Suara ayam bersahutan di pagi hari menandakan awal aktivitasku akan di mulai, memasak, membersihkan rumah dan sarapan lalu segera pergi bekerja. Perkenalkan aku syafira wijayanti, aku bekerja sudah hampir satu tahun di salah satu perusahaan terbesar di kota metropolitan ini, ya Dirgantara Company Itu lah tempatku bekerja, menjabat sebagai sekretaris tetapi belum pernah sekali pun aku bertemu dengan Bossku, yup, selalunya aku menyerahkan laporan kepada tangan kanan dari Bossku ini, penasaran ? Tentu, siapa yang tidak penasaran kalau satu tahun menjadi sekretaris tetapi tidak pernah bertemu langsung dengan sang Boss besar.
kriing,,, kriing,,, kriing
Dering handphone ku berbunyi, k*****a nama yang tertera, pak banyu, ah harus segera ku angkat siapa tau penting "selamat pagi pak banyu, ada yang bisa saya bantu ?" sapaku, "ehem, begini fira mulai hari ini Boss besar akan datang ke kantor dan akan mengambil alih semua urusan kantor, jadi kamu nanti kasih laporan langsung ke Pak Adrian ya fir ga usah ke saya lagi, karna saya di tugaskan ke perusahaan lain, mengerti fira ?" ucap pak banyu, "baik pak, saya segera berangkat agar bisa menyerahkan dokumen kemarin kepada pak Adrian langsung, terimakasih infonya pak Banyu".
Adrian Dirgantara, anak sulung dari pasangan Bapak Dimas Dirgantara dan Ibu Anne Dirgantara yang amat sangat perfeksionis dan sangat tepat waktu itu adalah Boss ku, 'kenapa si padahal hampir satu tahun ga pernah nongol di kantor sekarang ambil alih semuanya' gerutuku, segera ku lajukan motor matic berwarna biru muda dengan cepat agar tidak terlambat ke kantor, jarak rumah dan kantorku hanya 30 menit, sesampainya di kantor segera aku menaiki lift menuju lantai 5 dimana ruangan ku dan Boss besar berada. Bruk, tanpa sadar aku menabrak seorang pria saat hendak berlari keluar dari lift, "maaf, maafkan saya tak sengaja" kataku sambil membungkukkan badan "punya mata gak sih !? jalan liat yang bener dong mata tuh di pake buat liat kedepan jangan asal lari aja nabrak orang jadinya kan !" omel orang itu, 'hah ? cowo ? aduh, gimana ini, kalo yang aku tabrak nuntut gimana ? kalo minta ganti rugi gimana ?' batinku, "heh, orang ngomong tuh liat ke orangnya, angkat kepala mu liat ke saya!" bentaknya, reflek langsung ku angkat kepala ku dan menatap wajahnya, ya ampun ganteng banget, hidung mancung, alis tebal, mata bulat tegas, badan tinggi, putih, nikmat mana lagi yang kau dustakan, "HEH BUDEG!" teriak pria itu membuyarkan lamunanku, "a-anu, pak itu m-ma-maaf saya gak sengaja pak" saking terpesonanya aku tergagap dan merasa takut juga melihat matanya seakan ingin mengamuk, "siapa nama kamu?", "syafira pak, syafira wijayanti",
"oh jadi kamu sekretaris saya, ikut saya ke ruangan sekarang, saya tunggu 5 menit harus sudah ada, kalau 5 menit belum sampai saya kasih kamu hukuman!" tegasnya, ia pun pergi meninggalkan aku yang mematung disana, 'mati aku, ternyata itu Boss besar, habislah karierku'
***
tok tok tok
"masuk" jawabnya, "pak saya datang kesini ingin minta ma-", "mana dokumen yang banyu suruh revisi ? bawa kesini dan perlihatkan pada saya" potongnya, tanpa ba bi bu aku pun meng-iya-kan perintah Bossku dan segera mengambil dokumen untuk diserahkan kepada bossku.
