Maya memacu mobil menembus malam, tangannya basah oleh keringat di kemudi. Boneka porselen duduk di kursi penumpang. Ia tidak berani menyentuhnya, tidak berani membuangnya keluar jendela—entah kenapa ia yakin itu hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Jadi ia membiarkannya di sana, mata kaca biru itu memantulkan cahaya lampu jalan, seakan menikmati perjalanan.
Komplek Jalan Cendana sunyi saat ia tiba. Pukul tiga dini hari. Tapi di rumah Pak Reza—rumah Bilqis—lampu teras menyala, dan pintu depan terbuka lebar.
Firasat buruk menghantam Maya. Ia melompat keluar, lupa pada boneka, dan berlari ke rumah seberang.
"Pak Reza! Bu Lina!" serunya, mengetuk pintu yang sudah terbuka.
Bu Lina muncul dari dalam, wajahnya pucat pasi, rambutnya berantakan. Begitu melihat Maya, ekspresinya berubah menjadi campuran takut dan marah. "Kamu," desisnya. "Sejak kamu pindah ke rumah itu, semuanya jadi aneh. Bilqis... Bilqis tidak ada di kamarnya!"
Perut Maya melilit. "Apa maksud Ibu tidak ada?"
"Kami terbangun, tempat tidurnya kosong, jendela terbuka." Bu Lina mulai menangis. "Tapi pagar terkunci, pintu terkunci. Bagaimana dia keluar? Anak enam tahun!"
Pak Reza muncul dengan senter, wajahnya keras. "Aku sudah cari di halaman, di taman komplek. Tidak ada." Ia menatap Maya tajam. "Bilqis sering cerita soal 'teman baru' dari rumahmu. Kamu tahu sesuatu?"
Maya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bagaimana ia menjelaskan? Boneka berhantu, roh anak mati dari tahun 1923, segel dukun? Mereka akan mengira ia gila. Atau menyalahkannya.
"Aku ikut mencari," kata Maya akhirnya. "Sekarang."
Mereka menyebar. Maya, dengan senter pinjaman, menyusuri sisi komplek menuju rumah Nomor 17. Sebuah dorongan kuat—instingtual, mengerikan—menariknya ke sana. Kalau "teman baru" Bilqis tinggal di rumahnya, maka di sanalah Bilqis akan dibawa.
Pintu rumah Maya terbuka. Ia yakin menguncinya.
Ia masuk, senter berayun, menyorot lorong gelap. "Bilqis?" panggilnya. "Bilqis, kamu di sini?"
Suara kecil menjawab. Dari ruang kerja.
Nyanyian. Lagu Jawa kuno yang sama. Tapi kini dinyanyikan oleh dua suara—satu suara boneka yang tipis dan tua, dan satu lagi suara anak yang Maya kenali.
Bilqis.
Maya berlari ke ruang kerja dan membeku di ambang pintu.
Bilqis duduk di lantai, bersila, matanya setengah terpejam, bersenandung. Di pangkuannya, boneka porselen—yang seharusnya ada di mobil—duduk menghadapnya, seolah dua sahabat sedang bermain. Lilin-lilin kecil menyala melingkari mereka, padahal Maya tidak punya lilin di rumah. Di lantai kayu, dengan kapur atau abu, tergambar lingkaran dan simbol-simbol yang tidak Maya pahami.
"Bilqis!" Maya bergerak maju.
Bilqis membuka mata. Tapi yang menatap Maya bukan mata anak enam tahun. Mata itu kosong, hitam, tua. Dan saat anak itu bicara, suaranya bukan suaranya.
"Jangan ganggu," kata Bilqis dengan suara yang berlapis, seperti banyak suara berbicara sekaligus. "Aku hampir punya teman baru. Aku sudah lama sendiri."
Lilin-lilin berkobar tinggi.
"Sebentar lagi," lanjut suara itu, tersenyum melalui bibir Bilqis, "dia akan jadi aku, dan aku akan jadi bebas."