Setiap Ezra melakukan sesuatu, pasti ada Keanu yang menjadi saksi bisunya.
Keanu tidak sengaja melihat hal yang bukan menjadi 'urusannya'. Karena sesungguhnya dia memang ingin masuk kamar Julie untuk membawakan yang Ezra minta pada Tim sebelumnya. Tim sendiri sedang sibuk membantu Lily dan dia yang akhirnya menggantikan tugas tersebut.
Keanu mundur selangkah. Dia bersembunyi di balik pintu guna memberikan ruang pada Ezra untuk menyelesaikan sesuatunya. Dia menatap arloji, memastikan satu atau dua menit menjadi tolak ukur selesainya hal yang Ezra lakukan.
Menit yang dia lihat telah berlalu. Keanu sedikit mengintip yang ternyata kegiatannya sudah selesai. Dia segera mengetuk pintu sampai Ezra mempersilahkan dia masuk.
“Tuan, semua ini adalah yang anda minta sebelumnya. Nona Lily meminta Tim membantunya jadi saya yang membawakan.” Keanu memberi penjelasan supaya Ezra mengerti. Takutnya Ezra mengamuk pada Tim, karena dulu pernah ada kejadian begitu. Tumpang tindih kerjaan dan amukan tuannya tidak dapat terhindari.
“Mengapa tidak kau saja yang membantu Lily?” Ezra mengambil alih semua yang Keanu bawakan dan menaruhnya di atas nakas. Pandangannya sesekali melihat Keanu untuk memastikan reaksinya.
“Tidak, Tuan. Umm... kalau kami mengerjakan berdua...” Keanu menggantung kalimatnya dan membersihkan tenggorokan yang kering. Sedikit malu mengatakan apa yang tuannya sudah ketahui.
“Iya, aku tahu. Cepatlah menikah dengannya. Supaya kalian bisa hidup bahagia.” Ada senyum yang mengembang saat Ezra mengatakannya. Dia mengerti bagaimana perasaan Lily.
“Secepatnya, Tuan. Kalau begitu, saya permisi. Saya ada di luar jika anda membutuhkan apa saja.” Keanu menunduk sedikit sebelum akhirnya pergi ke luar dengan rasa gugup yang mendera. Tidak pernah Ezra menyinggung percintaannya dengan Lily. Makanya terasa canggung.
Ezra mengambil kain yang sudah basah berkat air dingin yang ada pada mangkuk kecil. Lalu dia meremas kainnya, meninggalkan sisa-sisa air berjatuhan pada titik tengah bulatan mangkuk, kemudian menaruh kain yang cukup dingin pada permukaan kening Julie.
Ezra mendiamkan kainnya selama beberapa menit untuk meredam demam yang mendera. Dia mengamit tangan istrinya yang juga terasa panas. Menggenggam sambil menatap Julie yang belum membuka kelopak matanya.
Tidak lama Ezra menaruh kembali tangan sang istri. Tangannya meraih kain yang ada pada kening Julie untuk dia masukkan kembali ke dalam air dingin. Setelahnya dia menaruh kembali pada kening istrinya. Berulang kali Ezra melakukannya. Meski tidak terlalu ampuh, paling tidak yang dia lakukan sedikit berguna untuk menurunkan demamnya walau sedikit.
“Ez, aku membawakan bubur untuknya. Bagaimana keadaan Julie? Apa kita harus membawanya ke rumah sakit di pusat kota?" Lily betanya tanpa henti sambil memegang kedua sisi pegangan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih dengan kedua tangannya.
“Tidak perlu untuk sementara waktu. Semoga saja besok demamnya turun. Bukannya kau membawa obat-obatan di dalam tasmu, Lily?” Ezra mengambil alih nampannya dan memangku di atas pahanya.
Lily menepuk keningnya kasar. “Aku bawa tapi sepertinya tidak ada obat demam. Tetapi aku cek dulu. Sebentar ya,”
Setelah kepergian Lily, Ezra menepuk pelan lengan Julie. “Julie, bangun. Makan dulu sebentar supaya ada tenaga dan setelah itu minum obat.”