"ini pak dokumennya sudah saya revisi semua" ucapku, hening memenuhi ruangan ini, senyap, namun seperti ada tekanan karna boss ku hanya diam dan membaca semua laporanku, "ba-bagaimana pak? apa ada kesalahan ?" tanyaku memecah keheningan, "ga ada, silahkan keluar" hah ? dari tadi gua diem disitu hampir sejam dan ga bilang apapun kalo gaada kesalahan ? wah, rese sih ini boss, kenapa juga sih ga pak Banyu aja boss nya, dia kan lebih humble, ramah daripada pak Adrian, batinku.
***
pukul 12.00, saatnya makan siang. seperti biasa aku makan siang di kantin bersama sitta, sahabatku di kantor ini, "eh, fir, enak nih ya jadi assistant pak Adrian, bisa cuci mata tiap hari" ledek sitta, "boro boro cuci mata ta, orangnya tuh cuek bebek, ga peduli ama gua, lu bayangin aja dia minta dokumen udah gua kasih trus hampir sejam dia diemin gua dan begitu gua tanya ada salah apa engga dia cuma jawab 'engga, silahkan keluar' apaan begitu ! harusnya begitu selese priksa langsung kek bilang ini mah engga, kesemutan ampe kaki gua nungguin jawaban takut salah" omel ku pada sitta, "hahaha, kasian banget sih sahabat aku, sabar aja ya sist, jadi enak mana boss asli apa tangan kanan boss nih ?", "ya enakan kerja sama pak Banyu lah, dia tuh ya, ganteng, humble, baik, ramah, tinggi, siapa juga yang ga betah kerja ama dia yakan?" tanyaku pada sitta, "hmm, bener sih, eh udah mau masuk nih, yuk buruan kerja lagi, semangat fira !" ucap sitta menyemangatiku, hanya senyuman sebagai balasan atas ucapan sitta padaku.
fiuh... "baru satu hari kerja sama boss besar, udah ada insiden nabrak lah, ini itu lah, pengen cepet pulang rebahan" gerutuku, "oh, jadi kamu mau pulang? pulang aja sanah, gaji kamu saya potong" tanpa sadar aku mengoceh disaat pak adrian masuk ke ruanganku tanpa ku ketahui, "anu, engga pak, saya ga mau pulang pak, eh, itu, anu.." jawabku kebingungan, "oh ya udah kamu lembur aja kalo ga mau pulang, siapin dokumen yang akan di bahas untuk meeting nanti, 10 menit saya tunggu di loby, kamu ikut meeting dan akan pulang malam".
***
selama perjalanan aku hanya diam memandang ke arah luar jendela, senang ? tentu tidak, gara gara boss dingin ini aku jadi harus lembur untuk presentasi meeting di anak cabangnya, Dirgantara company memiliki banyak anak cabang di seluruh indonesia, dan pusatnya di tempat ku bekerja. "kamu ga suka kerja sama saya ? atau kamu lebih suka kalau banyu itu boss kamu ?" tanya nya dengan wajah datar, "engga kok pak, kan saya baru ini kasih laporan kantor ke bapak langsung, biasanya ke pak banyu, jadi saya perlu beradaptasi pak" jawabku asal, "oh" jawabnya.
keheningan kembali hadir di perjalananku, makian dan hujatan ku lontarkan untuk boss ku dalam hati, rasa kesal semakin menjadi hingga tanpa sadar mobil sudah terparkir dan pak Adrian berjalan masuk ke dalam dan ku susul, 'cepet banget jalannya tunggu kek apa gimana, dasar boss dingin' gerutuku sambil berlari menghampiri boss ku.
Meeting berjalan lancar dan sesuai keinginan boss ku itu, jam 19.00 wib, hahhh lama banget pikirku, setelah berpisah aku mengikuti boss ku masuk ke mobilnya.
