Keringat yang keluar dari tubuh Kiev membuat pria itu terlihat berkilau karena terkena sorot lampu. Beberapa perempuan yang melihat itu tidak lagi fokus pada alat-alat kebugaran yang mereka gunakan. Merasa kagum dengan tubuh atletis yang dimiliki pria itu.
Tubuh Kiev memang tidak sekekar Ade Rai, atau otot-ototnya yang menonjoldi bagian lengannya. Tapi dia memangmemiliki perut rata dengan enam kotak di perutnya. Tanda jika pria itu rajin berolahraga. Jadi tak ayal, jika banyak gadis terpesona olehnya. Bagi Kiev, menjadi pusat perhatian tidak membuatnya mencari perhatian kepada para gadis di sana.
Kiev masih sibuk dengan alat fitnes yang digunakannya, telinganya tersumpal headset dengan lantunan musik yang keluar dari ponselnya. Dia memang selalu menikmati apa yang dilakukannya. Termasuk berolah raga seperti sekarang ini.
Deringan ponsel mengalihkannya dari alat-alat berat yang sedang dipegangnya. 'Mama' kata itu terlihat di layar ponsel miliknya. Tidak menunggu waktu lama, pria itu langsung mengangkatnya, takut terjadi sesuatu kepada wanita yang sangat disayanginya itu.
"Ya, Ma." katanya saat mendengar sang ibu memanggilnya.
"Tapi ini kan masih jam dua Mama, pertemuannya jam tujuh." mendengar tidak menerima bantahan, Kiev mendesah lelah. Ibu dan titahnya memang begitu mengerikan.
"Ok. Ok. Aku pulang sekarang." sambungan terputus dan Kiev langsung berlalu dari ruangan tersebut untuk menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Ya Allah, aku harap ini akan menjadi yang terakhir. Doanya dalam hati, lelah dengan omelan ibunya.
Sampainya di rumah, sang ibu sudah menunggunya di ruang keluarga bersama sang ayah. Kiev medekati kedua orang tuanya yang entah sedang mengobrolkan apa, karena ekspresi ibunya begitu bahagia. Tidak seperti biasanya, mungkin ini karena gadis yang akan diperkenalkan kepadanya.
"Assalamualaikum." Kiev langsung duduk di sofa single berseberangan dengan soda yang di duduki oleh kedua orang tuanya.
"Waalaikum salam." jawab orang tuanya, dan ibunya terlihat berbinar karena melihatnya telah pulang, seperti putranya ini bertahun-tahun tak pulang saja.
"Aduh, anak mama udah pulang. Sini-sini mama peluk dulu." kan, ibunya berlebihan sekali. Seperti benar-benar tidak pernah melihat putranya dalam waktu yang lama. Padahal setiap hari mereka bertemu, tinggal satu rumah pula.
"Mama kelihatan bahagia banget kayaknya." kata Kiev pura-pura bodoh. Ekspresi ibunya memang selalu seperti ini jika akan memperkenalkannya pada seorang gadis. Kiev sudah hafal.
"Kayak nggak tahu mamamu aja Kiev. Dia kan memang lebay." kata ayah Kiev sambil masih fokus dengan berita kriminal yang ditontonnya. Biasanya, ibunya akan mendebat ayahnya yang terlihat mengejekknya, tapi kali ini berbeda, karena suasana hati sang ibu benar-benar bahagia.
"Mama yakin kali ini kamu akan menerima cewek ini." kata ibunya mengawali, seperti ucapan biasanya. "Kamu tahu?" kini ekspresi ibunya semakin cerah. "Dia itu heronya mama Kiev, heronya mama!" lanjutnya dengan tangannya yang bertepuk sekali saking antusiasnya. Kiev mengernyit saat mendengar kata hero dari bibir ibunya. Jangan-jangan ibunya seantusias ini karena memang beliau pernah ada 'hubungan' dengan gadis ini. Pikir Kiev menyimpulkan dalam hati.
