After Storm tidak lagi merek kecil yang dijalankan dari ruang tamu.
Ada empat lantai sekarang, pabrik mitra di dua kota, dan lebih dari tiga ratus orang yang gajinya bergantung pada perusahaan itu. Rak-rak di toko besar memajang produk mereka sejajar dengan merek asing yang dulu tidak mau membalas surat Iris.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak berubah sejak hari pertama.
Semuanya tetap lewat meja Iris.
Warna kemasan baru. Naskah iklan. Siapa yang naik jabatan. Kapan peluncuran. Bahkan jenis kertas untuk kartu ucapan. Semua berhenti di ruangannya, menunggu satu anggukan.
Rapat Kamis itu berjalan seperti biasa. Delapan orang, satu proyektor, dan ide yang disampaikan dengan hati-hati sekali, seperti orang menaruh gelas di meja yang miring.
Iris memberi catatan. Tim mencatat. Tidak ada yang membantah.
Setelah semua keluar, Maya tidak ikut berdiri.
"Ada apa?" tanya Iris.
Maya menutup laptopnya. Perempuan itu sudah delapan tahun di After Storm, naik dari staf pemasaran sampai direktur, dan Iris tidak pernah melihatnya segugup ini.
"Boleh saya bicara sebagai orang yang mungkin salah?"
"Sejak kapan kamu perlu izin?"
"Sejak topiknya Ibu."
Iris meletakkan pulpennya.
"Perusahaan ini terlalu bergantung kepada Ibu," kata Maya. "Setiap keputusan menunggu Ibu. Kalau Ibu sakit tiga hari, semuanya macet. Dan tadi, di rapat itu, tidak ada satu pun orang yang berani bilang idenya lebih baik dari ide Ibu. Padahal ada yang punya."
Ruangan itu senyap.
"Siapa?"
"Dua orang. Mereka bilang ke saya setelah rapat, bukan di dalam rapat."
Iris merasakan sesuatu yang panas naik dari dadanya.
"Kamu tahu aku memulai ini dari berapa?" katanya, dan suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Dari rancangan di buku tulis. Dari satu lemari di rumah. Aku mempertahankan merek ini waktu orang membeli media untuk menghancurkannya, waktu pemasok mundur karena ditelepon orang besar, waktu tidak ada bank yang mau—"
"Saya tahu, Bu," potong Maya pelan. "Saya ada di sana untuk sebagian besarnya."
Kalimat itu membuat Iris berhenti.
"Justru karena itu saya yang harus bilang," lanjut Maya. "Kalau bukan saya, tidak akan ada yang berani."
Malamnya Iris pulang dengan wajah yang membuat Gavin langsung menutup laptopnya.
Ia bercerita semuanya. Marahnya, tersinggungnya, rasa tidak adilnya. Gavin mendengarkan tanpa memotong, sampai habis, sampai Iris kehabisan napas dan meraih gelas air.
Baru setelah itu ia bertanya, pelan sekali.
"Apakah perusahaan itu harus selalu membutuhkanmu agar tetap menjadi milikmu?"
Iris membuka mulut untuk menjawab cepat.
Tidak ada yang keluar.
Pertanyaan itu terasa tidak asing. Butuh beberapa detik sebelum ia sadar kenapa. Bertahun-tahun lalu, ia sendiri yang melemparkan pertanyaan hampir sama kepada Gavin, di ruangan yang berbeda, ketika laki-laki itu duduk dengan surat pengunduran diri dari kursi CEO dan tidak sanggup menandatanganinya.
"Sialan kau," gumam Iris.
"Aku menunggu dua puluh tahun untuk membalasnya."
Iris tidak mengambil keputusan malam itu. Ia melakukan sesuatu yang lebih tidak nyaman.
Ia menyewa pihak luar untuk melakukan evaluasi independen. Bukan konsultan kenalan, bukan orang yang pernah ia bantu, bukan orang yang akan menjaga perasaannya.
