Omelas, Musim Semi 2018.
"Pantai?" Ulang Arvin dengan kening yang berkerut.
"Iya, pantai. Yang airnya asin, yang pasirnya banyak, yang biasanya ada di gambar kalender." Jawab Aksa datar.
"Aku tahu pantai itu apa, bodoh!"
"Lalu kenapa kau bertanya?"
Brian buru-buru menengahi sebelum dua manusia itu kembali membuat gaduh. "Bukan besok, Aksa. Lusa."
"Lusa?" Aksa mengerutkan keningnya. "Bukankah tadi siang kalian bilang besok?"
"Tadi siang kami bilang lusa, dan kau tertidur di tengah pembicaraan." Timpal Nevan yang baru saja bergabung sambil membawa sekaleng minuman.
"Aku tidak tertidur."
"Kau mendengkur."
"Aku tidak mendengkur!"
"Kau mendengkur, Kak. Aku dengar." Sahut Darel dengan wajah yang terlalu polos untuk dicurigai sebagai kebohongan.
Aksa berdecak sambil menyandarkan punggungnya ke sofa, kedua tangannya disedekapkan di depan d**a. "Ya sudah, lusa. Tapi kalau kulitku gosong, aku akan menuntut kalian semua."
"Menuntut kemana? Ke pengadilan pantai?" Ledek Mirza, yang seketika mengundang gelak tawa dari yang lainnya.
Deon yang sedari tadi bersandar di ambang pintu dapur akhirnya ikut bersuara. "Besok kita bebas saja. Tidak ada rencana apa-apa. Kalian boleh tidur seharian, boleh memancing, boleh mengejar anjing, terserah."
"Kenapa pilihan terakhirmu itu terdengar sangat spesifik?" Tanya Brian curiga.
"Bukan urusanmu."
***
Sore harinya, Mirza jongkok di depan akuarium bulat kecil yang ia letakkan di atas meja di sudut kamarnya, menaburkan sejumput pakan ikan dengan sangat hati-hati, seakan takut takarannya keliru barang sebutir.
"Nomor 1, jangan rakus. Sisakan untuk nomor 2 dan nomor 3." Ujarnya serius.
"Kau bicara dengan ikan?" Tanya Nevan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Mereka mendengarkan."
"Mereka tidak punya telinga."
"Kau juga tidak punya, tapi aku tetap berbicara denganmu." Balas Mirza tanpa menoleh.
Nevan melempar bantal ke arah rekannya itu, dan tentu saja, Mirza membalasnya. Untung saja akuarium itu sempat diselamatkan lebih dulu sebelum perang bantal kedua di penginapan ini benar-benar pecah.
Di ruang tengah, Brian dan Darel duduk berhadapan dengan sebuah perahu mainan yang salah satu bagiannya patah teronggok di antara mereka.
"Bagaimana? Bisa disambung?" Tanya Darel.
"Bisa." Jawab Brian mantap. "Kalau ada lem."
"Kalau tidak ada?"
"Maka aku akan pura-pura tidak tahu apa-apa dan menyalahkan ombak."
"Di sini danau, Kak. Tidak ada ombak."
"Menyalahkan angin, kalau begitu."
Beruntung ternyata pemilik penginapan menyimpan sekaleng lem di laci meja depan. Brian mengoleskannya dengan tangan yang gemetar, sebab bagi lelaki itu, menyentuh benda apa pun selalu berisiko berakhir dengan kerusakan tambahan.
"Tahan begini sepuluh menit." Kata Brian.
"Sepuluh menit?"
"Sepuluh menit."
Maka Darel duduk di sana, memegangi dua potong plastik yang disatukan lem, selama sepuluh menit penuh, dengan wajah yang sangat serius seolah sedang mengerjakan sesuatu yang menentukan nasib bangsa.
"Sudah?" Tanyanya.
"Belum."
"Sekarang?"
"Belum."
"Kak Brian."
"Apa?"
"Kalau ini tetap patah, aku tetap akan lapor ke Kak Deon."
