"Menurut medis, hal buruk akan terjadi saat proses persalinan." Lanjut Black Walker. "Salah satu dari mereka tidak akan selamat. Itulah yang dikatakan para dokter kepada papamu, berkali-kali, sampai lelaki itu tidak bisa lagi menahannya."
Deon berdiri di tengah ruangan itu tanpa bergerak sedikit pun.
"Lalu?"
"Lalu ia datang kepadaku." Sosok itu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Sama seperti semua orang yang datang kepadaku. Dengan wajah yang basah, dengan lutut yang menyentuh lantai, dan dengan kalimat yang sama persis. Ambil apa saja dariku, asal jangan mereka."
Deon mengepalkan kedua tangannya.
"Aku bertanya kepadanya, siapa yang ingin kau selamatkan?" Lanjut Black Walker. "Dan lelaki itu menjawab, keduanya."
"Keduanya…"
"Manusia selalu menjawab begitu." Ujarnya. "Padahal aku sudah menjelaskan sejak awal bahwa yang bisa kuberikan hanya satu."
Deon merasakan sesuatu yang dingin merambat naik dari ujung kakinya.
"Jadi Papa memilih." Ucapnya.
"Tidak."
"Apa?"
"Papamu tidak pernah bisa memilih." Kata Black Walker. "Sampai malam terakhir pun ia tidak sanggup menyebutkan satu nama. Maka aku yang menyelesaikannya untuknya."
Deon melangkah maju.
"Kau membunuh Mamaku."
"Aku mengosongkan tempat."
"KAU MEMBUNUH MAMAKU!"
Suaranya menggema memantul ke seluruh dinding ruangan itu. Api di dalam tungku perapian sempat meliuk hebat, lalu kembali tenang seperti semula.
Black Walker sama sekali tidak bergerak dari duduknya.
"Kalau aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah lahir." Ujarnya. "Kau menuntut nyawa ibumu kepadaku, padahal seluruh hidupmu dibangun di atas ketiadaannya. Apa kau tidak merasa itu lucu?"
Deon tidak menjawab.
Lelaki itu mundur selangkah, lalu terduduk di lantai marmer yang dingin.
Dua puluh delapan tahun.
Selama dua puluh delapan tahun, ia hidup dengan satu kalimat yang diulang-ulang papanya setiap kali ia bertanya. Mamamu meninggal saat melahirkanmu, Deon. Jangan tanya lagi.
Dan setiap kali kalimat itu diucapkan, Deon selalu merasa ada sesuatu yang tidak beres pada raut wajah papanya. Sesuatu yang bukan kesedihan. Sesuatu yang jauh lebih menyerupai rasa bersalah.
Sekarang ia tahu kenapa.
"Papa tahu." Lirih Deon. "Papa tahu setiap kali dia menatapku, dia sedang menatap alasan kenapa Mama tidak ada."
***
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara di ruangan itu.
Kemudian Deon mengangkat wajahnya.
"Kalau begitu jelaskan yang ini." Katanya. "Kenapa aku hidup lagi?"
"Kau sudah tahu jawabannya."
"Aku ingin mendengarnya darimu."
Black Walker bangkit dari sofa, berjalan menuju rak buku di sisi kanan ruangan, lalu menarik sebuah buku bersampul merah dari sana.
Buku yang sama.
"Dua tahun lalu, tujuh anak datang ke kota ini." Ujarnya sambil membolak-balik halaman buku itu. "Salah satunya membawa pulang benda ini, membacanya, dan menyerahkannya kepada temannya. Lalu mereka menyerahkan salah satu dari mereka sendiri kepadaku."
"Aku tahu bagian itu."
"Sabarlah." Sosok itu menutup buku tersebut. "Setelah itu, salah satu dari mereka tidak berhenti mencari. Ia mencari selama dua tahun. Ia menyewa sebuah kamar hanya untuk bisa bekerja tanpa diganggu siapa pun, ia menjual setiap lagu yang ia buat, dan ia menyimpan seluruh hasilnya tanpa membelanjakan satu sen pun untuk dirinya sendiri."