"Ternyata dia itu putri temen mama. Papa juga kenal kok." ayahnya menatap ibunya saat mendengar 'informasi' yang baru didengarnya.
"Temen Mama yang mana?" ayahnya kini tidak lagi fokus pada benda datar di depannya, karena menurutnya ucapan istrinya lebih menarik.
"Papa ingat Mandala? Yang dulu ketemu pas di Bandung, yang pas kita ngajak Kiev liburan terus ketemu keluarga temenku?" ayah Kiev menggeleng belum mampu mengingat orang yang dimaksud sang istri.
"Yang sempet mampir di penginapan kita itu loh, Pa. Yang temen mama itu istrinya, kita temenan waktu di tempat kerja dulu. Tapi sayangnya kami lost contack pas mama nikah lebih dulu, soalnya dia tiba-tiba ngilang nggak tahu kemana.." tidak mempedulikan suaminya yang masih berfikir keras menggiring ingatannya ke masa lalu, sang ibu malah asyik bercerita. Kiev tidak menanggapi, dia justru menikmati ekspresi kedua orang tuanya yang berbanding terbalik.
"Ya Allah, Papa masih nggak ingat?" ucap mama dengan intonasi sedikit menjerit. Melihat sang suami hanya menggeleng, sang ibu menyandarkan tubuhnya lelah.
"Udah lah, nanti malem juga ketemu, jadi nggak usah sampai begitu juga wajahnya." Kiev terkekeh melihat kedua orang tuanya yang selalu bertingkah absurd kalau membahas sesuatu yang salah satunya tidak bisa mengingat suatu kejadian.
°•°
Mobil yang dikendarai Kiev berhenti di depan sebuah rumah mewah, khas milik orang kaya. Seorang penjaga membukakan gerbang tinggi rumah tersebut dan membiarkan mobil Kiev masuk ke dalam halaman rumah.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga tersebut, Kiev dan orang tuanya langsung mendekat kearah pintu utama. Tentu saja dengan antusias sang ibu yang luar biasa.
Sang ibu memencet bel yang ada di dekat pintu, menunggu sang pemilik rumah membukan pintu kokoh tersebut.
"Astiii..." jeritan dari dalam saat pintu terbuka, membuat suasana yang tadinya hening berubah menjadi ramai. Sang pemilik rumah dan sang tamu berpelukan untuk melepas rindu, dan sudah bisa dipastikan jika setelah ini akan ada obrolan nostalgia keduanya.
"Masuk-masuk." kata sang pemilik rumah yang bernama Mirna itu.
Mereka bahkan saling bergandengan saat masuk ke rumah tersebut. Sedangkan ketiga pria yang ditinggalkan itu saling berjabat tangan, membiarkan para wanita sibuk dengan urusan mereka.
Kedua keluarga itu mengobrol dengan ringan, meceritakan masa muda mereka yang terdengar begitu menyenangkan. Bahkan Kiev ikut tertawa saat mendengar cerita dari tante Mirna yang mengatakan kejailan ibunya.
"Iya nak Kiev, dulu mamamu itu memang jail banget orangnya. Tapi yang paling lucu itu waktu ngerjain temen kantor kami. Namanya Wisnu, dia itu memang kebo banget orangnya. Dikit-dikit ngantuk. Nah kebetulan waktu itu, dia ketiduran di kursi samping musholla. Pas mamamu tahu kalau Wisnu udah tidur pules banget, dia langsung bereaksi." tante Mirna memulai menceritakan keusilan ibu Kiev.
"Dia yang kebetulan bawa pisang, naruh tu pisang di bawah bokongnya. Kok ya pas banget gitu loh tidurnya Wisnu itu miring. Waktu dirasa tempatnya pas, dia narik Wisnu agar tidur terlentang. Dan tahu lah apa yang terjadi." semua orang di sana tertawa mendengar kisah masa lalu ibu Kiev ini. "Terus mamamu bangunin dia dan bilang, 'Wis, lo pup dicelana?' katanya dengan wajah sok polosnya." lagi, tawa renyah keluar dari bibir orang-orang di sana. Belum menyadari jika seorang gadis tengah berdiri dan ikut mendengarkan cerita ibunya.
