Di tengah derasnya guyuran salju hitam, wanita berambut hitam panjang itu tengah menunggu kliennya untuk kembali. Sambil menunggu, Noa memakan salju hitam yang berjatuhan. Sesekali, wanita itu mengelap mulutnya dengan mantel bulunya untuk membersihkan mulutnya. Akan tetapi, salju yang menempel pada mantelnya justru mengotori mulutnya.
"Aku tahu kalau kekuatan Black Mark-mu lebih kuat dari yang lain, tapi apa kau tidak terlalu banyak memakan salju hitam?" tanya Elisa khawatir dari ujung transceiver.
"Bacot. Aku tahu sendiri, kok, kapasitasku."
Elisa khawatir terhadap Noa. Meskipun Noa dapat dikategorikan sebagai pemilik kekuatan Black Mark terbaik di CAST, tetap saja dapat menimbulkan efek negatif apabila ia memakan salju hitam dalam jumlah banyak. Seorang pemilik kekuatan Black Mark mampu beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Jika bagi manusia biasa salju hitam itu membahayakan diri mereka, lain halnya bagi para pemilik kekuatan. Salju hitam justru memulihkan kondisi tubuh mereka. Akan tetapi, setiap pemilik kekuatan memiliki kapasitas mereka masing-masing. Jika melebihi kapasitas mereka, mereka akan bocor. Mereka yang mengalami kebocoran akan kehilangan kesadaran mereka dan yang lebih parah adalah kehilangan kontrol atas kekuatan mereka. Jika terus berlanjut, mereka yang mengalami kebocoran dapat berubah menjadi shadow dan tidak pernah dapat kembali lagi.
"Hey, Noa. Sudah setengah jam berlalu sejak Gral pergi."
"Lalu?"
"Apa kau tidak khawatir dengan keselamatannya?"
"Haah... Satu-satunya hal yang kukhawatirkan hanyalah kesuksesan misiku," ucap Noa yang bergegas mencari kliennya.
Salju masih terus berjatuhan, mengguyur daratan Nestrein. Retakan yang tak menutup membuat permukaan salju sangatlah tebal. Perlu tenaga ekstra hanya untuk melangkahkan kaki menembus tebalnya salju. Terkadang, lapisan salju akan menipis di kala siang, tetapi menebal kembali menjelang malam.
Beberapa menit mencari jejak Gral, untungnya masih tampak sisa-sisa jejak yang belum terhapus oleh guyuran salju. Dipandu oleh Elisa, Noa berjalan mengikuti jejak itu.
"Noa! Ada 2 buah shadow di depan! Dari jenisnya, mereka adalah scouter dan spitter!"
Noa pun berlari secepat yang ia sanggup. Akan tetapi, begitu mendekati kedua shadow itu, Noa melihat mereka tengah menyelimuti tubuh Gral. "Apa kita terlambat?" tanya Noa kepada Elisa sambil mengambil pisau-pisau kecil dari balik mantelnya.
"Sepertinya kedua shadow itu masih belum berhasil masuk ke dalam baju pelindung Gral," jawab Elisa.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Noa segera melemparkan pisau-pisau tersebut ke arah shadow yang tengah fokus menyelimuti Gral. Kumpulan pisau tersebut mampu menembus tubuh shadow spitter, sehingga shadow itu langsung berubah menjadi butiran-butiran salju—dengan kata lain, mati. Sayangnya, tidak dengan shadow scouter. Pisau Noa meleset dan kini, dia pun menyadari keberadaan wanita itu.
"Sepertinya, kemampuan melemparku masih stabil seperti dulu," ucap Noa yang tersenyum sambil melemaskan sendi-sendi jarinya.
"Duh! Itu bukan suatu hal yang patut dibanggakan," ucap Elisa.
Menyadari ancaman yang diberikan oleh Noa, shadow scouter itu bersiap untuk memanggil bantuan. Sayangnya, Noa yang berpengalaman sudah mengerti gerak-gerik dari shadow sejenisnya. Sebelum dia sempat berteriak, Noa terlebih dahulu mencengkram kepalanya dan membantingnya ke salju.
"Apa tujuanmu, k*****t! Kenapa kau menghancurkan hidup manusia!" teriak Noa kepada shadow yang kini meronta-ronta, menggeliat untuk melepaskan dirinya. Tentunya, shadow tak lagi dapat berkomunikasi dengan manusia, meskipun ia adalah perwujudan dari manusia yang meninggal akibat Black Mark.
"Cukup, Noa! Jangan buang-buang tenagamu!"
Amarah Noa membuat cengkramannya pada shadow itu menguat dan memecahkan kepalanya. Butiran-butiran salju bermuncratan, mengotori wajah Noa. Wanita itu pun terduduk lesu dan memukul-mukul pelan salju yang ada di sekitarnya.
"Kupikir dengan kekuatanku ini, setidaknya aku dapat berkomunikasi dengan shadow," gumam Noa.
"Well, jangan menyerah, Noa. Ayo, bawa klien kita ke Shanaz."
Wanita yang tadinya terduduk lesu itu, kini bangkit dan berjalan ke arah Gral. "Mau berapa lama lagi kau berbaring di sana?" tanyanya kepada kliennya itu. Namun, pertanyaannya tak ditanggapi oleh Gral yang berbaring tak sadarkan diri di bawah guyuran salju. Noa menempelkan telinganya di d**a pria itu untuk mendengarkan detak jantungnya.
"Detak jantungnya terdengar, tapi dia pingsan. Shadow belum memakan jiwanya, kan?" tanya Noa kepada Elisa.
"Belum. Kedua shadow tadi tidak berhasil memasuki baju pelindungnya," ucap Elisa. "Mungkin dia pingsan akibat tubuhnya yang masih belum terbiasa untuk beraktivitas."
