Kamu gak akan pernah tahu, sampai seseorang mungkin menyampaikan semuanya nanti.
Ilmira menatap dari jendela ruangannya ke ruangan sebelah. Ada Firman di sana yang sepertinya sibuk melakukan banyak hal, termasuk bertemu dengan beberapa orang di kantor selama dua jam lebih. Ilmira masih saja tersenyum sedikit melihat gerak-gerik laki-laki yang memang dia sukai itu. Perempuan itu menunduk sebentar ketika mengingat pertengkaran mereka kemarin. Ilmira merasa jika Firman memang sangat kesal, atau mungkin dia hanya merasa ingin tahu. Tapi Ilmira kelu jika harus menyatakan pengorbanan untuk laki-laki itu. Bagaimanapun dia sudah dalam status pernikahan.
“Maaf Mba Ilmira, tanda tangan akad ke siapa ya?” Kiki terlihat bertanya karena dia bingung. Ilmira menunjuk ruangan sebelah. Kiki terlihat sudah berada di ruangan Ilmira dengan beberapa stopmap hijau.
“Seperti biasa saja.” Perempuan itu juga tersenyum sedikit dan Kiki kemudian berjalan menuju ke ruangan sebelah. Ilmira memperhatikan laptopnya, bagaimanapun juga perihal aset yang akan terjual sudah bukan lagi urusannya. Dia tidak punya banyak pekerjaan selain memeriksa laporan keuangan beberapa tahun terakhir. Melihat janggalnya, tapi sepertinya memang tidak ada satupun yang janggal.
“Kamu kan Kepala Cabang, ya kamu lah yang tanda tangan akad.” Suara khas seseorang yang sudah duduk di hadapan Ilmira membuat konsentrasi Ilmira pecah seketika. Perempuan itu bahkan tidak menyadari pintu terbuka dan Firman yang masuk ke ruangannya. Ilmira perlahan menatap Firman pelan tanpa ekspresi. Firman sendiri justru sebenarnya gugup dengan tatapan Ilmira seperti itu. Firman meski dia terlihat dingin dan cuek, tapi jika dia mendapatkan tatapan dari perempuan yang paling dia cintai itu dia bahkan merasa kesulitan untuk bersikap tenang. Bagi Firman, Ilmira adalah perempuan paling dingin yang pernah dia kenal. Laki-laki itu duduk di depan Ilmira yang masih terdiam.
“Aku tanya dulu ke pusat ya?” Ilmira menggunakan nada bicara formal yang sungguh tidak biasa. Firman entah mengapa menunggu ketika Ilmira menghubungi kantor pusat dari meja kerjanya. Setelah selesai bertanya melalui telepon kantor, Ilmira kemudian melihat Firman lagi.
“Kamu kan?” Firman terlihat memasang wajah serius tanpa senyum. Ilmira terdiam sebentar seolah menantang Firman untuk saling bertatap.
“Bisa gak nada bicaranya biasa?” Ilmira kemudian mekambaikan tangannya supaya dokumen dalam stopmap hijau itu di dekatkan ke sisinya. Laki-laki itu menggeser tumpukan dokumen dengan stopmap hijau tebal untuk Ilmira. Firman tidak bicara apa-apa lagi dan hanya beranjak dari tempat duduknya.
“Kenapa si, pakai nada tinggi terus? Gak bisa apa ramah sedikit. Kalau sama orang lain ramahnya minta ampun.” Ilmira bergumam dengan keras membuat Firman kemudian berhenti dan berbalik, berjalan ke sisi Ilmira dan mendekatkan wajahnya untuk saling menatap dari dekat. Ilmira tentu terkejut dengan kejadian yang begitu cepat itu.
“Kamu, kamu pikir kamu sama dengan yang lain?” Firman bertanya pelan sambil menatap wajah cantik Ilmira dari dekat. Mereka berdua saling berbagi debar jantung dalam diam dan tatap yang tidak bisa dijelaskan. Hampir satu menit dan Ilmira mendorong Firman mundur perlahan. Beruntung ruangan itu memang tertutup dan tidak ada yang masuk mendadak.
“Apa bedanya?” Ilmira berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka dengan pertanyaan yang singkat. Firman sudah menjauh dari Ilmira tapi masih melihat perempuan itu, kali ini sambil tersenyum sedikit.
“Kamu juga gak pernah menganggap aku biasa kan? Bisa-bisanya menganggap seolah kamu bisa bersikap biasa saja.” Firman masih berdiri di sisi Ilmira melihat ke arah perempuan itu. Ilmira tidak menatap Firman dan pura-pura fokus pada berkas di mejanya saat itu.
“Kamu mau pura-pura terus?” Firman bertanya dengan nada bicara santai seolah sedang mengejek Ilmira. Perempuan itu masih diam dan tidak menanggapi perkataan Firman.
“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Firman terlihat serius meski masih tersenyum sedikit. Laki-laki itu sangat tahu bagaimana hati Ilmira, bahkan Ilmira tidak perlu mengucapkan apapun. Sikap Ilmira akan tertangkap dalam benak Firman begitupun sebaliknya. Mereka berdua terlalu biasa bersikap wajar di depan orang dan kemudian bersikap layaknya pasangan di lain kesempatan. Dulu, mereka terbiasa seperti itu. Sampai Firman memutuskan menikahi wanita lain, dan sikap Firman yang tidak berubah kepada Ilmira justru sangat menyakitkan akibatnya bagi perempuan ini. Perasaan Firman yang tidak berubah, meski kehidupan mereka telah sangat berbeda membuat rasa sakit yang tidak terlihat bagi Ilmira. Perempuan itu masih tetap berusaha tegar dalam berbagai kesempatan sampai akhirnya memilih pergi.