"Kalau kau lapor, aku akan bilang bahwa kau yang memegangnya saat ini."
Darel membeku, kemudian menatap kedua tangannya sendiri dengan raut yang berubah menjadi ngeri. Brian tertawa puas melihatnya.
***
Menjelang sore, pemilik penginapan datang untuk mengganti tabung gas di dapur.
"Bagaimana? Betah di sini?" Tanya lelaki itu kepada Deon yang kebetulan sedang mencuci sayuran.
"Betah sekali, Pak. Tempatnya tenang."
"Syukurlah." Pemilik penginapan itu mengangguk-angguk. "Berapa hari lagi kalian di sini?"
"Kurang lebih tiga hari lagi."
Lelaki itu berhenti mengangguk.
"Tiga hari."
"Iya. Kenapa? Apa terlalu lama?"
"Tidak, tidak." Jawabnya cepat, terlalu cepat. "Hanya saja, kalau boleh saya sarankan, jangan terlalu jauh berkeliaran di malam hari."
Deon menghentikan cuciannya. "Kenapa begitu, Pak?"
"Ah, biasa. Jalanan di sini gelap. Nanti tersesat."
"Kami selalu pergi ramai-ramai."
"Justru itu yang membuat saya khawatir." Ujar lelaki itu sambil mengangkat tabung gas yang kosong. "Kalau ramai-ramai, kalian jadi tidak sadar kalau salah satunya sudah tidak ada."
Deon mengerutkan keningnya.
"Maksudnya, Pak?"
Namun lelaki tua itu sudah lebih dulu melangkah keluar melalui pintu belakang, dan menjawab tanpa menoleh.
"Maksud saya, hitunglah kepala kalian sebelum tidur. Itu saja."
Deon berdiri di dapur itu dengan tangan yang masih basah, memandangi pintu kaca yang baru saja ditutup.
Lalu ia menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil pada dirinya sendiri.
"Orang tua memang suka menakut-nakuti." Gumamnya, kemudian melanjutkan cuciannya.
***
Menjelang malam, Deon memutuskan mereka harus kembali ke pusat kota. Alasannya sederhana, persediaan bahan makanan menipis, dan menurut Deon, tidak ada satu pun dari rekannya yang bisa dipercaya untuk berbelanja sendirian.
"Kenapa aku juga harus ikut?" Protes Aksa.
"Karena kalau kau ditinggal sendirian di sini, kau akan tidur, dan kalau kau tidur di jam segini kau tidak akan tidur nanti malam." Jawab Deon.
"Kalimatmu itu sama persis dengan yang biasa kau lontarkan kepada Darel."
"Karena kalian sama saja."
Pusat kota Omelas kembali ramai, persis seperti malam sebelumnya. Lampu-lampu kecil digantung berjajar di atas jalan, pedagang menggelar dagangannya di kanan kiri, dan aroma makanan bercampur menjadi satu di udara.
Deon memisahkan diri hanya dalam hitungan menit, dan kembali dengan kantung belanja tambahan serta senyum yang mencurigakan.
"Apa itu?" Tanya Arvin.
"Celana."
"Celana apa?"
"Celana olahraga." Deon mengeluarkan sedikit ujungnya dari dalam kantung, memamerkan kain berwarna merah muda yang bahkan dari ukurannya saja sudah terlihat bermasalah.
"Kak, itu terlalu pendek."
"Itu memang modelnya."
"Itu bukan model, itu kekurangan bahan." Sahut Aksa, dan seketika Arvin terbahak sampai harus memegangi perutnya.
Sementara itu, Nevan berjongkok di depan seorang pedagang yang menjual cat berbagai warna dalam kaleng-kaleng kecil. Jemarinya memilah satu persatu, sampai akhirnya berhenti pada satu kaleng berwarna merah muda.
"Untuk apa?" Tanya Brian yang berdiri di belakangnya.
"Sepatuku terlalu putih."
"Sepatu memang seharusnya putih."
