Ken melompati got tanpa melihat ke bawah.
Dia sudah menghitung got itu sore tadi, dan hitungannya benar. Sepatunya mendarat di aspal basah, sedikit tergelincir, lalu menemukan pegangan. Sembilan detik, persis seperti perkiraannya, dan dalam sembilan detik itu dia sudah melihat ke mana orang itu lari.
Bukan ke jalan besar. Ke gang samping.
Kesalahan, pikir Ken. Gang itu buntu.
Orang bodoh lari ke tempat terang karena terang terasa seperti keselamatan. Orang licik lari ke gelap karena gelap terasa seperti sembunyi. Yang lari ke gang samping rumah Husain adalah orang yang cuma diberi tahu jalan masuk, tapi tidak pernah diberi tahu jalan keluar.
Ken berbelok. Bau got, bau kain jemuran yang lupa diangkat, bau asap obat nyamuk dari salah satu rumah petak. Sepatunya menghantam genangan, air menyembur ke betisnya.
Di kepalanya, satu suara kecil terus mengulang hal yang sama sepanjang dua puluh dua langkah tadi.
Jangan pukul.
Ken tahu betul apa yang akan terjadi kalau dia memukul. Bukan karena dia takut berkelahi. Karena dia sudah membayangkan bentuk berita yang akan tersusun besok pagi: laki-laki dari luar keluarga memburu seseorang di gang, menghajar orang di dekat rumah Husain, dan tiba-tiba yang dibicarakan orang bukan lagi tangan di jendela, melainkan Ken Arashi yang tidak bisa mengendalikan diri.
Orang yang mengirim laki-laki di depannya ini pasti sudah memikirkan hal yang sama. Mungkin malah mengharapkannya.
Maka Ken berlari dengan tangan terbuka. Bukan mengepal.
Ada anjing menyalak dua rumah dari situ, disusul suara jendela dibanting seseorang yang marah karena tidurnya terganggu. Lalu semuanya kembali sepi, kecuali langkah kaki dua orang di semen basah.
Di depan, sosok itu berhenti mendadak.
Tembok setinggi tiga meter. Kawat di atasnya. Tidak ada pintu.
Sosok itu berbalik. Napasnya terdengar dari jarak lima meter, pendek-pendek, seperti orang yang tidak biasa berlari.
"Jangan mendekat," katanya. Suaranya bergetar. "Saya bawa—"
"Kamu tidak bawa apa-apa," kata Ken. "Barangmu jatuh di halaman tadi. Aku dengar bunyinya."
Sosok itu diam.
Ken berhenti tiga langkah di depannya, tidak lebih dekat. Napasnya sendiri berat, tapi dia menahannya supaya tidak terdengar. Di gang ini cuma ada satu lampu, di ujung, kuning dan berdebu. Cukup untuk melihat bentuk. Belum cukup untuk melihat wajah.
Lalu, mendadak, gang itu jadi terang.
Seluruh lampu taman rumah Husain menyala sekaligus. Yang di jalan setapak, yang di pagar, yang di sudut belakang yang bertahun-tahun tidak pernah dipakai. Cahaya menembus celah pagar besi dan jatuh ke gang dalam garis-garis panjang.
Ken menoleh sepersekian detik.
Di teras samping, di balik pagar, Rania duduk di kursi rodanya. Tangannya masih di kotak saklar induk yang menempel di dinding, setinggi pinggang, satu-satunya panel di rumah itu yang bisa dijangkau orang duduk. Wajahnya keras.
"Aku sudah bilang aku akan mendengar," teriaknya. "Terangnya cukup, Mas Ken?"
"Cukup," balas Ken.
Dan sekarang dia bisa melihat wajah orang itu.
Laki-laki, mungkin tiga puluhan. Kurus. Kaus oblong hitam yang kebesaran, celana kerja abu-abu, sandal jepit — sandal jepit, untuk memanjat pagar. Rambutnya basah menempel di dahi. Di jari telunjuk kanannya ada plester kotor yang sudah menghitam di pinggirnya.
