Pekatnya langit juga udara dingin yang menusuk sama sekali tidak membuat Darel mengurungkan langkahnya.
Lelaki itu berjalan menyusuri jalan setapak di depan rumahnya, dengan ransel hitam di punggung dan jaket tebal yang kancingnya bahkan tidak ia pasang satu pun. Napasnya membentuk kepulan putih tiap kali ia mengembuskannya.
Ia tidak menoleh sekali pun ke belakang.
Sebab kalau ia menoleh, ia tahu ia akan melihat rumah tiga lantai itu berdiri di sana dengan seluruh lampunya yang padam, dan Darel tidak yakin ia masih punya cukup tenaga untuk melanjutkan langkah setelah melihatnya.
***
Stasiun malam itu nyaris kosong.
Beberapa orang duduk berjauhan di kursi tunggu, sebagian tertidur, sebagian lagi menatap layar ponsel masing-masing. Seorang petugas kebersihan mendorong alat pel di sepanjang peron.
Darel berdiri di depan loket.
"Satu tiket." Ucapnya.
"Tujuan?"
"Omelas."
Petugas di balik loket itu mengangkat wajahnya, mengerutkan kening.
"Omelas?" Ulangnya. "Ke sana? Sekarang?"
"Iya."
"Mas, kereta terakhir ke arah sana berangkat sepuluh menit lagi. Dan kalau boleh saya sarankan, sebaiknya jangan malam-malam. Di sana tidak ada apa-apa."
Darel menyimpulkan senyum tipis.
"Justru itu."
Petugas itu menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahunya dan mencetak selembar tiket.
"Semoga selamat sampai tujuan."
Kalimat itu membuat langkah Darel sempat terhenti.
Hai siput. Jalanmu lamban sekali, kalau begitu aku masuk duluan, ya. Hati-hati di jalan dan semoga kau selamat sampai tujuan.
Dua tahun lalu, di halaman sebuah penginapan tepi danau, ia pernah mengucapkan kalimat yang sama persis kepada seekor siput.
"Terima kasih." Ucap Darel.
***
Gerbong itu hampir kosong.
Darel menempati kursi di dekat jendela, meletakkan ranselnya di kursi sebelah, lalu menyandarkan keningnya pada kaca yang dingin.
Di luar, gelap. Hanya sesekali ada lampu jalan yang melintas cepat, atau cahaya rumah penduduk yang jauh di kejauhan.
Dua tahun lalu, gerbong ini penuh.
Deon duduk paling ujung sambil terus menghitung barang bawaan mereka dan mengomel karena ada yang tertinggal. Brian duduk di sebelahnya, pura-pura mendengarkan. Arvin dan Nevan bertukar tempat sampai lima kali karena berebut kursi dekat jendela. Mirza tertidur dengan mulut terbuka sampai difoto diam-diam oleh Aksa. Dan Aksa sendiri, lelaki itu memasang headphone sejak menit pertama dan tidak melepasnya sampai tujuan.
Darel menoleh ke kursi-kursi kosong di sekelilingnya.
"Kalian bising sekali waktu itu." Gumamnya.
Kemudian ia memejamkan matanya, membiarkan getaran kereta itu menggantikan suara yang tidak akan pernah kembali.
***
Darel turun di sebuah stasiun kecil menjelang dini hari.
Angin di sana jauh lebih dingin dari yang ia perkirakan. Sisa-sisa salju masih menempel di sudut-sudut peron, dan lampu-lampunya berkedip lemah, seolah bisa padam kapan saja.
Ia berjalan keluar dari stasiun.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Sebuah bus tua terparkir di depan, dengan mesin yang menyala dan pintu yang sudah terbuka lebar, seakan memang sedari tadi menunggu seseorang.
Darel melangkah masuk.
"Selamat datang kembali!" Sapa sang supir dengan senyum ramah.
Langkah Darel terhenti.
"Kembali?"
"Ah, maaf. Kebiasaan." Kata supir itu sambil terkekeh. "Saya menyapa semua penumpang seperti itu."
Darel menatap wajah lelaki itu lekat-lekat.
Kumis tipis. Topi yang miring ke kiri. Gigi depan yang sedikit renggang.
Dan sebuah tahi lalat kecil di bawah mata kanan.
Darel mengenal wajah itu. Dua tahun lalu, supir yang sama membawa mereka bertujuh menuju tempat pacuan kuda, dan Deon sempat mengomelinya karena bus itu berjalan terlalu lambat.
Dua tahun. Dan tidak ada satu pun garis di wajah lelaki itu yang bertambah.
"Mau ke mana, Mas?" Tanya sang supir.
Darel menelan ludahnya.
"Ke pusat kota."
"Duduklah yang nyaman."
***
Omelas tidak berubah sedikit pun.
Itulah yang membuat bulu kuduk Darel meremang sepanjang perjalanan.
Lampu-lampu kecil masih digantung berjajar di atas jalan pusat kota, persis di posisi yang sama. Toko yang menjual cat kaleng masih ada di sudut yang sama. Bahkan papan nama yang dua tahun lalu sudah miring dan hampir jatuh itu, sampai sekarang masih miring dengan kemiringan yang sama.
Darel turun dari bus di perhentian yang sama seperti dulu.
"Selamat pagi!"
Seorang wanita paruh baya menyapanya dari seberang jalan sambil melambaikan tangan.
Darel membeku.
Wanita itu. Rambut yang disanggul. Kain selendang berwarna hijau lumut. Senyum yang begitu ramah.
