"Eum," sahut Arvin tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit. Bulu-bulu bantal masih melayang turun perlahan, sebagian mendarat di wajahnya, sebagian lagi menempel di rambut Nevan.
"Jam berapa kita berangkat?" Tanyanya lagi.
"Seperti biasa, pagi. Sebelum antrean dokter menumpuk." Jawab Nevan.
Arvin mengangguk pelan, kemudian meniup sehelai bulu yang mendarat tepat di ujung hidungnya. Bulu itu sempat terbang sebentar sebelum akhirnya kembali mendarat di tempat yang sama, membuat Arvin mendengus dan meniupnya lagi. Nevan yang melihat itu terkekeh sampai matanya menghilang.
"Kau ini seperti anak kecil, Kak."
"Aku memang anak kecil yang tubuhnya kebesaran." Balas Arvin santai.
Keduanya terdiam untuk beberapa detik. Hanya ada suara jarum jam dinding yang berdetik, serta samar dentingan piano dari kamar sebelah yang temponya naik turun tak keruan. Aksa, siapa lagi.
"Nevan," panggil Arvin.
"Ya?"
"Kau tidak bosan?"
Pertanyaan itu membuat Nevan menoleh, mendapati Arvin yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya. Sorot mata lelaki itu tak lagi seceria beberapa menit lalu.
"Bosan apa?"
"Mengantarku. Menunggu di kursi tunggu. Menebus vitamin. Menyuruhku makan, menyuruhku tidur, menyuruhku ini dan itu." Arvin menghitungnya dengan jari, satu persatu. "Kalau aku jadi kau, aku sudah kabur dari rumah ini sejak lama."
Nevan mengalihkan pandangannya kembali ke langit-langit. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan seakan sedang menimbang tiap kata yang hendak ia keluarkan.
"Kalau aku bosan, aku tidak akan berada di sini sekarang."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban, hanya saja bukan yang kau inginkan." Ujar Nevan sambil menyeringai kecil.
Arvin melempar bantal yang tinggal separuh isinya itu ke wajah Nevan, membuat sisa bulu di dalamnya kembali berhamburan.
"Ya! Kak! Kamarmu sudah seperti musim dingin!" Protes Nevan sambil bangkit, mengibaskan bulu-bulu yang menempel di kausnya.
"Bagus, aku suka salju." Sahut Arvin dengan cengiran tanpa dosa.
Pun akhirnya keduanya sepakat untuk membereskan kamar itu sebelum bulu-bulu tersebut terbang sampai ke lorong. Nevan mengambil sapu dari gudang kecil di bawah tangga, sementara Arvin memunguti bulu yang menempel di sprei dengan jemarinya, satu persatu, seperti orang yang sedang memanen sesuatu.
"Kak, duduk saja. Biar aku yang beres-beres."
"Aku tidak lumpuh, Nevan."
"Aku tidak bilang kau lumpuh." Nevan menghentikan sapuannya. "Aku hanya bilang duduk saja."
Arvin akhirnya menurut, meski dengan bibir yang dimajukan. Lelaki itu duduk di tepian ranjang, kedua kakinya menggantung dan sesekali diayunkan. Ia memerhatikan punggung Nevan yang membelakanginya. Punggung yang jauh lebih kecil dari punggungnya sendiri, tapi entah kenapa terlihat seperti sanggup memikul terlalu banyak hal.
"Nevan."
"Apa lagi?"
"Besok, kalau dokter bilang aku sudah sembuh, apa kau akan senang?"
Gerakan sapu Nevan sempat terhenti barang sedetik. Hanya sedetik, tapi Arvin melihatnya.
"Tentu saja aku akan senang." Jawab Nevan, kemudian melanjutkan sapuannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Kalau begitu aku bisa tidur lebih lama di hari libur."
"Dasar pemalas."
"Dasar merepotkan."
Keduanya kembali terkekeh. Lalu hening lagi. Dentingan piano dari kamar sebelah berhenti mendadak, digantikan suara sesuatu yang jatuh, entah kursi entah apa. Nevan dan Arvin sempat saling melempar tatap, tapi tak satu pun dari mereka yang beranjak untuk memeriksa. Sudah terlalu sering, sampai tak lagi mengejutkan.
"Aku minta snack cokelat." Kata Arvin memecah hening.
"Persediaanmu masih ada tiga bungkus di lemari."
"Tiga bungkus itu sedikit."
"Tiga bungkus itu tiga puluh keping, Kak."
"Ya, sedikit."
Nevan menggelengkan kepalanya sambil menyandarkan sapu ke dinding. "Besok pulang dari rumah sakit, aku belikan."
Seketika mata Arvin berbinar, lelaki itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seperti anak kecil yang baru saja dijanjikan mainan. Nevan hanya bisa menghela napas melihatnya, tapi entah kenapa, di dalam dadanya ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus perih di saat yang bersamaan.
***
Nevan menutup pintu kamar Arvin dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada suara yang bisa mengusik penghuninya. Begitu ia membalikkan badan, langkahnya nyaris beradu dengan seseorang yang ternyata sudah berdiri di lorong.
"Kak Brian." Ucap Nevan datar.
Brian tidak langsung menjawab. Lelaki itu hanya memandang pintu kamar Arvin sejenak, kemudian beralih menatap Nevan.
"Dia sudah makan?"
"Sudah. Bahkan sampai mangkuknya bersih."
"Syukurlah." Brian mengangguk pelan. "Aku memasak sup lagi untuk nanti malam. Kalau dia lapar, hangatkan saja."
