Seorang perempuan terlihat tersenyum dan duduk tenang ketika sosok laki-laki tentu saja yang lebih dewasa duduk di hadapannya. Sebuah ruang kerja yang cukup luas, tapi hanya ada satu meja kerja di sana. Ilmira, perempuan berusia 37 tahun itu terlihat sangat tenang meski hari hampir gelap. Suasana di kantor sebelah sedikit ramai, namun masih tidak terlalu riuh. Ilmira masih memeriksa beberapa berkas dan juga mendengarkan beberapa arahan dari laki-laki di hadapannya saat itu. Diluar beberapa orang mulai masuk dengan mengendarai motor ke halaman kantor yang terlihat rapi. Ilmira masih sibuk tanpa memperhatikan orang-orang dihalaman parkir itu. Bukan tidak mendengar riuh di luar, tapi Ilmira berusaha mengendalikan rasa gugupnya. Tidak mudah kembali melihat orang-orang yang begitu mengenalnya di masa lalu. Ilmira juga sebenarnya takut menghadapi beberapa orang yang mungkin tidak menyukai kehadirannya lagi. Ilmira sengaja tidak menoleh ketika mendengar suara di luar sana. Meski dia berusaha fokus dia sebenarnya juga penasaran dengan siapa yang berada di luar sana.
“Mobil siapa?” Laki-laki dengan kulit terang terlihat bingung namun mengenali mobil yang dia lihat. Dia ingin menduga tapi dia merasa tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan. Laki-laki itu memandang jauh menelisik ke ruangan dimana Ilmira berada. Tapi laki-laki itu sepertinya memang tidak mengenali Ilmira karena dia duduk membelakangi pandangan laki-laki itu.
“Kenapa Jams? Apa kabar?” Sebuah suara menyapa laki-laki dengan kulit berwarna terang itu. Jamingun, yang biasa dipanggil Jams di kantor itu adalah seorang teller moving.
“Kaya kenal mobil ini.” Jams sedikit memelankan suaranya, tapi ikut masuk berjalan pelan dengan yang lain menuju ke ruangan tempat mereka semua diminta berkumpul. Jams tidak lagi memperhatikan orang yang dia lihat tampak belakang itu.
“Lagian meeting apa si ya?” Seorang laki-laki mendekati Jams dengan laki-laki yang lain yang masih mengobrol. Dia juga ikut masuk karena sepertinya meeting sudah terdesak waktu yang sore.
“Baru datang mas Firman?” Ada senyum mengembang menyapa dan tangan yang ingin berjabat. Laki-laki bertubuh tinggi dan besar serta berkulit sedikit lebih gelap dibandingkan yang lain tersenyum sedikit dan menjabat tangan. Ada sekitar 20 orang di ruangan itu dengan berbagai posisi pekerjaan di lembaga keuangan tempat mereka bekerja saat ini. Firman, Jams dan juga dua orang lain yang merupakan senior duduk bersebelahan sambil sedikit mengobrol saat laki-laki lain dengan tubuh tinggi besar juga namun terlihat lebih tua masuk bersama dengan Ilmira. Beberapa orang hanya diam, beberapa terkesan sedang memandang ke arah Ilmira yang belum menyunggingkan senyum. Firman yang paling kentara berusaha tenang dan tidak bereaksi, sedangkan Jams sudah tersenyum sambil memandang beberapa orang yang hendak dia ajak bicara termasuk Firman karena melihat Ilmira. Laki-laki yang datang bersama dengan Ilmira sudah duduk di depan menghadap semua orang yang ada di ruangan itu. Ilmira juga duduk di sisi kanannya. Seorang perempuan memulai acara dengan beberapa pengantar sebuah meeting yang tidak terlalu formal. Sore itu Ilmira terlihat cukup cantik dengan setelan hijau pupus yang dia pilih. Kerudungnya berwarna senada namun lebih tua. Perempuan itu terlihat menggunakan make up tipis karena akan melaksanakan meeting untuk memperkenalkan dirinya. Perempuan itu sebenarnya sedikit terkejut juga karena meeting saat ini berbeda dengan dahulu. Dia juga sebenarnya gugup karena diperkenalkan begitu formal.
“Jadi untuk masalah di kantor cabang tentang pengembalian aset, kan kita perlu sebenarnya mengembalikan aset pada kantor. Bagaimanapun juga yang hilang sebenarnya uang nasabah. Kalau saya sebenarnya bisa mengatakan jumlah sebanyak itu memang harus kembali.” Laki-laki yang hampir berusia 65 Tahun yang duduk di sebelah Ilmira itu mulai bicara. Semua orang di ruangan itu hanya mendengarkan saja. Sesekali Ilmira sebenarnya memandang sekeliling melihat beberapa ekspresi yang ditunjukkan oleh orang yang sudah dia kenal.
