Iris pulang dari pemeriksaan bulan ketujuh dan menemukan pintu kamar ujung lorong dalam keadaan terbuka.
Kamar itu dulu gudang. Kotak-kotak lama, kursi yang rusak, sepeda statis yang tidak pernah dipakai.
Sekarang di dalamnya ada karpet tebal, tirai berlapis dua, lemari sepanjang satu dinding penuh, dan sebuah ranjang bayi berukir yang harganya bisa Iris tebak hanya dari kilau kayunya.
Dindingnya biru. Biru laut, gelap, dicat sampai ke langit-langit.
Gavin berdiri di tengah ruangan dengan wajah seorang anak yang menunggu dipuji.
"Selesai kemarin malam," katanya. "Tukangnya kerja tiga hari penuh."
Iris tidak melangkah masuk.
"Kau melanggar perjanjian kita."
Senyum di wajah Gavin memudar sedikit. "Perjanjian yang mana?"
"Tidak membuat keputusan untuk pasangan." Suaranya lebih datar daripada yang ia rencanakan. "Ini kamar anak kita. Warnanya, letaknya, semuanya sudah jadi sebelum aku tahu ada rencananya."
"Aku ingin memberi kejutan."
"Kejutan tetap keputusan tentang ruang anak kita, Gavin."
Pertengkaran itu berlangsung hampir satu jam, dan keduanya mengucapkan hal-hal yang tidak sepenuhnya adil.
Gavin berkata bahwa apa pun yang ia lakukan selalu dicurigai, bahwa ia tidak bisa lagi membedakan mana perhatian dan mana pelanggaran, bahwa mungkin lebih aman baginya untuk tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Iris berkata bahwa setiap kali pria itu gugup, tangannya langsung bergerak mengambil kendali atas sesuatu, dan kebetulan yang paling mudah diambil adalah hidup orang di dekatnya.
Malam itu mereka tidur membelakangi satu sama lain, dan tidak seorang pun memakai diam sebagai senjata, karena itu pun ada di daftar.
Konselor mereka mendengarkan seluruh cerita tanpa memihak.
"Gavin, kenapa harus sekarang? Kenapa tidak minggu depan, setelah bicara dulu?"
Pria itu diam lama.
"Karena kalau saya duduk diam, saya memikirkan angka," katanya akhirnya. "Tekanan darahnya. Berat bayinya. Semua yang bisa salah. Kalau saya sedang memilih warna dan memesan lemari, kepala saya berhenti memutar hal itu."
Iris menoleh ke arahnya. Ia belum pernah mendengar kalimat itu.
"Kamu takut kehilangan bayinya."
"Saya takut kehilangan kalian berdua."
Konselor menoleh ke Iris. "Dan reaksi kamu kemarin, sekeras itu, dari mana datangnya?"
Iris menatap tangannya sendiri.
"Dari tahun pertama pernikahanku," katanya. "Waktu semua orang menentukan aku harus jadi apa. Istri yang bagaimana, duduk di kursi mana waktu acara keluarga, kapan aku boleh bicara. Aku melihat dinding biru itu dan yang aku rasakan bukan marah soal cat. Aku merasa seperti tamu di kamar anakku sendiri."
Mereka mengosongkan sebagian kamar itu pada akhir pekan berikutnya.
Lemari sepanjang dinding dikembalikan ke toko, begitu pula ranjang berukir dan dua lampu yang masing-masing seharga gaji bulanan seorang karyawan.
Dindingnya dicat ulang menjadi hijau lembut, warna yang mereka pilih setelah berdebat setengah jam di depan enam belas kartu warna yang semuanya tampak sama.
Sebagai ganti ranjang mahal itu, mereka memakai buaian kayu lama milik keluarga Adinata, yang dulu dipakai Iris sendiri. Buaian itu disimpan di gudang rumah orang tuanya selama dua puluh delapan tahun. Minah yang mengamplasnya, mengencangkan sambungannya, dan menjahit ulang alasnya selama empat hari.