"Ya namanya orang bangun tidur kan pasti linglung, ngelihat celananya kotor dan warnanya kuning, langsung bereaksi lah dia. Lari terbirit-b***t sambil mengabsen nama-nama hewan dibumi." kali ini tawa mereka membahana, sang pelaku, ibu dari Kiev bahkan tidak menginterubsi cerita temannya. Karena dia sudah tertawa dan mengingat kejadian yang lucu itu.
"Terus gimama dia bisa bekerja kalau pakaiannya kotor?" semua orang yang berada di sana mengarahkan pandangannya kearah gadis yang sedang menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mulutnya memang terkadang tidak bisa terkontrol ketika mendengar cerita yang menurutnya menarik.
Kiev? Dia merasakan gugup karena gadis itu. Bagaimana tidak, menurut Kiev, gadis itu terlihat keibuan, wajahnya manis, dan yang pasti tidak menggunakan makeup yang berlebihan.
Karena merasa 'tertarik', dia terus menatapnya sampai gadis yang menggunakan dress bermotif polkadot itu mendekat dan bergabung bersama orang-orang di sana.
Menyalami kedua pasangan paruh baya yang berstatus teman ibunya itu. Saat sampai di depan Kiev, gadis itu tersenyum, menunjukkan jika gadis itu memang terlihat ramah.
Lesungnya sexy. Saat gadis itu melihat ada lesung pipi di dekat bibir kiri Kiev. Karena saat pria itu tersenyum, maka lesung pipinya akan terlihat. Salah satu daya pikat yang dimiliki oleh Kiev.
"Hai, Sydney." sapa ibu Kiev ramah. Lagi-lagi gadis itu tersenyum. "Malam tante. Kita ketemu lagi." katanya tak kalah ramah.
"Iya... Kamu kok cantik banget sih nak?" ibu Kiev begitu mengagumi putri dari temannya itu. Dan akhirnya, mereka sudah melupakan cerita insiden pisang yang beberapa saat tadi menjadi bahan obrolan mereka.
"Tante bisa aja. Soalnya saya cewek tante, jadi cantik. Kalau saya cowok kayak anak tante, pasti ganteng." meskipun yang dilontarkan Sydney ini hanya guyonan, tapi mau tidak mau Kiev merasa hatinya berdesir. Malu, tentu saja, tapi dia hanya mengeluarkan senyum tipisnya yang begitu menawan.
Ibu Kiev juga merasa senang, ternyata Sydney bukan gadis yang mudah merasa canggung. Bahkan gadis itu bisa menutup rasa sungkannya dengan balik memuji Kiev meskipun dengan candaan.
"Nggak nyangka loh Mir, kamu bisa punya putri sekeren Sydney. Apalagi waktu nolongin aku waktu itu, keren banget." kata ibu Kiev dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Iya, Sydney juga pernah cerita kok waktu itu. Dia memang dulu diharuskan sama papanya buat ikut taekwondo."
"Serius?" Sydney tesenyum melihat bagaimana teman ibunya ini begitu memiliki ekspresi yang begitu berlebihan menurutnya.
Kiev meneguh ludahnya berkali-kali saat melihat bagaimana cara Sydney tersenyum, manis dan tidak dibuat-buat seperti gadis-gadis lain yang dikenalkan ibunya kepadanya. "Saya memang ikut taekwondo kok tante." jawabnya kalem.
"Keren kamu nak." kata ibu Kiev kagum. "Sabuk apa nak?" tanyanya lagi.
"Udah sabuk hitam tante." dan baru kali ini Kiev menyetujui pendapat ibunya. Keibuan, tetapi tangguh.
Dan dia fikir, dia akan menyetujui perjodohan ibunya kali ini. Dia bisa mencoba untuk menjalani pertemanan terlebih dahulu kan. Pikirnya. Kalau memang mereka benar-benar cocok satu sama lain, mereka bisa menjalani hubungan yang lebih serius.
•°•