertanyaan ke arah Acha, agar Acha bosan.
“Ada banyak,” sahut Acha lagi.
Lagi-lagi bibir Evan tertarik miring. Ia tak akan bisa terima jika gadis yang ada dihadapannya itu hidup tenang setelah perlakuan sengaja yang dilakukan gadis itu terhadap Evan, “Kenapa kamu yang dipilih Om Anto untuk menemani saya? Padahal ada yang jelas-jelas lebih professional dari pada kamu,” cibir Evan melirik sekilas gadis itu seolah-olah nadanya meremehkan gadis itu.
Gadis cantik itu sontak saja membulatkan matanya ke arah Evan. Ia juga tak mau kalah jika ia dicibir Evan dan disindir habis-habisan di depannya wajahnya. Tak terima dengan perlakuan Evan, bibirnya ikut menyunggingkan senyum miringnya ke arah Evan saat Evan tak melihatnya, “Saya cantik mungkin? Lebih dari yang lain, makanya Pak Anto milih saya,” belanya pada dirinya sendiri.
Evan menghela napas panjang. Gadis yang ternyata ia remehkan tadi, ternyata masih berani menyindirnya balik, “Nggak waras!” gerutu Evan pelan pada gadis itu.
Gadis bersurai hitam lurus yang baru saja dicibir Evan itu sontak tengah menahan amarahnya. Ia ingin membalas cibiran dari Evan, namun ia sadar bahwa ada yang lebih penting dari cibiran Evan, yaitu waktu yang telah terbuang banyak hanya untuk meladeni Evan. Gadis itu sontak menyudahi. Ia lantas mengibaskan surai hitamnya pelan. Tak peduli dengan apa yang Evan katakan. Meskipun sebenarnya ia mendengar gertuan dari Evan, tapi saat ini baginya adalah ingin cepat-cepat selesai berurusan dengan Evan lagi, “Mari saya antar!” titahnya pada Evan dan berusaha mengalah.
“Jadi Bapak rencananya pilih mobil yang mana? Nanti saya bantu,” tanya Acha tegas seraya terlihat dengan menggunakan bahasa tubuh yang tampak profesional saat berhadapan dengan Evan.
Entah apa yang masih membuat Evan menggerutu. Batinnya ingin melihat gadis itu terlihat sebal. Salah sendiri membuat Evan menaruh dendam, saat ini giliran Evan yang ingin membalasnya. Bibir Evan reflek tertarik miring sebelum kaimat yang bernaung di bibirnya keluar, “Mobil yang paling mahal, jangan yang murah-murah banget. Uang tabungan saya nganggur kalo terlau murah,” jawabnya pada Acha.
Spontan mata Acha membulat. Bukan karena ia terkejut karena Evan membeli barang mahal di dealer-nya. Tapi ia justru terkejut dengan nada sombong Evan yang membuatnya ingin menjambak wajah Evan. Baru kali ini ia dihadapkan dengan seorang pembeli yang sangat amat menyebalkan. Pikirnya, Evan sudah menyudahi perang mulut masalah coklat tadi. Tapi ternyata salah, Evan benar-benar masih mengungkit-ungkit masalah itu. Mau tidak mau Acha harus bersikap baik pada Evan agar laki-laki itu tak menjadi-jadi, “Memangnya budget Bapak berapa?”
“Emang sopan? Tanya budget calon pembeli?” tanya Evan balik dan sengaja tak menjawab pertanyaan dari Acha.
Acha spontan mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya. Hembusan demi hembusan napas, keluar dari bibir Acha. Ia berusaha pelan untuk menahan amarah itu agar tak mencuat di depan Evan, “Gimana saya mau menyesuaikan mobil yang tersedia dengan keinginan Bapak, kalau saya nggak tau budget dari konsumen itu sendiri berapa, Pak! Para pegawai disini dididik untuk melayani. mengetahui, dan tanggung jawab agar konsumen menaruh kepercayaan besar kepada dealer ini, Pak! Jadi wajar kalau saya tanya budget Bapak terlebih dahulu sebelum saya memberi saran untuk memilih mobil mana yang cocok dan tersedia disini,” jelas Acha dengan sedikit mengukir senyum simpulnya di depan Evan.
Tawa Evan pecah saat melihat Acha tengah menahan amarahnya, guratan sebal di wajah Acha sangat terlihat jelas yang membuat Evan ingin terus-menerus memancing Acha untuk meluapkan amarahnya lagi dan lagi, “Melayani, mengetahui, dan tanggung jawab?” tanya Evan berusaha memancing Acha lagi.
