Napas Mia memburu saat menyelesaikan putaran terakhir lari paginya di sekitar area apartemen. Ia menyeka keringat di dahi, ketika julukan yang didengarnya kemarin siang kembali terngiang.
King of the Devils.
Bibirnya menyungging senyum geli mengingat wawancara kerja yang dilaluinya kemarin siang. Pewawancaranya bernama Hesti, seorang wanita muda berusia tiga puluh tahunan. Wanita itu sedang hamil dan membutuhkan pengganti untuk mengisi posisinya selama cuti melahirkan nanti.
"Kamu baru lulus tahun ini ya?"
Mata wanita berambut bob pendek itu memandangnya penuh selidik. Bukannya menjawab dengan kata-kata, kepala Mia justru mengangguk lebih cepat daripada mulutnya.
"Pantes mukamu masih lugu banget, kek gak ada dosa."
"Asal bukan lucu-lucu guoblok aja kan lugunya, Mbak," pungkas Mia kalem.
Hesti terbahak lepas. Ternyata makhluk di depannya ini sangat asyik. Rasanya akan seru jika nanti dipertemukan dalam satu ruangan dengan bosnya. Hesti bahkan sudah tidak sabar ingin menjadi penonton yang duduk manis membawa popcorn dan kacamata tiga dimensi. Spiderman? Minggir dulu, drama yang ini jauh lebih seru!
Alhasil, mereka malah terkikik berdua layaknya sahabat lama, di sebuah coffee shop yang berada di lobi gedung tempat perusahaan Hesti berkantor.
Hesti adalah sekretaris sang bos. Jika Mia diterima kerja di perusahaan itu, maka end-user-nya adalah sang bos sendiri. Rencananya, Hesti akan mengambil cuti selama enam bulan.
Wih, hebat benar perusahaan ini mau memberikan cuti melahirkan sampai enam bulan, batin Mia. Kabarnya, seorang suami pun bisa mendapatkan cuti jika istrinya melahirkan. Bosnya pasti orang yang sangat keren.
"Tapi aku jamin mukamu akan berubah. Genap tiga bulan aja kerja di mari."
Hesti menunjuk wajah Mia sambil tersenyum.
"Berubah makin cantik, Mbak?"
"Ya berubah kek kamu bilang tadi, lugu. Lucu-lucu guoblok."
Hesti kembali ngakak sambil mengelap air matanya.
"Becanda mulu. Maksudku, berubah jadi tua Mia, karena yang kamu hadapi nanti adalah King of the Devils. Nih ya, aku bukan nakut-nakutin. Harusnya sih aku ngomong yang baik-baik aja tentang dia, tapi puih… ogah banget, gue. Setan kok dibaik-baikin. Ngelunjak nanti."
Hesti menarik napas sejenak, lalu melanjutkan dengan nada berbisik.
"Ya, letting you know aja, orangnya suka tantrum gak jelas. Ya gitu deh, kalo udah tua gak kawin-kawin. Jadi gak punya penyaluran emosi dia."
"Alatnya dia buat pipis doang," bisiknya lagi sambil menutup samping mulut dengan telapak tangan. Matanya melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar kasak-kusuknya.
Mia langsung tersedak. Wajahnya seketika memerah. Ia menatap Hesti dengan perasaan takjub. Ini adalah wawancara paling absurd yang pernah ia jalani sepanjang hidup.
"Dia masih single, usia tiga puluh lima tahun," Hesti menambahkan informasi yang seharusnya tidak diperlukan dengan mulut manyun. "Pacar aja dia gak punya. Duh, mau kasian kok nyebelin, ya kan? Ya udahlah…”
Hesti terdiam sejenak.
“Tapi beneran kamu mau Mia? Ntar kerjanya cuma enam bulan, lho. Kalo aku selesai cuti, kamu terminated."
Wanita itu memandangnya penuh tanya. Mata berbinar, menunggu jawaban.
"Mau, Mbak. Gak papa deh, butuh duit soalnya hehehe." Mia terkekeh kecil.
Tabungannya memang masih cukup untuk bertahan beberapa waktu. Namun, ia tidak mungkin terus hidup dari uang peninggalan orang tuanya. Ia harus bekerja. Apa pun pekerjaannya tidak masalah, bahkan jika harus melenceng jauh dari jurusan kuliah yang diambilnya.
Yang penting menghasilkan uang.