Masih dengan keheningan selama di perjalanan tiba tiba suara memecahkan keheningan krucuk,,, 'sial, malu banget gua perut pake bunyi' umpatku, "kita mampir makan dulu", "tapi pak udah malem, gapapa kok pak nanti saya bisa be-" , "ga usa protes, cacingmu aja yang protes kamu jangan" ketusnya, akhirnya aku pun hanya bisa menjawab iya dan kembali diam.
Sampai lah kami di sebuah restaurant mewah, ku lihat kanan kiri mengagumi seluruh ruangan itu, nuansa klasik nan nyaman terasa saat aku memasuki restaurant ini, "silahkan pesan", "anu, saya ga bisa pak soalnya mahal banget" ucapku setengah berbisik, "saya traktir, cepat pesan saya tidak suka buang buang waktu" ucapnya, akhirnya aku memesan beberapa menu untuk mengisi perutku yang keroncongan. selesai makan melesat lah kita ke kantor untuk mengambil motorku.
***
Aku segera membuka pintu dan merebahkan badanku diatas kasur kesayanganku, "hah, emang deh kasur itu tempat ternyaman" ucapku melepas penat, ku lirik hp ku dan k*****a sebuah pesan dari sitta
sitta : "fir, lembur ya? sabar ya, btw gua mau kasih tau lu doang nih, kalo pak banyu nge-chat gua ngajakin dinner minggu besok, seneng banget gua"
fira : "duh iya nih, baru balik gua. em, selamat ya, kayaknya ga bertepuk sebelah tangan nih yee"
sitta : "hehehe, doain aja deh, cepet cepet sonoh cari pacar betah amat jomblo neng :p"
fira : "sialan lo, gua ga bakal cari pacar, gua mau cari calon suami aja tar bila perlu langsung di lamar secepetnya deh, eh tapi jodohnya belom nongol, wkwk".
saking asyiknya chat dengan sitta aku lupa bahwa besok aku harus pulang dan menemani ibu ku arisan di rumah temannya, ku lirik jam menunjukkan pukul 22.00 wib, segera ku membersihkan diri dan langsung tidur melepas penat dan rasa kesal ku seharian tadi.
***
pukul 07.00 wib.
Ku rapihkan lagi pakaianku dan memastikan bahwa tidak ada yang memalukan meski hanya sekedar menemani ibuku, ku padukan rok panjang dengan kaos pendek hitam dan ku balut jaket levis berwarna biru muda dan hijab berwarna putih menyesuaikan dengan warna rok tak lupa sepatu flat coklat s**u melengkapi busanaku, make up tipis dan lengkap semua.
segera ku lajukan motorku menuju alamat yang ibuku berikan.
tok tok tok, assalamu'alaikum
"waalaikumsallam" jawab seorang ibu yang terlihat seumuran dengan ibu ku namun tampak sangat cantik dan terawat, "salam tante, saya syafira, emm mau ketemu ibu, ada tante?" tanyaku sopan, "oh, syafira anaknya jeung Risma ya? masuk masuk sayang, ibu kamu ada lagi ke toilet, duduk nak duduk" ajaknya dengan ramah dan ku jawab dengan senyuman dan anggukan.
"udah sampe fir? ga kabarin ibu kamu ini" tanya ibuku, "udah aku kabarin tapi ibu belum buka pesanku" ucapku merajuk.
Hari ini ibu ku memintaku menemani beliau untuk bertemu dengan sahabat lama nya, yup tante Anne, dan om Dimas dan Ayahku Brata adalah sahabat sejak SMP hingga Kuliah.