"Kuharap kau benar," ucap Noa sambil mengalungkan kedua tangan Gral di lehernya. Wanita itu pun menyeret Gral yang pingsan menuju Shanaz. "Ajaib kalau melihat dia yang tadinya tertidur selama 200 tahun, tiba-tiba berlari di bawah guyuran salju."
"Kupikir itu karena ia menyayangi putrinya. Orang tua selalu rela berkorban demi anaknya, tanpa sadar kalau pengorbanan mereka melukai tubuhnya. Kau paham, kan?"
"Tidak. Aku, kan, belum menjadi orang tua," ucap Noa.
"Belum? Memangnya ada yang mau?" ledek Elisa.
"Awas kau saat aku kembali nanti."
***
Beruntung, letak mereka tak begitu jauh dari Shanaz. Hanya seharian berjalan, kaca yang membentuk kubah terlihat di kejauhan, melindungi kota itu dari guyuran salju. Noa membawa Gral yang masih tak sadarkan diri. Pria itu terkadang mengigau, menyebut nama istri dan putrinya sebelum kembali terdiam.
"Entah kenapa aku merasa letih di misi kali ini. Tidak biasanya aku membawa orang melintasi tumpukan salju."
Meskipun memiliki kekuatan yang menambahkan kemampuan fisiknya, tetap saja akan sulit jika harus membawa seseorang di bawah kondisi alam yang tidak bersahabat. Noa melangkahkan kakinya satu per satu, menembus salju yang kini menutupi setengah tubuhnya, guna mencapai Shanaz yang menjadi destinasinya.
"Berjuanglah sedikit lagi." Hanya itulah yang mampu diucapkan Elisa untuk menyemangati sahabatnya itu. Tugasnya bukanlah turun ke lapangan seperti Noa, tetapi lebih sebagai pengamat yang memberikan informasi, seperti rute terbaik yang harus diambil dan mendeteksi tipe shadow serta jumlahnya ketika rekannya sedang dalam pertarungan. Terkadang, Noa mempermasalahkan pekerjaan Elisa yang dianggapnya tak seberat dirinya. Akan tetapi, bagaimana pun juga, Elisa memiliki tanggung jawab yang besar untuk membawa Noa kembali dengan selamat.
"Apa kau tidak mau mampir ke tempat Paul terlebih dahulu?"
"Diam kau. Jangan membuatku emosi—"
Sebuah pukulan bersarang di rusuk Noa, membuatnya terpental bermeter-meter jauhnya, menjatuhkan Gral dari genggamannya. Dia mencoba untuk bangkit, tetapi ia kembali jatuh akibat rasa sakit pada dadanya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat sebuah shadow kembali datang untuk menyerangnya.
"Apa kau baik-baik saja, Noa!?" tanya Elisa panik.
"Apa kau tidak melihatnya? Rusukku patah, bodoh."
"Maafkan aku. Shadow itu tidak terdeteksi di radar."
"Bukan salahmu," ucap Noa yang berdiri terengah-engah sambil memegangi rusuk kirinya. "Aku kurang waspada terhadap shadow abnormal ini."
"Bertahanlah sebentar, Noa. Aku akan datang ke lokasimu," ucap Elisa yang langsung memutus transceivernya.
Kini Noa berhadapan dengan shadow abnormal itu. Dalam kondisi prima, tentu shadow ini bukanlah tandingannya. Akan tetapi, lain cerita jika Noa yang mengalami cidera harus berhadapan satu lawan satu dengan shadow menyerangnya tiba-tiba ini.
Dari bentuknya, shadow ini dapat dimasukkan ke dalam jenis berserker. Mempunyai tinggi sekitar tiga buah sedan, berserker hanya berfokus untuk membunuh manusia, tidak seperti jenis lain yang hanya bertujuan untuk menginfeksi dan menyerap jiwa korbannya. Hal yang membedakan dirinya dengan berserker pada umumnya adalah ketidakmampuan radar untuk mendeteksi dirinya.
Noa memakan segenggam salju hitam untuk menahan rasa sakit yang ia derita. Dia sadar, apabila dia gagal membunuh shadow tersebut, bukan hanya dirinya dan Gral yang menjadi ancaman, tetapi juga seluruh penduduk yang ada di Shanaz. Wanita itu memasang kuda-kudanya dan di saat yang bersamaan, shadow itu segera meluncur untuk menerkamnya. Noa menahan terkaman lawannya dengan memegangi rahangnya dan memanfaatkan sedikit momentum untuk berputar dan melemparkan shadow itu sejauh mungkin. Setelah itu, dia segera menarik Gral dan berlari mendekati Shanaz untuk mencari permukaan salju yang lebih tipis agar mampu berpijak dengan lebih baik. Dia pun menghempaskan Gral yang ditariknya dan kembali bersiap menerima serangan shadow berserker.
Tentunya, shadow itu tak menyerah. Dia kembali menyerang Noa, kali ini dengan melayangkan pukulannya ke wajah wanita itu yang dengan mudah ditahan oleh tangan kiri Noa. Sayangnya, Noa tidak mampu menahan tendangan yang tiba-tiba dilancarkan oleh lawannya itu. Noa pun kembali terpental dan untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kekuatan Black Mark, dia mengeluarkan darah.
Menyadari kekuatannya yang hampir habis, Noa segera memakan salju hitam kembali. Namun, apa yang terjadi diluar kendalinya. Pandangannya mulai kabur, gerakannya tak dapat ia kendalikan. Shadow itu kembali menghajar dirinya, tapi tak ada rasa sakit yang ia rasakan. Semuanya terasa hampa.
Elisa, cepatlah datang.