Darel berhenti menyeruput mi dalam cupnya.
Di layar televisi kecil yang tergantung di sudut supermarket itu, seorang pembawa berita tengah menjelaskan sesuatu dengan latar belakang gambar bangunan yang hangus, dikelilingi garis polisi dan mobil pemadam kebakaran yang masih terparkir di sana.
Kemudian nama jalan itu disebutkan.
Cup mi di tangan Darel terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai, kuahnya berhamburan ke mana-mana.
"Mas! Mas, kenapa?" Seru pramuniaga dari balik meja kasir.
Darel tidak menjawab. Lelaki itu sudah lebih dulu berlari keluar, meninggalkan ransel, meninggalkan cup mi yang tumpah, meninggalkan segalanya.
***
"Angkat, Kak. Angkat teleponnya."
Darel berlari sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Nada sambung itu berbunyi sampai habis, lalu terputus.
Ia menekan nama yang sama lagi.
Berdering. Terputus.
Lagi.
Berdering. Terputus.
"Kak Brian, kumohon…"
Kakinya terus melangkah. Jaketnya berkibar. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menoleh, tapi Darel tidak peduli sedikit pun.
Ia mencegat taksi pertama yang lewat.
"Pak, ke pom bensin di jalan sebelah utara! Cepat, Pak!"
"Yang kebakaran itu, Mas?"
"IYA, PAK! CEPAT!"
Sang supir sempat terkesiap, lalu segera menginjak pedalnya lebih dalam.
Sepanjang perjalanan, Darel terus menekan nama yang sama di layar ponselnya. Berulang-ulang, sampai layar itu sendiri yang akhirnya memberitahunya bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi.
***
Bau hangus itu sudah tercium bahkan sebelum taksi berhenti.
Darel turun, dan yang ia lihat pertama kali adalah kanopi pom bensin yang sudah melengkung ke bawah, hitam dan meleleh di beberapa bagian. Bangunan kecil di sisinya, yang biasanya menjadi tempat para petugas beristirahat, kini tinggal rangka.
Ada garis polisi. Ada dua mobil pemadam yang masih tersisa. Ada beberapa petugas yang memotret sisa-sisa kebakaran itu dari berbagai sudut.
Dan ada aroma yang tidak pernah bisa Darel lupakan seumur hidupnya.
"Permisi." Darel menghampiri seorang lelaki berseragam yang berdiri di dekat garis polisi, seragam yang sama persis dengan yang biasa dipakai Brian. "Permisi, Pak. Apa Anda bekerja di sini?"
Lelaki itu menoleh. Wajahnya kotor oleh jelaga, matanya merah.
"Iya, kenapa?"
"Saya mencari rekan saya. Namanya Brian. Dia bertugas shift malam."
Dan detik itu juga, seluruh warna hilang dari wajah lelaki itu.
"Kau… kau siapanya?"
"Adiknya." Jawab Darel. "Saya adiknya."
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya, mengusap matanya dengan punggung tangan yang juga kotor, dan menarik napas beberapa kali sebelum akhirnya sanggup bicara.
"Dia yang menyuruh kami semua lari."
Darel merasa lantai di bawah kakinya bergeser.
"Apa?"
"Api itu mulai dari tangki. Kami semua tidak sadar sampai sudah terlambat." Suara lelaki itu bergetar. "Ada dua orang yang masih di dalam bangunan. Dia yang masuk lagi untuk menarik mereka keluar."
"Lalu?"
"Dua orang itu selamat."
Darel menggelengkan kepalanya. Perlahan mula-mula, lalu semakin cepat.
"Lalu?" Ulangnya. "Lalu bagaimana dengan Kak Brian?"
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Dan itu sudah cukup.
***
Darel tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke rumah sakit.
Ia hanya ingat lorong yang terlalu panjang, lantai yang terlalu mengilap, dan seorang petugas yang bertanya apakah ia sanggup melakukan identifikasi.
Ia mengangguk.
Kemudian pintu itu terbuka, dan Darel melangkah masuk sendirian.
Tidak ada Brian yang menahan bahunya dan berkata biar aku saja. Tidak ada Nevan yang berdiri memunggungi semuanya di luar sana. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya Darel.
Lelaki termuda di antara mereka bertujuh, yang dulu selalu dilindungi, yang dulu bahkan tidak diizinkan menyalakan kompor sendirian, kini berdiri sendirian di sebuah ruangan dingin dengan sehelai kain putih di hadapannya.
"Kak," ucapnya, dengan suara yang nyaris tidak keluar. "Kau selalu bilang semuanya akan baik-baik saja."
Tangannya terangkat, meraih ujung kain itu.
"Kau bohong, Kak."
***
Ketika Darel keluar dari ruangan itu, ada dua orang yang berdiri menunggunya di koridor.
Keduanya mengenakan seragam yang sama dengan yang tadi dilihat Darel di lokasi kebakaran. Yang satu lengan kirinya diperban sampai ke siku, yang satunya lagi wajahnya masih menyisakan noda jelaga di sekitar pelipis.
Keduanya langsung membungkukkan badan begitu melihat Darel.
"Maaf." Ucap yang berperban. "Maaf, Mas."
Darel hanya berdiri di sana, tidak mengerti.
"Kami yang ada di dalam." Lanjut lelaki itu. "Kami berdua yang ditarik keluar."
Napas Darel tercekat.
"Kami sudah tidak bisa melihat apa-apa waktu itu. Asapnya terlalu tebal." Suaranya bergetar. "Lalu ada tangan yang menarik kerah baju saya dari belakang. Saya bahkan tidak tahu siapa, sampai saya sudah berada di luar."
