“Haris..Maafkan papa Nak.. Tapi ini sudah perjanjian Papa dengan sahabat papa saat kalian berdua masih kecil”. Haris menghela nafasnya panjang dengan emosi yang siap meledak.
Ia duduk sambil merekat rambutnya frustrasi setelah mendengar keinginan gila sang Papa yang ingin ia menikahi gadis dari anak sahabatnya itu.
Tentu saja ia menentang permintaan tersebut dengan keras dengan alasan yang besar dan kuat.
“Papa..kita sudah membicarakan ini puluhan kali. Dan jawabannya pun masih tetap sama Pah, aku menolaknya” ia menjawab dengan lemas, sungguh ia muak dengan pembicaraan yang tidak ada ujungnya ini.
Agung pun sama ikut menghela nafas sambil meremat jarinya dengan perasaan kalut dan bersalah kepada anak semata wayangnya ini.
“Papa mengerti, Nak. Tapi sahabt papa sekarang sedang sekarat di rumah sakit, Nak. Bagaimana mungkin papa tega mengingkari janji? Ayo tolong papa, Ris”. Haris bangkit sambil menggeram kesal. Ia membelakangi sang Papa dengan bertolak pinggang dan sebelah tangan memijat pelipis nya kuat. Berharap dapat berpikiran jernih jauh akan emosi yang sangat berbahaya baginya dan juga sang Papa.
“Haris.. tolong papa nak” Lagi pria itu mendengus kesal. Ia sungguh benci perjodohan tetapi ia lebih benci melihat sang Papa memohon padanya seperti ini.
“OK..OK.. Haris akan menurutinya, asal papa mau membuat perjanjian denganku” haris berbalik dan menatap sosok yang begitu ia cintai dan hormati.
Agung tersenyum lebar namun diselimuti perasaan bersalah pada putranya tersebut.
“Pertama, dia hanyalah istri di statusku, bukan istri sah ku” Agung menaikkan kedua alisnya mendengar penuturan Haris . Disaat ingin menyela Haris dengan cepat berkata.
“Kedua, aku tidak akan membiarkan ia satu rumah denga ku” Agung kembali menghela nafas nya.
Haris hanya menikahi anak sahabatnya sebagai pembuktian bukan benar-benar sebagai istri.
“Ketiga, istri sah ku cuma satu” dan yang satu ini Agung tidak bisa membantah.
Ia sadar Haris menyetujui pernikahan itu sudah cukup baginya.
“Dan Terakhir, setelah sahabat Papa itu sembuh atau kemungkinan terburuk terjadi padanya aku akan langsung menceraikan Ayunda. Deal?”.
…
Sungguh Haris sangat menyukai pernikahan. Karena dimana dua pasang makhluk Tuhan yang saling mencintai membuat janji sehidup semati di hadapan-Nya. Melaksanakan ibadah paling sakral di dunia.
Semua mata tertuju pada pasangan pengantin yang sedang berbahagia dan turut mendoakan agar selalu bersama sampai maut memisahkan.
Haris sudah merasakan pernikahan indahnya bersama wanita yang sangat ia cintai di hidupnya. Pernikahan impian keduanya yang dirancang sesuai keinginan mereka berdua. Bahkan ia masih ingat betapa cantiknya sang istri memakai gaun berwarna putih dengan mahkota bunga dikepalainya.
Ia genggam tangan mungil istrinya untuk berhadapan dengan Tuhan dan mengucapkan janji sehidup semati. Sungguh ia menikmati saat-saat sakral bersama istri tercinta.
Namun sekarang, di hadapan cermin dengan tuxedo warna Navy ia sungguh tidak bahagia bahkan menjurus cemas.
Ia menghela nafasnya berat, sungguh dadanya berdenyut sakit, ingin sekali ia kabur dari acara ini. Ia sangat mengutuk acara pernikahan keduanya ini.
Pernikahan yang tak pernah ia coba bayangkan dalam hidupnya. Pernikahan yang hanya meninggalkan luka oleh seorang yang sudah terukir di hatinya.