Deon menutup matanya.
"Aksa."
"Ia menemukan perantaraku, lalu menawar." Lanjut Black Walker. "Aku katakan padanya bahwa apa yang ia minta itu tidak dijual dengan uang. Ia menjawab bahwa ia tidak punya apa-apa lagi selain itu. Maka kukatakan padanya harga yang sebenarnya."
"Harga apa?"
"Enam tempat."
Deon membuka matanya perlahan.
"Enam…"
"Satu untuk setiap orang yang tersisa." Ujar Black Walker. "Aku menyebutkannya dengan sangat jelas, tanpa satu pun kalimat yang kusembunyikan. Dan anak itu tetap membayarnya."
Deon menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin. Aksa tidak akan pernah setuju untuk—"
"Ia bertanya satu hal sebelum menyetujuinya." Potong Black Walker. "Ia bertanya, apakah aku bisa memastikan bahwa yang kembali nanti tidak akan pernah tahu apa yang telah terjadi."
Deon membeku.
"Ia tidak ingin kau menanggung ini." Lanjut sosok itu. "Sayangnya, aku tidak pernah menjanjikan apa pun soal itu."
Deon menggigit bibir bawahnya sampai terasa perih.
"Enam tempat." Ulangnya. "Brian, Aksa, Arvin, Mirza, Nevan."
Ia berhenti.
"Itu lima."
"Benar."
"Lalu yang keenam?"
Black Walker meletakkan buku bersampul merah itu kembali ke raknya.
"Yang keenam adalah bagian yang paling lama kami perdebatkan." Jawabnya. "Aku menyebutkan namanya. Anak itu menolak."
Deon merasakan sesuatu yang dingin merambat naik dari punggungnya.
"Darel."
"Ia berkata bahwa nama itu tidak boleh masuk ke dalam daftar." Ujar Black Walker. "Aku katakan padanya bahwa kalau begitu, kesepakatan ini tidak akan cukup. Ia menjawab, kalau begitu ambil saja dua tempat dariku sendiri."
"Apa?"
"Ia menawarkan dirinya dua kali." Kata sosok itu. "Sesuatu yang tidak mungkin, dan ia sendiri tahu itu tidak mungkin. Tapi ia tetap mengatakannya, berulang-ulang, sampai aku bosan mendengarnya."
Deon menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Lalu bagaimana?"
"Aku menerima syaratnya."
"Kau melepaskan Darel?"
"Aku tidak mengambil napasnya." Ujar Black Walker. "Itu saja yang kujanjikan. Anak itu tidak pernah menyebutkan apa yang boleh dan tidak boleh kuambil selain itu."
Deon merasakan lantai di bawah kakinya bergeser.
"Apa yang kau ambil darinya?"
"Tempatnya." Jawab sosok itu dengan tenang. "Rumahnya, meja makannya, orang-orang yang mengenalnya, dan setiap suara yang dulu memanggil namanya dari lantai bawah. Aku kosongkan semuanya, satu persatu, sampai yang tersisa hanya dirinya seorang."
Deon menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kau membiarkannya hidup sendirian."
"Bukankah itu yang diminta?" Sosok itu memiringkan kepalanya sedikit. "Yang membayar hanya melarangku mengambil nyawanya. Ia lupa bahwa manusia punya banyak hal yang jauh lebih berharga daripada napasnya sendiri."
Deon terduduk kembali dengan tubuh yang gemetar.
"Aksa tidak mungkin memikirkan sampai sejauh itu."
"Tentu tidak." Jawab Black Walker. "Tidak ada yang pernah memikirkannya sampai sejauh itu. Itulah kenapa aku tidak pernah perlu berbohong kepada siapa pun."
***
Deon bangkit berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Kembalikan mereka."
"Tidak bisa."
"KEMBALIKAN MEREKA!"
