Telepon itu datang pukul empat pagi, dan Iris tahu sebelum mengangkatnya bahwa tidak ada kabar baik yang datang pukul empat pagi.
Jeffery masuk unit gawat darurat. Serangan jantung.
Mereka sampai di rumah sakit empat puluh menit kemudian, Aurora masih tertidur di bahu Gavin. Regina sudah di sana, berdiri di lorong dengan mantel yang dipakai terbalik.
Perempuan yang seumur hidup tidak pernah keluar rumah tanpa lipstik itu berdiri di lorong rumah sakit dengan wajah polos dan rambut yang tidak disisir.
"Ma," kata Gavin.
Regina menoleh, dan yang keluar dari mulutnya bukan kalimat, melainkan suara kecil yang langsung ia tahan dengan telapak tangan.
Kabarnya ternyata jauh lebih ringan daripada yang mereka takutkan. Serangan jantung ringan, tertangani cepat, tidak ada kerusakan besar. Jeffery dipindahkan ke kamar biasa siang itu juga, dan sudah mengeluh soal makanan rumah sakit pada sore harinya.
Dokter memberi daftar panjang: garam dikurangi, rokok berhenti total, jalan kaki tiap hari, periksa rutin tiap bulan.
"Bisa, Pak?"
"Bisa," jawab Jeffery.
"Tidak bisa," sambung Regina. "Dia tidak pernah bisa apa-apa sendiri."
Semua tertawa. Waktu itu semua orang masih menganggapnya lucu.
Ketakutan Regina baru kelihatan bentuknya tiga minggu kemudian.
Mula-mula telepon. Setiap pagi, lalu setiap pagi dan sore, lalu setiap jam. Kepada Gavin, kepada Tiffany, kepada Iris, dan kalau tidak diangkat dalam dua kali dering, kepada sopir.
Lalu permintaan itu.
"Kalian pindah ke mansion," katanya pada makan malam Minggu. Bukan diusulkan. Diumumkan. "Kamar kalian masih ada. Sayap timur kosong, cukup untuk Aurora dan pengasuhnya. Tiffany juga. Apartemen itu dijual saja."
Gavin meletakkan garpunya.
"Ma, tidak."
"Ayahmu sakit."
"Ayahku sudah pulih dan kemarin memangkas semak sendiri sampai Mama teriak-teriak."
"Kalau terjadi lagi bagaimana? Kalau malam-malam dan tidak ada siapa-siapa?"
"Ada perawat malam. Ada tombol darurat di tiga kamar." Suara Gavin melembut. "Ma, aku bisa sampai sini dua puluh menit. Aku menelepon Papa setiap hari."
"Dua puluh menit itu lama."
"Tinggal di sini pun tidak membuatnya tidak sakit lagi."
Tiffany yang duduk di ujung meja akhirnya bicara.
"Aku tidak akan menjual apartemenku, Ma."
"Kamu tinggal sendirian, Tiffany. Itu tidak baik."
"Aku sudah empat tahun tinggal sendirian, dan empat tahun ini yang paling waras dalam hidupku."
Regina meletakkan serbetnya, berdiri, dan pergi ke lantai atas.
Kalimat yang ia lemparkan sebelum naik tangga menggantung di ruang makan sepanjang malam.
"Ternyata anak-anak saya tidak peduli."
Iris yang menyusulnya, dua hari kemudian, sendirian, tanpa memberi tahu Gavin.
Ia tidak datang untuk membela siapa-siapa. Ia datang membawa satu brosur.
Regina membacanya sekilas, lalu meletakkannya seolah kertas itu kotor.
"Konselor keluarga," katanya. "Jadi menurut kamu saya gila."
"Tidak ada yang bilang begitu, Ma."
"Di zaman saya, orang yang ke sana itu yang ada apa-apanya."
"Di zaman Mama juga, orang tidak periksa jantung sampai sudah roboh di lorong rumah sakit," balas Iris.
Regina menoleh tajam. Iris tidak mundur.
"Mama boleh marah sama saya. Tapi tolong dengar sebentar." Iris duduk di kursi seberang. "Saya tidak ke sini demi Gavin. Saya ke sini karena minggu lalu Mama menelepon saya jam satu malam, dan waktu saya angkat, Mama diam hampir satu menit sebelum bicara. Itu bukan orang yang sedang mengatur. Itu orang yang sedang takut."
Regina tidak menjawab.
Ia tidak setuju hari itu. Ia juga tidak membuang brosurnya.
Sesi pertama berlangsung buruk. Regina berbicara tentang cuaca, tentang betapa sulit mencari staf yang benar, dan tentang anak-anak zaman sekarang yang tidak mengerti keluarga.
Sesi keempat, konselor itu bertanya satu hal sederhana.
"Kalau semua orang di rumah itu baik-baik saja tanpa Ibu, apa yang tersisa untuk Ibu?"