Cklek
“Haris, ayo keluar. Acara akan segera dimulai” sekali lagi ia menatap pantulannya di cermin. Kemudian berbalik menatap sosok yang sedikit mirip dengannya menyembulkan kepalanya sedikit di pintu masuk pengantin pria.
Haris mengangguk pelan sebagai jawaban, sosok tadi tersenyum kecil dan berbalik keluar menutup pintu kembali.
Haris ingin sedikit pencitraan dengan mencoba sedikit tersenyum, namun semua itu sungguh sulit ia lakukan. Bahkan ia tidak mampu walau hanya sat detik.
Yang bisa ia lakukan hanya berdoa kepada Tuhan berharap semua ini hanyalah mimpi dan ia ingin terbangun dari mimpi buruk ini.
Tapi, itu semua hanyalah omong kosong, karena ini sangat nyata!
Sebelum keluar dari ruangan tersebut, ia sempatkan mengecek ponsel yang hening sejak tadi. Berharap ada balasan dari banyaknya pesan yang ia kirim. Ia menghela nafas sekali lagi, memegang gagang pintu dengan tangan gemetar.
“Aku benci semua ini Tuhan” gumamnya pada diri sendiri dan langsung keluar.
Haris berjalan dengan langkah berat, kemudian menatap pintu besar menjulang dengan ragu.
“Pengantin pria akan memasuki altar. Para tamu harap untuk tenang”.
Suaranya yang awalnya gaduh seketika hening. Menyisakan derit pintu yang terbuka perlahan.
Nuansa putih dan biru menyapa pandangannya.
Tap Tap tap Tap Tap
Dengan langkah pelan, Haris melangkah masuk. Matanya mengedar ke sekeliling.
Berharap menemukan sosok yang sedari tadi ia harapkan tak ada di sini.
Sedetik kemudian ia bernafas lega saat tak menemukan sosok yang ia cari. Doa nya terkabul
Istri tercintanya tidak ada di si—-
DEG
Haris merasakan jantungnya bergemuruh, langkah kakinya berat, nafasnya sesak melihat istri mungilnya bediri di sana membawa kotak cincin di tangannya.
Mata mereka bertemu, seperti menyampaikan rasa yang bercampur menjadi satu.
Haris hanya bisa menunduk, enggan menatap lebih lama sosok cantik yang bisa membuatnya melarikan diri dari acara sialan ini.
“Pengantin wanita akan memasuki altar, tolong tamu dimohon berdiri”
Haris yang berdiri didampingi pendeta mendongak menatap pintu besar yang terbuka.
Namun kali ini diiringi dengan musik khas pernikahan.
Seorang wanita cantik digandeng oleh ayahnya dengan balutan gaun indah.
Tapi tatapan haris justru tertuju pada istrinya yang tak jauh dari posisinya sekarang.
Sorot matanya sendiri dan menyakitkan. Ingin rasanya ia bawa istrinya pergi dari sini.
“Psstt Haris” Haris tersentak saat ia mendengar suara lirih Ayahnya saat ia menatap sosok di dekatnya tersebut.
Haris seperti tak sadar keadaan, raganya memang di sini namun tidak dengan jiwa dan hatinya.
Ia menatap datar sang Ayah dan juga orang yang akan menjadi calon istri keduanya, namun sebelah tangannya memegang jemari lentik gadis cantik itu.
Membawanya ke hadapan pendeta untuk mengucap janji suci.
“Saya akan mulai.. Saudara Haris Erlangga Atmaja. Apakah kau bersedia menerima Ayunda Lestari Kurnia sebagai istrimu dan menjagannya juga mencintainya sampai mau memisahkan kalian” sebelum menjawab Haris menghela nafas dan menyilangkan jari telunjuk dan tengahnya.
Bentuk tanda pengingkaran kami den berucap
“Bersedia”
-dengan jelas namun datar.
“Dan Anda Saudari Ayunda Lestari Kurnia. Apakah kau bersedia menerima Haris Erlangga Atmaja sebagai suami dan menjagannya juga mencintainya sampai mau memisahkan kalian?” Haris berharap gadis itu mengatakan tidak, tapi itu hanya angan-angan belaka.