"Kau berteriak pada orang yang salah." Ujar Black Walker dengan nada yang sama sekali tidak berubah. "Aku tidak mengambil mereka. Aku hanya menerima pembayaran, dan pembayaran itu diserahkan dengan sukarela."
"Aksa tidak tahu apa yang dia lakukan!"
"Ia tahu persis apa yang ia lakukan."
Black Walker melangkah mendekat.
"Ia menghitungnya seperti ia menghitung ketukan pada birama." Katanya. "Ia tahu bahwa Arvin sudah menelan obat terlalu banyak setiap harinya, dan tinggal menunggu waktu. Ia tahu bahwa Mirza sudah berdiri di tepi jembatan itu di dalam kepalanya berkali-kali sebelum benar-benar melakukannya. Ia tahu bahwa Nevan sudah lama tidak punya alasan untuk bertahan. Ia tahu bahwa Brian akan berlari masuk ke dalam api demi siapa pun."
Sosok itu berhenti tepat di hadapan Deon.
"Dan ia tahu bahwa dirinya sendiri sudah lama berjalan di tengah jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri."
Deon merasakan air mata yang sudah tidak sanggup lagi ia bendung.
"Ia tidak membeli kematian mereka, Deon. Ia hanya menyerahkan sesuatu yang sudah nyaris jatuh." Ujar Black Walker. "Itulah kenapa harganya murah. Dan itulah yang membuatnya jauh lebih menyedihkan."
***
Deon terduduk kembali.
Kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri, dan bahunya bergetar hebat.
Ia teringat pagi-pagi di rumah tiga lantai itu. Suaranya sendiri yang berteriak dari dapur, memanggil satu persatu nama mereka. Mirza yang menjawab dengan malas. Arvin yang turun sambil meregangkan tubuh. Aksa yang datang paling akhir dengan mata yang belum terbuka. Nevan yang bertengkar dengan siapa saja. Brian yang menyeret Darel keluar dari kamarnya.
Ia teringat danau itu. Perahu kecil itu. Ikan yang tidak pernah sekali pun mau memakan umpannya.
Ia teringat wajah Darel di hari kelulusan, dan buket bunga yang salah makna itu.
"Aku tidak minta ini." Lirih Deon. "Aku tidak pernah minta dihidupkan lagi."
"Aku tahu." Jawab Black Walker. "Tidak ada yang pernah meminta untuk dihidupkan. Yang meminta selalu orang lain."
Deon mengangkat wajahnya, dengan mata yang merah dan basah.
"Kalau begitu batalkan."
"Kesepakatan tidak bisa dibatalkan."
"Kalau ditukar?"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, sosok berjubah hitam tersebut terdiam.
Deon melihatnya. Jeda itu terlalu lama untuk sesuatu yang seharusnya dijawab dengan tidak.
"Bisa, bukan?" Ucap Deon, dan suaranya mulai naik. "Kau bisa menukarnya."
"Aku tidak mengatakan itu."
"Kau juga tidak mengatakan tidak bisa."
Deon bangkit, mengusap wajahnya dengan lengan bajunya sendiri, lalu berdiri tegak menghadap sosok itu.
Untuk sesaat, ia bukan lagi seorang lelaki yang baru saja mengetahui bahwa ibunya mati untuk membayar kelahirannya, bukan pula seorang lelaki yang baru saja mengetahui bahwa enam sahabatnya mati untuk membayar kehidupannya.
Untuk sesaat, ia kembali menjadi Deon. Yang tertua. Yang selalu berteriak dari dapur. Yang selalu memastikan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang melewatkan makan siang.
"Katakan harganya." Ucapnya.
Black Walker menatapnya dari balik tudung jubahnya.
"Kau yakin ingin mendengarnya?"
"Katakan harganya."
Angin berembus dari ujung ruangan, membuat api di dalam tungku perapian itu padam seketika.
Dan dalam gelap yang tiba-tiba itu, terdengar jawabannya.