Gavin butuh tiga bulan untuk berhenti bangun pukul lima, dan tiga bulan berikutnya untuk menemukan apa yang ingin ia kerjakan dengan waktu yang tiba-tiba menjadi miliknya.
Jawabannya datang dari berkas lama yang ia temukan saat merapikan gudang: laporan panti asuhan tempat ia dan Tiffany pernah menjadi donatur bertahun-tahun lalu, dengan foto anak-anak yang sekarang mungkin sudah dewasa dan entah bagaimana nasibnya.
"Aku mau bikin yayasan," katanya pada suatu sarapan.
"Untuk?"
"Anak yang kehilangan pengasuhan. Yang orang tuanya meninggal, atau dicabut haknya, atau menghilang." Ia menggeser tabletnya ke arah Iris. "Aku sudah lihat-lihat gedung. Ada bekas hotel di jalan utama, tiga lantai, halamannya luas. Kalau dipasang papan nama besar di depan, orang lewat pasti lihat."
Iris membaca layar itu.
"Papa nama apa?"
"Belum tahu. Mungkin... Mikhail Foundation. Atau Gavin Mikhail Center."
Iris meletakkan sendoknya.
"Boleh aku jujur?"
"Selalu."
"Bantuan tidak boleh menjadi monumen pemberi dana." Ia menatap suaminya. "Kalau namamu terpampang tiga meter di depan, anak-anak itu masuk sambil membaca nama orang yang menolong mereka setiap hari. Tiap hari, seumur hidup mereka di sana. Itu bukan tempat aman, itu tagihan yang ditulis di dinding."
Gavin diam lama.
"Aku bahkan tidak sadar sedang melakukannya," katanya pelan.
"Aku tahu. Karena itu aku bilang sekarang, bukan nanti setelah papannya dipasang."
Mereka memulai ulang dari nol.
Bukan dengan arsitek, melainkan dengan ruangan sewaan yang penuh kursi lipat. Gavin mengundang pekerja sosial yang sudah dua puluh tahun di lapangan, dua mantan penghuni panti yang kini sudah bekerja, seorang pengacara keluarga, dan enam anak berusia sepuluh sampai tujuh belas tahun.
Pertemuan pertama berjalan buruk. Anak-anak itu diam. Orang dewasa berbicara terlalu banyak.
Pada pertemuan ketiga, seorang remaja laki-laki bernama Bagas akhirnya bicara.
"Yang paling saya benci di tempat lama," katanya, "itu tiap ada tamu, kami disuruh nyanyi."
Ruangan itu hening.
"Kenapa?" tanya Gavin.
"Karena kami jadi tahu kami ini apa. Kami ini yang ditonton biar orangnya merasa enak."
Gavin mencatat kalimat itu di bukunya, dan kemudian menempelkannya di dinding kantor yayasan sampai bertahun-tahun setelahnya.
Namanya ditetapkan lewat pemungutan suara di pertemuan keenam. Ada sembilan usulan di papan tulis. Yang menang diusulkan oleh seorang anak perempuan berusia dua belas tahun.
Rumah Pilihan.
"Kenapa Pilihan?" tanya seseorang.
"Karena di tempat lama aku tidak pernah milih apa-apa," jawab anak itu, mengangkat bahu. "Baju dipilihin. Makan dipilihin. Mau tinggal di mana dipilihin."
Tempat itu akhirnya berisi tiga hal: konseling, bantuan hukum untuk mengurus hak asuh dan dokumen, serta pelatihan bagi keluarga asuh supaya anak tidak dikembalikan setelah enam bulan karena orang tua asuhnya kewalahan.
Tiffany bergabung sebagai konsultan trauma. Ia melamar seperti orang lain, diwawancarai oleh panel yang tidak ia kenal, dan sertifikat pendidikannya diperiksa satu per satu.
Larissa mengaudit dananya, dengan kontrak yang menyebut bahwa ia berhak mempublikasikan temuannya tanpa persetujuan siapa pun, termasuk Gavin.
Tidak seorang pun bekerja di sana hanya karena hubungan keluarga. Aturan itu ditulis di paragraf pertama anggaran dasar.
Masalahnya datang dari luar.