Hesti menghela napas mendengar jawaban itu. Tangannya meraih es cokelat, mendekatkannya ke bibir, lalu menyedot isinya hingga tandas hampir separuh. Tampaknya ia sangat kehausan.
"Baiklah kalo gitu. Ntar tunggu kabar ya. Minggu ini juga langsung aku kabarin. CV kamu mau diubah lagi gak, atau pakai yang kemarin di-email aja?"
" Itu aja, Mbak. Apanya yang mau diubah orang belum ada pengalaman."
Tawa mereka kembali pecah.
Sesi wawancara sebenarnya sudah selesai, tetapi sisa waktu justru mereka habiskan untuk mengobrol. Percakapan itu mungkin akan berlanjut jika saja ponsel Hesti tidak berdering nyaring secara tiba-tiba.
Hesti bersungut-sungut begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan malas ia menggeser tombol hijau.
"Yes, my handsome boss, at your command!"
Kepalanya mengangguk-angguk sementara matanya terarah ke Mia. Tangannya menunjuk ke atas, memberi isyarat bahwa ia harus segera kembali ke kantor.
"Right away. Soon in your office, okay?"
Mia mati-matian menahan tawa melihat ekspresi dongkol di wajah wanita itu.
Hesti bangkit dari tempat duduknya, melambaikan tangan ke arah Mia sambil mengucapkan kata see you tanpa suara. Ponselnya masih menempel di telinga kiri saat langkahnya keluar dari kedai kopi. Tangannya melambai sekali lagi sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari pandangan Mia.
***
Langkah kaki Mia mulai melambat. Ia memutuskan mampir ke minimarket dua puluh empat jam yang berada di kawasan apartemen.
Ia menyusuri rak, lalu mengambil satu cup mi instan—semacam self-reward yang agak kebablasan setelah olahraga.
Sesaat kemudian, ia sudah duduk berselonjor dengan nyaman di sudut yang memang sengaja disediakan pihak minimarket bagi para pengunjung.
"Permisi! Bisa gak, kakinya jangan makan tempat? Ini tempat umum, bukan warisan nenek moyang situ."
Suara bariton yang berat dan mengebas itu tiba-kira membuyarkan pagi sempurnanya.
Mia menoleh. Kepalanya mendongak perlahan.
Dan di sana…
ia terpana.
Sesosok pria menjulang tinggi.
Bahunya lebar.
Perawakannya tegap.
Wajahnya…
sayangnya ganteng.
Sayangnya lagi, ekspresinya menyebalkan.
Mia menunjuk hidungnya sendiri.
"Ngomong sama aku?"
Pria berambut tebal itu mengangguk kaku, disusul helaan napas berat.
"Siapa lagi? Emang ada manusia lain di sini?"
Mia menggeram dalam hati. Rasanya ingin sekali ia menabok bibir seksi itu menggunakan sandal tetangga.
"Kakinya tolong dikondisiin! Mau lewat, buru!”
Mia spontan menarik kakinya. Baru sekarang ia sadar kalau pria arogan itu memang hendak lewat.
"Maaf, Your Majesty," gerutunya pelan.
Pria itu sempat melotot tajam sebelum akhirnya melangkah ke pojok ruangan.
Di tangannya terdapat dua kotak buah potong dan sebotol air mineral.
Dih, sehat sekali tampaknya makanan Bapak itu, batin Mia mencibir.
Merasa kesal, Mia mengembuskan napas panjang, lalu kembali menatap cup mi di atas meja.
Ia membuka tutupnya, kemudian mulai menyeruput mi dengan suara sengaja dikeras-keraskan.
Sluuurp!
Tidak lupa, Mia menambahkan desahan "ah" yang dramatis setiap kali selesai menyeruput, sengaja memancing rasa tidak nyaman penghuni pojokan.
"Annoying."
Gumaman itu terdengar cukup keras.
"Kenapa, Om? Mau mi juga? Nih, masih ada kuahnya kalo mau.”
Dengan mulut penuh, Mia menyodorkan cup mi ke arah pria itu. Kedua alisnya bergerak naik-turun dengan pandangan bergantian antara wajah si pria dan cup mi di tangannya.
Om!
Pria itu tersentak kaget mendengar sebutan "Om" yang disematkan padanya. Ia langsung berpaling dan memandang Mia dengan tatapan menusuk.
