“Wieee tumben mau neraktir kami berdua, gaji lo nyolong garis finish duluan ya?” tuding salah satu temanku yang bernama Rina.
“Nggak ada, ini gue malah strees dan butuh di dengar. Dompet gue belum nembus bayar psikolog” jawabku lalu menandaskan minuman.
“Masa sih?, jadi sekertaris boss katanya gaji bakal dilipat gandakan. Tipu banget lo” tudingnya.
"mau sekertaris, asisten dan clenning servis kalo nggak cukup sebulan tetap aja blom gajian"
"asyik ya lo, bisa liat pemandangan yang indah" kelakarnya dengan senyum mengejek.
“Iya tapi lo nggak tahu aja tekanan pekerjaan yang gue lakukan. baru 1 minggu rasanya udah mau buat gue jadi debu” keluhku disertai renggekan di akhir kalimat.
“Udah sabar aja. Demi gaji yang nembus mencapai 20 juta perbulannya.” Ujar Linda dengan riang.
“Gajinya memang menggiurkan tapi coba deh sekali aja lo jadi gue, lo bakal tahu ….”ucapan ku seketika di cela Linda.
“Stop … stop … stop.” Katanya dengan tangan yang dibuat membentuk tanda silang di hadapan d**a.
“Makasih gaji tinggi buat lo aja. gue bisa hidup hemat demi ngindarin boss” sambung linda lagi.
Melihat respon linda seperti itu, aku hanya mendengus keras sedangkan Rina malah tersenyum miring melihat perdebatan antara kami.
Kini ada dua sosok wanita yang usianya sepantaran denganku tengah duduk dan menikmati minuman mereka. Yang paling jutek bernama Rina sedangkan yang paling cerewet bernama Linda. Kami bekerja di perusahaan yang sama tapi hanya berbeda difisi saja.
Biasanya jika hari minggu, aku akan memilih menjadi sosok yang seolah mati suri di atas tempat tidur tapi karena tekanan pekerjaan yang membuat stress kuluangkan waktu untuk meluapkan isi hati sebelum pria itu benar-benar menguras kewarasan.
Bossku adalah seorang pria yang cerdas, berwajah tampan, berbadan tinggi tegap tapi, jiwa perfecsionisnya sangat menyusahkan kami. Dia lulusan S1 di Oxford S2 pertama Oxford s2 kedua dari UC Berkeley s2 ketiga di LSE. Aku benar-benar tidak menggerti dengan dia yang suka menghabiskan seluruh masa mudanya untuk belajar.
Pria itu sudah berusia 35 tahun tapi sepertinya pria itu masih betah untuk sendiri. Ada kabar yang menyatakan jika boss kami tidak pernah menjalin hubungan bersama wanita sampai saat ini. setelah tersebarnya desas-desus tersebut, terciptalah rumor jika dia adalah pria penyuka sesama.
sampai saat ini, tiada ada fakta atau kejadian yang membenarkan kabar itu tapi semua orang percaya jika itu adalah kemungkinan terbesar terjadi sebab, boss kami seolah benar-benar antisipasi dengan mahkluk bernama wanita.
Dia terlalu pemilih, dia terlalu galak, sangat berambisi, perfecsionis dan yang paling menyebalkan adalah gangguan OCD nya. Dia menyukai hal-hal bersih, bewarna putih dan hampir seluruh isi ruangannya bewarna putih bersih. Setitik kotoran saja yang ada di hadapannya seolah titah kematian.
“Sumpah, kalian nggak lihat aja cara gue kerja harus ngimbangin si bobo boy kerja tahu nggak"
“siapa boboy??”
“si boss"sahutku enteng. "Gue manggil dia bobo boy.” Jelasku singkat walaupun gamang.
“bobo boy apaan?” Kata rina dengan pandangan menelisik tajam padaku.
“Bobo boy, kepanjangan dari Bos galak berbadan bagus serta p****t montok” Mendengar ucapanku, baru barulah tertawa.
“Gila panggilan lo ke dia. Emang b****g dia benar-benar montok?” tanya Linda yang sedari tadi
“Weisss pantas lo paling suka ngekorin dia dari belakang. Ternyata hahaha …” ujarnya terpotong lalu terbahak keras sambil menatapku dengan pandangan geli yang sangat jelas terlihat di wajahnya.
“Kampret lu. Kalo nggak di belakangnya gue mau dimana? Di pundaknya sambil nyanyi-nyanyi dan joget gitu?” Semprotku dan tidak lupa mencubit tangan Linda. Linda mendesis sakit tapi tawanya yang lebih dominan. Setelah menguasai dirinya linda lalu berkata
“Hahaha kagak tapi di sampingnya, terus ada suara musik untuk menyambut calon pengantin” katanya mulai membayangkan hal yang membuat bulu kudukku merinding.
Kuakui memang tampan, menawan, berkarakter tegas, pandai, punya bahu yang kokoh untuk bersandar tapi sikap dingin, kasar, licik adalah pertimbangan terbesarku untuk mundur lalu menjauh, bahkan sejauh mungkin darinya.
“Masalah apa di antara kalian?”