"eh, Ann, mana anak mu, katanya udah pulang ke indonesia, udah lama ga ketemu nih penasaran aku sama rupanya" ucap ibuku, "ada kok Ris, bentar lagi dia pulang, biasanya hari minggu dia jogging di taman depan komplek sebentar lagi pulang kok", "nah, itu pulang anaknya, Drian, kenalin temen mamah nak, tante Risma dan om Brata" imbuh tante Anne mengenalkan kedua orang tua ku dan disambut dengan hangat oleh anak tante Anne ini, "oh iya ini juga kenalin anaknya tante Risma, dia 3 tahun lebih muda dari kamu" ucap tante Anne mengenalkanku, begitu aku mengangkat wajahku betapa terkejutnya aku bahwa yang ku temui adalah.... BOSS BESAR KU !!!
"pak Adrian ?" tanyaku kaget, "loh, kalian kenal ?" tanya om Dimas, "dia sekretaris drian pah, ya udah om tante, semua saya tinggal masuk ke dalam ya, permisi" jawabnya berlalu meninggalkan kami.
"wah, ternyata sekretaris Adrian si Fira toh, si Banyu sering cerita loh kamu itu rajin anaknya, cekatan, tante suka deh" puji tante Anne, "ah tante, ga sampe segitunya kok, emmm Fira boleh jalan keluar ga tan? tadi Fira lihat ada taman di depan bagus banget" tanyaku, "boleh dong sayang" jawab tante Anne lembut, aku pun berpamitan untuk pergi ke taman.
Saat di taman, aku diam mencerna kejadian 2 hari ini dan betapa sulit untukku mempercayai bahwa Bossku adalah anak dari teman ibuku. "ck, sial" umpatku, tiba tiba sebuah suara mengagetkan ku "jadi kamu merasa sial kalo saya anak dari teman ibumu?" tanya nya dingin, "duh, pak, sekali aja jangan tiba tiba ngagetin saya begitu, selalu muncul ga ketauan tau tau ada di belakang udah kaya-" aku tak melanjutkan ucapanku, hampir aja aku keceplosan bilang kaya setan, ngomel kaya tadi aja rasanya bersalah banget, iya, bersalah begitu bodohnya semua yang di pikiranku keluar begitu aja, 'duh, karier ku' pikirnya, "kenapa ga di lanjutin ? kaya apa coba bilang ? bilang ayo, kenapa juga ga diterusin ? takut saya marah ? oh atau takut saya pecat ?" omelnya, belum sempat ku jawab ibuku memanggilku untuk segera masuk, fiuhhh,,, 'selamat aku berkat ibu manggil aku' batinku senang.
***
16.00 wib, aku sudah berada di rumah, beberes rumah, memasak, lalu lanjut nonton tv, aku tinggal sendiri karna aku yang memutuskan untuk mandiri dan tak ingin merepotkan orang tua ku lagi sejak aku kerja di perusahaan ini, ponselku berdering sebuah panggilan dari sitta, sahabatku.
"halo ta" sapaku, "fir, lu udah balik ? gua nginep di rumah lu ya bolehkan ?" tanya sita, tumben batinku, "oh dateng aja rumah gua selalu welcome buat lu seorang" rayuku, "ih, genit, cepet cari pacar sonoh jangan genitin gua mulu, dah ya gua otw kesono, gua bawain makanan kesukaan lu, bye baby"
"nyogok kok pake makanan, ckckck" ucapku.
tok tok tok
'cepet juga sampenya' fikirku, segera aku membukakan pintu "masuk sit" ajakku, "beib, lihat nih, makanan kesukaan lu semua" ucap sitta sumringah, ahh, nampaknya aku tau apa yang terjadi, sebuah berita bagus yang akan sitta ceritakan padaku nanti, batinku.
"lu mau bikin gua gendut hah ? kira kira dong lu, nyogok kok pake makanan, duit sini duit" ucapku meledek sitta, "yeee, gapapa lah udah lama kan lu ga makan sebanyak ini, karna gua sayang banget sama sahabat gua ini ya gua beliin semua kesukaan lu dong" oceh sitta, "fine, em, tumben lu nginep rumah gua, ada apa ?" tanyaku, "ah, ada lah pokoknya gua seneng banget hari ini, sini duduk nonton tv makan cemilan gua ceritain kebahagiaan gua ke lu", "yang tuan rumah siapa sih gua apa lu markonah" ledekku.