Bukan wajah penjahat. Wajah orang yang capek.
Ken pernah melihat wajah seperti itu di antrean loket rumah sakit, di pintu belakang pasar sebelum subuh, di ruang tunggu kantor tempat orang menunggu dipanggil dan tidak berani duduk terlalu nyaman. Wajah orang yang seluruh hidupnya bergantung pada seseorang yang tidak pernah dia lihat.
Justru karena itu Ken tidak menurunkan kewaspadaannya. Orang yang tidak punya pilihan adalah alat yang paling murah, dan yang membelinya tahu itu.
"Duduk," kata Ken.
"Mas—"
"Duduk. Di situ. Aku tidak akan memukulmu kalau kamu duduk."
Laki-laki itu menurut. Dia merosot ke tembok, jatuh terduduk di semen basah, dan tiba-tiba mulai menggigil, meski subuh itu tidak terlalu dingin.
Langkah kaki datang dari mulut gang. Pak Adi, terengah, membawa senter besar dan sebatang kayu sapu.
"Mas Ken!"
"Aman, Pak. Dia duduk."
Pak Adi menyorotkan senter ke wajah orang itu. Laki-laki itu memicing dan mengangkat tangan menutupi mata.
"Turunkan senternya, Pak," kata Ken pelan. "Saya mau dia bicara, bukan buta."
Pak Adi menurunkan senter. Napasnya masih memburu. Dia mendekat, dan berhenti.
"Saya kenal kamu," katanya.
Laki-laki itu tidak menjawab.
"Kamu yang antar galon Rabu kemarin. Kamu yang tanya-tanya sama Mbok Iyah, kamar mana yang jendelanya menghadap taman."
Pak Adi mengangkat kayu sapu itu tanpa sadar. Ken menahan lengannya. Pelan. Tanpa menarik.
"Pak Adi. Kalau Bapak pukul dia, besok yang dilaporkan ke polisi Bapak, bukan dia. Bapak sudah ditegur dua kali. Yang ketiga, Bapak dipecat dan tidak ada lagi yang jaga di dalam rumah."
Pak Adi berdiri diam beberapa detik. Lalu tangannya turun. Kayu sapu itu jatuh ke semen dengan bunyi tumpul.
"Ya Allah," katanya, lebih ke dirinya sendiri.
Dari arah pagar terdengar suara Kalila.
"Ken."
Ken menoleh. Perempuan itu berdiri di balik jeruji, masih dengan kardigan abu-abu, kakinya cuma bersandal rumah. Rambutnya berantakan. Di belakangnya, Rania mendorong kursinya sendiri sampai ke tepi teras, dan Sutini berdiri memeluk sapu tanpa tahu harus berbuat apa dengan tangannya.
"Jangan keluar," kata Ken.
"Aku tidak keluar. Aku cuma mau lihat." Suara Kalila datar, tapi tangannya menggenggam jeruji sampai buku-buku jarinya putih. "Aku mau lihat wajahnya. Supaya kalau besok ada yang bilang aku mengarang, aku tahu aku tidak mengarang."
Laki-laki di tembok itu mengangkat kepala. Cahaya lampu taman jatuh penuh ke wajahnya, dan Kalila melihat sesuatu berubah di sana. Bukan takut. Pengenalan.
"Mbak Kalila," kata laki-laki itu.
Semua diam.
Angin lewat di gang. Daun mangga di halaman tetangga bergesek.
"Kamu tahu namaku," kata Kalila.
Laki-laki itu menutup mulutnya, terlambat. Matanya bergerak-gerak seperti mencari jalan keluar dari kalimat yang sudah telanjur keluar.
Ken berjongkok. Sekarang matanya sejajar dengan mata laki-laki itu.
"Maling tidak tahu nama pemilik rumah," katanya, suaranya pelan, hampir ramah. "Maling tahu di mana televisi. Tahu di mana motor. Kamu tidak bawa obeng, tidak bawa linggis, dan kamu naik pagar pakai sandal jepit. Kamu bahkan tidak melihat ke garasi, padahal mobil di sana lebih mahal daripada semua isi kamar itu."