"Sepatuku terlalu putih sampai membosankan, Kak." Nevan bangkit sambil menggenggam kaleng cat itu. "Besok aku akan melukisnya."
"Kau bisa melukis?"
"Kita lihat saja besok."
Darel muncul dari kerumunan sambil menenteng dua kotak s**u, satu sudah terbuka dan tinggal separuh.
"Rasa pisang lagi?" Tanya Nevan.
"Rasa pisang lagi." Jawab Darel bangga.
"Padahal dulu kau bilang tidak akan pernah selingkuh dari strawberry."
"Manusia berubah, Kak."
***
Mereka kembali ke penginapan ketika langit sudah benar-benar gelap. Deon langsung menyerbu dapur, memindahkan belanjaan ke lemari pendingin sambil mengomeli siapa pun yang berdiri terlalu dekat dan tidak membantu.
Malam itu mereka berkumpul di halaman samping, mengelilingi kompor kecil yang menyala. Beberapa kantung camilan dibuka, beberapa kaleng minuman berpindah tangan, dan tawa mereka terdengar sampai ke tepian danau.
Darel duduk paling dekat dengan api, memangku lutut, memandangi bara yang berkedip.
"Kau kenapa?" Tanya Deon sambil menyodorkan sepotong roti bakar.
"Tidak apa, Kak. Hanya merasa…" Darel menghentikan kalimatnya sejenak. "Rasanya terlalu menyenangkan di sini."
"Lalu apa yang salah dengan menyenangkan?"
"Entahlah. Kata orang, kalau sesuatu terasa terlalu menyenangkan, biasanya ada harganya."
Deon terdiam sesaat. Lelaki itu sempat melirik ke arah Brian yang duduk di seberang api, dan Brian yang merasa dilirik pun buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Anak kecil tidak boleh berpikir sejauh itu." Kata Deon akhirnya, sambil mengacak rambut Darel.
"Aku sudah lulus, Kak!"
"Lulus bukan berarti besar."
Di tengah tawa mereka, terdengar suara siulan panjang dari arah jalan setapak di luar pagar penginapan. Siulan itu bukan lagu, bukan pula panggilan, hanya nada yang naik lalu turun, kemudian berhenti.
Seketika suasana menjadi sunyi. Semua kepala menoleh ke arah yang sama.
"Siapa itu?" Tanya Arvin, suaranya sudah mulai bergetar.
"Warga, mungkin." Jawab Mirza.
"Jam segini?"
"Kau ini penakut sekali."
"Aku tidak takut!" Sanggah Arvin, sambil menggeser duduknya lebih dekat ke arah Aksa.
Aksa mendengus, tapi tidak menyingkirkannya.
Brian bangkit, melangkah beberapa langkah ke arah pagar sambil memicingkan mata. Tidak ada siapa-siapa di sana. Jalan setapak itu kosong, hanya diterangi satu lampu jalan yang cahayanya berkedip lemah.
"Tidak ada apa-apa." Kata Brian setelah kembali.
"Sudah kubilang, warga." Timpal Mirza.
Namun Brian tidak duduk kembali di tempatnya semula. Lelaki itu memilih duduk di sisi Deon, dan tanpa disadari siapa pun, keduanya sempat bertukar pandang selama beberapa detik.
***
Satu persatu mereka mulai masuk ke penginapan. Aksa yang pertama, sebab menurutnya udara malam tidak baik untuk kulitnya. Lalu Arvin, yang jelas-jelas tidak mau ditinggal sendirian di luar. Lalu Mirza dan Nevan, yang masih berdebat soal apakah ikan bisa mengenali wajah pemiliknya.
Darel yang terakhir. Lelaki itu sempat berdiri sendirian di halaman samping, menatap api yang sudah dipadamkan Brian, lalu menengadah ke langit yang penuh bintang.
"Terima kasih untuk hari ini." Ucapnya pelan, entah kepada siapa.
Kemudian ia masuk, menutup pintu kaca itu di belakangnya, dan lampu terakhir di penginapan pun akhirnya dipadamkan.