“Terimakasih Mba Ilmira, salam untuk Ibu ya.” Ilmira tersenyum untuk kalimat lembut yang dia dengar. Banyak hal yang membuat Ilmira selalu ingin mampir, meski kali ini Ibu yang meminta tolong kepadanya untuk pergi ke tempat tersebut. Ilmira membawakan beberapa makanan dan sedikit pemberian Ibunya. Tempat dimana Ilmira kecil sungguh tidak pernah memikirkan tentang pahitnya hidup. Ilmira yang masih polos dengan kebahagiaan yang sederhana. Mungkin saat ini juga masih begitu, tapi kebahagiaan yang terlalu sederhana tidak pernah mudah. Hanya 15 menit dan Ilmira sampai ke kantor kembali. Sudah sore dan sepertinya beberapa orang sudah datang untuk meeting. Ilmira terlihat santai membawa tas tangannya perlahan turun dari mobil.
“Baru balik?” Sebuah suara membuat Ilmira tersenyum.
“Iya Jams, kamu sibuk?” Ilmira terlihat bertanya sambil berjalan. Jams sepertinya hendak masuk lewat depan ke kantor, Ilmira memilih jalan pintu samping.
“Kamu sibuk, hari ini gak nitip makan tapi keluar?” Jams sepertinya berhenti sejenak di dekat Ilmira.
“Ada beberapa orang yang harus aku kunjungi. Jadi ya, skalian makan siang.” Ilmira menjawab sekenanya, Padahal sedari tadi dia belum makan apapun. Mungkin hanya air mineral, atau teh manis yang di suguhkan tadi yang masuk ke tubuhnya.
“Tapi kamu terlihat pucat.” Jams seolah memperhatikan teman lamanya itu.
“Lagipula kamu sekarang kurus, beda dengan dulu.” Jams kembali berkomentar tentang penampilan Ilmira.
“Itu pujian kan?” Ilmira tersenyum becanda dengan teman lamanya itu. Perempuan itu sebenarnya merasa sedikit pusing, tapi dia menahannya sedari tadi.
“Jams, boleh minta tolong belikan kopi?” Ilmira terlihat sedikit lemas ketika mulai berbicara sedikit. Jams mengangguk tersenyum. Ilmira membuka perlahan tas tangannya tapi dia menyadari jika tangannya sudah sedikit bergetar. Perempuan itu mengerti dengan alarm tubuhnya sendiri. Sudah sejak kemarin dia memang tidak ingin makan apapun dan hanya minum sedikit.
“Ah… Boleh pakai uangmu dulu.” Kali ini Ilmira berusaha bertahan dengan berpegangan pada tembok kantor supaya Jams tidak melihatnya limbung.
“Tolong belikan Jams.” Seseorang sudah menahan pinggul Ilmira supaya tetap berdiri tegak dari dalam jaketnya. Firman menutupi tangannya dengan jaket dan menopang Ilmira yang hendak roboh.
“Iya, aku berangkat sekarang.” Jams terlihat menuju ke minimarket depan kantor setelah menerima uang dari Firman. Ilmira terlihat berusaha melepaskan diri dari tangan Firman.
“Aku… tidak apa-apa.” Ilmira berucap lirih. Firman masih tetap berjaga dan tidak peduli meski beberapa karyawan lain terlihat memperhatikan.
“Aku tidak mau jadi bahan pembicaraan.” Ilmira terlihat serius ingin Firman menjauh.
“Kamu tahu aku tidak peduli kan?” Firman masih berdiri di sebelah Ilmira dan mengikuti perempuan itu berjalan.
“Aku gak apa-apa.” Ilmira kembali menegaskan kalau dia memang bisa berjalan sendiri.
“Kamu belum makan?” Firman bertanya sekali lagi sambil masih mengikuti perempuan itu masuk ke dalam kantor.
“Mas Firman, sudah datang?” Sapaan khas Pak Pri bahkan tidak membuat Firman berhenti memperhatikan Ilmira sampai duduk di meja kerjanya.
“Memangnya gak ada yang memeperhatikan karyawan sudah makan atau belum? Katanya aset?” Firman terlihat serius memberikan sindiran pada atasannya itu karena khawatir terhadap Ilmira.
“Kenapa?” Pak Pri terlihat bingung dengan apa yang Firman katakan. Ilmira kali ini melihat ke arah Firman dan memberikan tatapan untuk berhenti membesarkan masalah.
“Lagipula kenapa karyawan juga tidak bisa cari makan sendiri?” Firman kali ini menatap Ilmira tajam dengan wajah kesal. Ilmira hanya bisa diam dan mengalihkan pandangannya. Sebenarnya tubuhnya cukup limbung saat ini. Dia kemudian mencoba minum air putih untuk menguatkan tubuhnya.
“Um… Kita meeting jam berapa? Agenda meetingnya tentang penjualan saja bukan?” Ilmira tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Firman terlihat meninggalkan ruangan setelah Pak Pri mengangguk dan kembali duduk ke mejanya. Ilmira menghela nafas panjang dan terdiam sebentar.
“Mir…” Jams datang dengan kantong plastik berisi kopi kaleng pesanan Ilmira.