"Baik."
Brian masih berdiri di sana, seakan masih ada kalimat lain yang tertahan di kerongkongannya. Nevan tahu betul kalimat apa itu. Pertanyaan yang sama, yang berulang kali dilempar dan berulang kali ditangkis. Sebab itu Nevan lebih dulu melangkah, melewati Brian tanpa menoleh.
"Aku permisi, Kak."
Dan Brian membiarkannya pergi. Lelaki itu hanya menghela napas, kemudian mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanan, kebiasaan yang belakangan semakin sering ia lakukan.
***
Pintu depan terbuka. Darel melangkah masuk dengan ransel hitam yang tersampir di satu bahu, jaketnya sudah ditenteng sebab udara di luar ternyata tidak sedingin perkiraannya. Rumah itu sepi, hanya lampu ruang tengah yang menyala.
"Aku pulang." Ucapnya, entah kepada siapa. Tidak ada yang menjawab.
Darel sempat berdiri sejenak di ambang pintu, memandangi ruang tengah yang kosong. Dulu, jam segini pasti masih ada suara televisi, suara Nevan yang mengumpat sebab kalah bermain video game, suara Mirza yang tertawa terlalu keras, serta suara Deon yang meneriakkan nama siapa saja untuk membantunya di dapur. Sekarang yang tersisa hanya suara jam dinding.
Lelaki itu menuju dapur, membuka lemari pendingin dan hanya menemukan air mineral serta beberapa bahan mentah. Tidak ada yang bisa langsung ia makan. Pun akhirnya Darel menutup kembali pintu lemari pendingin itu dan memilih menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Saat melintasi kamar Mirza, langkah Darel terhenti. Dari balik pintu terdengar suara televisi yang dinyalakan dengan volume tidak wajar. Darel sempat mengangkat tangannya, hendak mengetuk. Namun tangan itu urung mendarat, dan akhirnya kembali turun begitu saja.
"Selamat malam, Kak Mirza." Katanya pelan, kepada pintu yang tertutup.
Kemudian Darel melanjutkan langkahnya. Di depan kamar Aksa, ia berhenti lagi. Kali ini bukan karena suara, melainkan karena tidak ada suara sama sekali, padahal beberapa waktu lalu ia masih mendengar dentingan piano yang menggila itu sampai ke halaman.
Darel menempelkan telinganya sebentar, tidak mendengar apa-apa, lalu memilih untuk pergi.
***
Aksa terduduk di lantai kamarnya, bersandar pada kaki meja. Kursi yang tadi terjatuh dibiarkannya begitu saja dalam posisi telentang. Di hadapannya, layar komputer masih menyala, menampilkan deretan garis dan kotak berwarna yang sedari tadi tak kunjung ia sentuh.
Jemari Aksa terangkat, ditatapnya lekat-lekat. Ada bekas luka tipis yang sudah mengering di ujung telunjuknya, luka yang tak pernah benar-benar ia beri kesempatan untuk sembuh.
"Kenapa tidak ada satu pun yang mau keluar…" gumamnya, entah kepada nada, entah kepada dirinya sendiri.
Ponsel yang tergeletak di sisi meja bergetar sekali, menandakan sebuah pesan masuk. Aksa meliriknya, tapi tidak beranjak. Getaran itu berhenti, lalu datang lagi, lalu berhenti lagi.
Pada akhirnya lelaki itu memilih memejamkan mata, membiarkan punggungnya semakin merosot di kaki meja.
***
Di kamar yang lain, layar televisi menyala terang dengan suara yang sengaja dibuat sekencang mungkin. Mirza sendiri tidak benar-benar menontonnya. Lelaki itu berdiri di balkon, memunggungi televisi, memandang pohon tua yang berdiri di seberang jalan.
Ia sudah berdiri di sana sejak sore, dan mungkin akan tetap berdiri di sana sampai pagi.
Suara dari televisi itu bagi Mirza bukan hiburan, melainkan tameng. Selama masih ada suara, pikirannya tidak akan terlalu jauh berkelana ke tempat yang tak ingin ia datangi lagi. Ke apartemen tua itu. Ke pecahan botol. Ke tumpukan kayu di gang buntu yang gelap.
"Berisik sekali," gumam Mirza pada dirinya sendiri, padahal dia sendiri yang mengencangkan volumenya.
Angin malam menyapu wajahnya, membawa serta bau tanah yang basah. Mirza memejamkan mata, mencoba menikmatinya. Namun tetap saja, sebagaimana malam-malam sebelumnya, tidak ada yang benar-benar bisa dinikmati.
***
Di kamarnya, Nevan menarik laci nakas dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Di sana tertulis rapi tanggal demi tanggal, jam demi jam, beserta angka-angka yang hanya ia sendiri yang paham maknanya. Nevan meraih pena, menorehkan satu baris baru untuk hari ini.
Setelahnya, ia mengatur arloji di tangan kirinya. Satu alarm untuk jam minum obat malam. Satu lagi untuk besok pagi, sebelum matahari benar-benar naik.
Nevan menatap langit-langit kamarnya yang kosong. Tidak ada bulu bantal yang berterbangan di sini, tidak ada tawa, tidak ada apa-apa. Hanya dirinya, dan sebuah rahasia yang setiap harinya terasa semakin berat untuk diangkat sendirian.
"Semoga besok tidak ada kabar buruk." Lirihnya, seraya menutup buku catatan itu dan mengembalikannya ke dalam laci.
Lalu ia mematikan lampu.