Brumm.. Brumm.. Bunyi knalpot motor besar terdengar digas dari halaman rumah mewah,
“Joosh… Joosh……..” Teriak Jully dari dalam rumah bergegas ke teras berusaha menggapai Josh.
“Sudah ma.. Josh berangkat dulu !” Sahut Josh sudah menunggangi motornya perlahan bergerak, beberapa detik setelah wanita paruh baya itu sudah di depan pintu,
“Hei ! Josh..! Papa kamu belum sel!”
“Bye ma..”
“Nanti kamu dimar!”
“Josh terlambat ini, dah!” Josh memotong-motong sahutan Jully kemudian langsung menjalankan motornya keluar dari halaman rumah, tanpa memedulikan lagi wanita yang adalah mamanya itu.
“Aduh anak ini.. susah sekali dibilanginya!” Gerutu Jully kesal dengan anak satu-satunya ini.
“Pulangnya seminggu sekali. Sekali pulang hanya bermalam saja! Dia pikir rumah ini penginapannya apa?!” Ronan, papa Josh, tiba-tiba muncul bersuara merutuki Josh dari belakang Jully.
“Sudahlah pa... papa juga terlalu menekan dia sih, makanya tidak betah.” Jully mengomentari sikap suaminya yang barusan bercekcok dengan Josh.
"Kamu menyalahkan aku?” Ronan memandang istrinya mengerut. Emosi kekesalan tampak di wajahnya.
“Tidak.”
“Iya kamu! Anak itu tidak bisa sadar diri. Kamu lihat sendiri kan selama ini?”
“Maksud mama, kalau mau bicara dengan dia harusnya pelan-pelan jangan langsung ke situ. Kita tau bagaimana dia kan. Kita harusnya membujuk dia kan pa...”
“Apaan! kamu juga harus sadar ma, dia jadi begini karena kamu juga selalu lembutin dia! Coba lihat dia jadi meremehkan kita!”
Jully terbungkam dengan perkataan Ronan yang ada benarnya juga.
“...Aku nggak menekan! Aku meminta baik-baik. Aku juga kasih dia kesempatan, selama ini. Tapi mana perubahannya? Coba lihat tetap saja seperti itu...”
Jully hanya menghela nafas, dia tidak mau lagi berkomentar memperburuk suasana hati Ronan. Julli hanya mau suami dan anaknya akur, yang dia pikir bisa jika saja suaminya sedikit lebih mengalah, tapi disisi lain dia memahami kekesalan hati suaminya terhadap ulah anaknya.
“....Kamu liat ujung-ujungnya kita berdua kan yang berdebat! selalu! Itu semua karena kelakuan anak itu!” Nada suara Ronan menurun karena melihat Jully sudah diam.
“Saat ini yang paling penting hipertensi kamu tidak kambuh pa!." Ungkap Julli mencairkan suasana.
“Sudahlah, berikut mama nggak usah ikut campur ya pokoknya, diam-diam saja. Sekarang biar papa yang mengatasi dia! Sudah cukup dia berbuat seenak dia!” ujar lelaki itu dengan tatapan sengit ke arah luar, mengakhiri obrolan tegang dengan Jully .
***
Josh sedang duduk di sofa depan TV sambil men-scrooling layar ponsel lamanya. Dia sedang melihat lihat foto dan video yang tersimpan dalam galeri ponsel itu, yang kebanyakan berisi dirinya dan Megan, mantan kekasihnya yang telah putus hampir satu tahun yang lalu.
Dalam keheningan ruang tamu yang hanya bersuarakan volume kecil dari suatu progran televisi, tiba-tiba ponsel lain yang tergelatak di sofa tak jauh dari Josh duduk, bergetar. Tampak tulisan Gerry memanggil. Gerry adalah manajer Josh sejak awal berkarir di industri hiburan dan sudah seperti sahabat bahkan saudara bagi Josh.
“Halo?.” Josh menyahut.
“Halo.. Josh. setengah 11 aku sudah di rumah kamu ya. Jam 10 bersiap saja.” Perintah suara dari seberang telepon.
“Tidak usah kesana. Aku di apartemen!”
“Ha? Kok bisa...?"
“Pokoknya aku di apartemen!”
"Jangan bilang kamu!?” “
“Bisa tidak kamu datang agak cepat?” Josh mengabaikan setiap perkataan Gerry.
