Jantung Nevan serasa melompat sampai ke ubun-ubun.
Kaca jendela taksi itu turun perlahan, menampilkan wajah dengan lesung pipi yang sangat ia kenal, hanya saja kali ini tanpa senyum sama sekali.
"Kak Brian?!" Pekik Nevan, suaranya melengking satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.
"Kenapa kau berteriak?" Brian mengerutkan keningnya. "Aku hanya bertanya kau sedang apa di sini."
"A-aku…" Nevan menoleh ke kanan, lalu ke kiri, lalu ke belakang, ke arah bangunan bertingkat berlampu remang yang baru saja ia tinggalkan. Sialnya, tidak ada satu pun toko, halte, atau apa pun yang bisa ia jadikan alasan di sepanjang jalan itu.
"Aku… lewat."
"Lewat?"
"Iya. Lewat."
"Kau tinggal di arah yang berlawanan, Nevan."
"Ya! Karena itu aku sedang berjalan ke arah sini untuk kemudian berbalik ke arah sana!" Jawab Nevan asal, sambil menunjuk ke dua arah sekaligus dengan kedua tangannya.
Brian menatapnya selama beberapa detik dengan ekspresi yang benar-benar tak bisa dibaca. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa lagi, lelaki itu membuka pintu taksi dari dalam.
"Masuk."
"Kak, aku bisa naik taksi sendiri—"
"Masuk, Nevan."
Nada suara Brian tidak meninggi sedikit pun. Tapi entah kenapa, kalimat itu justru terdengar seperti perintah yang tidak boleh ditolak. Pun akhirnya Nevan menurut, menempati kursi di sebelah Brian dengan tubuh yang kaku seperti murid yang baru saja tertangkap membolos.
"Pak, lanjutkan saja." Kata Brian pada sang supir.
Taksi itu kembali melaju.
***
Sepanjang lima menit pertama, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.
Nevan menatap ke luar jendela, pura-pura tertarik pada deretan toko yang mereka lewati. Sementara Brian bersandar di kursinya, jas hitam yang sudah kusut tersampir di pangkuan, matanya terpejam dengan kepala yang sedikit mendongak.
Nevan sesekali melirik. Wajah Brian tampak jauh lebih tua dari yang seharusnya. Ada garis-garis lelah di sekitar matanya, dan kulitnya pucat seperti orang yang sudah terlalu lama tidak tidur dengan benar.
"Kak," panggil Nevan akhirnya. "Kenapa naik taksi? Mobilnya kan ada."
"Aku tinggal di rumah." Jawab Brian tanpa membuka mata. "Tanganku bergetar sejak semalam. Aku tidak berani menyetir."
Nevan terdiam.
"Bagaimana Darel?" Tanyanya kemudian.
"Membaik. Sudah bisa makan bubur, sudah bisa protes, sudah bisa menggoda suster." Brian menyimpulkan senyum tipis. "Berarti dia benar-benar membaik."
"Kak Mirza?"
Senyum itu luntur seketika.
"Belum ada perubahan." Jawab Brian. "Bahkan kemarin sistim imunnya sempat menurun. Dokter bilang kita hanya bisa menunggu."
Nevan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.
"Sudah berapa hari?"
"Terlalu banyak untuk dihitung."
Taksi itu berbelok. Cahaya sore menyusup dari jendela, jatuh tepat di wajah Brian yang kembali memejamkan mata.
"Nevan."
"Ya?"
"Kau sudah makan?"
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba sampai Nevan sempat tertegun. Ia hendak menjawab sudah, tapi seketika perutnya berbunyi cukup keras, mengkhianati pemiliknya sendiri.
Brian membuka matanya, menoleh, lalu menghela napas panjang.
"Pak, tolong berhenti sebentar di depan sana."
***
Mereka berdua duduk di sebuah warung kecil di pinggir jalan, dengan dua mangkuk mi kuah yang masih mengepul di hadapan masing-masing.
Nevan menyantapnya dengan lahap. Terlalu lahap, sampai Brian mesti mengingatkannya untuk bernapas.
"Pelan-pelan. Tidak ada yang akan merebutnya."
"Aku lapar sekali, Kak."
"Sejak kapan kau tidak makan?"
Nevan menghitung dalam hati. "Sejak… sebelum ke rumah duka?"
Brian meletakkan sumpitnya. "Nevan."
"Aku lupa, Kak. Sungguh."
"Kau tidak lupa." Ujar Brian. "Kau hanya sedang tidak menganggap dirimu sendiri penting."
Nevan berhenti mengunyah.
"Arvin sudah pergi." Lanjut Brian dengan suara yang jauh lebih pelan. "Aku tidak akan berpura-pura mengerti seberapa besar itu untukmu, sebab kalian berdua yang paling dekat dua tahun belakangan ini. Tapi Nevan, kalau kau ikut menghancurkan dirimu sendiri, itu tidak akan mengembalikan siapa pun."
Nevan tidak menjawab. Ia hanya menatap kuah di dalam mangkuknya, memandangi pantulan wajahnya sendiri yang bergoyang di sana.
Ada satu bundel berkas di dalam laci nakas kamarnya. Berkas yang menyimpan nama sebuah penyakit yang bahkan tak pernah Nevan ucapkan dengan lantang di depan siapa pun. Berkas yang selama satu tahun ini ia jaga rapat-rapat, dengan alasan yang dulu ia pikir mulia.