Julie tidak menjawab. Keningnya berkerut namun matanya tak terbuka. Semua terasa berat baginya. Matanya seperti terbakar. Tubuhnya terlalu lemah untuk merespons ucapan suaminya. Menggerakkan tangan saja rasanya sulit.
Ezra berdiri, dia menaruh nampan berisi makanan di atas meja yang ada di kamar Julie. Dia kembali berjalan dan duduk di tepi tempat tidur seperti sebelumnya. Dia menaruh punggung tangannya pada kening Julie. Suhunya masih sangat panas. Ternyata usahanya tadi tidak mempan.
“Ezra! Aku punya obat untuk menurunkan demam!” Lily menggantung tangannya di udara menunjukkan obat yang dia punya lalu memberikan pada telapak tangan Ezra yang sudah terulur.
“Kelihatannya Julie sangat lemah. Kita perlu membawanya ke rumah sakit, Ezra. Kalau dia tidak mau makan, langsung minum obatnya saja,” saran Lily ikut khawatir melihat kondisi Julie.
“Julie, kalau kau tidak mau makan, minum obat saja ya.”
Sekali lagi Ezra menyentuh lengan Julie berusaha membangunkan wanita itu. Respons Julie tetap sama. Dia kesulitan membuka kelopak matanya. Tubuhnya benar-benar sakit dan lemah untuk bergerak.
“Berikan aku air putihnya,” pinta Ezra pada Lily seraya menunjuk segelas air putih yang terletak di atas meja. Dengan cepat Lily mengambilkan lalu memberikan pada Ezra.
Ezra membuka obat lalu memasukkan ke dalam mulutnya, setelah itu dia meneguk air putihnya. Obatnya tidak dia telan. Detik selanjutnya dia mengembalikan gelasnya pada Lily yang kemudian Lily sigap memegangnya. Lalu Ezra mendekatkan bibirnya pada bibir Julie.
Dalam keadaan menahan obat untuk Julie, dia mencium bibir istrinya. Dia mengusahakan agar obatnya dapat berpindah ke dalam mulut Julie. Mungkin sedikit menjijikan, tetapi tidak ada cara lain selain melakukannya.
Dalam ciumannya, Ezra menutup mata sambil menahan bobot tubuhnya pada kedua sisi tubuh Julie agar tidak menindih tubuh sang istri.
Usaha Ezra berhasil. Julie memang kesulitan membuka mata, namun bibirnya dapat merasakan ciuman dan sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya. Dia menelan obat tersebut bersama air yang Ezra teguk sebelumnya.
Lily berusaha mengalihkan wajahnya melihat pemandangan itu, namun dia penasaran dan membiarkan dirinya menyaksikan.
Ezra menarik diri. Dia menghapus sisa air yang mengalir dari mulut Julie dengan tisu yang Lily berikan.
“Cepatlah sembuh, Mrs. Walton.” Ezra berkata sambil mencium kening istrinya.
Ezra mengusap kepala Julie sambil terus menatapnya. Tatapan Ezra tidak dapat Lily artikan sekarang. Antara merasa bersalah dan takut Julie kenapa-kenapa.
“Kalau begitu kau sarapan dulu, Ezra. Biarkan aku menemani Julie.” Lily menyentuh pundak Ezra.
Ezra menoleh kemudian menggenggam punggung tangan Lily pada pundaknya. “Tidak, Lily. Aku akan menemaninya di sini. Kau pergi saja dengan Keanu, nikmati liburannya.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan berada di luar jika kau membutuhkan bantuanku. Semoga Julie cepat sembuh, Ezra.”
Lily beranjak pergi meninggalkan Ezra yang tengah menggenggam kedua tangan Julie dengan erat. Lily menarik senyum melihatnya. Sepertinya, kau mulai tertarik Ez.