"Gawat, Dik! Calon mempelai pria gak bisa hadir dalam pernikahan ini!" bisik salah seorang yang diketahui paman Lidya.
"Kok bisa? Apa alasannya?" tanya Monica yang merupakan mama Lidya.
"Aku juga tidak tahu, Dik. Tiba-tiba saja, keluarga mempelai pria datang dan memberitahu semua," jawab Guntur yang sedang kebingungan akan semua yang terjadi.
Bagaimana tidak? Kedua orang tua Lidya yaitu Monica dan Denis telah merogoh uang sekitar 100 juta untuk gedung, 50 juta untuk biaya dekorasi, 60 juta untuk catering makanan, biaya rias dan gaun pengantin 14 juta. Jika ditotal keseluruhan bukanlah uang yang sedikit bagi keluarga Lidya.
Monica berusaha untuk bersikap tenang, menyembunyikan semua kepahitan yang saat ini diterima. Apalagi, ini adalah pertama kalinya puteri semata wayangnya gagal menikah.
"Kamu tetap rahasiakan ini semua dari putriku, Kak. Aku tidak mau jika nanti akan membuat hatinya hancur. Sudah lama dia menantikan hari bahagia ini, setelah berkali-kali gagal bertunangan." Monica juga meminta bantuan pada Guntur.
"Bagaimana caranya, Dik? Mau diumpetin bagaimanapun pasti akan ketahuan juga!" seru Guntur.
"Kakak ipar tahu tentang ini?" tanya Monica cemas.
"Sengaja aku gak memberitahu mas Denis, Dik. Aku tahu riwayat penyakit mas Denis, tak mungkin juga aku mengatakan semua."
Hanya dua orang ini yang tengah merasakan panik yang luar biasa. Mencari solusi untuk semua masalah yang ada di hadapan mereka.
"Orang tua Aldo ada di sini?" tanya Monica setelah berpikir lama.
"Iya, mereka hadir. Cuma sudah pergi lagi, Dik. Mungkin mereka malu," jawab Guntur dengan suara pelan.
"Kita harus bagaimana ini? Mana tamu undangan di luar juga sudah banyak!"
Para tamu undangan sudah hadir. Mulai dari kerabat, teman dan juga teman-teman kantor Denis. Pria yang kerapkali dijuluki papa oleh Lidya itu seorang manager di salah satu perusahaan ternama. Sudah jelas, jika tragedi ini sampai tersebar luas. Hanya akan membuat pria itu malu.
"Kita harus mencari cara, Kak. Sebelum semua kacau," ucap Monica sembari memikirkan sebuah ide.
Di saat Guntur dan Monica tak henti mondar-mandir di luar ruang hias. Lidya datang dengan mengenakan gaun pengantin warna silver, dengan kepala yang juga dibaluti jilbab berwarna senada. Bunga melati dan juga mahkota berwarna emas.
"Gimana, Ma. Aku cantik gak?" tanya Lidya memberikan senyuman terindah di hari paling bahagia dalam hidupnya.
Sekali lagi, sang Mama tidak tega jika harus membuat senyuman yang ada di wajah putrinya itu menghilang begitu saja.
"Lidya can-tik. Ya 'kan, Kak?" Monica menepuk bahu Guntur untuk menghilangkan rasa grogi yang dialami.
"Iya, cantik sekali," puji Guntur dengan senyum yang dipaksakan.
"Kenapa Mama dan Om kelihatan gugup sekali? Aku aja yang mau nikah gak grogi kok!" kata Lidya sembari menyingkap gaun pengantin yang lebar dan panjang.
"Enggak, Mama gak gugup kok. Mungkin perasaan Lidya saja. Ya 'kan, Kak?" Lagi-lagi Monica harus menepuk pundak Guntur yang terlihat melamun.
"Aku senang banget deh, Ma. Akhirnya aku bisa menikah dengan pesta yang begitu meriah. Ditambah dengan dekorasi yang sangat indah, sesuai yang kuinginkan. Sudah lama aku mengkhayalkan waktu yang indah ini."
Wajah Lidya berseri-seri, semakin membuat sang Mama dan omnya tak ingin menghapus kebahagiaan wanita yang sudah berumur 30 tahun itu.
"Ya udah, Ma! Aku mau melanjutkan riasan dulu, kata periasnya belum selesai," pamit Lidya sembari melangkahkan kaki yang sudah memakai high heels untuk menutupi tubuh yang gak begitu tinggi.
"Apa gak sebaiknya kita katakan sekarang juga, Dik?" tanya Guntur yang mulai resah.
