Pintu dengan nomor 606 itu terbuka, lalu tertutup kembali, dan seluruh keriuhan lorong di luar sana seketika terpotong menjadi sunyi.
Aksa berdiri di tengah kamar, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gelap sebelum akhirnya menyalakan lampu. Ruangan itu tidak berubah sedikit pun sejak terakhir kali ia datang. Sebuah ranjang berukuran besar berbalut sprei putih di sisi kiri, dan sebuah piano tegak di tengah ruangan, satu-satunya benda di tempat ini yang benar-benar berarti bagi Aksa.
Jas hitam yang sedari tadi ditentengnya dilempar asal ke atas ranjang. Kancing lengan kemejanya sudah tergulung sejak di dalam taksi. Lelaki itu menarik kursi piano, mendaratkan tubuh di sana, kemudian menatap deretan tuts putih di hadapannya tanpa menyentuhnya barang sedikit pun.
Ada noda kecokelatan yang sudah mengering di sela dua tuts. Bekas darahnya sendiri, dari malam yang entah kapan.
Di atas penutup piano, masih ada satu baris tulisan yang juga ditorehkan dengan darah, yang kini warnanya sudah menghitam dan sebagian mengelupas.
"Tuhan punya banyak cara untuk membuat diri kita kesepian, dan membuat kita kembali pada diri sendiri."
Aksa membacanya sekali, lalu mengalihkan pandangan.
"Sialan." Umpatnya pelan.
Kemudian jemarinya turun. Satu nada. Dua nada. Tiga nada.
Dan pada nada keempat, Aksa berhenti.
"Tidak. Bukan itu."
Ia mengulang dari awal. Berhenti lagi. Mengulang lagi. Berhenti lagi. Sampai pada percobaan yang entah keberapa, lelaki itu menggebrak tuts dengan kedua telapak tangan, menghasilkan bunyi kacau yang bergema memantul di dinding kamar.
Napasnya memburu. Dadanya naik turun.
Di kepalanya, yang terdengar bukan nada. Melainkan wajah Arvin di dalam bingkai besar itu, yang tersenyum lebar, yang seolah sedang menertawakan orang-orang yang duduk bersimpuh di hadapannya.
Dan suara Nevan, yang menangis sampai isaknya terdengar seperti sesuatu yang dirobek.
"Kenapa aku malah ada di sini." Gumam Aksa. "Kenapa aku selalu ada di tempat yang salah."
***
Ponsel di sakunya bergetar.
Aksa meraihnya dengan malas. Nomor tanpa nama itu lagi. Nomor yang belakangan ini lebih sering muncul di layarnya daripada nama siapa pun yang ia kenal.
Kali ini Aksa menjawabnya di dering pertama.
"Aku sudah di sini." Katanya. "Jangan menghubungiku lagi selama aku mengerjakannya."
Suara di seberang sana menyahut. Entah apa yang dikatakannya, yang jelas rahang Aksa mengeras dan sorot matanya berubah tajam.
"Aku tidak butuh diingatkan." Balas Aksa. "Aku tahu berapa yang harus kubayar. Aku tahu kapan tenggatnya. Aku tahu semuanya."
Jeda.
"Kau pikir aku akan kabur? Ke mana? Aku bahkan tidak punya tempat untuk pulang yang benar-benar terasa seperti rumah."
Jeda lagi. Kali ini lebih panjang.
"Ck. Baik. Akan kukirimkan begitu selesai." Ujar Aksa, kemudian mengakhiri panggilan itu secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas ranjang.
Lelaki itu menopang kepalanya dengan kedua tangan, jemarinya menyusup ke sela rambut dan meremasnya kuat-kuat.
"Kenapa mahal sekali… kenapa harus semahal itu…"
Semua uang yang ia tabung bertahun-tahun. Setiap lembar honor dari mengajar piano, setiap rupiah dari lagu-lagu yang ia jual tanpa nama, setiap sen yang tidak pernah ia belanjakan untuk dirinya sendiri. Semuanya akan habis, dan Aksa bahkan tidak punya jaminan apa pun bahwa yang ia beli itu benar-benar ada.
Tapi Aksa tetap akan membayarnya.
Sebab kalau ada satu persen saja kemungkinan bahwa apa yang dikatakan orang itu benar, maka satu persen itu jauh lebih berharga daripada seluruh tabungan yang ia kumpulkan selama hidupnya.
***
Aksa masih ingat malam itu dengan sangat jelas.
Deburan ombak. Api yang berkobar melawan angin. Tujuh jubah hitam yang membentuk lingkaran. Suara mereka melafalkan kalimat-kalimat yang tak satu pun mereka pahami artinya.
Dan tangannya sendiri.
Tangan yang ikut memegangi bahu Deon di atas batu itu.
Orang-orang selalu mengingat Brian sebagai yang mengangkat pedang. Aksa sendiri kerap kali menyalahkan Brian di dalam hatinya, kerap kali menyalahkan Darel, kerap kali menyalahkan siapa saja yang kebetulan berada di dekatnya ketika amarahnya sedang tidak bisa ditahan.
Padahal Aksa tahu betul.
Tangannya ada di sana. Di bahu kanan Deon. Menahan agar lelaki itu tidak bisa bangkit.
Dan sampai detik ini, Aksa masih bisa merasakannya. Bagaimana bahu itu berontak, bagaimana otot-ototnya menegang, bagaimana Deon meneriakkan nama Brian berulang kali dari balik topengnya.
"Kalau saja aku melepaskannya waktu itu." Gumam Aksa sambil menatap kedua telapak tangannya sendiri. "Satu detik saja. Satu detik saja aku melepaskannya."
