Nevan terbangun bukan karena alarm, melainkan karena lehernya yang terasa kaku. Lelaki itu masih dalam posisi bersandar di kaki ranjang, dengan tiga botol obat yang berjajar rapi di lantai tepat di depannya. Lampu kamar masih menyala.
Diliriknya arloji di tangan kiri. Pukul empat lewat sedikit. Masih terlalu pagi, bahkan langit di luar pun belum menunjukkan tanda-tanda akan berganti warna.
"Dini hari sebelum matahari terbit," gumam Nevan sambil mengusap tengkuknya. Entah kenapa kalimat itu yang muncul, padahal ia sendiri lupa dari mana ia pernah mendengarnya.
Kerongkongannya terasa kering. Pun akhirnya Nevan bangkit, mengembalikan tiga botol obat itu ke tempatnya semula, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah yang masih setengah sadar.
Rumah itu gelap. Hanya lampu kecil di ujung lorong yang menyala, memberi penerangan seadanya bagi siapa pun yang mesti turun ke lantai bawah di jam seperti ini. Nevan menuruni anak tangga sambil berpegangan, kakinya masih terasa berat.
Dan di tengah gelap itu, samar terdengar dentingan piano.
Nevan menghentikan langkahnya. Nadanya pelan, jauh berbeda dari yang biasa terdengar. Tidak menggila, tidak menghantam, hanya mengalun lambat seperti orang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Lelaki itu menoleh ke arah kamar Aksa yang pintunya sedikit terbuka. Dari celahnya, cahaya layar komputer menerobos keluar dan membentuk garis tipis di lantai lorong.
Nevan mendekat, berdiri di depan celah itu tanpa berani mengetuk.
"Kalau mau lihat, lihat saja. Tidak usah berdiri seperti maling." Suara Aksa terdengar dari dalam.
Sontak Nevan tersentak. "A-aku hanya lewat!"
"Tangga ada di sebelah sana."
"Ck." Nevan berdecak, tapi akhirnya ia mendorong pintu itu sedikit lebih lebar.
Aksa duduk membelakanginya, dengan headphone yang tergantung di leher. Di sisi meja ada cangkir kopi yang sudah kosong, dan di sebelahnya lagi ada satu cangkir lain yang juga sudah kosong.
"Kau belum tidur?" Tanya Nevan.
"Belum."
"Sejak kapan?"
Aksa tidak menjawab. Lelaki itu hanya menekan satu tuts pada keyboard yang tersambung ke komputernya, membiarkan nada itu menggantung terlalu lama di udara.
"Kau juga belum tidur." Kata Aksa akhirnya.
"Aku sudah tidur, hanya bangun terlalu cepat."
"Sama saja."
Nevan mengembuskan napas. Ia melirik lingkar hitam di bawah mata Aksa yang semakin jelas, juga wajah putih rekannya itu yang terlihat semakin pucat di bawah cahaya layar.
"Kak, tidurlah sebentar. Setidaknya dua jam."
"Kau bukan ibuku."
"Aku memang bukan." Sahut Nevan. "Tapi kalau kau ambruk, yang repot itu Kak Brian, bukan aku."
Untuk sepersekian detik, Aksa menoleh. Sorot matanya yang kecil dan tajam itu bertemu dengan sorot mata Nevan, dan keduanya sama-sama tahu bahwa ada terlalu banyak hal yang tidak sedang mereka bicarakan.
"Pergi sana. Kau menghalangi cahaya." Ujar Aksa.
Nevan mendengus, lalu menutup pintu itu kembali sampai ke posisinya semula, tidak lebih rapat, tidak lebih longgar. Persis seperti sebelumnya.
***
Segelas air dingin dari lemari pendingin akhirnya berhasil membangunkan seluruh kesadaran Nevan. Lelaki itu duduk di salah satu kursi meja makan, meraih ponsel, dan memesan taksi untuk pukul tujuh nanti.
Setelah pesanannya masuk, Nevan meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap kursi-kursi kosong di hadapannya.
Dua tahun. Sudah dua tahun rumah ini berjalan seperti ini.
Nevan masih ingat betul bagaimana pagi hari di rumah ini dulu. Deon sudah berteriak dari dapur sejak pukul lima, mengomeli siapa saja yang belum bangun, mengancam akan membuang sarapan siapa pun yang berani terlambat, padahal ancaman itu tidak pernah sekali pun ia laksanakan. Mirza akan menyahut dengan malas dari kamarnya. Arvin akan turun sambil meregangkan tubuh dan menyapa semua orang dengan terlalu bersemangat. Aksa akan datang paling akhir dengan mata yang belum terbuka sempurna. Brian akan menghitung mundur sebelum menyeret Darel keluar dari kamarnya.
Sekarang, satu-satunya suara di ruangan ini adalah suara Nevan yang meletakkan gelas di atas meja.
"Kak Deon," lirihnya, "kalau kau masih ada, kau pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan."
***
Langit mulai berganti warna. Suara pintu yang terbuka membuat Nevan menoleh, mendapati Brian yang sudah rapi dengan kemeja dan jas hitamnya, menenteng tas kerja di tangan kanan.
"Kau bangun pagi sekali." Kata Brian.
"Kak Brian juga."
"Ada yang mesti kuselesaikan sebelum jam kantor." Brian meletakkan tas kerjanya di atas kursi, lalu menuangkan air untuk dirinya sendiri. "Hari ini kalian ke rumah sakit?"
"Iya."
"Aku bisa mengantar kalian."
"Tidak perlu, Kak. Aku sudah pesan taksi." Jawab Nevan cepat. Terlalu cepat, sampai Brian sempat mengangkat sebelah alisnya.