“Josh ada apa lagi ini? aduh... Sudah aku bilang berlaku baik kepada orang tuamu! Apakah kamu gila!" Keluh Gerry pusing menjadi manajer Josh.
“Mereka yang gila! Sudah ah, aku malas membahas! Buruan kesini. Aku bahkan belum sarapan!”
“Lama-lama aku bisa gila menghandle kamu!" Keluh Gerry kalut menutup telepon.
“Kalau tidak mau gila, tidak usah dipikirkan!” sahut Josh melempar ponselnya tak kalah menunjukkan kesal dengan keadaan.
Josh adalah Putra tunggal dari orang tua yang berlatar belakang pengusaha. Papanya, Ronan, pemilik perusahaan retail yang terbilang besar di negara itu, sedangkan sang mama, Jully, menjalankan bisnis kue yang berkembang. Memiliki orang tua pengusaha membuat Josh memiliki ikatan moral dengan perusahaan, sekalipun dia tidak terlibat dan tidak mau terlibat dalam pengurusan perusahaan.
Oleh karena itu dirinya di tuntut orang tuanya untuk menjaga citra dirinya, apalagi dia seorang aktor, yaitu figur publik. Hal yang paling mengganggu orang tuanya adalah dirinya yang terus-terusan berganti pasangan wanita. Masalahnya Josh tidak sepaham dengan papa mamanya yang menganggap hal itu masalah bagi perusahaan mereka. Bagi Josh hal itu merupakan fase yang normal dalam hidupnya sebagai apa pun dia, bahkan selebritis sekalipun. Perbedaan pemahaman ini tak pelak membuat Josh dan orang tuanya, khususnya sang papa, tidak akur, karena selalu berdebat, seperti yang terjadi dengan pagi ini.
“Haaa.....” Josh membuang nafas panjang sembari memandang kembali layar ponsel lama yang masih digenggamnya. Dalam benak Josh penuh pertanyaan 'kenapa?' sambil menatap wanita cantik yang ada dalam galeri ponselnya itu.
Megan, wanita terlama yang pernah berpacaran dengan Josh dalam kisah percintaan seumur hidup Josh. Mereka berpacaran hampir 2 tahun. Josh tidak pernah menjalin asmara bersama seorang wanita selama dan seserius seperti bersama Megan sebelumnya, bahkan setelah putus dari Megan, hampir setahun ini.
Megan adalah seorang aktris terkenal, 2 tahun lebih muda dari Josh, tapi senior Josh dalam industri hiburan yang debut dua tahun lebih dulu daripada Josh. Sexy dan baddas adalah citra Megan yang membuat Megan laku di dunia hiburan. Megan digandrungi banyak pria. Sisi badgirl namun tidak gampangan Megan membuat banyak yang penasaran. Itu juga yang membuat Josh mendekati Megan awalnya, dan bukan Josh namanya jika tidak bisa, Josh berhasil masuk ke dalam hati Megan dan mencuri hati Megan dari antara banyak pria yang mengejar Megan waktu itu. Menjalin hubungan dengan Megan, Josh mengetahui sisi lain Megan yang tidak pernah kelihatan atau ditunjukkan Megan sebelumnya sehingga membuat Josh merasa Megan telah membuka seluruh hidupnya kepada Josh. Josh merasa spesial, sehingga dia pun memberikan sepenuh hatinya saat menjalin hubungan dengan Megan. Namun ternyata Megan tidak sepenuhnya memberikan hati kepada Josh. Megan mengabaikannya.
Tak lama kemudian sudah terdengar olehnya bunyi seseorang yang tidak lain adalah Gerry, menejernya, sedang menekan sandi pintu Apartemennya. Tak ingin Gerry mengetahui dia sedang bernostalgia dan membuat Gerry jadi membicarakan Megan didepannya, Josh menyimpan ponsel lamanya itu segera.
Gerry sering membicarakan Megan di depan Josh. Gerry membawa nama Megan ketika menyinggung ketidakdewasaan Josh. Menurut penilaian Gerry, Josh bersama Megan adalah sosok Josh yang paling dewasa selama Gerry mengenal Josh, karena bagi Gerry Josh kini menjadi pribadi yang terlalu cuek dan terlalu banyak bermain, meskipun memang begitulah karakter Josh sebelum bersama Megan, tapi Gerry pernah melihat Josh menjadi sangat dewasa dan serius, itulah sebabnya Gerry sering membawa nama Megan di depan Josh untuk membandingkan sikap Josh kini dengan saat masih bersama Megan agar Josh memperbaiki diri, namun bagi Josh itu adalah hal yang membuatnya kesal. Josh tidak mau mendengar orang membahas Megan didepannya, meskipun hati dan pikirannya kadang masih menuju kepada Megan. Josh ingin move on dari Megan yang kini telah memiliki kisah cinta baru dengan lelaki lain.