Wanita yang dulu menyapa Arvin di halaman penginapan, yang mengatakan bahwa rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari sana, yang mengundang Arvin untuk berkunjung kapan saja.
"Apa kau sedang berlibur di sini?" Tanya wanita itu.
Kalimat yang sama.
Persis kalimat yang sama.
"Bu," ucap Darel dengan suara yang bergetar. "Apa Ibu ingat saya?"
Wanita itu menyimpulkan senyum. "Semoga liburanmu menyenangkan, ya!"
Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, dan menghilang di tikungan.
Darel berdiri di tengah jalan itu, sendirian, dengan napas yang memburu.
"Kalian ini apa…" Lirihnya.
***
Ada sebuah supermarket kecil di ujung jalan.
Darel masuk ke sana, bukan karena lapar, melainkan karena ia ingin menguji sesuatu.
"Selamat pagi!" Sapa seorang pramuniaga dari balik meja kasir.
Darel tidak menjawab. Ia berjalan lurus menuju lemari pendingin, membukanya, dan mengambil sekotak s**u rasa pisang.
Kemudian ia meletakkannya di atas meja kasir.
"Satu ini saja?"
"Iya."
Pramuniaga itu memindai barcode-nya, lalu menyebutkan jumlah yang harus dibayar.
Darel menyerahkan selembar uang kertas.
Dan ketika pramuniaga itu mengulurkan tangan untuk menerimanya, Darel dengan sengaja menahan uang tersebut, sehingga jemari mereka bersentuhan.
Dingin.
Bukan dingin seperti tangan orang yang kedinginan. Bukan pula dingin seperti tangan orang yang baru memegang es.
Ini dingin yang sama sekali tidak punya suhu. Seperti menyentuh permukaan meja.
Darel mengangkat wajahnya, menatap tepat ke dalam mata pramuniaga itu.
Sang pramuniaga tetap tersenyum.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
"Tidak." Jawab Darel sambil melepaskan uang tersebut. "Tidak ada."
"Terima kasih! Silakan datang kembali!"
Darel melangkah keluar dari supermarket itu, dan begitu pintunya tertutup di belakangnya, ia berhenti di trotoar untuk mengatur napasnya.
Ia menatap kotak s**u di tangannya.
Tanggal kedaluwarsa yang tercetak di sisi kotak itu sudah lewat lebih dari dua tahun.
Darel tertawa. Tawa pendek dan pahit.
"Bahkan barang dagangan kalian pun bohong."
Kemudian ia meletakkan kotak itu di atas pagar besi di pinggir jalan, dan melanjutkan langkahnya.
***
Kakinya membawanya ke tepian danau.
Penginapan itu masih berdiri di sana. Catnya tidak mengelupas, halamannya tidak ditumbuhi rumput liar, bahkan kursi lipat tempat Brian dulu biasa membaca buku masih terletak di tepi danau dengan posisi yang sama persis.
Darel melangkah mendekat, mengulurkan tangannya, menyentuh sandaran kursi itu.
Dingin. Terlalu dingin untuk sesuatu yang katanya masih dipakai.
Ia mengedarkan pandangannya. Meja tenis di sisi bangunan. Samsak yang tergantung. Selang biru yang tergulung di dekat keran halaman samping.
"Kak Mirza dan aku pernah menyiram Kak Arvin dengan selang itu." Ucap Darel pelan. "Kak Arvin marah-marah, tapi dia tertawa."
Tidak ada yang menjawab.
Darel melangkah ke pintu depan, meraih gagangnya, dan ternyata tidak terkunci.
Di dalam, semuanya masih sama.
Tiga kamar. Ruang tengah dengan karpet yang dulu ditiduri Darel sampai membuat Deon menepuk-nepuk b****g-nya sambil berteriak. Dapur tempat Deon mengenakan celemek merah muda dan mengomeli siapa saja.
Dan di atas meja dapur itu, ada sebuah piring kosong.
Darel mendekatinya. Di permukaannya masih tersisa beberapa butir garam.
Kerak nasi.
Lelaki itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan tubuhnya perlahan merosot sampai terduduk di lantai dapur.
"Kalian benar-benar mempermainkan kami sejak awal, ya." Katanya. "Bahkan sampai sekarang."
***
Darel menghabiskan sisa pagi itu di dalam penginapan, duduk di lantai dapur tanpa bergerak sedikit pun.
Ketika akhirnya ia bangkit, matahari sudah berada di titik tertingginya.
Lelaki itu memungut ranselnya, menyampirkannya di satu bahu, dan melangkah keluar tanpa menutup pintu.
Kakinya membawanya kembali ke pusat kota, melewati jalan yang sama, melewati orang-orang yang menyapanya dengan kalimat-kalimat yang terlalu sopan dan terlalu hafal.
Sampai akhirnya, langkah itu berhenti.
Di hadapannya berdiri sebuah bangunan bergaya klasik, dengan pilar-pilar tinggi yang mulai retak, dan tulisan pada bagian depannya yang sudah pudar dimakan usia.
Omelas.
Darel menatapnya lama sekali.
Dua tahun lalu, ia berdiri di tempat yang sama persis, bersama enam orang lainnya, dengan Brian yang bersemangat menjelaskan bahwa tempat ini pasti menyimpan banyak benda bersejarah.
Sekarang tinggal dirinya seorang.
"Baiklah." Ucap Darel sambil menarik napas dalam-dalam.
Lalu ia melangkah masuk.