‘Bodoh, bodoh. Kenapa aku begitu bodoh sekali.’
Tidak ada hentinya Sidney mengutuki dirinya sendiri dalam hati. Harusnya tadi dia bisa mengontrol diri, agar tidak terbawa emosi saat berhadapan dengan pria itu tadi.
Uang tadi… semua uangnya yang sudah diberikan ke pria tadi untuk mengganti rugi, padahal rencananya akan dia gunakan untuk membayar kost bulan depan. Sebenarnya masih ada uang tabungan miliknya yang tersimpan di rekening bank, tapi itu untuk keperluan kuliahnya yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Sementara di dompet sekarang hanya tersisa satu lembar 50.000 dan beberapa lembar pecahan uang yang lebih kecil lainnya. Gawat. Bagaimana ini?
Mereka masih dalam perjalanan pulang menaiki taksi. Sejak tadi Kevin memperhatikan, Sidney diam saja dan terlihat gelisah sambil memandangi dompetnya. Pria muda itu tekekeh, paham persoalan yang sedang dipikirkan sosok kakak yang disayanginya itu -- meskipun mereka tidak ada hubungan darah. Kak Sidney sudah berkali-kali membantu, membela, dan bahkan melindunginya setiap dia mendapatkan masalah.
Seperti tadi contohnya, gadis itu rela sampai terkena semprotan pria pemarah tadi. Bahkan mendengar kata makian yang menurutnya benar-benar keterlaluan. Tentang orang tua Sidney. Sebenarnya Kevin masih kesal setiap teringat akan ucapan pria tadi. Sidney pun sekilas tampak terpukul saat mendengar perkataan itu tadi.
Kevin sering merasa bersalah karena kesalahan-kesalahan yang dilakukannya Kak Sidney juga ikut repot dan menanggung akibatnya. Kevin merasa sangat beruntung mempunyai figur seorang kakak dalam diri Sidney. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kacau hidupnya seandainya tidak ada Sidney.
Diam-diam Kevin mengeluarkan handphone dari saku jaketnya, lalu membuka aplikasi m-banking dan melakukan sebuah transaksi. Begitu selesai dia kembali memasukkan handphone kedalam saku jaketnya. Dia tadi sempat melihat saat Sidney memberikan sejumlah uang kepada pria pemarah tadi di parkiran Klinik. Kejadian itu cukup menjelaskan ekspresi gelisah wanita yang sedang duduk termenung di sebelahnya.
"Gitu amat, mikirin masalahku dari tadi, Kak?" Ujar Kevin sambil terkekeh.
"Hah? ih, apaan... enggak kok."
"Alah, nggak perlu bohong kali, Kak."
Sidney mendengus. Anak ini terkadang memang jahil. "Nyatanya memang enggak."
"By the way kak, laper nggak? kita mampir ke nasi goreng Mang Edi dulu gimana?"
Oh iya ya, Sidney baru ingat kalau dirinya belum menyantap makan malam. Dari sore tadi toko ramai pengunjung karena 2 hari ke depan akan ada acara wisuda di sebuah Universitas dekat Four Season Florist. Jumlah pesanan buket bunga dari kemarin melonjak.
"Iya, boleh juga. Kebetulan sekali aku memang belum makan."
Mereka akhirnya mampir dulu ke gerobak nasi goreng Mang Edi tapi take away saja karena sudah larut malam. Setelah menunggu selama setengah jam menunggu pesanan selesai, mereka kini sudah kembali dalam perjalanan ke kediaman masing-masing. Taksi yang mereka tumpangi menuju alamat kost Sidney dulu karena jaraknya lebih dekat. Saat Sidney sudah turun dari taksi dan hendak menutup pintu mobil, mendadak Kevin memanggilnya.
"Kak, aku tadi sudah transfer ke rekening bank-mu. Jangan lupa dicek ya. Buat mengganti uang ganti rugi tadi."
"Apa? Tidak usah, Kev... Tadi aku memberi ganti rugi juga tanpa diskusi dulu ke kamu."
"Ck, sudah lah, Kak. Duit yang sudah ditransfer haram dikembalikan."
Sidney mendesah kalah. "Ya sudah kalau kamu memaksa." Sahutnya dengan nada bercanda.
Anak itu tertawa. "Sudah ya. aku pulang dulu. Mama sudah mencariku. Teleponnya dari tadi belum aku angkat."
"Ya sudah, hati-hati ya. Kabarin mamamu juga."
Begitu memasuki kamar kost-nya Sidney langsung bersih-bersih dan mandi karena sudah tidak tahan dengan tubuhnya yang rasanya lengket karena aktivitas seharian. Selesai mandi dan mengenakan setelan baby doll yang nyaman akhirnya duduk dan mulai menyantap nasi goreng Mang Edi yang dibelinya tadi dalam perjalanan pulang.
*DRRTT* *DRRTT*
Benda persegi panjang yang tergeletak di atas meja nakas itu tiba-tiba bergetar. Saat meraih handphone-nya dan melihat nomor asing yang terpampang di layar, membuat dahi Sidney berkerit. Siapa ini yang malam-malam begini menelepon?
Orang iseng kah? Sidney malas sekali jika diangkat dan ternyata berurusan dengan telepon iseng. Tapi bisa jadi ini telepon penting. Hmm, tidak ada salahnya diangkat sih.
"Halo, selamat malam."
"Nona Sidney Juliana?" Suara berat seorang pria menyapanya.
"Ya, dengan saya sendiri. Ini siapa ya?"
"Saya Sean Alexander. Om dari anak kecil korban kecelakaan adik Anda beberapa jam yang lalu."
Oh, pantas saja suaranya terdengar sok... ternyata orang tadi, pikirnya dengan malas. Om yang lalai menjaga keponakannya, tapi menimpakan kesalahannya ke orang lain saat terjadi hal yang buruk.
"Oh... ada apa, Tuan? Apakah ada hal yang perlu dibahas?" Sahutnya dengan malas.
"Iya, ada sesuatu yang ingin saya bahas. Besok bisa bertemu?"
Dia menelan ludah. Tiba-tiba merasa gugup. Apakah keadaan anak itu memburuk? makanya Om anak itu sampai menelopon untuk menuntut pertanggung jawaban yang lebih besar? Atau uang ganti rugi yang dia beikan tadi ternyata kurang? Tanpa sadar Sidney menggigiti kuku di jari jempolnya, hal yang selalu dilakukannya tanpa sadar setiap kali merasa panik.
"Nona? apa Anda mendengarku?"
"Eh? Ah, i-iya... saya mendengar kok."
"Besok siang jam 12 siang , bagaimana kalau kita bertemu? Anda bisa?"
"Hmm, oke. Bisa. Dimana?"
"Di Crydon Cafe."
"Oke."
"Cuma itu yang ingin saya sampaikan. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat Anda malam-malam. Selamat malam."
Ya tuhan, bagaimana ini? bagaimana jika ketakutannya berubah jadi kenyataan? Tapi sikap Pria yang mengaku bernama Sean tadi terdengar sangat berbeda daripada saat marah-marah di Klinik. Pria yang barusan terdengar sangat sopan.
Huft, entahlah. Sidney menenangkan diri sendiri dan mencoba tidak berpikir macam-macam dulu. Dia memandangi nasi gorengnya dan jadi agak kehilangan selera makan.