Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh dern febrian
BRONDONG SIMPANAN TANTEGenre: Romantis, Dramatis, Elegan, Dewasa SopanLatar: JakartaTokoh utama:Arini Wibisana (36 tahun) – wanita karier sukses, elegan, CEO perusahaan fashion ternama, tapi kesepian di balik kehidupannya yang glamor.Raka Pratama (23 tahun) – pemuda pekerja keras, baru merantau ke Jakarta, cerdas tapi hidupnya sederhana.---Bab 1: Pertemuan Tak SengajaJakarta sore itu diguyur hujan deras. Lalu lintas macet, klakson bersahutan, dan lampu-lampu mobil memantul di jalan yang basah.Di dalam mobil hitam mewahnya, Arini duduk diam sambil menatap ke luar jendela. Make-up-nya masih sempurna, tapi matanya tampak lelah. Ia baru saja keluar dari rapat panjang dengan investor asing — senyum profesionalnya sudah lama hilang sejak satu jam lalu.Teleponnya berdering.Nama di layar membuatnya menarik napas dalam: “Reza – Suami.”Ia mengangkat.> “Halo, Reza…”“Aku lembur lagi malam ini, Rin. Jangan tunggu, makan aja dulu.”“Iya, aku ngerti.”“Love you.”“Hmm, iya…”Sambungan terputus. Tak ada rasa di suaranya. Dulu kata “love you” membuat jantungnya berdebar. Sekarang hanya terdengar seperti formalitas.Mobil berhenti di lampu merah dekat Senopati. Hujan makin deras, dan di pinggir jalan, Arini melihat seorang pemuda berdiri basah kuyup, mencoba menolong pengendara motor yang mogok.Ada sesuatu pada wajah pemuda itu — muda, tulus, dan berani. Sesuatu yang sudah lama tak ia temui di dunia penuh kepura-puraan.Tiba-tiba, suara klakson dari belakang membuat sopirnya terkejut dan mobil sedikit maju ke genangan air. Cipratan mengenai pemuda itu.> “Aduh! Maaf, Bu!” seru sopirnya panik.“Tunggu…” Arini menatap lewat kaca — pemuda itu tetap tersenyum walau basah kuyup.“Turunin kaca.”Pemuda itu mendekat, dengan senyum kaku tapi ramah.> “Gak apa-apa, Bu. Saya emang lagi bantuin orang, malah kena bonus air gratis,” ujarnya sambil tertawa kecil.Arini terdiam sejenak — jarang sekali ia mendengar seseorang bisa bercanda di tengah kesialan.Ada sesuatu yang hangat di balik gaya santainya.> “Kamu gak apa-apa?”“Baik, Bu. Cuma kehujanan dikit.”“Masuk aja sebentar, nanti sakit,” katanya spontan.Pemuda itu tampak ragu. “Eh… gak enak, Bu.”“Ayo. Aku gak suka ngeliat orang baik kedinginan.”Dan begitulah, Raka Pratama untuk pertama kalinya duduk di dalam mobil mahal milik wanita yang hidupnya jauh dari dunia yang ia kenal.---Hujan terus turun. Wangi parfum mahal memenuhi kabin.Raka duduk kaku, celananya basah, tapi matanya berusaha tetap sopan meski sesekali mencuri pandang pada wanita di sampingnya — elegan, dengan aura yang memancarkan kekuatan dan kesepian sekaligus.> “Kamu kerja di mana?” tanya Arini pelan.“Lagi cari kerja, Bu. Baru pindah dari Jogja. Mau coba peruntungan di sini.”“Kamu bantu orang di jalan, padahal lagi susah sendiri?”Raka tersenyum. “Kalau bukan kita yang bantu, siapa lagi, Bu?”Arini menatapnya lama. Senyumnya sederhana — tapi ada sesuatu yang menggetarkan.Sesuatu yang belum pernah ia rasakan lagi selama bertahun-tahun.> “Nama kamu siapa?”“Raka, Bu. Raka Pratama.”“Arini.”“Iya, Bu Arini.”“Jangan panggil Bu, bikin aku terasa tua,” katanya sambil tersenyum samar.Raka menunduk malu. “Hehe… iya, Kak Arini aja deh.”Tatapan mereka bertemu untuk sepersekian detik — dan seolah dunia di luar sana berhenti berputar.Bab 2: Tawaran Tak TerdugaKeesokan harinya, langit Jakarta masih abu-abu. Hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah dan udara yang lebih dingin dari biasanya.Arini berdiri di depan jendela besar apartemennya, secangkir kopi hitam di tangan. Matanya kosong menatap langit, tapi pikirannya justru kembali ke wajah seorang pemuda — Raka.Entah kenapa, bayangan senyum polos itu muncul terus.Sesuatu dalam dirinya terasa... hidup lagi.Teleponnya berbunyi. Sekretarisnya, Dita, memberi laporan pagi.> “Bu Arini, mobil perusahaan rusak, driver belum balik dari bengkel. Mau saya panggilkan taksi?”“Gak usah. Aku nyetir sendiri.”“Baik, Bu.”Beberapa jam kemudian, Arini sampai di kantornya — ARINÉ, brand fashion yang namanya sedang naik daun. Tapi di balik gemerlap, Arini tahu: ia sudah lama kehilangan arah. Semuanya terasa hampa.Sampai... suara seseorang memanggilnya dari lobby.> “Kak Arini!”Ia menoleh. Seorang pria muda berdiri di sana, dengan senyum malu-malu tapi penuh percaya diri. Jasnya lusuh tapi bersih. Itu Raka — pemuda yang semalam ia tolong.> “Raka?”“Iya, Kak. Aku datang buat nganter jaket ini. Kemarin kan sempet aku pinjem handuk kecil di mobil Kakak. Aku mau balikin.”Ia mengangkat kantong plastik kecil berisi handuk yang sudah dicuci rapi dan disetrika.Arini terdiam sejenak — jarang sekali ada orang sejujur itu.> “Kamu repot-repot banget.”“Nggak apa-apa, Kak. Aku cuma gak enak aja. Lagian sekalian cari lowongan kerja di sekitar sini.”Arini menatapnya dari kepala sampai kaki.Raka memang sederhana — tapi caranya berbicara, sopan santunnya, ada sesuatu yang menarik.ic_default
Karena kamu suka CEO & Bos, mungkin kamu suka ini juga:
CEO & Bos · Drama