"Sebentar dulu, Kak. Kita harus mencari momen yang tepat. Gak mungkin juga membuat acara yang baru saja dimulai berantakan. Biarkan para tamu undangan mencicipi makanan yang sudah dihidangkan. Aku gak tega melihat wajah putriku yang bahagia menjadi bermuram durja. Kamu lihat sendiri tadi 'kan? Betapa bahagianya dia," ujar Monica mengingat senyum Lidya yang merekah.
"Iya, Dik. Kakak mengerti, tapi tak seharusnya hal ini dilakukan. Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Apalagi acara akad akan segera dimulai, apa gak membuat semakin malu?" jelas Guntur berusaha meyakinkan Monica agar segera memberitahu fakta yang ada.
"Apa kita cari pengantin pengganti saja?" tanya Monica. Entah dari mana wanita yang memakai kebaya warna navy itu memiliki ide.
"Jangan ngaco deh, Dik. Ini dunia nyata! Bukan film yang bisa saja sutradara langsung menyiapkan pria untuk menjadi pengantin pengganti. Mau cari di mana? Kamu tahu sendiri, kerap kali tetangga membicarakan Lidya kalau...," ucap Guntur berpikir, tak ingin menyakiti perasaan adiknya.
"Kalau apa, Kak. Katakan saja! Perawan tua? Ternyata Kaka sama saja dengan yang lain, bukan membuatku semakin tenang. Justru membuatku semakin kesal!"
Monica pun meninggalkan Guntur yang juga kebingungan sendiri, memikirkan nasib ponakan dan juga keluarga besar adik bungsunya. Mereka sekeluarga pasti akan malu. Lalu, bagaimana mereka akan menjalani kehidupan yang tak mudah itu? Dan yang pasti, rasa malu akan semua ini takkan hilang hanya dalam setahun saja.
Guntur berkeliling mengecek keadaan, sembari menghindari Denis yang pasti akan menanyakan perihal pengantin pria yang belum datang. Pasalnya, Aldo adalah anak dari teman om yang masih terlihat muda itu. Sudah pasti dia yang akan diinterogasi nantinya.
Pria itu juga tak habis pikir, kalau anak temannya akan melakukan hal yang mengejutkan. Padahal, keluarga mereka awalnya nampak setuju dan sangat antusias sekali. Apa yang sebenarnya membuat si Aldo ini harus membatalkan pernikahan?
'Mungkin aku sebaiknya bersembunyi di toilet saja.' Pria itu pun pergi ke toilet, menghindari keramaian.
Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 wib. Waktunya akad dimulai, sesuai yang sudah tertera di kartu undangan. Namun, belum juga ada tanda-tanda hilal. Semua tamu yang hadir sudah tak sabar dan mulai bergosip sana sini.
"Waktunya sudah pas lo, Jeng. Kenapa juga pengantin pria belum datang?" tanya Hindun yang merupakan tetangga julid, sembari melihat jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya.
Monica hanya bisa memberikan senyuman, memutar otak agar semua berjalan tak seperti yang saat ini terekam jelas di otaknya. Takut dicemooh, acara menjadi tragedi yang selalu diungkit oleh para tetangga, dan kerabat lah. Pun masih banyak kemungkinan yang akan membuat perasaan sang anak hancur.
"Kenapa gak dijawab sih, Jeng?" tanya Hindun lagi. Kali ini, wanita itu pergi ngeloyor begitu saja.
Lidya berjalan ke arah penghulu yang sudah menunggu, wanita itu pikir akan menunggu pria yang akan menjadi suaminya di sana saja. Siapa tahu saja akan segera datang, bisa jadi keterlambatan itu dikarenakan macet. Begitu dia mikirnya, apalagi rumah Aldo yang berada di luar kota.
"Kita sudah menunggu kurang lebih setengah jam, mempelai prianya ke mana? Kenapa belum datang juga?" tanya Firman seorang penghulu.
"Mungkin sebentar lagi, Pak." Lidya menjawab dengan antusias.
Tepat ketika cahaya harapan terlihat di sorot mata belo Lidya, Mila datang untuk mengejek.
"Sudah lah, apalagi yang harus ditunggu. Aldo dan keluarganya sudah membatalkan pernikahan ini! Kalau perawan tua ya, perawan tua aja. Gak mungkin bisa menikah sampai kapan pun juga."
Seluruh mata memandang Mila yang dengan tegas mencemooh di hadapan banyak orang. Dari mana Mila tahu semua ini?
Bersambung....