“Enak aja, gue nggak ada masalah sama tuh jadi-jadian, dianya aja yang bikin semuanya serba ribet” sanggahku sekaligus menyembur Linda yang bertanya tapi seolah menjadi pihak netral di antara aku dan pria yang aku maksud padahal aku ingin bercerita pada mereka karena butuh pembenaran.
“Ngeselin banget tau nggak dia.” Semprotku lagi dengan wajah di tekuk.
“Kenapa lagi sih?”
“Gagal paham gue. Gue udah hampir 5 kali revisi tapi dia nggak puas-puas juga. Duhhh rasanya gua mau tentang p****t balonnya biar kempes”
“Huss egh tau nggak, kata orang dulu, laki yang pantatnya montok kayaknya emang pilihannya cuma 2. kalo jadii dominan atau resefit” bisik linda sambil celingak-celingguk memperhatikan sekitar kami.
"jadi menurut lo, boss yang mana?"
"Dominanlah" balas Rina
“Husst ngawur “ bantahku tidak percaya.
“Kamu nih, di bilangin ngak percaya. Selama ini bos kemana-mana di ikuti siapa?” tanay linda yang ingin meyakinkan jika ucapannya itu adalah hal yang benar.
“Pak Romi” Jawabku santai.
“Pak Romi laki bukan” Tanyanya dengan senyum licik.
“Laki lagh, kecuali lo bedain ma lucinta lano gua ragu lagi” Semburku yang tidak mau menerima perkataan Linda dengan mudah.
“Hahahahahha lo ya mulutnya suka jujur banget”
“Hemmm” deheman seseorang yang menyela pembicaraanku dengan linda.
Terdengar sebuah suara yang sukses membuatku dan linda berbalik kearah sumber suara. Orang yang sedari tadi kami bicarakan ternyata berada tepat di belakang kami sembari bersidekap dan jangan lupakan wajah datarnya hingga tidak bisa ku tebak. Seketika dalam benakku berkata
“Ucapkan halo pada kemiskinan yang lebih menderita di banding sebelumnya!”
ke geep lagi gosipin dia, tuh rasanya mau minta di sembunyiin saja. Suasana kafe yang tadinya masih terasa cukup ramai seketika seolah menjadi kedap suara.
Ketika aku menoleh pada Linda, wajah linda malah sudah pucat fasih juga dibasahi keringat sedangkan pria itu masih memilih bersidekap dan menatap kami bertiga dengan wajah datarnya.
Aku ingin sekali berbasa-basi seolah kami tidak pernah mengucapkan itu tapi lidahku sangat keluh hingga aku lupa urutan alphabet yang sebenarnya ku hafal mati untuk menyusunnya menjadi beberapa kalimat.
Bibirku terus saja bungkam, pikiranku merutuk bahkan menyumpahi, tanpa ragu tangan meremas celana, tubuhku sedikit bergetar karena merasa terintimidasi oleh aura pria itu. Kupikir dia akan mengamuk pada kami bahkan memecat aku nyatanya, dia menarik tanganku lalu keluar dari café dan tidak lama setelahnya, kami sudah duduk nyaman di mobil yang mulai melaju membelah jalan.
Entah kemana supir melajukan mobilnya, tapi karena masih bergabung dengan kendaraan lain dan tetap berjalan di dalam keramaian, aku tidak terlalu khawatir jika pria itu dendam hingga berniat membunuhku.
Mobil terus melaju hingga ternyata kami berbelok memasuk area bandara. Ingin sekali rasanya aku bertanya tapi ku tahan sekuat tenaga karena pria itu memilih menyandarkan diri di kursi lalu menutup matanya.
Ketika mobil sudah memasuki bandara semakin dalam dan mobil berhenti pria itu baru membuka matanya. Si supir ternyata ikut turun dan membantu pria itu menggeluarkan koper. Ada dua koper yang di keluarkan si supir salah satu koper itu, seolah tidak asing bagi tapi aku memilih tetap saja diam.
Pria itu melirik kedua koper seolah memerintah untuk membawanya dan tidak lama setelahnya pria itu melangkahkan pergi. Si supir pun demikian, si sopir melajukan mobil bahkan sudah terlihat sangat jauh dari pandangan mata sedangkan aku hanya terdiam bodoh di sana bersama dua koper di sampingku.
Pria yang tadinya sudah melangkah jauh ternyata kembali lagi. dengan wajah marah dia menarik salah satu koper lalu tangan satunya lagi dia gunakan untuk menggenggam tanganku. Aku belum mengerti dengan situasi ini dan hanya membiarkan pria itu menuntun kakiku melangkah.
Kami terus melangkah hingga tiba-tiba dia menghentikan langkahnya hingga otomatis juga membuatku berhenti. Pria itu lalu menatapku intens setelah menengok di samping dan mengarahkan pandangan ke belakang, seolah barang yang dia cari akhirnya ketemu.
dia melihat koper satunya lagi yang tertinggal jauh di belakang sana. menyadari hal itu, wajahnya semakin marah dan setelah sekian lama terdiam, boss galakku akhirnya membuka mulut untuk bersuara. Dia berkata
“bawa kopermu sendiri dan ikuti saya” bentaknya lalu melangkah pergi begitu saja dari hadapanku.