Ruang rapat di lantai sembilan itu terasa terlalu dingin bagi Brian. Bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena deretan angka yang terpampang di layar proyektor sama sekali tak bisa masuk ke dalam kepalanya sejak lima belas menit yang lalu.
"Pak Brian?"
Lelaki itu tersentak. "Ya?"
"Bagaimana menurut Anda soal proyeksi kuartal ini?"
Brian menegakkan punggungnya, membenarkan letak dasi, kemudian mengeluarkan jawaban yang untungnya masih terdengar masuk akal. Beberapa kepala di meja itu mengangguk. Tidak ada yang curiga bahwa sejak tadi pemimpin rapat mereka sedang tidak benar-benar berada di ruangan yang sama.
Sudah dua tahun Brian menempati kursi ini. Dua tahun berpura-pura bahwa kursi ini memang miliknya, padahal setiap kali ia duduk di sana, yang terbayang justru punggung tegap seseorang yang dulu selalu memenuhi ruangan ini dengan suara cerewetnya.
Ponsel di atas meja bergetar.
Brian meliriknya sekilas. Nomor yang tidak dikenal. Lelaki itu memilih membiarkannya, kembali menatap layar proyektor. Namun ponsel itu bergetar lagi. Dan lagi.
"Maaf, sebentar." Ujar Brian sambil bangkit, melangkah ke sudut ruangan sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo?"
"Selamat siang, apa benar dengan Saudara Brian?"
"Ya, saya sendiri."
"Kami dari rumah sakit. Kami menemukan nomor Anda pada ponsel salah satu pasien yang baru saja dibawa kemari."
Detik itu juga, seluruh suara di ruangan rapat seakan hilang. Brian bisa mendengar detak jantungnya sendiri, jelas sekali, bertalu di dekat telinga.
"Pasien? Pasien siapa?" Tanyanya, dan tanpa sadar suaranya meninggi.
"Dua orang, Pak. Keduanya belum sadarkan diri."
Ponsel itu nyaris terlepas dari genggaman Brian.
***
Brian tidak ingat bagaimana caranya ia bisa sampai ke lantai dasar. Ia hanya ingat pintu lift yang terasa terlalu lambat, langkah kakinya yang menghantam lantai marmer, dan suara sekretarisnya yang memanggil-manggil namanya dari belakang tanpa pernah ia gubris.
"Pak Brian! Rapatnya belum selesai!"
"Batalkan semuanya!"
"Pak—"
"Kubilang batalkan semuanya!"
Pintu mobil dibanting. Mesin menyala. Dalam hitungan detik, mobil hitam itu sudah membelah jalanan siang yang padat.
Brian menyalip dari kiri, dari kanan, menerobos lampu yang sudah berkedip kuning. Beberapa kali klakson panjang mengiringi laju mobilnya, tapi lelaki itu tidak peduli sedikit pun.
"Bertahanlah. Siapa pun kalian, bertahanlah." Katanya, entah kepada siapa.
Jemarinya mengetat pada kemudi sampai buku-bukunya memutih. Di kepalanya, satu persatu wajah rekannya berputar seperti gambar yang dibolak-balik terlalu cepat. Darel yang berangkat kuliah pagi tadi. Mirza yang belakangan tak pernah mengucapkan sepatah kata pun di meja makan. Aksa yang entah sejak kapan berhenti pulang di malam hari. Nevan dan Arvin yang selalu menutup pintu kamar rapat-rapat.
Brian selalu berpikir dirinya masih sanggup memegang semuanya. Bahwa selama ia berdiri di depan, tidak akan ada lagi yang berjatuhan.
Ternyata tidak.
"Kak Deon," lirih Brian di tengah deru mesin, "kalau kau masih ada, kau tidak akan membiarkan ini terjadi, bukan?"
***
Bau khas rumah sakit menyeruak begitu Brian menerobos pintu utama. Lelaki itu berlari ke meja depan, menabrak bahu seseorang tanpa sempat meminta maaf.
"Saya Brian! Saya yang tadi dihubungi!"
Petugas di balik meja sempat terkejut, tapi kemudian segera memeriksa catatannya. "Ah, iya, Pak. Silakan ikut saya."
Brian mengikuti langkah petugas itu menyusuri koridor. Sepanjang jalan, matanya menyapu setiap brankar, setiap pintu, setiap wajah, mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia temukan.
Kemudian ia melihatnya.
Sebuah brankar didorong keluar dari ruang gawat darurat, dengan sosok berambut ikal cokelat yang tergolek di atasnya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, sweaternya masih basah kuyup.
"Mirza…" Lirih Brian, langkahnya seketika terhenti.
Belum sempat ia bergerak, sebuah brankar lain menyusul dari pintu yang sama. Tubuh yang jauh lebih besar, dengan kaus yang juga basah, dan wajah yang bahkan dalam keadaan seperti itu masih terlihat seperti anak kecil yang kelelahan setelah seharian bermain.
"Darel?!"
Brian hendak menghambur, tapi seorang perawat lebih dulu menahannya. "Maaf, Pak. Keduanya harus segera ditangani."
"Apa yang terjadi pada mereka?!"
"Silakan tunggu di luar, Pak. Dokter akan menjelaskan nanti."
Dan pintu itu tertutup tepat di depan wajah Brian.
***
"Maaf, apa Anda keluarganya?"
Brian menoleh, mendapati seorang lelaki paruh baya berdiri di belakangnya dengan celana yang basah sampai lutut dan sandal jepit yang masih meninggalkan jejak air di lantai.
