Cluster nomor sebelas menjadi jalan terakhir untuk mengupayakan kesembuhan penyakit Alea. Kali ini aku mencoba menuruti permintaan Mama agar segera pindah dari rumah yang sebelumnya.
Banyak yang bilang, kondisi Alea yang sekarang karena pengaruh letak rumah yang berada tepat di pertigaan jalan. Rumah tusuk sate, begitulah mereka menyebutnya.
Berdasarkan mitos yang berkembang di masyarakat, rumah tusuk sate menjadi sarang dari makhluk tak kasat mata. Sebab itu, Mama bersikukuh menyuruhku pindah. Mencari rumah baru yang nyaman buat Alea.
Mama mengkhawatirkan keadaan Alea. Ia sangat menyayanginya, meski gadis kecil itu bukan cucu kandung. Ketika aku memutuskan untuk mengadopsi Alea tiga tahun lalu, Mama tidak menolak sebab beliau juga terhipnotis dengan pesona bocah berambut ikal itu. Ceria, tanggap, dan ceriwis begitulah Alea di mataku.
"Ayah, Ayo berangkat!" teriak Alea dari luar. Ia mengajak pergi ke acara pesta pembukaan cluster, hunian kami yang baru.
Alea selalu saja ceria. Di manapun tempatnya, ia selalu bisa membuat keadaan menjadi nyaman. Baru beberapa hari tinggal di cluster, Alea sudah akrab dengan satpam depan.
"Ayah, Ayok!" Karena aku tidak kunjung keluar, Alea kembali berteriak.
Setelah memastikan penampilan dan aroma parfum sudah merata, aku keluar rumah dan mengunci pintu.
"Ayah," panggil Alea sambil menunjuk rambutnya.
"Rambut Alea sudah rapi. Anak Ayah sudah cantik," ungkapku seraya menggendong tubuh Alea yang mungil.
"Bukan rambut aku. Tapi rambut Ayah yang perlu dirapikan," bisik Alea. Ternyata dia meributkan rambut yang sengaja aku urai.
"Kan biar kayak preman yang jagain tuan putri," kilahku.
"Tidak ada preman yang jagain tuan putri. Aku mau rambut Ayah dikuncir. Biar makin ganteng. Siapa tahu, nanti ada yang melirik Ayah," saran Alea membuat perutku geli dan tidak bisa menahan tawa.
"Dari mana, anak Ayah belajar ngomong seperti ini?", ucapku sambil mencubit dagunya.
"Mbak Murni yang ajarin," jawabnya lugu.
"Oh, Mbak Murni. Baiklah, Ayah akan menguncir rambut dulu." Aku menurunkan Alea, lalu menguncir rambut dengan rapi sesuai keinginannya.
"Bagaimana?" Sengaja aku meminta Alea menilai penampilan diriku.
"Nah, Ini baru keren," jawab Alea sembari mengangkat dua jempol untukku.
Alea menyempatkan diri menyapa tetangga depan rumah, entah pemilik atau hanya asisten rumah tangga. Aku mendengar Alea memanggil dengan sebutan Tante Laras.
Sepertinya perempuan itu tidak berniat pergi ke acara pembukaan cluster, dari tadi ia hanya memperhatikan kesibukan warga dari tempat ia berdiri. Aku tidak akan berbasa basi dengannya, walau hanya sekedar say hello. Biar Mbak Murni dan Alea yang beraksi.
"Salam, Nak!" sapa seorang lelaki paruh baya. Ia duduk mengisi tempat kosong di samping kiriku.
"Iya, Pak!" balasku sambil menjabat tangan lelaki yang datang dengan memakai jas berwarna latte.
Lelaki itu memperkenalkan dirinya dengan nama Richard. Ia pandai membawa arah pembicaraan, mungkin karena ia seorang CEO yang sudah terbiasa momong anak buahnya. Berbeda dengan diriku yang hanya berbicara seperlunya, kecuali dengan Alea.
"Awang, Kamu sudah menikah?" tanya Pak Richard tiba-tiba.
"Saya sudah punya anak, Pak!"
Pak Richard melirik Mbak Murni dan Alea yang sedang duduk di sebelah kananku. Mungkin ia mengira bahwa mereka adalah anak dan istriku.
"Aku kira masih sendiri, tidak tahunya sudah beristri."
Aku hanya mengulas senyum menanggapi gurauan dari penghuni cluster nomer dua. Sembari menikmati buah melon dan semangka, aku meluruskan pikiran Pak Richard.
"Perkenalkan ini anak saya, namanya Alea. Di sebelahnya itu Mbak Murni, pengasuhnya."
"Oh kamu duda?"
Aku kembali tersenyum. Duda memang statusku, tapi keperjakaanku masih orisinil. Tidak perlulah orang tahu tentang itu. Biar ku simpan rapat semua rahasia perjuangan demi mendapatkan Alea.
Acara pembukaan cluster berjalan semarak. Aku menikmatinya. Demikian juga warga penghuni cluster. Alunan musik mengalun merdu mengiringi perjalan malam nan syahdu.
Di akhir acara, Murni datang tergopoh-gopoh dengan tangan gemetaran. "Mas, Alea pingsan lagi," bisiknya pelan.