“Mengembalikan aset tentu bukan perkara mudah, apalagi kita kan sudah hampir masuk ke ranah hukum. Takutnya kita malah benar-benar kesulitan mencapai pengembalian kerugian. Jadi saya akan menugaskan seseorang untuk urusan tersebut. Orang yang menurut saya mungkin bisa bicara dari hati ke hati dengan karyawan yang melakukan kecurangan itu. Istilahnya, mungkin negosiator.” Ada sedikit senyum mengembang dari bibir Firman meski dia masih menunduk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh atasannya.
“Jadi saya akan meminta Mba Ilmira untuk melakukan urusan tersebut.” Ilmira tersenyum sedikit ketika namanya disebut saat itu. Beberapa orang menatapnya tentu saja karena itu sebuah perkenalan meski beberapa orang juga sudah sangat mengenalnya dulu.
“Nanti teknisnya Mba Ilmira akan koordinasi dengan beberapa orang. Untuk sementara dia akan ditempatkan di cabang yang bersangkutan sebagai kepala kantor.” Sebuah penjelasan yang membuat Firman sedikit tersenyum sinis masih sambil menunduk. Ilmira memperhatikan hal ini dibandingkan hal lain. Meski diam-diam dan curi pandang Ilmira memperhatikan ekspresi Firman. Orang yang paling Ilmira perhatikan di ruangan itu adalah laki-laki yang bahkan sampai saat ini masih mengisi hatinya secara penuh. Ilmira tidak bangkit dari tempat duduknya.
“Jadi untuk nanti ada yang dimutasi atau bagaimana Pak?” Sebuah pertanyaan muncul dari manager lembaga keuangan itu. Ilmira paham sekali dengan apa yang sedang terjadi. Perempuan itu memperhatikan orang-orang yang sepertinya menempatkan perhatian lebih karena informasi ini.
“Konsepnya si diperbantukan, Ilmira paham kok tugasnya.” Ketua pengurus tersenyum melihat sedikit ke arah Ilmira. Perempuan itu masih duduk, tapi Pak Gio memberikan tanda supaya dia berdiri. Perempuan itu terpaksa berdiri dengan sepatu hak tingginya dan kemudian melangkah maju sedikit untuk berdiri di sisi Pak Gio.
“Sifatnya sementara, dan sampai kasus selesai saja.” Ilmira menambahkan supaya lebih jelas. Dan Firman menghadapkan wajahnya melihat ke arah Ilmira. Perempuan itu menyadari jika bukan hanya Firman yang menatapnya. Tapi, Ilmira mengalihkan pandangannya ketika Firman mengangkat wajahnya menatap Ilmira.
“Perkenalkan diri dulu.” Pak Gio terlihat tersenyum meminta Ilmira memperkenalkan diri.
“Nanti saja perkenalannya, lagipula sudah ada yang kenal.” Ilmira terlihat menolak dengan halus.
“Tapi siapa tahu statusnya sudah beda.” Firman menyeletuk, beberapa orang justru melihat ke arah laki-laki yang terdengar mengatakan kalimat yang tidak biasa. Ilmira tahu jika Firman hanya secara spontan mengatakan hal itu, tapi dia pasti tidak melakukannya dengan sengaja.
“Ah… Nama saya Ilmira Septiana, kebetulan saya diperbantukan sementara sebagai negosiator.” Ilmira bersuara untuk meredam aksi spontan Firman yang mungkin memunculkan tanda tanya.
“Mba Ilmira sudah menikah?” Sebuah pertanyaan dilontarkan oleh seorang Bapak dengan rambut tipis nyaris botak.
“Sudah.” Sebuah jawaban singkat dari Ilmira membuat orang itu tersenyum menatap Firman seolah puas dengan apa yang ingin dia dengar.
“Ilmira aktif mulai besok dan langsung ke kantor sana.” Ketua pengurus kembali menjelaskan. Pak Gio tahu pertanyaan pribadi tidak diperlukan, dan dia juga tidak ingin Ilmira merasa tidak nyaman. Meeting selesai begitu saja, kebanyakan orang langsung keluar dari ruang meeting dan berkemas mengambil tas di loker mereka. Ilmira berjalan perlahan hendak meninggalkan ruangan itu karena ketua pengurus sudah lebih dulu meninggalkan ruangan. Perempuan itu tidak bergegas karena menunggu yang lain keluar terlebih dahulu. Hampir kosong ruang meeting ketika dia keluar dari sana.
“Ilmi?” Jams terlihat tersenyum mendekati perempuan itu. Ada tatapan rindu seorang teman, tapi juga ada banyak pertanyaan yang mungkin Ilmira tidak ingin jawab. Ilmira melihat Jams yang ternyata menunggu di pintu keluar ruang meeting itu.
“Jams.” ilmira tersenyum menjabat tangan laki-laki dengan kulit berwarna terang cenderung putih. Ada pandangan kerinduan yang mereka berdua tukar sebagai teman lama.
“Jadi kepala kantor cabang langsung?” Jams terlihat senang tapi juga bercampur kagum. Mereka kemudian mencari tempat untuk duduk di depan deretan loker yang rapi. Jams menarik kursi plastik berdekatan. Ilmira juga duduk dan sedikit menghela nafas.