Regina membuka mulut untuk menjawab cepat, seperti biasa, dengan kalimat yang sudah jadi.
Kalimat itu tidak keluar.
Iris, yang duduk di kursi samping, melihat tangan perempuan itu mulai meremas tali tasnya.
"Seluruh hidup saya," kata Regina akhirnya, sangat pelan, "dibangun dengan menjaga semua orang tetap dekat. Saya yang mengatur siapa duduk di mana. Saya yang menyatukan meja makan itu tiap Minggu selama tiga puluh tahun, bahkan waktu tidak ada yang mau datang."
"Dan sekarang?"
"Sekarang mereka bisa sendiri." Suaranya bergetar. "Gavin punya rumahnya. Tiffany punya pusatnya. Iris punya perusahaannya. Bahkan Jeffery."
Ia menarik napas, dan kalimat berikutnya keluar seperti sesuatu yang sudah lama disimpan di dasar laci.
"Aku takut jika tidak dibutuhkan, aku tidak punya apa-apa."
Ruangan itu sunyi.
Iris merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengatakan hal yang paling gampang: Mama masih dibutuhkan, ada Aurora, Mama bisa menjemputnya sekolah tiap hari.
Ia menahannya.
Karena itu berarti menyerahkan cucunya sebagai obat kesepian, dan anak itu akan tumbuh membawa pekerjaan yang bukan miliknya.
Jadi Iris hanya berkata, "Mama punya waktu tiga puluh tahun yang tidak pernah dipakai untuk Mama sendiri. Ayo kita cari mau dipakai apa."
Yang mereka temukan bukan acara amal yang biasa.
Regina memang punya belasan yayasan yang memakai namanya. Semuanya sama polanya: menandatangani cek, datang ke acara, difoto menyerahkan bantuan berukuran besar, pulang.
Iris mengajaknya ke tempat yang berbeda. Sebuah dapur umum yang dikelola warga di pinggir kota, yang butuh orang untuk mengatur jadwal, memeriksa stok, dan menekan pemasok supaya tidak menaikkan harga seenaknya.
Pekerjaan yang, kebetulan sekali, adalah keahlian Regina selama tiga puluh tahun.
Bulan pertama ia mengeluh soal kebersihan. Bulan kedua ia mengganti seluruh sistem pencatatan mereka. Bulan ketiga ia memarahi seorang pemasok lewat telepon sampai harga beras turun dua ratus rupiah per kilogram, dan pulang dengan wajah paling puas yang pernah Iris lihat.
Ia tidak pernah difoto di sana. Tidak ada yang tahu siapa dia, selain seorang ibu galak yang datang tiap Selasa.
Jeffery, sementara itu, menemukan kebun.
Bukan taman yang diurus tukang, melainkan sepetak tanah di belakang mansion tempat ia menanam cabai, tomat, dan sesuatu yang ia bersikeras adalah melon meski tidak ada yang percaya.
Hubungan mereka berubah pelan-pelan, dan yang berubah bukan kemesraannya.
Yang berubah adalah Regina berhenti menjadi penjaga citra keluarga, dan mulai belajar menjadi pasangan yang meminta bantuan.
Iris mendengarnya sendiri suatu sore, tanpa sengaja, dari balik pintu dapur.
"Jeffery, saya capek hari ini. Bisa tolong ambilkan minum?"
Kalimat itu sederhana sekali. Tetapi Iris berdiri di balik pintu itu cukup lama, karena dalam bertahun-tahun mengenal perempuan itu, ia belum pernah sekali pun mendengar Regina meminta tolong untuk dirinya sendiri.
Perubahan berikutnya datang lewat sebuah pesan.
Undangan makan malam keluarga, dikirim Rabu, untuk Minggu.
Kalian ada waktu Minggu? Kalau Aurora ada les, kita bisa geser. Mama tunggu kabarnya.
Gavin membaca pesan itu tiga kali di meja makan.
"Kenapa?" tanya Iris.
"Dia bertanya dulu." Lelaki itu meletakkan ponselnya, dan ada sesuatu yang aneh di wajahnya. "Tiga puluh delapan tahun, Iris. Baru sekali ini dia bertanya dulu."
Perubahan itu kecil. Satu kalimat tambahan di sebuah pesan singkat. Tidak ada yang akan menuliskannya di mana pun.
Tetapi Gavin membalasnya dengan pesan paling panjang yang pernah ia kirim ke ibunya.
Tidak ada seorang pun yang pindah kembali ke mansion.
Sayap timur tetap kosong, kamar-kamar lama tetap tertutup, dan meja makan panjang itu tetap terlalu besar untuk dua orang.
Namun rumah besar itu tidak lagi terasa kosong, karena penghuninya mulai memiliki hidup yang tidak bergantung pada mengendalikan anak-anak mereka.