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kenapa aku malah menahannya lebih kuat."
Itulah sebabnya Aksa tidak pernah bisa tidur dengan benar selama dua tahun terakhir.
Itulah sebabnya ia menyewa kamar ini.
Dan itulah sebabnya, ketika seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang bisa dibeli untuk memperbaiki apa yang mereka rusak, Aksa sama sekali tidak bertanya apakah itu masuk akal.
Ia hanya bertanya berapa harganya.
***
Aksa kembali ke piano.
Kali ini lelaki itu tidak lagi mencari nada. Ia membiarkan jemarinya bergerak sendiri, memainkan apa saja, tanpa peduli apakah itu terdengar bagus atau tidak.
Yang keluar adalah nada-nada rendah yang berat, mengalun lambat, seperti langkah orang yang berjalan pulang dari pemakaman.
Aksa memejamkan matanya.
Dua tahun lalu, di rumah itu, Arvin adalah orang pertama yang mengetuk pintu kamarnya setiap kali Aksa mengurung diri terlalu lama. Bukan Brian, bukan Deon, melainkan Arvin. Lelaki dengan senyum sehangat mentari itu akan mengetuk tiga kali, lalu masuk begitu saja tanpa menunggu diizinkan, lalu duduk di lantai sambil bercerita tentang hal-hal yang sama sekali tidak penting.
"Kau tidak bosan bicara sendirian?" Aksa pernah bertanya begitu.
"Aku tidak bicara sendirian. Kau mendengarkan, bukan?"
"Aku tidak mendengarkan."
"Kau mendengarkan. Kalau tidak, kau sudah mengusirku sejak tadi."
Dan Arvin benar. Aksa memang tidak pernah benar-benar mengusirnya.
Sekarang tidak akan ada lagi yang mengetuk pintu kamarnya tiga kali.
Jemari Aksa berhenti di tengah nada. Ada sesuatu yang jatuh dan mendarat di atas tuts, satu tetes, lalu dua.
Lelaki itu buru-buru mengusapnya dengan lengan baju.
"Menjijikkan." Katanya pada dirinya sendiri. "Kau menangis untuk orang yang bahkan tak pernah kau temani dengan benar."
Kemudian ia kembali memainkan piano itu, lebih keras dari sebelumnya, seakan sedang berusaha menenggelamkan sesuatu.
***
Malam berjalan tanpa Aksa sadari.
Lelaki itu memindahkan nada-nada yang sudah ia dapatkan ke dalam kepalanya, mengulangnya berkali-kali agar tidak lupa, sebab komputernya ada di rumah dan ia tidak berniat pulang sebelum semuanya selesai. Beberapa kali ia berhenti hanya untuk menatap langit-langit, lalu kembali lagi.
Di luar, suara-suara dari kamar-kamar lain perlahan surut. Pintu-pintu berhenti dibuka dan ditutup. Lorong yang tadi ramai kini benar-benar sunyi.
Aksa tidak pernah peduli tentang tempat ini.
Orang bisa berpikir apa saja tentang seorang lelaki yang menyewa kamar tetap di motel murah dengan lampu remang-remang. Aksa tahu itu. Aksa juga tahu bahwa jika suatu hari ada rekannya yang mengetahui hal ini, mereka akan berpikir hal yang sama.
Tapi bagi Aksa, tempat ini punya satu hal yang tidak dimiliki rumah tiga lantai itu.
Di sini, tidak ada seorang pun yang menatapnya dengan penuh harap. Tidak ada yang menunggunya turun untuk sarapan. Tidak ada yang bertanya kabar. Tidak ada yang perlu ia kecewakan.
Di sini, Aksa hanya perlu menjadi Aksa.
"Kalau saja aku bisa menjelaskannya pada kalian." Gumamnya sambil menatap tuts piano. "Tapi kalau kujelaskan, kalian pasti akan menahanku."
***
Ketika akhirnya Aksa mengangkat wajahnya lagi, cahaya sudah menyelinap dari celah gorden.
Lelaki itu terkesiap, buru-buru meraih ponsel di atas ranjang. Pagi. Sudah pagi.
Punggungnya terasa remuk, matanya perih, dan kepalanya berdenyut. Aksa berdiri sambil memegangi tepian piano untuk menopang tubuhnya sendiri yang sempat oleng.
Ia meraih jas hitam yang tergeletak di atas ranjang, menentengnya kembali di lengan kanan, lalu memandang piano itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
"Sampai nanti." Ucapnya.
Pintu kamar 606 kembali tertutup.
Lorong itu jauh lebih sepi dibanding semalam. Aksa menyusurinya dengan langkah yang gontai, melewati meja resepsionis yang kosong, lalu keluar melalui pintu utama.
Udara pagi menampar wajahnya. Silaunya matahari membuat lelaki berkulit terlalu putih itu spontan mengangkat sebelah tangan untuk melindungi mata.
Aksa berdiri sejenak di trotoar, menatap jalanan yang sudah mulai ramai oleh kendaraan.
Hari ini masih ada satu berkas yang harus ia selesaikan. Setelah itu satu pengiriman. Setelah itu satu pembayaran. Setelah itu, ia hanya perlu menunggu.
Menunggu, dan berharap bahwa untuk sekali saja dalam hidupnya, ia tidak sedang ditipu.
Aksa melambaikan tangan ke arah taksi yang melintas.
Dan ia sama sekali tidak menyadari, bahwa dari dalam sebuah taksi lain yang baru saja melewati bangunan itu dengan pelan, ada sepasang mata kecil yang membulat sempurna kala menangkap sosoknya keluar dari sana.