Untuk beberapa detik keduanya hanya diam. Brian meneguk airnya, lalu meletakkan gelas itu kembali ke meja.
"Nevan."
"Aku tidak punya jawaban yang kau inginkan, Kak."
"Aku belum bertanya apa-apa."
Nevan terdiam. Wajahnya seketika memanas sebab merasa bodoh, sedang Brian malah terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.
"Aku hanya ingin bilang, kalau terjadi sesuatu di sana, telepon aku. Rapat sepenting apa pun bisa ditunda." Ujar Brian, kemudian meraih kembali tas kerjanya. "Mengerti?"
Nevan mengangguk pelan, "mengerti."
Brian menepuk bahu Nevan sekali, lalu melangkah keluar rumah. Deru mesin mobil terdengar sebentar sebelum akhirnya menjauh dan hilang.
***
Darel turun setengah jam kemudian, dengan rambut yang masih berantakan dan ransel hitam yang sudah tersampir di bahu. Lelaki itu langsung menuju lemari pendingin, membuka pintunya, lalu berdiri di depannya terlalu lama.
"Tidak ada apa-apa di dalam sana." Kata Nevan yang masih duduk di meja makan.
"Aku tahu. Aku hanya berharap ada."
"Berharap tidak akan membuat s**u muncul dengan sendirinya, Darel."
"Siapa tahu."
Darel menutup pintu lemari pendingin dan berbalik. Kedua rekan itu saling melempar tatap sejenak, dan seperti biasa, ada kecanggungan tipis yang menyelinap di antara keduanya. Nevan yang lebih dulu memalingkan wajah.
"Aku berangkat, Kak." Kata Darel.
"Hm."
"Kak Nevan."
"Apa?"
"Sampaikan salamku pada Kak Arvin. Katakan padanya semoga hasil periksanya bagus."
Nevan sempat terpaku. Kalimat sederhana itu, entah kenapa, terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.
"Akan kusampaikan."
Darel menyimpulkan senyum, memamerkan gigi kelincinya, lalu melangkah keluar rumah.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah dari anak tangga.
Mirza turun dengan sweater tebal dan celana panjang gelap, rambut ikalnya yang sudah gondrong itu dibiarkan begitu saja tanpa disisir. Lelaki itu melintasi ruang tengah tanpa menoleh sedikit pun ke arah meja makan.
"Kak Mirza." Panggil Nevan.
Langkah itu berhenti.
"Kau mau ke mana?"
"Keluar."
"Keluar ke mana?"
Mirza menoleh sedikit, cukup untuk membuat Nevan bisa melihat sebelah matanya.
"Apa aku harus melapor?"
"Tidak." Jawab Nevan cepat. "Aku hanya bertanya."
"Kalau begitu jangan bertanya."
Kemudian lelaki itu melanjutkan langkahnya, membuka pintu depan, dan pergi.
Nevan memandangi pintu yang tertutup itu, lalu menghela napas panjang.
Dulu Mirza adalah orang yang paling banyak bicara di rumah ini setelah Deon. Dulu, kalau ada yang bertanya hendak ke mana, ia akan menjawabnya dengan cerita panjang lebar yang bahkan tidak ada yang meminta. Dulu ia akan menceritakan ikan-ikannya, pelanggan kedai kopinya, atau apa pun yang ia lihat di jalan.
Sekarang jawabannya hanya satu kata, dan itu pun terasa seperti diberikan dengan sangat terpaksa.
Nevan menuangkan sisa air di gelasnya ke dalam bak cuci, lalu meletakkan gelas itu di rak.
"Semuanya berubah." Gumamnya. "Bahkan aku."
***
"Nevan!! Nevan!!"
Suara itu menggema dari lantai atas, membuat Nevan buru-buru menaiki anak tangga sambil bertanya-tanya apa yang terjadi.
Ternyata Arvin sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, sudah rapi dengan kaus dan jaket tebalnya, dengan rambut yang sudah disisir dan wajah yang terlalu ceria untuk ukuran orang yang akan pergi ke rumah sakit.
"Kenapa berteriak? Kupikir terjadi sesuatu!" Semprot Nevan.
"Memang terjadi sesuatu."
"Apa?"
"Aku sudah siap lebih dulu darimu." Kata Arvin, dengan dagu yang terangkat bangga.
Nevan menganga selama dua detik penuh sebelum akhirnya melempar tatapan paling malas yang ia punya. "Kak, kau ini benar-benar."
"Cepatlah ganti bajumu! Kalau kita terlambat, antreannya akan panjang. Bukankah kau sendiri yang bilang begitu semalam?"
"Iya, iya."
Arvin terkekeh puas. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu, memerhatikan Nevan yang berjalan menuju kamarnya sendiri di ujung lorong.
Taksi yang dipesan Nevan sudah hampir tiba. Beberapa menit lagi mereka akan berangkat, seperti minggu-minggu sebelumnya, seperti bulan-bulan sebelumnya. Rutinitas yang sudah terlalu hafal untuk keduanya.
Nevan membuka pintu kamarnya, meraih jaket yang tergantung di balik pintu. Ia sempat menatap pantulan dirinya di cermin, membenarkan letak kerah jaketnya, kemudian membalikkan badan hendak melangkah keluar.
Namun langkah itu terhenti.
Di atas nakas, sebuah figura berhias bingkai putih tergeletak dengan posisi yang tak seperti biasanya. Entah siapa yang menggesernya, atau mungkin memang Nevan sendiri yang lupa mengembalikannya semalam.
Perlahan, jemari lelaki itu bergerak meraihnya.