Lelaki yang satunya menundukkan kepalanya semakin dalam.
"Dia sempat berkata sesuatu, Mas."
Darel mengangkat wajahnya. "Apa katanya?"
"Dia bilang, masih ada satu lagi di dalam." Jawab lelaki itu. "Padahal tidak ada. Kami sudah keluar semua."
Darel merasakan seluruh tubuhnya mendingin.
"Kami sudah berteriak. Kami bilang sudah tidak ada siapa-siapa lagi di dalam." Lanjutnya, dan matanya sudah basah. "Tapi dia tetap masuk lagi."
Untuk beberapa detik yang terasa terlalu panjang, tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang bicara.
Kemudian Darel menyimpulkan senyum. Senyum yang tipis dan lelah, tapi tetap senyum.
"Memang begitu orangnya." Ucapnya. "Dia selalu berpikir masih ada satu lagi yang tertinggal."
***
Rumah tiga lantai itu gelap ketika Darel akhirnya pulang, larut malam.
Ia tidak menyalakan lampu. Ia hanya berdiri di ruang tengah, dengan tangan yang masih menggenggam kunci, memandangi ruangan yang seluruh isinya masih persis seperti pagi tadi.
Di atas meja makan ada secangkir kopi yang tinggal separuh, sudah dingin, milik Brian.
Di sandaran kursi ada handuk kecil yang tergantung, milik Brian.
Di dekat pintu ada sepasang sepatu kerja, milik Brian.
Semuanya masih di sini. Hanya orangnya yang tidak.
Darel menaiki anak tangga dengan langkah yang berat. Kakinya membawanya melewati kamar Nevan, melewati kamar Arvin, melewati kamar Aksa dengan kertas bergambar kucing yang tulisannya sudah nyaris hilang, melewati kamar Mirza yang sudah berbulan-bulan kosong.
Lalu ia berhenti di depan kamar Brian.
Pintunya tidak terkunci.
Darel meraih gagangnya, memutarnya perlahan, lalu mendorongnya sampai terbuka.
Kamar itu rapi. Terlalu rapi. Ranjangnya sudah dibereskan, seprainya sudah diratakan sampai ke sudut-sudutnya, dan di atas meja kecil di sisi ranjang ada tumpukan berkas perusahaan yang sudah disusun rapi dengan sebuah catatan kecil di atasnya.
Darel meraih catatan itu.
"Untuk diserahkan ke kantor. Sudah kutandatangani semuanya. — B"
Lelaki itu terduduk di lantai kamar Brian, masih dengan kertas kecil itu di tangannya.
"Kenapa kau selalu membereskan semuanya sebelum pergi." Lirihnya. "Kenapa kalian semua selalu begitu."
Dan di ruangan yang gelap itu, Darel akhirnya menangis. Sendirian, tanpa ada satu orang pun yang mendengar, tanpa ada satu tangan pun yang menepuk punggungnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, benar-benar sendirian.
***
Keesokan harinya, Darel tetap bangun ketika alarm ponselnya berbunyi.
Ia tetap mandi. Ia tetap mengenakan pakaian. Ia tetap keluar rumah.
Namun kali ini kakinya tidak membawanya ke kampus.
Darel berdiri di depan pintu sebuah kamar rumah sakit, memandangi jendela kecil di sisinya. Di dalam sana, seorang lelaki dengan rambut ikal cokelat yang sudah gondrong tengah duduk bersandar di ranjangnya, menatap ke arah jendela dengan pandangan kosong.
Mirza.
Darel meletakkan telapak tangannya di permukaan pintu itu.
Ia sudah menyiapkan kalimatnya sejak semalam. Sudah ia susun, sudah ia hafalkan, sudah ia ulang berkali-kali di dalam kepala.
Kak Mirza, aku punya kabar.
Kak Mirza, semalam terjadi kebakaran.
Kak Mirza, sekarang tinggal kita berdua.
Namun begitu pintu itu terbuka dan Mirza menoleh ke arahnya, seluruh kalimat yang sudah tersusun rapi itu hancur seketika.
"Darel?" Panggil Mirza. Suaranya masih serak, sisa dari berbulan-bulan tidak digunakan. "Kenapa kau datang sepagi ini? Bukankah kau ada kuliah?"
Darel menyimpulkan senyum. Senyum manis dengan gigi kelinci yang sudah ia latih sejak kecil, senyum yang dulu selalu berhasil membuat semua orang di panti asuhan itu berhenti bertanya.
"Aku bolos, Kak."
"Anak nakal."
"Sekali-kali tidak apa-apa."
Darel menarik kursi, menempatkan diri di sisi ranjang Mirza, lalu mengeluarkan sekotak s**u dan sebungkus roti dari dalam ranselnya.
"Ini untukmu. Kata suster kau harus banyak makan."
Mirza menerimanya, memandangi kotak itu sebentar, lalu menatap Darel lekat-lekat.
"Darel."
"Ya, Kak?"
"Matamu bengkak."
Darel tertawa, tawa yang terdengar terlalu ringan untuk pagi seperti ini.
"Semalam aku begadang mengerjakan tugas."
Mirza tidak bertanya lebih jauh. Lelaki itu hanya menundukkan kepalanya, membuka kotak s**u itu perlahan, dan tidak lagi mengatakan apa-apa.
Sebab entah bagaimana, ada sesuatu di dalam dadanya yang sudah lebih dulu tahu.