"Ya. Saya keluarganya." Jawab Brian cepat. "Anda siapa?"
"Saya yang menemukan mereka di tepi sungai, tak jauh dari jembatan." Ujar lelaki itu. "Saya sedang lewat, lalu saya lihat ada dua orang tergeletak di tepian. Yang satu menindih yang lain."
"Tergeletak?" Kening Brian berkerut. "Bagaimana bisa mereka ada di sungai?"
Lelaki itu menggaruk tengkuknya, tampak ragu untuk melanjutkan. "Ada yang bilang… ada yang melihat salah satu dari mereka naik ke pembatas jembatan lebih dulu."
Napas Brian tercekat.
"Lalu yang satunya lagi berlari dan ikut melompat." Lanjut lelaki itu. "Saya rasa dia mencoba menolong temannya."
Untuk beberapa detik, Brian tidak bisa mengeluarkan suara. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh, sedang matanya menatap kosong ke lantai koridor yang mengilap.
Melompat.
Mirza melompat.
"Terima kasih." Ucap Brian akhirnya, dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Terima kasih banyak. Sungguh."
Lelaki itu hanya mengangguk sekali, lalu berlalu, meninggalkan Brian sendirian di koridor yang mendadak terasa terlalu panjang.
***
Pagi tadi.
Brian memutar ingatannya, mencari-cari, sampai akhirnya ia menemukannya.
Pagi tadi Mirza turun ke meja makan.
Itu sendiri sudah aneh, sebab sudah berminggu-minggu lelaki itu tidak pernah muncul di meja makan. Namun pagi tadi ia turun, menarik kursi, dan duduk di sana selama beberapa menit tanpa menyentuh apa pun.
"Kau tidak makan?" Brian bertanya waktu itu.
"Tidak lapar."
"Setidaknya minum."
Mirza meraih gelas di hadapannya, meneguknya sampai habis, lalu meletakkannya kembali dengan sangat perlahan.
"Kak Brian."
"Hm?"
"Terima kasih untuk yang malam itu."
Brian sempat mengerutkan keningnya. "Malam yang mana?"
"Malam ketika kau menjemputku di kotak telepon."
Waktu itu Brian tertawa. Ia bahkan sempat berkata bahwa Mirza tidak perlu berterima kasih untuk hal seremeh itu, bahwa ia akan melakukannya lagi kapan pun dibutuhkan, bahwa lain kali sebaiknya Mirza membawa payung.
Dan Mirza hanya tersenyum. Senyum kotak yang sudah lama sekali tidak ia perlihatkan kepada siapa pun.
Lalu lelaki itu bangkit, mendorong kursinya masuk dengan rapi, dan kembali ke kamarnya.
Brian mencengkeram rambutnya sendiri.
"Itu pamit." Lirihnya. "Anak itu sedang berpamitan, dan aku menyuruhnya membawa payung."
***
Brian merosot ke kursi tunggu, menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangan.
Selama ini ia pikir Mirza hanya sedang menjauh. Sedang butuh waktu. Sedang berdamai dengan dirinya sendiri, seperti yang pernah Brian katakan padanya di dalam mobil, di malam yang basah oleh hujan itu.
Retakan itu memang kelak akan sembuh dan dilupakan. Namun jauh di relung yang terdalam, mereka terus hidup dan mendarah.
Brian mengucapkannya sendiri. Dan Brian pula yang lupa bahwa kalimat itu bukan janji kesembuhan.
"Bodoh." Umpat Brian pada dirinya sendiri. "Kau benar-benar bodoh."
Lelaki itu bangkit. Diraihnya ponsel dari saku, jemarinya sedikit bergetar saat menggeser layar.
Nama pertama yang ia tekan adalah Arvin.
"Arvin, kau dimana?!"
Setelahnya Nevan. Lalu Aksa, yang panggilannya tak juga terjawab, sehingga Brian mesti mengulangnya berkali-kali sampai jemarinya sendiri terasa kebas.
Setiap kali sambungan terputus, Brian menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menekan nama berikutnya. Sebab ia tahu, di seberang sana, ia sedang meletakkan batu yang sama beratnya di atas bahu orang lain.
Inilah yang paling Brian benci dari posisinya. Menjadi orang pertama yang tahu. Menjadi orang yang harus mengucapkannya keras-keras, berkali-kali, kepada orang-orang yang paling tidak ingin ia lukai.
***
Waktu berjalan sangat lambat di koridor rumah sakit.
Brian tak lagi bisa duduk diam. Lelaki itu berjalan mondar-mandir, dari ujung koridor ke ujung yang lain, kemudian kembali lagi. Sesekali ia berhenti di depan pintu ruang penanganan, menatap lampu kecil yang masih menyala di atasnya, lalu kembali melangkah.
Jasnya sudah lama ia tanggalkan dan tersampir asal di sandaran kursi. Lengan kemejanya digulung tak rapi. Dasinya melonggar. Tidak ada lagi yang tersisa dari sosok Presiden Direktur yang tadi pagi memimpin rapat di lantai sembilan.
Yang tersisa hanya seorang kakak, yang sedang menunggu dua adiknya kembali.
"Kalian berdua boleh menghukumku setelah ini." Gumam Brian sambil menatap pintu yang masih tertutup rapat. "Boleh memaki, boleh memukul, boleh apa saja. Tapi tolong… bangunlah dulu."
Dari kejauhan, terdengar suara langkah yang tergesa dan roda kursi yang berdecit di lantai koridor.