“Iya, itu kewajiban saya,” jawab Acha singkat.
Bibir Evan tertarik miring lagi. Evan memang tak ada henti-hentinya memancing cibiran itu pada Acha, “Termasuk memeras konsumen dan menyuruh konsumen ganti rugi minuman coklat yang nggak penting itu?” tandas Evan seraya tersenyum miring lagi kea rah Acha.
Sungguh. Evan sangat terlihat menyebalkan dihadapan Acha. Sampai-sampai Acha sendiri kuwalahan dengan sikap Evan yang ingin menindasnya terus-menerus. Kalau begini akhirnya, lebih baik Acha tak meminta ganti rugi itu pada Evan. Tapi kalau Acha mengembalikkan uang Evan, ia pun tidak bisa. Saat ini ia sangat membutuhkan uang dalam waktu dekat, “Itu masalah pribadi, jangan diungkit-ungkit. Lagi pula tadi kan Bapak sendiri yang numpahin minuman coklat saya, ya wajar kalau saya minta ganti rugi. Udah Pak, saya mau fokus kerja. Bapak punya budget berapa dan mobil yang bagaimana yang Bapak cari? Biar saya bantu. Urusan coklat jangan diungkit-ungkit lagi,” jelasnya pada Evan agar Evan tak memancing amarahnya lagi.
Mendengar penjelasan dari Acha, Evan hanya meresponnya dengan memutarkan bola mata sayunya. Sebenarnya ia masih tak terima dengan perlakuan Acha waktu pertama kali bertemu. Maka dari itu, entah apa yang Evan pikirkan. Saat ini kesenangannya adalah mencibir Acha habis-habisan. Ia ingin melihat Acha sebal ketika bertemu dengannya. Tapi sepertinya tak harus hari ini ia mencibir Acha, masih ada hari-hari berikutnya, “Disini tersedia mobil sport tipe apa aja? Biar nanti saya yang pilih,” ucapnya mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya.
Acha menghela napas. Ia berusaha mengatur kesabarannya yang bergelut dalam hati. Gara-gara Evan, ia harus memompa seluruh pembuluh darah untuk bekerja menetralkan detak jantungnya agar berpacu dengan normal. Gara-gara Evan juga, ia tak bisa focus bekerja. Pun juga, hari ini sebenarnya hari paling Acha tunggu-tunggu, karena hari ini adalah perayaan tahun ke-delapan ia menjalin hubungan dengan kekasihnya. Harusnya ia bahagia, tapi Evan menggagalkan semuanya, “Mari saya antar kesana untuk melihat produknya,” ucap Acha dengan nada yang agak terlihat malas saat melihat Evan.
Saat Acha mulai melangkahkan kakinya ke arah ruangan yang digunakan untuk menyimpan berbagai macam mobil untuk ditawarkan ke konsumen, Evan terlihat mengikuti langkah Acha. Ia masih mengunci mulutnya. Membiarkan Acha menjelaskan kelebihan yang dimiliki mobil-mobil yang berjejer disana. Dalam ruangan itu, terlihat beberapa deret mobil sport yang tersedia. Salah satunya mobil incaran Evan. Tapi Evan sengaja untuk tidak memberitahu Acha terlebih dahulu. Ia masih membiarkan Acha menjelaskan satu persatu mobil itu. Evan memang tak punya hati.
Tangan Acha tampak menunjuk salah satu mobil Sport yang ada di depannya. Mobil itu tampak mewah dan sangat elegan untuk dikendarai seseorang. Jangan ditebak harganya! Karena harganya memang bisa dikatakan harga fantastis untuk golongan mobil sport itu, “Jadi Pak, untuk tipe mobil yang ini adalah salah satu mobil sport paling murah dari Brandnya yang sudah dipasarkan di Indonesia. Mobil tipe ini itu bisa membawa mesin sampai 1985cc. Karena kapasitas mesin yang dibawa itu mencapai angka 1985, mobil ini bisa menghasilkan tenaga sampai dengan 253Hp. Untuk jumlah kursi yang tersedia dalam mobil ini ada empat kursi, Pak. Nah, kisaran harganya mencapai Rp 1,45 Milyar. Kalau Bapak ingin tahu desain dalam mobilnya, biar saya bantu buka,” jelas Acha pada Evan yang hanya dibalas Evan dengan anggukkan sok tak mengerti.