Sekarang orangnya sudah tidak ada, dan alasan itu tak lagi berlaku.
"Kak," lirih Nevan.
"Hm?"
"Kalau seseorang menyimpan sesuatu terlalu lama, sampai orang yang seharusnya tahu justru sudah tidak ada… apa dia masih pantas mengungkapkannya?"
Brian mengangkat wajahnya, menatap Nevan dengan sorot yang tiba-tiba menajam.
"Apa yang kau simpan?"
"Aku hanya bertanya."
"Nevan."
"Sungguh, aku hanya bertanya." Nevan buru-buru menyeruput kuahnya, menghindari tatapan Brian.
Untuk beberapa saat, Brian tidak melanjutkan. Lelaki itu kembali meraih sumpitnya, mengaduk mi di mangkuknya sendiri yang bahkan belum tersentuh setengahnya.
"Kalau memang harus diungkapkan, ungkapkan." Jawab Brian akhirnya. "Kebenaran yang datang terlambat tetap lebih baik daripada kebenaran yang mati bersama orang yang menyimpannya."
Nevan menelan ludah.
***
Di luar warung itu, di seberang jalan, ada seseorang yang berdiri memerhatikan mereka berdua sejak tadi.
Mirza.
Atau lebih tepatnya, apa pun yang tersisa dari Mirza sekarang.
Lelaki itu bersandar pada tiang lampu jalan, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku sweaternya, memandangi dua rekannya yang duduk berhadapan dengan dua mangkuk mi di antara mereka.
"Kalian berdua ini benar-benar." Gumamnya. "Sudah tahu sama-sama menyembunyikan sesuatu, tapi tetap saja saling bertanya."
Sore tadi, ketika Nevan berdiri di depan meja resepsionis motel itu dan bertanya dengan wajah paling serius yang ia punya, Mirza sedang berdiri tepat di sebelahnya.
Ia bahkan sempat berteriak.
"Bukan! Bukan seperti yang kau pikirkan, bodoh! Naiklah ke lantai enam! Buka kamar yang paling ujung! Di dalamnya cuma ada piano!"
Tentu saja tidak ada yang mendengar.
Nevan tetap keluar dari sana dengan wajah yang menahan marah, tetap menendang batu kecil di depan kakinya, dan tetap mengumpat bahwa rekannya sudah tidak waras.
Mirza menghela napas yang sebenarnya tidak ia perlukan lagi.
"Inilah yang paling menyebalkan dari menjadi begini." Katanya. "Aku tahu semuanya, tapi tidak ada satu pun yang bisa kulakukan dengan itu."
Ia mendongak, menatap langit sore yang mulai berubah jingga.
"Kak Deon," ucapnya, "kalau kau bisa mendengarku dari sana, tolong berikan aku satu hari saja. Satu hari saja untuk bisa bicara."
Angin sore berembus, membuat daun-daun kering di trotoar itu berputar sebentar sebelum akhirnya kembali diam.
Dan itu satu-satunya jawaban yang Mirza terima.
***
Mereka tiba di rumah menjelang senja.
Brian langsung menjatuhkan dirinya di sofa ruang depan, melonggarkan dasi, kemudian menarik tumpukan berkas dari dalam tas kerjanya. Perusahaan tidak pernah peduli apakah pemimpinnya baru saja kehilangan seorang sahabat.
"Kak, kau tidak istirahat?" Tanya Nevan.
"Sebentar lagi."
"Kau selalu bilang sebentar lagi."
"Dan kau selalu bilang tidak apa-apa padahal jelas apa-apa." Balas Brian tanpa mengangkat wajahnya dari berkas. "Jadi kita impas."
Nevan mendengus, tapi ada senyum tipis yang tak sengaja terbentuk di bibirnya.
Lelaki itu melangkah menaiki anak tangga. Rumah tiga lantai ini terasa semakin luas, dan semakin luas ruangan, semakin nyaring pula suara langkah kaki sendiri.
Kamar Arvin ada di sebelah kanan. Pintunya tertutup rapat. Nevan sengaja memilih berjalan sedikit merapat ke dinding sebelah kiri, seolah dengan begitu ia tidak perlu melewatinya.
Namun tetap saja, tepat ketika berada di depan pintu itu, langkah Nevan melambat dengan sendirinya.
"Aku akan mengatakannya, Kak." Bisiknya. "Kepada mereka semua. Sebentar lagi."
Kemudian ia melanjutkan langkah.
***
Kamar Nevan berada di ujung lorong, yang berarti ia harus melewati kamar Aksa terlebih dahulu.
Pintu kamar itu tidak tertutup dengan benar. Ada celah selebar dua jari, dan dari celah itu keluar cahaya serta suara.
Nevan sebenarnya sudah berniat lewat begitu saja. Sungguh. Ia bahkan sudah mengambil dua langkah menjauh.
Tapi kemudian ia teringat pagi tadi. Sosok Aksa yang keluar dari bangunan bertingkat itu dengan jas yang ditenteng di lengan. Ia teringat wajah resepsionis dengan riasan tebal itu, dan kalimat yang keluar dari mulutnya.
Penyewa tetap.
"Kak Aksa, sebenarnya apa yang kau lakukan?" Gumam Nevan pada dirinya sendiri.
Langkahnya berbalik. Perlahan, sepelan mungkin, sampai ia berdiri tepat di samping celah pintu itu.
Dari dalam, terdengar suara Aksa yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.