Makan malam itu direncanakan sederhana. Tentu saja tidak jadi sederhana.
Regina sudah menyiapkan tiga jenis hidangan pembuka dan mengganti taplak meja dua kali sejak sore. Jeffery duduk di kursinya sambil membaca koran, pura-pura tidak tahu istrinya sedang gugup.
Daniel datang tepat waktu, membawa kue dari toko biasa, bukan toko mahal. Tinggi sedang, rambut sedikit berantakan, dan tangan yang jelas terbiasa dicuci berkali-kali sehari.
Belum sempat duduk, pertanyaan sudah datang.
"Dokter di rumah sakit mana?" tanya Regina.
"Rumah sakit umum, Bu. Bagian penyakit dalam."
"Orang tua Anda di mana?"
"Di Semarang. Ayah saya guru, sudah pensiun."
"Anak keberapa?"
"Kedua dari tiga."
"Rencana menikah kapan?"
Sendok Tiffany berhenti di udara.
"Ma."
"Ibu cuma bertanya."
"Ibu sedang wawancara." Tiffany meletakkan sendoknya. "Kami sedang saling mengenal. Tidak ada keputusan yang harus dibuat malam ini."
Regina membuka mulut, menutupnya, lalu meraih gelas air. Iris melihat perubahan kecil itu dan diam-diam mencatatnya. Dua tahun lalu, kalimat semacam itu akan berakhir dengan drama dan pintu yang dibanting.
Di seberang meja, Gavin belum mengatakan sepatah kata pun. Tetapi ia mengamati Daniel seperti orang mengamati laporan keuangan yang angkanya terlalu rapi. Bagaimana pria itu memegang garpu. Berapa lama ia menatap mata orang ketika bicara. Apakah ia menyela Tiffany.
Iris menyentuh lengan suaminya di bawah meja. Satu sentuhan, tidak lebih.
Gavin menoleh sedikit, lalu menghela napas dan menyandarkan punggungnya.
"Kue apa itu?" tanyanya, dan itu pertanyaan pertamanya malam itu.
"Bolu pisang. Toko dekat rumah sakit. Rasanya biasa saja, tapi saya suka."
"Jujur juga."
"Saya tidak pandai berbohong, Pak. Tiffany bisa jadi saksi."
Tiffany mendengus. "Dia pernah bilang ke pasien bahwa jarumnya memang sakit. Perawatnya mau menyumpal mulutnya."
Suasana mencair sedikit demi sedikit setelah itu.
Yang paling membuat Iris terkesan justru terjadi di dapur, saat ia dan Daniel sama-sama membawa piring kotor.
"Anda tahu soal masa lalunya?" tanya Iris, langsung.
"Tahu," jawab Daniel tanpa ragu. "Dia sendiri yang bercerita. Pertemuan ketiga kami, kalau tidak salah. Belum jadi apa-apa waktu itu."
"Dan Anda tetap datang lagi."
"Saya sempat berhenti seminggu untuk berpikir," akunya. "Saya tidak mau sok suci. Saya memang perlu waktu."
Iris menunggu.
"Tapi satu hal yang saya putuskan sejak awal, saya tidak mau masuk ke hidupnya sebagai penyelamat," kata Daniel. "Dia sudah punya terapis. Dia sudah punya kerja yang dia urus bertahun-tahun. Dia tidak sedang tenggelam dan menunggu dilempari pelampung." Ia meletakkan piring di bak cuci. "Saya hanya ingin mengenalnya sebagaimana dirinya sekarang."
Iris tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dan menyalakan keran.
Beberapa bulan kemudian Daniel mendapat tawaran bekerja di luar kota. Posisi yang bagus, kesempatan yang tidak datang dua kali.
"Kau ikut?" tanya Regina di telepon, langsung, tanpa basa-basi.
"Tidak," jawab Tiffany.
"Kenapa tidak?"
"Karena pusat pendampingan masih membutuhkan aku, Ma. Ada dua program yang baru jalan setengah. Kalau aku pergi sekarang, semuanya berhenti."
"Perempuan itu—"
"Perempuan itu apa?"
Regina tidak menyelesaikan kalimatnya.
Mereka sepakat menjalani hubungan jarak jauh. Daniel pindah, pulang dua minggu sekali, menelepon hampir setiap malam dan sering tertidur di tengah percakapan karena jaga malam.