"Apalagi kali ini...!?" Gerry langsung melempari tanya kepada Josh seketika melihatnya duduk di ruang TV.
"Aku lapar." Josh langsung berdiri.
"Josh aku tidak mau mengantarmu sebelum mengetahui ada masalah apa." tegas Gerry tidak mau mengalah.
"Tidak ada! Kamu kan tau bagaimana papaku selalu mengada-ada segala sesuatu menjadi masalah!"
"Jadi apa itu?!"
Josh mulai merasa kesal dia tidak ingin membahas ayahnya yang dia anggap menjengkelkan, tetapi Gerry terus mencari tau apa yang terjadi.
"Dia melempariku dengan foto-foto aku bersama wanita dan memulai memancing adu mulut denganku..." Josh membela diri. Dilihatnya Gerry mengernyit kepadanya, "...Dia menyuruh orang mengambil fotoku di belakangku diam-diam. Dia membuntutiku!" tambah Josh lagi meyakinkan.
"Wanita itu siapa?"
"Oh man!" seru Josh, merasa Gerry terdengar mulai tidak berbeda dari papanya.
"Ini lah mengapa aku bilang kamu jangan terlalu banyak bermain."
"Kamu membosankan!" Rutuk Josh kesal.
"Kamu tau aku mengerti dengan kamu. Tapi taukah kamu aku juga mengerti dengan orang tuamu. Seharusnya kamu bisa lebih bijaksana setelah semua ini."
"Jadi apakah kita melewatkan sarapan saja?" Ujar Josh kesal.
Gerry adalah menejer Josh selama berkarir di dunia hiburan. Tapi lebih dari kedua orangtuanya, Josh lebih mendengarkan Gerry. Gerry sangat pintar dan bijaksana menyikapi Josh. Tidak selalu berpihak pada Josh, kadang Gerry menegur Josh jika diperlukan. Tapi Gerry kebanyakan menjadi partner in crime bagi Josh. Gerry bagaikan sosok kakak bagi Josh yang selama dua puluh tahun tidak dimiliki dalam hidupnya sehingga Josh menghargai Gerry.
"Apakah kamu tidak tau bagaimana papamu mendatangi perusahaan waktu itu? Kamu tau kan... Kamu harus tau, Pak Mark tidak mau benar-benar berurusan dengan papamu. Kamu pikir perusahaan tidak mungkin melepaskanmu? " Ungkap Gerry mengingatkan perkara yang pernah terjadi dengan Ronan dulu.
Josh selalu meremehkan perkataan Ronan ketika Ronan mengancamnya akan menghentikan aktivitas seni perannya. Bahkan meski Ronan pernah mendatangi perusahaan agensi dimana Josh bernaung dan bertemu langsung dengan CEO. Josh tidak berpikir papanya bisa menjatuhkan posisinya, karena Josh percaya dengan kemampuannya, posisinya di dunia akting sudah kokoh, dan perusahaan akan mempertahankannya tetap diperusahaan apapun yang terjadi. Dengan kata lain Josh sangat percaya diri. Tapi Gerry menyadarkannya agar tidak terlalu percaya diri dan memberitahu Josh bahwa CEO mereka tidak akan mampu mengatasi Ronan meskipun Josh aktor kebanggaan perusahaan sekalipun, jika Josh tidak bisa menjaga sikapnya sesuai keinginan papanya.
"Jadi kamu mau aku segera menikah?"
Ketus Josh.
"Bukan seperti itu."
"Itu yang diinginkannya dariku!"
"Menurutku kamu hanya perlu berhenti bermain main dengan wanita, dan fokus saja dengan kerjaan, maka tidak akan ada masalah bagi papamu."
"Tch.. Kamu berpikir begitu?"
"Iya..."
"Terserahlah..." ketus Josh lalu berjalan tidak mau lebih lanjut berdebat dengan Gerry. "...Aku mau makan! Aku bisa pergi sendiri kalau kamu tidak mau mengantar."