Aku pun mendengarkan seluruh cerita sitta, ahh, benar kan dugaanku bahwa sitta dan pak Banyu akhirnya berpacaran, bahagialah aku karena sahabatku tidak bertepuk sebelah tangan cintanya, mengingat 3 tahun lalu sitta sempat down berat karena di putusin orang yang sayang di sayang, Febrio Gunawan, mantan Sitta yang b******k, meninggalkan dan mencampakkan Sitta hanya karena karier keluarga Sitta hancur dan dia tidak bisa memanfaatkan Sitta sebagai ATM berjalan lagi, hal itu membuat sitta putus asa dan sempat ingin mengakhiri hidupnya. COWOK S****N, setiap kali aku mengingat kejadian itu amarah ku selalu menggebu gebu, ingin sekali rasanya ku tendang masa depan dia agar dia merasakan sakit yang sahabatku rasakan juga.
***
21.00 wib, Sitta sudah tertidur pulas memasuki alam mimpinya, sedangkan aku masih terjaga dengan berbagai fikiran yang ada di kepala ku, "sitta, kasian banget kamu, semoga kejadian dulu ga terulang lagi ke kamu ya ta" gumamku lirih, ku pandangi wajah sahabatku itu dengan rasa iba, simpatik, dan sedih, perasaan berkecamuk di dalam dadaku, 'itu lah kenapa aku belum siap kalau harus berpacaran, takut takut kalau kejadian sitta menimpaku apakah aku akan sekuat dan setegar sitta?', berbagai pertanyaan dan ketakutan berputar di otakku, hingga akhirnya aku terlelap dalam mimpiku.
***
"ra, tunggu ra, aku janji ga akan ninggalin kamu, inget itu, itu janji yang akan aku jaga sampai kita ketemu lagi nanti ra, kamu orang yang aku sayang yang kelak akan aku jadikan pendamping hidupku ra" ucap pria aneh itu.
kring,,, kring,,, kring,,,
Alarm membangunkanku dari mimpi aneh itu, 'siapa ya dia? kok dia tau aku? janji apa yang dia punya ke aku?' berbagai pertanyaan muncul di kepalaku, sudah sebulan ini aku selalu memimpikan mimpi yang sama, seorang pria dengan ucapan janji nya tetapi aku tak bisa melihat wajahnnya, "aneh" gumamku, "apanya yang aneh fir ? lu mimpi cowo itu lagi?" tanya sitta membuyarkan lamunanku, "iya nih penasaran gua siapa sih cowo itu, janji apa yang dia punya ke gua" ucapku
"mungkin karna lu kelamaan jomblo kali jadi begitu, udah ah ayo turun tuan putri makanan sudah siap" ledek sitta.
segera ku bersihkan diri lalu berganti pakaian dan makan bersama sitta, "gua ga bareng lu ya fir" ucap sitta, "lah, kan lu di rumah gua masa lu ke kantor jalan kaki si" omelku, "tenang dong, kan gua ada pacar, tadi mas Banyu ngabarin gua mau ngejemput kesini", "mas banyu mas banyu, serah deh, kalo gitu gua brangkat dulu, kunci rumah tar lu kasih aja ke gua" ucapku, "baik bos".