Sebuah media daring menerbitkan tulisan panjang enam minggu sebelum pembukaan. Judulnya menyebut Rumah Pilihan sebagai proyek penebusan Tiffany Mikhail. Fotonya foto lama. Isinya mengulang semuanya, lalu menutup dengan kalimat manis tentang orang yang berubah.
Tulisan itu tampak memuji. Akibatnya justru sebaliknya.
Dalam dua minggu, empat keluarga membatalkan pendaftaran. Seorang ibu menelepon bagian penerimaan dan bertanya, dengan suara gemetar, apakah cerita anaknya nanti akan dipakai untuk memperbaiki nama perempuan itu.
Rapat darurat digelar Kamis malam.
"Kita bisa keluarkan bantahan," kata bagian komunikasi.
"Bantahan malah memanjangkan," kata yang lain.
Tiffany mengangkat tangan.
"Saya mundur dari posisi wajah publik," katanya. "Semua wawancara, semua acara, semua foto, coret nama saya. Saya tetap kerja, tapi di belakang, dan tetap di bawah pengawasan seperti sekarang."
"Tiff, itu tidak adil," kata Gavin. "Kamu bekerja keras di sini."
"Adil bukan ukurannya, Kak." Suara Tiffany tenang sekali. "Ada ibu yang takut mendaftarkan anaknya karena namaku. Niat baikku tidak menghapus dampak namaku. Kalau aku memaksa berdiri di depan, yang kubela itu perasaanku, bukan anak-anaknya."
Gavin ingin membantah lagi, tetapi Iris menyentuh lengannya di bawah meja.
Pembukaan digelar pada Sabtu pagi yang panas.
Tidak ada panggung tinggi. Tidak ada undangan untuk pejabat. Tidak ada wartawan yang diundang khusus, meski dua datang sendiri dan dipersilakan masuk dengan syarat tidak memotret wajah anak-anak.
Pita itu dipotong oleh Bagas, remaja yang dahulu bicara soal disuruh menyanyi. Tangannya gemetar memegang gunting, dan ia mengumpat pelan ketika pitanya tidak putus di percobaan pertama, dan semua orang tertawa.
Gavin berdiri di barisan belakang bersama Iris, memakai kemeja biasa, memegang gelas air mineral.
Tidak ada yang meminta pendiri yayasan itu naik ke depan, karena tidak ada depan yang perlu dinaiki.
Aurora menarik-narik ujung baju ayahnya di tengah acara.
"Pa."
"Kenapa, Sayang?"
"Kenapa namanya bukan nama Papa?" Anak itu menunjuk papan di dinding. "Kan Papa yang bikin."
Beberapa orang dewasa di dekat mereka menoleh.
Gavin berlutut supaya sejajar dengan mata anaknya.
"Karena tempat ini bukan tentang Papa," jawabnya.
Aurora mengerutkan kening, memikirkan itu beberapa detik, lalu berlari mengejar anak lain yang membawa balon.
Malamnya, rumah mereka sepi.
Iris turun mencari air pukul sepuluh, dan berhenti di ambang pintu ruang tengah.
Gavin duduk di lantai, bersila, dengan Aurora di sampingnya. Ada kertas berserakan dan krayon yang tutupnya hilang semua. Mereka sedang menggambar rumah dengan atap berwarna ungu, dan Gavin sedang diberi tahu, dengan sangat tegas, bahwa pintunya harus digambar lebih besar.
Ponselnya tergeletak di meja, layarnya gelap, menyala sekali karena pesan masuk, lalu gelap lagi.
Gavin tidak meliriknya sama sekali.
Iris berdiri di situ agak lama.
Mereka menghabiskan bertahun-tahun belajar melepaskan. Melepaskan kendali, melepaskan dendam, melepaskan nama besar yang dahulu mereka kira adalah diri mereka sendiri.
Kini pelajaran itu berdiri di ujung kota sebagai sebuah rumah yang pintunya terbuka tanpa membuat penghuninya merasa berutang.
Iris berjalan mendekat dan duduk di sofa. Gavin menyandarkan punggungnya ke kaki Iris, masih memegang krayon hijau.
Iris menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
"Aku bangga kepadamu, Boss."
Gavin tersenyum tanpa menoleh.
"Aku lebih suka menjadi suamimu."
Untuk pertama kalinya, gelar itu tidak membawa jarak. Ia hanya menjadi kenangan tentang titik awal sebuah perjalanan yang membawa mereka pulang.