"Sejak kapan aku nikah sama tante situ?" sungutnya dingin.
Mia meletakkan kembali cup mi ke meja, menelan makanan di mulutnya dengan tenang sebelum menyesap kopi instannya kembali.
"Duh, siapa sih menaruh kulkas dua pintu di sini. Brrr... bikin menggigil aja," ucapnya, ngedumel dengan kesal.
Ujung matanya melirik tipis. Pria di pojokan sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Pandangan matanya lurus ke arah ponsel, jempolnya sibuk menggulir layar, sementara mulutnya santai mengunyah potongan buah.
"Gak takut juling matanya? Ya memang aku cakep sih."
Mulut pria itu nyerocos, tetapi anehnya pandangannya tetap fokus pada layar ponsel.
Mia terbatuk. Ia membereskan seluruh bungkus sisa makanannya lalu membuangnya ke tempat sampah, dan berbalik sepenuhnya memandang pria itu secara terang-terangan.
"Ya cakep, Om, tapi bukan tipeku sih naksir Om-om. Om udah punya anak tiga pastinya ya?"
Pria di hadapannya langsung mendongak, menatap lurus ke arahnya.
Mia menahan napas. Tanpa sadar, otaknya mulai mengobservasi struktur wajah di hadapannya. Alisnya tebal membingkai tegas, hidungnya mancung sempurna, dan bibirnya merah kebangetan seperti habis memakai lipstik ibunya. Dan jika diperhatikan lebih dekat, manik mata pria itu bukan berwarna hitam, melainkan abu-abu.
Apa dia memakai lensa kontak?
Sepertinya tidak.
Asli gitu?
"Pulanglah, Nak, sebelum kamu naksir beneran ke bapak beranak tiga ini. Jangan sampai kamu main dukun nantinya kalau aku tolak."
Mia membuang muka ke samping sambil menggerutu. Siapa juga yang naksir dia?
Di dalam hatinya saat ini hanya ada nama Edo, tahu gak?
Kakak kelasnya waktu kuliah yang berwajah tampan, ramah, manis, dan berhati baik—walaupun cintanya tidak pernah tersampaikan sampai sekarang. Menyadari kenyataan itu, Mia meringis pedih dalam hati.
Tanpa babibu ia bergegas meninggalkan minimarket.
Elang menghela napas panjang di tempat duduknya.
"Sialan. Emang tua banget apa gue sampai dipanggil Om?" gerutunya pelan dengan nada tersinggung.
Ia memandangi punggung mungil berbalut jaket olahraga itu yang bergerak semakin menjauh.
Tiba-tiba, langkah gadis itu terhenti.
Elang baru saja berniat mengalihkan pandangan, tetapi urung. Matanya melotot.
Darahnya langsung mendidih saat melihat acungan jari tengah dari gadis tersebut.
Lidah gadis itu terjulur mengejek ke arahnya, lengkap dengan kedua jari tengah yang teracung menantang.
Sambil berdiri Elang menggebrak meja minimarket dengan keras.
"Kurang ajar! Anak sekarang memang gak ada akhlak ya!"
Ia bermaksud mengejar gadis itu demi memberikan pelajaran berharga. Namun di kejauhan, Mia sudah mengambil langkah seribu.
Elang mengepalkan tangan.
Awas saja kalau sampai bertemu lagi, bakal ia jewer telinga itu sampai putus!
Meski begitu, ada sebuah desiran halus yang tidak bisa ia jelaskan sejak pertama kali matanya mendapati seorang gadis cantik sedang duduk sendirian dengan kaki selonjoran. Dari posisi samping, terlihat jelas garis wajahnya yang mungil dengan beberapa anak rambut ikal yang basah oleh keringat menempel di pipi.
Mulut gadis itu saat menyesap kopi terasa...
apa ya, annoying?
Elang memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Terbayang kembali penampakan wajah Mia di kepalanya.
Kriing!
Ponsel di atas meja berbunyi nyaring. Ia segera meraih gawai tersebut lalu menekan tombol terima di layar.
"Jadi kapan? Dua minggu lagi?" tanyanya langsung tanpa salam pembuka. Ia terdiam selama beberapa saat, mendengarkan lawan bicaranya di seberang telepon.
"Oke, oke, fine! Terima aja! Hari Senin dateng, lo ajarin sampai bisa. Awas ya, gue gak mau repot ngajarin lagi. Gue maunya terima bersih!"