"Masih kuat, Non," katanya bangga. "Kayu jati zaman dulu tidak main-main."
Iris menyentuh tepi buaian itu dan menyadari ada goresan kecil di sisi dalamnya, bekas gigi seseorang yang pernah sangat kecil. Mungkin dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa memastikan.
Tiffany menelepon minggu berikutnya.
"Aku dengar kamarnya dicat ulang," katanya hati-hati. "Kalau boleh, aku ingin melukis sesuatu yang kecil di dindingnya. Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa, aku serius."
Iris berpikir cukup lama sebelum menjawab.
"Boleh," katanya. "Tapi desainnya kita pilih bersama. Kau tunjukkan sketsanya dulu."
"Setuju. Semuanya."
"Dan kalau aku bilang tidak di tengah jalan, kau berhenti."
"Aku berhenti."
Tiffany datang dengan tiga sketsa. Mereka memilih yang paling sederhana bersama-sama: deretan awan di satu sisi dinding, dan bintang-bintang kecil yang naik ke arah sudut langit-langit.
Ia melukisnya selama dua hari, duduk di lantai dengan kuas kecil, tidak bicara banyak.
Ketika selesai, Iris memeriksa setiap sudutnya.
Tidak ada huruf T di mana pun. Tidak ada inisial yang disamarkan menjadi bintang, tidak ada tanda tangan di balik lemari. Tidak ada satu pun jejak yang menuntut agar seseorang mengingat siapa yang melukisnya.
Pemeriksaan bulan kedelapan berjalan lebih lama daripada biasanya.
Perawat mengukur tekanan darah Iris tiga kali, dari lengan yang berbeda, dengan wajah yang semakin tidak enak dilihat.
"Naik cukup tinggi," kata dokter. "Mulai sekarang tidak ada perjalanan. Sama sekali. Kontrol setiap minggu, dan kalau ada sakit kepala hebat atau pandangan kabur, Ibu langsung ke rumah sakit, tidak menunggu jadwal."
Iris menunggu di mobil untuk apa yang akan terjadi berikutnya.
Setahun lalu, Gavin akan menyita kopernya. Menelepon atasannya. Mengurus semuanya sebelum Iris sempat membuka mulut.
"Aku butuh tahu satu hal," kata Gavin, tangannya di kemudi, mesin belum ia nyalakan. "Bantuan seperti apa yang kamu mau dariku? Bukan yang kukira kamu butuh. Yang kamu mau."
Iris menarik napas.
"Aku ingin tetap mengikuti rapat dari rumah. Tim itu masih pekerjaanku, dan kalau aku hilang total selama dua bulan, semua yang kubangun akan dipegang orang lain." Ia berhenti. "Dan aku ingin kau tidak memandangku seperti kaca. Aku tahu kau takut. Tapi kalau kau menahan napas setiap kali aku berdiri, aku juga jadi takut."
Gavin mengangguk pelan.
"Aku akan mencoba."
Ia memang masih cemas. Iris melihatnya di cara pria itu terbangun dua kali setiap malam hanya untuk memastikan istrinya bernapas. Bedanya, kecemasan itu ia bawa ke ruang konseling dan ke ruang praktik dokter, di mana ia bertanya sampai puas dan mencatat jawabannya di ponsel.
Ia tidak lagi mengubahnya menjadi larangan.
Kamar di ujung lorong itu perlahan berubah bentuk. Yang semula berdiri sebagai monumen kendali kini menjadi kumpulan pilihan yang dibuat berdua, dan pilihan orang-orang yang mereka izinkan masuk.
Di atas meja kecil dekat jendela ada tiga buku cerita bekas dari Tiffany, kain bedong yang dijahit Minah dengan jahitan tangan yang rapat, dan satu foto hasil pemeriksaan yang Iris tempel sendiri dengan selotip, agak miring, dan tidak ada yang membetulkannya.
Ruangan itu masih kosong.
Namun kekosongannya tidak lagi menakutkan. Ia hanya sedang menunggu seorang anak, tanpa menuntut anak tersebut memenuhi harapan siapa pun.