Evan sedikit menghela napasnya sebelum kalimat yang bernaung di bibirnya keluar. Ia pun juga terpaksa mengulum senyum kea rah Evan, meskipun hatinya sedikit dongkol, “Desain mobil ini menampilkan desain bodi yang sedikit agresif dan elegan. Ada lampu LED di bagian wajahnya yang menampilkan aksen luar biasa. Bapak bisa coba sendiri, mengamati desain bagian dalamnya. Silahkan Pak,” tambah Acha semabri tangannya membukakan salah satu bagian pintu depan mobil untuk Evan.
Evan hanya mengangguk. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk mengamati bagian dalam mobil. Bibirnya menampakkan senyum miring lagi. Lagi pula Evan sudah tahu ini adalah mobil incarannya. Jadi ia berpura-pura saja membungkukkan badannya untuk mengamati desain bagian dalam mobil ini. Ia pun juga berpura-pura menelisik bagian mobil tersebut dengan posisi masih mengetes Acha untuk dijelaskan lagi, “Mobil yang paling ujung itu dengan mobil yang ini perbedaan yang signifikan apa?” tanyanya pada Acha.
Acha ingin menghela napas panjang. Tapi rasanya ia punya tanggung jawab untuk bersikap professional terhadap Evan. Mau tidak mau Acha lah yang harus mengalah, “Baik, mari saya jelaskan perbedaanya. Kita kesana ya, Pak!” titahnya pada Evan.
Surai hitam yang tergerai milik Acha, ia kibaskan lagi seraya bibirnya tampak menghembuskan napasnya pelan. Terlihat lelah berhadapan dengan Evan. Langkah kakinya sedikit ia hentakkan dan bibirnya menggerutu pelan. Tapi sedetik kemudian langsung tertahan karena Evan berjalan sejajar dengannya. Acha reflek mengembalikan guratan wajahnya menjadi terlihat ramah lagi. Hanya terpaksa, bukan ramah sebenarnya.
Acha menarik sudut bibirnya lebar ke arah Evan. Tangannya menunjuk mobil yang ada di hadapannya saat ini. Mobil kedua yang akan ia jelaskan pada Evan, “Kalau Bapak cari keluaran terbaru, Bapak bisa memilih mobil tipe ini. Brand ini baru saja meluncurkan mobil coupe yang sekarang sudah tersedia di dealer ini. Ini kursi yang tersedia memang ada dua, berbeda dengan mobil yang saya jelaskan tadi sebelumnya yang memiliki jumlah kursi empat di desain dalam mobilnya. Nah mobil ini juga punya mesin 4735cc paling tinggi dari mobil-mobil yang tersedia disini. Karena ini tergolong mobil sport juga, mobil ini tampak sporty. Bagian eksteriornya sangat didesain khusus secara aerodinamis. Tapi kelemahannya, tidak cocok dikendarai di jalan rusak. Harga mobil ini kisaran Rp 4,4 Milyar,” jelasnya lagi.
Bibir Acha masih tertarik sempurna. Simetris lebar yang bernaung disana pun juga tak lepas hanya untuk bersikap professional sebagai tim marketing di dealer ini. Meskipun amarah Acha sedari tadi masih terlihat menggumpal pada Evan. Tapi ia saat ini tak bisa terus-menerus meladeni Evan, “Nah Pak, untuk mobil yang itu juga termasuk jajaran mobil sport yang paling diminati beberapa masyarakat kalangan atas. Dealer ini terkadang bisa menerima orderan 50 mobil lebih setiap bulannya karena memang, perkembangan dari brand mobil itu setiap tahunnya selalu mencetak produk baru dengan desain yang tak kalah menarik,” jelasnya lagi agar Evan tak terlalu banyak tanya.
Kaki Acha sontak melangkah lagi ke arah mobil terakhir yang ingin ia tawarkan pada Evan. Dan semoga saja Evan cepat-cepat memberi keputusan ingin membeli mobil yang mana, “Ada lagi ini Pak, mobil yang paling banyak diminati konsumen. Ini contohnya. Mobil ini budgetnya tak kalah menarik. Hanya 3 Milyar, Bapak sudah bisa mengendarai mobil dengan kapasitas mesin 4970cc yang dapat memaksimalkan tenaganya hingga 477hp. Untuk kursi dan pintunya juga ada 4 Pak. Desain eksterior dan interior yang disuguhkan pun tak kalah menarik dengan mobil sport lainnya,” tawarnya lagi pada Evan.
“Jadi bagaimana? Bapak jadi pilih yang mana?” Pertanyaan ini yang menjadi acuan untuk mengakhiri penjelasan dari Acha.