Hasilnya keluar enam minggu kemudian, setebal empat puluh halaman.
Empat puluh tiga persen keputusan operasional menumpuk di meja pendiri. Rata-rata waktu tunggu persetujuan sembilan hari kerja. Dan yang paling menyakitkan: dari wawancara anonim, lebih dari setengah karyawan senior mengaku pernah menahan pendapat yang berbeda dengan pendiri karena merasa tidak pantas membantah orang yang membangun tempat itu.
Iris membaca halaman itu tiga kali di ruangannya, dengan pintu tertutup.
Sore itu ia berjalan ke ruang kerja terbuka, pura-pura mencari berkas, dan berdiri agak lama di dekat meja tim desain.
Tiga orang sedang berdebat soal sesuatu, ramai, saling potong, tertawa. Begitu menyadari ada Iris di belakang mereka, percakapan itu berhenti seperti radio yang dimatikan.
"Selamat sore, Bu."
"Lanjut saja," kata Iris.
Mereka melanjutkan. Tetapi suaranya berbeda. Lebih pelan, lebih sopan, lebih mati.
Iris kembali ke ruangannya dan duduk lama di depan laporan itu. Selama ini ia mengira dirinya pemimpin yang terbuka. Ternyata yang ia bangun bukan ruang aman. Yang ia bangun adalah ruang yang sangat menghormatinya, dan itu dua hal yang berbeda.
Lalu ia memanggil dewan.
Keputusannya diumumkan bulan berikutnya. Iris mundur dari kursi utama dan memilih posisi ketua kreatif. Maya diangkat sebagai CEO melalui pemungutan suara dewan, bukan penunjukan. Iris sengaja meminta begitu. Ia ingin Maya punya mandat yang tidak berasal dari hadiah.
Hari penyerahan jabatan terasa jauh lebih pahit dari perkiraannya.
Ia mengosongkan laci. Menemukan sketsa pertama, kertas yang sudah menguning, dengan tulisan tangannya sendiri di sudut. Menemukan kartu nama versi lama yang ejaan alamatnya salah cetak.
Malamnya ia duduk di mobil di parkiran, tidak menyalakan mesin selama dua puluh menit.
"Kalau aku bukan pemimpin After Storm," katanya kepada Gavin di telepon, "aku siapa?"
"Kau Iris."
"Itu jawaban malas."
"Itu jawaban yang butuh dua puluh tahun untuk kupelajari."
Tiga bulan kemudian Iris masuk ke rapat sebagai tamu.
Ia duduk di ujung meja. Maya memimpin. Ada perdebatan soal kampanye besar, dan dua orang junior membantah CEO mereka dengan data yang disiapkan rapi. Maya mendengarkan, mengubah keputusannya di tempat, lalu lanjut.
Tidak ada yang menoleh ke arah Iris untuk minta persetujuan. Tidak sekali pun.
Ada bagian dari dirinya yang nyeri karena itu.
Ada bagian yang lain, lebih besar, yang hampir menangis karena bangga.
Waktu yang tiba-tiba kosong itu tidak dibiarkannya kosong lama.
Iris membuka laboratorium pelatihan. Tempat kecil, dua ruangan, untuk perempuan yang ingin membangun usaha kecantikan tanpa harus berbohong soal kandungan, tanpa harus merendahkan wajah orang lain untuk menjual krim. Mereka belajar merumuskan produk, membaca regulasi, menghitung modal, dan menolak tawaran yang kelihatan manis.
Angkatan pertama enam belas orang. Angkatan kelima dua ratus.
Sementara itu After Storm terus bertumbuh. Laporannya masih sampai ke tangan Iris, hanya saja sekarang ia membacanya seperti orang membaca kabar anak yang sudah pindah rumah.
Iris akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah ditulis di buku bisnis mana pun. Bahwa pergi dari pusat kendali bukan berarti meninggalkan hasil perjuangan. Terkadang seorang pendiri harus mundur agar sesuatu yang dicintainya dapat memiliki kehidupan sendiri.