“Ya, saya bersedia” suara gadis itu begitu lembut dan anggun, tapi Haris sama sekali tidak tertarik bahkan sangat membencinya.
“Silahkan pengantin bertukar cincin”
Enam-benar momentum sialan.
Tap tap tap tap
Jantungnya bergemuruh cepat saat mendengar suara heels yang mendekat yang membuatnya menoleh dan menatap sang pemilik.
Sungguh sakit rasanya saat lihat wajah sendu sang pujaan hati, ingin rasanya berlari dan memeluk tubuh mungil itu.
Wanita cantik itu memberikan kotak cincin dengan tangan yang gemetar. Dan bodohnya Haris menerima sambil menatap mata indah yang berkaca-kaca.
Telah menyerahkan kotak cincin tersebut, sang wanita menyingkir perlahan. Menatap sedih sepasang suami istri di hadapan Tuhan tanpa dilandaskan cinta.
“Saya sahkan kalian menjadi pasangan suami-istri. Pengantin pria bisa mencium pengantin wanita untuk pembuktian janji suci pada Tuhan”. Ekor matanya menangkap ekspresi pujaan hati yang tampak menahan gejolak amarah.
Terlihat kedua tangannya terkepal dengan nafas yang memburu. Ia sangat mengenal sikap dan sifatnya bagaimana.
Tentu saja Haris tidak mencium bibir pengantinnya, ia hanya mencium kening itupun hanya beberapa detik saja.
“Semoga kalian bahagia selalu” ucap pendeta kepada kedua pengantin.
…
Pesta pernikahan berlangsung meriah, diiringi penyanyi dan band terkenal yang mengisi cara.
Acara yang dipersiapkan sang Ayah, tetapi Haris tidak menikmatinya sama sekali.
Semua tamu datang untuk menyelamatinya terkecuali sosok cantik duduk dipojok dengan segelas wine di tangannya
Haris yang sejak tadi sibuk menyalami tamu langsung melepas gandengan Ayunda istri kedua nya dan melangkah cepat ke arah pojok meja.
Ayunda tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa berdiam diri ditempat dan malah sibuk dengan para tamu yang terus memujinya cantik.
“Gel..” Haris sudah berada di hadapan wanita cantik yang tengah mabuk dan kondisi rambut yang sedikit berantakan.
“Hai, pengantin baru. Kamu bahagia hari ni hm?” Haris berdecak , ia berjongkok dan merapikan rambut wanitanya yang berantakan.
“Sayang..” panggil Haris yang kembali membuat sosok wanita itu mendengus dan mendorong tubuh Haris yang hampir terjatuh. Haris bangkit kembali dan langsung memeluk wanitanya dengan erat. Ia tidak memperdulikan rengekan dan dorongan kecil yang minta dilepaskan
“Kamu pasti tersiksa, maafkan aku sayang” ucap Haris seraya mengelus lembut punggung wanitanya dengan lembut.
“Aku tidak..” jawabnya dengan rengekan kecil. Membuat Haris berjengit heran.
“Kau melanggar sumpah suci kita sayang, dasar nakal” Haris terkekeh mendengar lanjutan ucapan wanitanya yang berbicara sambil mencolek hidungnya lalu mengecup lembut bibir Haris
“Aku sangat mencintaimu, Gle” Wanita cantik itu tersenyum langsung menarik tengkuk Haris dan mencium bibir prianya, matanya menatap Ayunda yang tertegun disana.
“Aku juga mencintaimu, Kelinci nakal”
Haris kembali menarik tengkuk wanitanya dan melumat bibir tebal itu dan memeluknya dengan erat.
Membuat yang hadir disana memekik tak percaya.
Sang pengantin pria baru saja mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan ini berciuman dengan seorang wanita cantik dihapan semua orang.
Di sisi lain, sang Ayah hanya bisa memijit pelipis melihat adegan tersebut, lain hal dengan sang Ibu yang tersenyum seraya berkata “Kau yang memulainya, suamiku”.