Sedari tadi Evan hanya membalas penjelasan Acha dengan anggukan pelan seolah-olah ia tak mengerti dengan hal-hal yang berbau otomotif. Padahal meskipun Evan seorang Dokter Othopedi, tapi karena pamannya sering memberitahu wawasan otomotif, Evan semakin lama semakin paham dunia otomotif. Hanya di depan Acha saja ia berpura-pura tak mengerti dan seakan-akan membodohi dirinya sendiri, “Saya pilih yang tipe pertama. Tapi harganya tolong dikurangi, karena standart harga itu nggak cocok untuk spesifikasi mobil sport yang itu,” serunya ke arah Acha.
Jelas saja Acha murka mendengar kalimat Evan. Bagaimana bisa ia berbicara seperti itu? Ketentuan harga sudah ditetapkan pihak perusahaan, mana bisa ditawar? Awal pembicaraan, Evan bilang ingin harga yang terbilang mahal. Tapi mengapa saat ini malah menawarnya? Astaga, rasanya kepala Acha ingin meledak ketika berhadapan dengan konsumen seperti Evan. Untung saja ia keponakan dari pemilik dealer ini, coba saja kalau bukan? Acha akan menghabisinya.
Acha menghela napas panjangnya. Senyum di bibirnya yang memudar, ia tarik kembali hanya untuk berhadapan dengan Evan. Rasanya, Acha ingin membuang wajahnya dari hadapan Evan. Mungkin dulu ia sering mendapatkan customer yang banyak maunya, tapi customernya dulu tak serewel Evan. Hanya gara-gara masalah sepele, Evan menghujaninya cibiran dan ancaman yang membuat Acha ingin mencibirnya kembali. Tapi ia tak punya pilihan untuk membelas Evan, “Tipe kedua dan ketiga lebih mahal dari yang pertama. Bapak yakin nggak pilih yang kedua dan ketiga aja?” tawarnya lagi pada Evan.
Evan tampak menggeleng. Netranya memperhatikan lagi mobil yang Acha tawarkan itu. Dan beberapa detik kemudian gelengan kepala itu terlihat lagi, “Yang pertama aja, yang kedua dan ketiga saya nggak terlalu suka dengan desain yang dimiliki mobil itu,” jawabnya pada Acha.
Mendengar penjelasan dari Evan. Acha membalasnya dengan anggukan mengerti. Ia tak mau membantah lagi, takut Evan malah memperpanjang masalahnya dan tak akan selesai lagi, “Oke baik Pak, saya tulis orderannya dulu ya? Untuk kelengkapan surat-surat mobil akan kami infokan beberapa hari lagi. Nanti Bapak bisa kesini lagi ya? Saya tuliskan nama Bapak sesuai dengan kartu nama yang Bapak miliki,” jelas Acha dengan menampakkan senyum yang sedikit dipaksakan.
“Tolong urus semua. Saya nggak mau tau, kalau ada apa-apa dengan mobil yang saya pesan, kamu yang harus tanggung jawab. Kalau kamu tidak bisa tanggung jawab, saya yang juga akan meminta ganti rugi sebanyak 100 kali lipat. Bisa juga saya akan memberi laporan ke atasan kamu, bahwa pegawainya tak professional dalam bekerja,” Evan tampak mengancam Acha dengan kata-kata mematikan itu lagi.
Acha menghela napas panjangnya. Tangannya pun tampak mengepal, namun masih bisa ia sembunyikan di sela-sela ujung bajunya agar Evan tak melihatnya. Amanda berharap, Evan adalah customer rewel terakhirnya. Ia muak bertemu Evan lagi. Semoga hanya kali ini saja ia dipertemukan laki-laki semacam Evan, “Iya Pak, baik akan saya usahakan menjaga amanahnya. Saya juga yang akan membantu mengurus semuanya sampai selesai, tapi mohon bersabar.”
Usai Acha menuliskan pesanan Evan dibuku catatannya, Evan lantas berjalan meninggalkan Amanda tanpa permisi yang membuat Acha semakin dongkol melihat perlakuan Evan. Netranya mengamati punggung Evan yang berjalan menjauh. Berkali-kali ia tampak mengepalkan tangannya karena sebal dengan perlakuan laki-laki semacam Evan. Akankah Evan mencampuri dunianya lagi setelah ini? Atau akankah Acha akan menjadi objek jebakan dari Evan? Lalu bagaimana jadinya jika mobil yang Evan pesan, tak sesuai dengan harapan Evan? Apakah Acha yang akan mendapatkan hantaman badai dari Evan? Lalu bagaimana respon Pak Anto jika mengetahui Evan dan Acha tertaut pertengkaran mulut yang tak pernah ia sangka sebelumnya?