***
Di ruang kerja telephone berbunyi dan suara di sebrang menyuruhku datang ke ruangannya meminta laporan bulananku.
tok tok tok
"masuk" jawabnya, "ini data laporan bulan ini pak", "hm, ya baiklah saya akan priksa kamu boleh keluar", "baik pak" aku pun pergi meninggalkan ruangan itu 'tumben langsung di suruh pergi ga kaya kemaren nungguin ampe kesemutan' fikirku. Aku pun melanjutkan pekerjaanku, tok tok, suara pintu terbuka dan ku yakin itu adalah sitta, "nih, fir, kunci rumah lu" ucap sitta, "makan siang nanti lu sendiri ya gua mau makan sama mas banyu" imbuhnya, "tau dah yang punya pacar mah, gua ditinggalin sendiri, awas aja kalo nangis jangan ke gua ga bakal gua trima" ucapku ngambek
"gitu aja ngambek, kan nanti malem juga gua masih nginep tau, udah ya bye Fira yang sibuk" ledeknya.
12.00 wib, seperti biasa aku makan dikantin memesan menu mie ayam dan segelas es teh, namun bedanya aku sendiri tanpa sitta, sudahlah toh dia lagi senang hari ini, "boleh gabung ? meja lain penuh" tanyanya, "boleh pak silahkan", canggung rasanya makan dengan boss dingin ini, ingin sekali bertanya berbagai hal, kenapa seorang boss besar makan di kantin, tapi tak berani ku ungkapkan, hanya suara sendok yang menjadi musik di antara kecanggungan ini.
"Banyu sama sitta pacaran ?", "iya pak" jawabku singkat, "mending suruh udahan aja sebelum terlambat, saya permisi" ucapnya cuek
hampir aku keselek mendengar ucapan pak Adrian, "buset, ngelarang karyawannya pacaran ama tangan kanannya gitu, jangan jangan di kantor ada aturan di larang pacaran sesama pegawai lagi, oh atau pak adrian cemburu ?" celotehku, "udahlah ngapain amat peduli urusan dia".
aku pun melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai, "ini revisi, ini re-schedule, ini meeting dengan cakra group, ini-", "fira keruang saya sekarang", "baik pak", 'huh, apaan si, dateng dateng ga ketok ga apa main nyuruh aja'.
"pak, ada apa ya?", tanyaku, "jam 19.00 malam saya jemput kamu kerumah, kamu siap siap karna mamah saya mengundang kamu makan malam di rumah" jawabnya, "hah ?", "hah heh hah heh, denger ga saya bilang apa? jangan sampe saya ngucap dua kali ya!" bentakknya, "i-iya pak, tapi anu-", "tanpa TAPI!", segera ku melangkah keluar ruangan pak adrian, "huh, ngomong aja ga di dengerin, nyuruh mulu, suruh tepat waktu, hah jadi pengen resign aja" gerutuku.
Berkali-kali aku selalu di buat kesal oleh bossku ini, tapi tidak enak juga menolak karna ini undangan makan malam dari tante Anne, serba salah banget hidupku.
Tiba tiba pintu terbuka "hai, fir" sapa pak banyu, "hai, pak" balasku, "oh ya kamu sibuk ga ? saya mau ngajak kamu makan malam nanti" tanyanya, "hah ? makan malam ? sama gua? ga salah ? dia kan udah punya sitta kenapa juga ngajakin gua?" pikirku, "oh tenang aja sama sitta kok" imbuhnya, oh ternyata dengan sitta, ku kira hanya berdua, kalau iya berarti ucapan pak adrian ga main main dong ya, batinku, "maaf pak, saya nanti malem ada acara, next time ya pak" jawabku, "no problem, kasih tau kapan kamu lowong ya" ucapnya. Paling males sebenernya kalau aku harus hadir di acara sepasang kekasih karena akhirnya aku jadi obat nyamuk, mending cari berbagai alasan deh daripada mati kutu ngeliatin orang mesra mesraan.
"Fir, nanti malem makan bareng gue yuk, mas banyu ngajakin nih",
"duh, sorry ta, malem gua ada acara di rumah temen ibu gua, dan ga enak kalo gua tolak" jawabku. Sitta pun paham dengan kondisiku, yah mau bagaimana lagi, toh sitta pun belum tahu kalau orang tua pak Adrian lah teman ayah ibuku.