“Sementara, clue nya kan itu.” Ilmira terlihat cukup santai menjawab pertanyaan Jams. Mereka berdua masih saling melempar senyum.
“Pak Gio minta kamu?” Laki-laki lain yang usianya lebih tua mendekat sambil bertanya. Ilmira mengangguk sambil tersenyum. Laki-laki itu masih berdiri di sisi Jams yang duduk.
“Permintaan khusus lah ya?” Jams terlihat serius dengan apa yang dia katakan meski masih tersenyum.
“Ya, hanya sementara. Katanya sudah bingung karena jalur keras gak akan bikin kerugiannya kembali.” Ilmira menjelaskan.
“Tapi kan memang dari pihak sana juga susah lho mba?” Manager kantor itu ikut mendekat karena ingin tahu langkah dari Ilmira.
“Tapi kan sebenarnya mereka punya aset yang bisa diserahkan. Dan daripada mereka kena pidana sebenarnya lebih baik kalau mereka kasih aset saja. Toh juga itu kan dari uang nasabah?” Ilmira terlihat serius dengan apa yang dia katakan.
“Gak semudah itu juga untuk mengambil aset. Pihak sana menyerahkan secara sukarela juga belum tentu mau kan?”Ilmira menatap sebentar asal suara khas yang biasa dia dengar di telepon dulu atau bahkan beberapa bulan yang lalu. Ilmira tersenyum sedikit meski Firman tidak balik membalas senyumannya. Firman terlihat mengambil tas besar berwarna hitam di loker di belakang tempat Ilmira duduk. Mungkin laki-laki itu hanya bersikap sopan dengan bertanya karena ingin mengambil ransel.
“Karena itu, aku juga butuh bantuan banyak pihak. Terutama yang memang dekat dengan pihak yang sana.” Ilmira terlihat membuat Firman hampir tersenyum meski masih tertahan. Bagaimanapun Ilmira tahu jika Firman tidak pernah berubah, hatinya tetap akan menjadi milik Ilmira sampai kapanpun. Meski perempuan itu masih juga belum yakin sepenuhnya, karena mereka sempat tidak akur beberapa bulan yang lalu. Tidak pernah ada yang tahu jika Ilmira masih berhubungan dengan Firman beberapa bulan lalu.
“Paling sama Mas Firman nanti ya Mba? Kalau ke kantor sananya mulai besok bisa sendiri?” Manager kantor bertanya pada Ilmira sambil tersenyum seolah menaruh curiga. Tantu saja, seluruh karyawan lama pasti tahu bagaimana cerita Ilmira dan Firman, dan meski mereka berdua terlihat tidak saling memperhatikan, tetap saja mereka terlihat masih saling memiliki perasaan satu sama lain yang tidak mungkin hilang bagi para karyawan lama.
“Aku ke sana sendiri bisa, mungkin kalau ke rumahnya pasti sama Firman karena aku gak tau rumahnya Eri.” Ilmira dengan santai menjawab seolah itu adalah sebuah pekerjaan profesional. Meski dalam hatinya dia juga senang karena akan bertemu dengan Firman setidaknya setiap hari, seperti dulu. Meski dia harus menempuh jarak yang jauh dari kota. Hampir satu jam untuk pergi ke kantor cabang yang Ilmira maksud.
“Tapi bisa profesional gak Mir?” Jams terlihat tersenyum memberikan candaan untuk Firman dan Ilmira. Firman sudah mengambil ranselnya dan berdiri di sisi Ilmira. Entah mengapa secara natural Firman selalu saja begitu.
“Aku diminta bantuan lho, masa juga gak profesional. Ada tenggat waktu juga satu minggu paling tidak dapat satu aset. Jadi, gak mungkin aku main-main di.” Ilmira dengan santai menjelaskan apa yang akan dia lakukan.
“Kamu diberi tenggat waktu sama Pak Gio?” Manager lembaga keuangan itu terlihat cukup serius menunjukkan wajahnya. Ilmira mengangguk tersenyum sedikit.
“Barapa lama?” Firman terlihat serius karena apa yang Ilmira ucapkan menunjukkan beban yang terlihat cukup berat bagi perempuan itu.
“Minimal satu minggu satu aset. Maksimal satu minggu semua aset yang menutup kembali.” Ilmira terlihat memberikan pernyataan dengan yakin. Firman menatap Ilmira ketika perempuan itu menjelaskan pada semua orang.
“Satu minggu?” Firman terlihat mengulang jawaban karena tidak percaya dengan apa yang Ilmira katakan. Ilmira hanya tersenyum sedikit tidak menjawab apapun lagi. Ada banyak pertanyaan yang mungkin ingin ditanyakan saat itu tapi Ilmira buru-buru pamit karena hari memang sudah sore. Dan juga Ilmira tidak ingin berharap hal lain dari Firman untuk saat ini. Perempuan itu juga tidak ingin mendengar pembicaraan pribadi atau menjawab pertanyaan pribadi baginya.