“Ki, tolong telepon Eka. Nanti yang menemani Mira Eka saja.” Firman terlihat berteriak kepada Kiki setelah keluar dari ruangan Ilmira. Mira sendiri terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan Firman. Perempuan itu langsung berdiri dan keluar dari ruangannya.
“Jangan gitu.” Ilmira terlihat berucap pelan karena tidak ingin berdebat. Firman terlihat diam saja, sementara Kiki masih bingung melihat kondisi seperti ini. Beruntung tidak ada nasabah yang sedang berada di kantor saat itu.
“Masalah pekerjaan jangan jadi masalah lain.” Ilmira mencoba membujuk Firman supaya tetap pergi bersama dengannya karena mereka akan mendatangi Eri kembali.
“Sama saja kan? Eka juga bisa kok kalau hanya menemani.” Firman terlihat cuek menjawab, bahkan tidak menatap Ilmira yang berdiri di sebelahnya.
“Kamu masih peduli sama Eri kan?” Ilmira terlihat berusaha tenang untuk membujuk Firman. Ilmira tahu sedikit bujukan pelan dan kata-kata yang lembut akan membuat Firman luluh bahkan jatuh hatinya. Sebenarnya Ilmira sangat menghindari hal ini karena takut dia akan membuat laki-laki itu semakin jatuh hati padanya. Tapi, dia butuh Firman untuk menyelesaikan semuanya lebih cepat. Supaya dia dengan cepat bisa pergi, dan Firman juga akan kembali ke kehidupan dan posisinya lagi.
“Kamu gak peduli sama Eri?” Ilmira terlihat bertanya lagi dengan nada bicara pelan.
“Engga, dia juga hampir menyeret aku dalam kesalahan yang besar. Untuk apa aku peduli.” Firman terlihat serius dengan apa yang dia katakan. Masih dengan ekspresi yang datar dan tidak menatap Ilmira. Perempuan itu tersenyum sebentar karena melihat Firman yang terlihat menggemaskan ketika dia marah. Ilmira melihat sekilas ke ruangan yang cukup lenggang, Kiki juga sepertinya sudah duduk kembali mungkin tidak ingin ikut campur.
“Sama aku juga gak peduli?” Ilmira masih berucap lirih sebenarnya supaya Firman tidak mendengarkan. Firman berdiri dari duduknya. Tentu saja dia jadi sangat dekat dengan Ilmira yang sedikit mundur.
“Kamu melakukan semua ini karena apa? Karena peduli sama aku?” Pertanyaan yang membuat Ilmira juga kebingungan, tapi tetap terlihat tenang dari luar. Perempuan itu menatap wajah Firman dan juga kedua bola mata yang dulu seringkali dia lihat. Ilmira biasa tertawa setelah tatapan seperti ini, bukan, mereka berdua biasanya tertawa lepas setelah situasi yang dalam seperti ini. Tapi kali ini Ilmira dan Firman jelas menahannya, berusaha menunjukkan jika tidak ada perasaan yang mempengaruhi mereka berdua. Mereka saling berusaha menunjukkan jika perasaan itu sudah tidak ada, padahal mereka berdua sama-sama tahu jika perasaan itu masih menautkan hati mereka. Ilmira membuang pandangannya sebentar, kembali melihat ke arah meja teller dan Kiki tidak terlihat karena duduk.
“Karena dimintai bantuan.” Ilmira menjawab tenang setelah menghela nafas pendek. Firman tersenyum sinis tentu saja tidak percaya dengan apa yang Ilmira katakan.
“Karena dimintai bantuan? Sama Gio?” Firman terlihat cukup arogan ketika mengatakan semuanya itu.
“Ngomongnya, yang sopan.” Ilmira mengingatkan Firman lagi, membuat Firman makin mengembangkan senyumnya.
“Begitulah Ilmira yang tidak pernah sakit hati kan? Ilmira yang terlalu baik, sangat baik. Ilmira…” Firman terlihat lebih tidak tenang ketika mengatakan hal seperti ini meski mereka berdua berbicara pelan satu sama lain. Ilmira menoleh sebentar memeriksa apakah Kiki mendengar percakapan mereka berdua atau tidak.
“Mau bicara di ruanganku?” Ilmira masih tenang berusaha meredam perdebatan mereka yang mungkin akan bersifat pribadi. Firman kali ini tertawa dan mundur, duduk lagi di meja customers service. Beruntung hampir istirahat siang, jadi tidak banyak nasabah yang datang.
“Kenapa? Takut ketahuan kalau perasaanmu masih sedalam itu sama aku.” Firman terlihat santai ketika berbicara seperti itu perlahan. Ilmira tentu saja mengiyakan dalam hati.
“Ini urusan pekerjaan, jangan ngaco! Nanti setelah istirahat bersiap ke tempat Eri lagi. Lebih cepat selesai kan lebih bagus.” Ilmira terlihat berjalan cepat menuju ke ruangannya. Pintu ditutup dan Ilmira terengah-engah sebentar. Perempuan itu semakin tidak bisa menjaga rahasia diantara mereka berdua. Firman sepertinya justru ingin menunjukkan semua itu secara terang, bahkan ketika ada Kiki.
Benar, perasaanku memang sedalam itu. Ilmira duduk lagi di meja kerjanya memikirkan kekacauan yang mereka lakukan tadi.