“Thanks ya Jams.” Ilmira berucap pelan. Jams hanya tersenyum sedikit dan kemudian meninggalkan meja kerja Ilmira. Perempuan itu berusaha membuka kaleng kopi yang baru saja dia terima, malangnya dia kesulitan karena kurang bertenaga. Firman mengambil kaleng kopi dan membukanya. Menyerahkannya kembali pada Ilmira setelah menambahkan sedotan panjang. Ilmira menatap Firman sebentar. Laki-laki itu kemudian berjalan ke meja Pak Pri seolah bertanya tentang meeting hari ini.
“Perkiraan penjualan kurang atau lebih Pak?” Firman bertanya setelah duduk di depan meja kerja Pak Pri.
“Sepertinya si lebih, dan lebihnya juga banyak. Kemungkinan bisa menutup kerugian dan bisa dikembalikan juga sesuai pesan Mba Ilmira.” Pak Pri terlihat melirik Ilmira yang masih meneguk kopinya lewat sedotan. Ilmira hanya tersenyum setelahnya. Perempuan itu mengambil alat rias dari tas tangannya.
“Meetingnya lama atau tidak ya?” Ilmira bertanya kepada Pak Pri. Perempuan itu mengoleskan lip tint berwarna pink di bibir mungilnya.
“Suamimu pasti senang punya istri seperti kamu ya Mir?” Pak Pri tiba-tiba memberikan pertanyaan yang tidak pernah di sangka oleh Ilmira. Firman terlihat tidak bereaksi saat pertanyaan itu terdengar, meski begitu hal pertama yang ingin Mira lihat adalah reaksi Firman.
“Suamiku, hem… biasa aja.” Ilmira terdengar tidak peduli untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Pak Pri tersenyum sedikit.
“Pasti lah seneng, pasti juga Mira diberikan semua yang dia mau. Lihat saja semua yang dia kenakan itu.” Firman terlihat berusaha menambahkan. Ilmira tahu berusaha menambahkan seperti ini bisa dikatakan ada nada kecemburuan di dalamnya.
“Meeting mulai jam berapa si?” Ilmira berusaha mengalihkan pembicaraan, dan Firman tertawa sedikit karena hal itu. Ilmira tahu sekali jika Firman tertawa meski sebentar.
“Sebentar lagi sepertinya.” Pak Pri menjawab masih sambil memeriksa bahan di laptopnya. Firman sendiri sudah menatap mencuri pandang kepada Ilmira.
“Boleh makan dulu gak ya?” Ilmira terlihat hendak berdiri dan berjalan pelan keluar dari ruangan itu. Firman mengikuti perempuan itu perlahan.
“Kamu mau makan? Belum makan sejak tadi?” Firman terlihat memunculkan banyak pertanyaan. Ilmira masih diam dan berjalan cepat menuju ke mobilnya. Dia tidak ingin Firman yang mengikutinya itu terlihat oleh orang kantor dan pasti menimbulkan banyak tanya.
“Masuk.” Ilmira memberikan perintah setelah dia membuka pintu mobil. Firman juga masuk tanpa banyak bertanya kepada Ilmira.
“Mau kamu apa?” Ilmira bertanya kepada laki-laki itu dengan cukup serius.
“Aku.. maksudnya apa?” Firman bertanya balik kepada Ilmira yang terlihat masih memasang wajah serius.
“Kamu tahu, kalau kamu begini akan banyak orang yang melihat. Pasti kamu terlihat tidak biasa.” Ilmira mencoba menyadarkan Firman akan sikapnya beberapa jam yang lalu.
“Aku hanya khawatir kamu jatuh, kamu juga belum makan kan? Kamu kelihatan pucat.” Firman kembali menegaskan sesuatu yang tidak dia sadari.
“Kamu begitu ke orang lain?” Ilmira memberikan sebuah pertanyaan yang membuat Firman menyadari sesuatu. Laki-laki itu menatap Ilmira dan menggeleng pelan. Ilmira mengangguk perlahan dan menatap Firman sambil tersenyum.
“Aku ketahuan?” Firman terlihat tersenyum sedikit menertawakan dirinya sendiri. Ilmira juga masih tersenyum.
“Iya aku belum makan, tidak ingin makan juga. Sedang begitu.” Ilmira terlihat terdiam menunduk, menahan supaya bulir hangat yang sudah berada di sekitar matanya tidak jatuh. Suasana sedikit hening di mobil dan beruntungnya tidak ada yang memperhatikan mereka berada dimana saat ini. Semua orang sedang sibuk di luar untuk bersiap meeting.
“Aku kangen.” Sebuah kalimat membuat perempuan itu mengigit bibirnya perlahan menahan semua kesedihan dan emosi yang mungkin muncul saat itu. Firman terlihat menatap perempuan yang menyembunyikan wajahnya itu.
“Kalau aku bisa, aku ingin memelukmu sekarang. Tapi inilah kondisi kita, terlalu sulit. Tapi aku tahu perasaan kita masih sama.” Ilmira kali ini makin membeku dan tubuhnya berguncang sedikit. Dia sekuat tenaga menahan sedih dan jatuhnya air mata. Perkataan Firman membuat dia menyadari jika perasaan mereka tidak bisa menjadi apa-apa. Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam di dalam mobil dan kemudian masuk kembali ke gedung kantor untuk meeting sore itu.