Ada satu malam Iris kebetulan masih di pusat pendampingan, mengurus laporan, ketika mendengar Tiffany bicara di telepon di ruang sebelah.
"Bukan, aku tidak marah. Aku cuma capek." Jeda. "Iya, aku tahu kamu juga capek." Jeda lagi, lebih panjang. "Daniel, kalau kamu tidur sekarang aku tidak akan tersinggung. Serius. Tidur."
Lalu terdengar tawa kecil, dan suara telepon diletakkan.
Iris tersenyum sendiri di balik tumpukan berkas. Dulu perempuan itu tidak pernah membiarkan siapa pun menutup telepon lebih dulu.
Regina menyebut Tiffany terlalu keras kepala. Ia mengatakannya berkali-kali, di meja makan, di telepon, bahkan kepada Iris.
"Laki-laki tidak akan menunggu selamanya," katanya suatu hari.
"Kalau begitu dia bukan laki-laki yang tepat, Bu," jawab Iris. "Dan Tiffany akan baik-baik saja."
Regina terdiam cukup lama sebelum mengganti topik.
Iris justru melihat hal lain.
Ia ingat Tiffany yang dulu. Perempuan yang rela membuang apa pun demi satu kalimat manis dari seseorang. Yang mengukur harga dirinya dari seberapa dibutuhkan ia oleh orang lain.
Perempuan yang sekarang berkata tidak kepada orang yang ia cintai, bukan karena tidak cinta, melainkan karena ia sudah punya sesuatu yang tidak mau ia tinggalkan. Itu bukan keras kepala. Itu pilihan yang sehat. Tiffany tidak lagi meninggalkan identitas demi memperoleh cinta.
Daniel melamar setahun kemudian. Tidak di restoran, tidak dengan kejutan berlebihan, hanya di teras pusat pendampingan setelah acara selesai dan lampu-lampu sudah dimatikan.
Tiffany tidak langsung menjawab.
"Aku mau," katanya. "Tapi beri aku waktu. Dan aku mau kita ikut konseling pranikah dulu. Bukan karena aku ragu padamu. Karena aku pernah jadi orang yang menghancurkan sesuatu tanpa sadar sedang menghancurkannya."
Daniel mengangguk. "Berapa lama pun."
Mereka ikut konseling selama empat bulan.
Gavin mendengar kabar itu dari Iris, dan untuk beberapa saat ia hanya diam.
"Aku bangga padanya," katanya akhirnya. "Aku tidak tahu harus bilang bagaimana, tapi aku bangga."
"Bilang saja begitu."
Ia mengatakannya, dengan canggung, di ruang tunggu klinik ketika mereka kebetulan berpapasan.
Tiffany menatap kakaknya lama.
"Aku dulu berpikir Kakak membenciku karena tidak memilihku," katanya. "Sekarang aku bersyukur kau tidak pernah memberiku harapan palsu."
Gavin tidak menjawab. Ia hanya menepuk bahu adiknya, agak terlalu keras, seperti laki-laki yang tidak tahu cara lain.
Pernikahan mereka digelar sederhana. Halaman belakang, lima puluh kursi, katering dari warung langganan Daniel. Regina sempat mengusulkan gedung, lalu menarik usulannya sendiri sebelum ada yang sempat menolak.
Iris berdiri sebagai tamu keluarga, bukan pengiring utama. Dulu ia pengiring utama di pernikahan yang berbeda, di dunia yang berbeda, ketika mereka masih menyebut satu sama lain sahabat dan belum tahu kata itu bisa retak.
Ia tidak keberatan berdiri di baris ketiga.
Setengah jam sebelum upacara, Aurora datang berlari. "Ma, Tante Tiffany gemetar."
Iris masuk ke ruang kecil itu. Tiffany duduk di depan cermin, kerudungnya miring, tangannya dingin.
"Aku takut," bisik Tiffany. "Bagaimana kalau aku merusaknya lagi."
Iris tidak menjawab dengan kalimat besar. Ia hanya berdiri di belakangnya, meluruskan kerudung itu, menyematkan jepit yang lepas, merapikan lipatan di bahu.
"Sudah," katanya. "Napas dulu."
Tiffany menatapnya lewat cermin, dan matanya basah.
Mereka tidak kembali menjadi sahabat lama. Mereka menjadi dua perempuan yang memilih hubungan baru tanpa persaingan.