Angin sore berhembus pelan, membawa aroma wangi berbagai jenis bunga yang bermekaran indah di halaman rumah Larasati. Di sudut taman yang paling rimbun, Laras duduk bersila di atas tikar anyaman, tangannya cekatan memotong ranting kering dan menyiram tanaman dengan penuh kelembutan. Baginya, setiap bunga yang tumbuh di sini adalah anak-anak yang harus dijaga, disayang, dan diperhatikan dengan sepenuh hati. Warisan mendiang ibunya ini bukan sekadar tanah dan tanaman, tapi seluruh dunia dan isi hatinya.
Di antara rimbunan bunga mawar, melati, kenanga, dan kembang sepatu, ada satu sudut khusus yang paling indah, di mana tumbuh bunga matahari yang tinggi menjulang. Bunga-bunga itu selalu menghadap ke arah matahari, selalu mencari cahaya, persis seperti hati Laras yang selalu mencari arah dan cahaya cintanya.
“Laras... lagi sibuk ya?”
Suara berat namun lembut itu terdengar dari balik pagar tanaman. Laras mengangkat wajahnya seketika, senyum indah merekah di bibirnya saat melihat sosok pemuda yang sudah begitu ia hafal betul setiap garis wajahnya. Galang. Teman masa kecil, tetangga sebelah, dan pemilik hati Laras sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Galang... kamu kok pulang lebih awal? Bukannya hari ini ada kuliah tambahan di kota?” tanya Laras sambil berdiri dan membersihkan debu di rok panjangnya.
Galang tersenyum manis, lalu melangkah masuk ke halaman rumah Laras dengan santai, seolah rumah itu adalah rumahnya sendiri. “Dibatalin dosennya. Jadinya aku langsung lari ke sini deh. Nggak ada tempat senyaman taman bunga kamu ini, Ras. Di sini rasanya damai banget, tenang, sejuk, persis kayak kamu.”
Wajah Laras memerah seketika. Ia menundukkan wajah berusaha menyembunyikan rasa salah tingkahnya. Sudah bertahun-tahun perasaan ini bersarang di hatinya, tapi ia tak pernah berani mengungkapkan. Ia takut, jika ia bicara, persahabatan indah ini akan rusak. Ia takut, jika ia mengaku, ia akan kehilangan sosok Galang selamanya.
“Kamu bisa aja ngomongnya. Sama aja kayak biasa kok taman ini, nggak ada bedanya,” jawab Laras pelan.
Galang berjalan mendekati hamparan bunga matahari yang besar itu. Ia menyentuh kelopaknya dengan lembut. “Masih rajin banget ngrawat bunga matahari ini ya? Padahal dulu pas kita kecil, ini tanaman yang paling susah kamu rawat, sering layu terus. Sekarang malah jadi yang paling gede.”
Laras ikut berdiri di samping Galang, menatap bunga kuning cerah itu dengan pandangan yang dalam. “Iya... aku ngerawatnya dengan sabar. Aku ingat banget dulu kamu bilang, bunga matahari itu harus dicintai dan diberi perhatian lebih, biar dia kuat menghadapi panas dan hujan. Aku ingat terus kata-kata kamu, makanya aku rajin banget ngrawatnya.”
Galang tertawa kecil. “Duh, masa omongan aku yang dulu aja masih diingat? Hebat banget ingatan kamu ya, Ras. Tapi bener juga sih, segala sesuatu kalau dirawat dengan kasih sayang, pasti bakal tumbuh indah. Sama kayak hati manusia ya, kalau dirawat dengan cinta, bakal mekar indah selamanya.”
Kalimat itu terasa begitu menyentuh hati Laras. Ia menatap samping wajah Galang yang tampan dan teduh itu. 'Kalau begitu... kalau aku rawat hati aku ini dengan cinta yang besar buat kamu... nanti hatiku bakal mekar indah buat kamu kan, Galang?' batin Laras berbicara dalam diam.
Namun, ketenangan sore itu sedikit terusik saat melihat raut wajah Galang yang berubah menjadi serius dan sedikit murung. Galang menatap lurus ke depan, ke arah jalan setapak yang menuju keluar desa.
“Ras... ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu,” ucap Galang pelan, suaranya berubah menjadi lebih berat dan serius.
Jantung Laras berdegup kencang tak beraturan. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. “Ada apa, Galang? Kok serius banget sih mukanya?”
Galang menarik napas panjang, lalu menatap mata Laras dalam-dalam. “Aku... aku dapet kabar bagus dari kampus, Ras. Aku dapet beasiswa lanjutan kuliah di luar kota. Waktunya lumayan lama, sekitar 3 sampai 4 tahun. Aku rencana minggu depan berangkat.”
Dunia rasanya berhenti berputar sejenak bagi Laras. Matanya membelalak tak percaya. “Luar kota... 4 tahun...?” ulangnya pelan, rasanya sulit sekali untuk menelan ludah sendiri.
“Iya, Ras. Ini kesempatan besar banget buat masa depanku. Aku nggak mau nyia-nyiain. Cuma... aku khawatir sama kamu, sama taman ini. Siapa yang bakal nemenin kamu kalau aku udah di sana nanti?” Galang terlihat benar-benar khawatir.
Laras menunduk dalam, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang mendadak ingin tumpah. Kepergian Galang berarti ia harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Tapi Laras tahu, ia tak boleh mementingkan perasaannya sendiri. Demi kebahagiaan dan masa depan Galang, ia harus rela.
“Galang... itu kabar bagus banget dong! Selamat ya... aku seneng banget dengernya,” jawab Laras dengan suara yang bergetar namun berusaha terdengar bahagia. Ia memaksakan senyum terindahnya. “Kamu jangan khawatirin aku sama taman ini. Aku bakal baik-baik aja. Aku bakal ngerawat taman ini, aku bakal jagain semua bunga-bunga ini tetep mekar dan indah. Aku bakal nungguin kamu pulang, sampai kamu balik ke sini lagi.”
Galang tersenyum lega, lalu menepuk bahu Laras dengan penuh rasa terima kasih. “Makasih ya, Ras. Kamu emang sahabat terbaik yang pernah aku punya. Tenang aja, aku janji... secepatnya aku bakal pulang. Dan pas aku balik nanti, aku pengen lihat taman ini makin indah dari sekarang. Dan kamu... kamu harus tetap cantik dan ceria kayak bunga-bunga ini ya?”
“Iya... aku janji,” jawab Laras pelan, meski di dalam hatinya ia berbisik: 'Dan aku juga bakal jagain hati ini tetap buat kamu, Galang. Aku bakal simpan cinta ini, biar pas kamu pulang nanti, aku kasih semuanya buat kamu.'
Sore itu menjadi kenangan terakhir kebersamaan mereka sebelum perpisahan. Di bawah naungan bunga matahari yang tinggi itu, terukirlah janji kesetiaan Laras, janji untuk menunggu, dan janji menjaga taman bunga... sekaligus menjaga isi hatinya yang penuh bunga cinta hanya untuk Galang.
Laras belum tahu, bahwa menunggu selama 4 tahun itu ternyata bukanlah hal yang mudah. Dan ia belum tahu, bahwa saat Galang pulang nanti, kenyataan yang menunggunya akan jauh lebih pahit daripada sekadar perpisahan.