"Saya—"
"Kamu langsung ke jendela kedua dari sudut." Ken menunjuk dengan dagu, tanpa memalingkan mata. "Dari dua belas jendela di sisi itu, kamu memilih satu. Dan kamu memilih yang benar."
Laki-laki itu menunduk. Bahunya turun.
"Siapa yang memberi tahu kamu kamar mana?" tanya Ken.
Diam.
"Siapa yang memberi tahu kamu jam berapa penjaga biasanya pindah ke belakang?"
Diam. Tapi kali ini diamnya berbeda. Diam yang menahan sesuatu.
Pak Adi menyorot ke tanah dekat kaki laki-laki itu. Sesuatu berkilat di sela rumput di balik pagar — benda logam pipih, panjang sejengkal, ujungnya dibengkokkan seperti kail. Bukan alat maling. Alat yang dibuat khusus untuk satu jenis kait jendela.
"Ini kail kunci," kata pak Adi, suaranya serak. "Ini dibikin sesuai model jendela rumah ini. Saya yang pasang jendela itu tahun dua ribu lima belas, Mas Ken. Kaitnya model lama. Tukang mana pun harus lihat dulu bentuknya baru bisa bikin ini."
Ken berdiri perlahan. Ada sesuatu yang dingin turun di punggungnya, dan itu bukan karena hujan tadi.
Artinya ada orang yang masuk ke halaman rumah ini, siang hari, dengan izin, dan mengukur jendela kamar Kalila.
Bukan mengintip dari luar pagar. Masuk. Berdiri di rumput itu, mungkin sambil mengobrol dengan Mbok Iyah, mungkin sambil menerima segelas teh, lalu pergi membawa satu ukuran kecil di kepalanya.
Kalila mendengar kalimat "mengukur jendela" dan merasakan sesuatu yang aneh: tubuhnya justru berhenti gemetar.
Selama tiga bulan terakhir dia dipaksa hidup di dalam kata mungkin. Mungkin dia cuma capek. Mungkin dia terlalu memikirkan. Mungkin pandangan itu tidak berarti apa-apa, mungkin tangan yang menyentuh punggungnya di lift itu tidak sengaja, mungkin telepon jam sebelas malam itu benar-benar soal pekerjaan. Kata mungkin itu seperti kabut. Kamu tidak bisa melawan kabut. Kamu cuma bisa tersesat di dalamnya sambil disuruh tenang.
Sekarang di rumput itu tergeletak sepotong besi.
Besi bisa dipegang. Besi punya ukuran. Besi tidak bisa bilang kamu terlalu perasa.
"Pak Adi," kata Kalila lewat jeruji, suaranya pelan tapi jelas, "jangan disentuh pakai tangan. Ambil pakai kantong plastik dari dapur, balik plastiknya."
Pak Adi menoleh, bingung sesaat, lalu mengangguk. "Baik, Non."
"Mas," kata laki-laki itu tiba-tiba. Suaranya kecil sekali. "Anak saya dua. Yang kecil masih di rumah sakit."
"Aku tidak bertanya tentang anakmu," kata Ken.
"Saya cuma disuruh buka jendelanya. Cuma buka. Tidak masuk. Sumpah, Mas, saya tidak disuruh masuk."
Kalila merasakan lantai gang itu miring lagi di bawah kakinya, walaupun dia berdiri di sisi lain pagar, di ubin yang rata.
Cuma buka jendelanya.
Berarti ada orang lain yang akan masuk lewat situ.
"Siapa," kata Kalila, dan suaranya keluar lebih keras dari yang dia niatkan. "Siapa yang menyuruh?"
Laki-laki itu mengangkat wajahnya. Bibirnya bergerak.
Lalu dari ujung gang terdengar bunyi mesin mobil dinyalakan. Cepat. Dekat. Lampu depan menyala sebentar, menyapu tembok, lalu mundur dan hilang di tikungan sebelum siapa pun sempat berlari ke sana.
Laki-laki itu memucat. Dan dia menutup mulut rapat-rapat.
Bersambung.